
Khaira sudah lebih dulu membuka matanya dan menatap tajam kepada Kevin, bukan hanya menatap. Namun Khaira juga menepis tangan Kevin yang akan menyentuhnya.
“Jangan sentuh aku!” sergah Khaira langsung beranjak duduk.
Kevin tercengang, ia terpaku diam membisu. Melihat sofa kosong dihadapannya yang semula menjadi sandaran untuk Khaira tidur, lalu mengalihkan tatapannya melihat Khaira yang telah duduk dengan tatapan mata yang seakan menghunus jantungnya.
Sekelebat ingatan di kepala Khaira saat Kevin memasuki kamar apartemen mewah yang sudah disambut oleh wanita cantik, membuatnya merasa jengah. Ia membuang tatapannya dari semula menatap Kevin kini menerawangkan pandangannya menatap lukisan bunga sakura di dinding ruang tengah.
Khaira berniat beranjak dari duduknya, namun sebelum benar-benar berdiri. Tangan Kevin sudah terlebih dulu menahannya. Membuat Khaira terduduk kembali. Sorot matanya langsung menatap tangan Kevin yang bertaut di pergelangan tangannya.
Kevin melihat sorot mata Khaira yang tak biasa, seolah ia sudah hina dimata gadis itu. Seolah ada kebencian di sana. Namun Kevin seakan tak mempunyai keberanian untuk bertanya, apakah gerangan yang membuat gadis itu terlihat membencinya.
Khaira menarik tangannya dari genggaman tangan Kevin tak membuat Kevin begitu saja melepasnya. Khaira seolah tertahan untuk tidak berdiri. Ia melihat dari ekor matanya bahwa Kevin sedang menatapnya tajam, Khaira mengalihkan pandangannya dan bersitatap dengan Kevin.
“Apa salah gue di mata lo kali ini?” tanya Kevin bersitatap dengan manik mata hitam Khaira.
Khaira menegaskan rahangnya, ia membuang tatapannya ke dinding berwarna putih tulang. Ia enggan menjawab pertanyaan Kevin.
“Delf!” ujar Kevin memangil Khaira dengan sebutan Delf, yaitu Delfi cokelat favoritnya.
“Namaku Khaira! Bukan Delf, bukan juga Angel, ataupun nama-nama wanita cantik yang sering kamu sambangi setiap malam!” hardik Khaira tegas, tanpa melihat kearah Kevin.
Perkataan Khaira yang tegas membuat Kevin tercenung, apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Khaira. Apakah gadis itu mencurigainya karena selalu pergi malam pulang dini hari.
Kevin belum siap untuk menjelaskan pekerjaannya kepada Khaira, ia belum percaya diri mengakuinya, bahwa pekerjaan yang digelutinya merupakan berkaitan erat dengan dunia malam. Ia melepaskan genggamannya, dan melihat Khaira seketika saja berdiri.
Khaira bergeming, bahkan niatnya menunggu Kevin pulang untuk bertanya mengapa Kevin bisa ada di apartemen seakan sungkan ia lakukan. Dan ucapan Kevin tentang pernikahan yang hanya sekedar formalitas terus terngiang-ngiang di kepalanya.
“Khaira!”panggil Kevin menyusul Khaira berdiri.
Tak menjawab panggilan Kevin, Khaira diam membisu.
“Ra, gue minta maaf kalau seandainya selama ini gue udah kasar, ataupun banyak salah sama lo,” tukas Kevin bersungguh-sungguh meminta maaf. Bahwa sekiranya permintaan maafnya yang tulus dapat diterima oleh Khaira.
Tanpa melihat Kevin, ataupun hanya sekedar menolehkan wajahnya, Khaira menjawab dengan sangat lugas, “Secepatnya aku akan keluar dari rumah ini, jadi Mas Kevin nggak perlu minta maaf!”
__ADS_1
Kevin melihat Khaira dari belakang, ia merasa Khaira memang sangatlah berbeda saat ini. Kendati bukan yang pertama kalinya Khaira mengatakan akan pergi dari rumah ini.
Akan tetapi Kevin berasumsi bahwa Khaira memang enggan menatapnya, seolah ia hina untuk dipandang sang istri,“Kalau memang lo enggak betah tinggal di rumah ini, biar gue cariin elo kos-kosan yang sekiranya lo aman,”
“Itu nggak perlu!” sergah Khaira bersamaan ia membalikkan tubuhnya menghadap Kevin, ia bertemu pandang dengan manik mata pria di depannya yang jelas memperlihatkan sorot mata teduh.
Ada kilatan kemarahan di mata Khaira memang menjelaskan ada sesuatu yang sedang di sembunyikan. Ya Kevin melihatnya seperti itu, ia mencoba memegang tangan Khaira, akan tetapi segera ditepis oleh gadis yang saat ini memakai hijab warna marun.
“Lo kenapa Ra! Lo nggak biasanya seperti ini?” tanya Kevin bersuara lembut, bila dijabarkan selembut sutra. Khaira memang bersikap dingin dan tak acuh padanya, tapi tidak ketus seperti ini, itulah yang membedakan sikap Khaira dari awal mengenalnya.
“Mas Kevin bilang pernikahan kita hanyalah formalitas, jadi sekarang juga talak aku, maka Mas Kevin akan bebas membawa wanita manapun ke rumah ini tanpa harus Mas Kevin berpura-pura pergi bekerja hanya untuk sekedar menemui wanita cantik di luaran sana!” ujar Khaira lugas.
“Khaira!” Kevin geram atas apa yang dikatakan Khaira. Ia memegang kedua lengan Khaira agar menghadapnya. “Gue minta maaf sudah mengatakan itu, gue hanya belum dapat memastikan pernikahan kita yang mendadak waktu itu, gue masih syok, tapi saat ini gue benar-benar menyesal. Dan gue katakan pernikahan kita adalah suatu kebenaran, bukan hanya formalitas saja,”
“Kamu bebas berkata apapun Mas Kevin! Dan apapun alasan kamu sekarang ini, jadi lepaskan saja aku!” sentak Khaira mencoba melepaskan cekalan tangan Kevin di lengannya.
“Enggak!” hardik Kevin, ia tak ingin begitu saja melepaskan bintang terang yang ada di genggamannya.
“Gue suami lo, gue bahkan berhak menuntut hak atas diri lo buat melayani gue sebagai seorang istri sepenuhnya!”ucap Kevin menahan kesal apa sikap Khaira yang keras kepala, Kevin menarik Khaira agar mengikuti langkahnya.
Khaira tercengang, kala Kevin menariknya secara paksa menuju kamar. Seketika bayangan rasa takut serta gelisah merajai hatinya.
“Mas Kevin lepasin aku Mas!” teriak Khaira seraya memukuli punggung tangan Kevin yang mencengkram tangannya.
Kevin bergeming, dengan segala cara apapun Khaira memberontak. Ia tetap memaksa Khaira memasuki kamarnya.
Namun kali ini Kevin mengindahkan teriakkan Khaira, Akan tetapi Kevin merebahkan Khaira secara paksa ke ranjang. Lantas menyusul Khaira dan kini berada di atas Khaira yang masih saja terus memberontak.
“Mas Kevin! Mas apa yang kamu lakukan Mas! Kamu pasti sedang mabuk!” Khaira memukuli dada Kevin, namun secepat mungkin pria yang terlihat garang ini justru menarik paksa kedua tangannya dan menguncinya ke atas kepala.
"Mas Kevin, lepaskan aku? Apa hak mu melakukan ini terhadap ku?" seru Khaira dengan perasaan takut.
Tak sedikit pun Kevin bersuara, ia sangat kesal atas permintaan Khaira yang mengatakan untuk menjatuhi talak dan mendengar tuduhan Khaira yang jelas saja telah melukai harga dirinya. Bahwasanya Kevin selama ini tetap menjaga agar tidak menjamah wanita manapun kecuali wanita yang telah ia nikahi. Lebih baik ia merenggut mahkota Khaira secara paksa dari pada gadis itu terus menghindarinya.
__ADS_1
“Mas Kevin tolong lepaskan aku Mas, aku mohon!” Khaira meronta-ronta, tatkala Kevin menarik paksa hijabnya.
"Lo masih bertanya apa hak gue? Gue suami lo, gue suami lo Khaira!" tegas Kevin berkata dengan mengeratkan giginya.
Kevin melepas hijab yang Khaira kenakan secara paksa dan membuangnya ke sembarang arah, dan baru kali inilah ia melihat rambut hitam legam istrinya. Rambut yang hanya ia lihat di foto yang dikirimkan Mita. Cantik! pikirnya. Ia tak kuasa ingin mencumbui Khaira. Kevin telah lama menahan hasrat selama hidupnya, bahkan ia tak perduli kepada wanita-wanita di tempat hiburan malam. Juga tak pernah ia sekalipun berniat menjamah Sonia sebelum menikah. Tak perduli seberapa sesalnya Khaira nanti, Kevin tidak perduli. Ia menciumi leher, beralih ke pipi dan kini ia mendekatkan bibirnya ke bibir Khaira, terasa sangat manis yang Kevin rasa.
Khaira masih terus saja menolak Kevin, meskipun Kevin kini sedang mencumbuinya, menciumi leher, pipi, bahkan kini beralih ke bibir. Darahnya serasa berdesir, ia merasa ada sesuatu yang basah di bawah sana, inilah kali pertama bagi Khaira seperti ini. Kevin terus menghujaninya dengan rangsangan di titik lemahnya.
Khaira tidak tahu apa artinya ini, tapi ada sensasi panas dingin di sekujur tubuhnya. Khaira merasa detak jantungnya berdegup kencang.
Kevin terus saja menciumi leher Khaira, bukan hanya itu. Ia terus turun dan merunut pada gundukan kembar yang masih dibalut piyama. Dibukanya kancing piyama Khaira.
Khaira memejamkan matanya, sebulir air mata membasahi pelipisnya, ia tak lagi memberontak. Karena dirasa memberontak pun seakan-akan percuma. Khaira diam seribu bahasa, ia tak lagi melawan cekalan tangan Kevin.
“Apakah aku serendah ini di mata mu? Lebih baik kamu bunuh saja aku Mas Kevin, dari pada memperlakukan ku seperti wanita murahan!” ucap Khaira bersuara lirih serta gemetar, menahan tangis.
Mendengar rintihan Khaira, membuat Kevin melunak. Ia berhenti mencumbui Khaira, ia menatap Khaira yang menangis tapi tak bersuara, dilihatnya sorot mata Khaira yang kosong sedang menatap kearah plafond.
Kevin menarik dirinya, lantas berdiri di sisi tempat tidur, ia memandangi Khaira yang sama sekali tak bersuara ataupun bergerak. Dilihatnya dua kancing baju piyama Khaira telah terbuka, menampilkan tali bra warna hitam.
Tatapan Khaira masih sama, gadis itu menatap kearah plafond dan tatapannya seperti tatapan kosong. Namun Kevin sudah tegaskan dalam dirinya, tidak ingin menyesali perbuatannya ini. Biar bagaimanapun Khaira adalah istrinya.
Dan niatnya untuk mengatakan kata maaf kini pupus sudah. Kevin gelap mata, mendengar semua tuduhan dan talak yang Khaira ucapkan. Kevin pergi begitu saja dari kamarnya, dan membanting pintu cukup keras.
Setelah kepergian Kevin, Khaira berbaring miring dan menekuk kedua lututnya, tangan kanannya meremas kuat-kuat baju piyama yang terbuka kacingnya. Ia menangis sejadi-jadinya akan tetapi masih dengan suara tangis yang tertahan.
Sebegitu rendahnya kah ia di mata Kevin? Ataukah memang pria itu selalu berbuat sesuka hati hanya untuk memuaskan hasrat!
Khaira beranjak, pedih perih yang ia terima dari perlakuan Kevin. Menangis pun seakan tak bisa mengaburkan perbuatan pria itu padanya, ia turun dari ranjang dan berjalan keluar dari kamar Kevin.
Ia terus berjalan sambil menangis sesenggukan, badannya serasa lunglai. Dibukalah pintu kamar mandi, lantas masuk kedalamnya dan menyalakan shower. Air dingin pun seakan tak mampu mendinginkan hatinya yang panas, air dingin di subuh ini pun seakan tak mampu menyembuhkan laranya.
Hampir saja kepolosannya di ambil paksa oleh Kevin yang bertindak seperti orang kesurupan.
Bersambung
__ADS_1