
Segala sesuatu yang sesuatu yang ditakdirkan bersama. Maka apapun yang mencegahnya, ia akan menemukan jalan untuk menyatu.
Pun sebaliknya, sesuatu yang tidak ditakdirkan bersama, maka apapun yang kita lakukan, ia tidak akan pernah menyatu.
Kutipan kata
Tere Liye
~~
Keesokan harinya..
"Abah, Abah yakin mau pulang?" tanya Khaira kepada Abah, untuk yang kesekian kalinya, sudah berulang-ulang ia mengatakan pertanyaan yang sama.
Abah yang sedang mengemasi barang-barangnya menghela nafas panjang.
"Ning, kamu tahu sudah berapa kali kamu bertanya hal itu ke Abah?" ucap Abah yang tengah duduk di sofa ruang keluarga rumah Kevin.
"Tapi kan Bah, Abah belum lama di Kota ini?" rengek Khaira seperti anak kecil.
"Lho kepiye toh cah ayu, Abah sudah lebih dari satu minggu disini." jawab Abah, yang sudah satu minggu lebih berada di rumah Kevin, karena memang harus mengurus surat-surat yang begitu memakan waktu. Meskipun Khaira baru menikah kemarin lusa.
Masih bergelayut manja pada lengan sang orang tua tunggalnya, "Abah."
"Hemm.." jawab Abah hanya dengan deheman, karena sibuk menata barang bawaannya.
"Ning ikut." pinta Khaira. Ucapan Khaira sukses membuat Kevin yang tengah sibuk dengan laptop pun menoleh kearahnya.
Abah menghentikan aktivitas tangannya, yang tengah memasukkan pakaian kedalam tas ranselnya.
"Lho, ikut?" sahut Abah, menatap Khaira.
Khaira hanya mengangguk.
"Kamu ndak kasihan sama suamimu, kalian baru menikah walaupun kalian sebenarnya sudah lama akadnya, tapi masa suami mu mau ditinggal!" jawab Abah, yang melihat Kevin tengah duduk tak jauh dari Abah sedang menatap Khaira penuh dengan kebimbangan.
Khaira mengalihkan pandangannya kearah Kevin, yang sama-sama tengah menatap dirinya.
"Ya sudah begini saja, kalau kamu mau ikut, ikut saja, tapi sama suamimu juga." kata Abah mengambil jalan tengah.
Khaira tersenyum senang, kala mendengar saran dari Abahnya, akan tetapi kemudian ucapan Kevin membuat senyumannya luntur.
"Tapi aku nggak bisa barengan sama Abah My Delf, aku masih ada beberapa pekerjaan, apalagi kolaborasi ku sama DJ M yang belum usai." ujar Kevin.
Khaira mendengus putus asa, tidak bersuara juga tidak merengek lagi.
"Kalau kamu mau ikut Abah, ikut aja, nanti aku menyusul. Tapi ingat jangan cipika-cipiki sama Asep!" kata Kevin, memperingati istrinya.
__ADS_1
"Kamu tahu siapa Asep, nak Kevin?" tanya Abah mendengar menantunya menyebut Asep.
"Hanya sedikit Bah, itupun dari Khaira, hehe.." jawab Kevin terkekeh garing.
Khaira menatap Kevin dengan tatapan berseri-seri. Namun, luar dari pemikiran Kevin yang menyangka Abah akan senang dengan idenya.
"Ndak! Abah ndak setuju! Ning sekarang sudah menjadi tanggung jawab mu Kepin, jadi Ning juga harus patuh terhadap mu, suaminya." nasehat Abah, kepada Kevin dan Khaira.
Kevin memilin senyumnya mendengar nasehat Abah, ia menatap wajah Khaira yang nampak murung. "Aish dapet mertua pengertian banget dah, jadi makin seneng gue hahaha.."
Lagi-lagi Khaira hanya bisa pasrah, jika Abahnya sudah memberikan nasehat seperti itu.
~~
Akhirnya jika ada pertemuan pasti ada perpisahan.
Khaira dan Kevin mengantarkan Abah ke terminal bus, tak jauh dari daerah Kevin tinggal, dengan berat hati. Khaira melambaikan tangannya, kepada Abah yang sudah berada di dalam bus yang melaju pelan.
"Udah, nggak usah sedih. Nanti kita bakal nyusul." ucap Kevin, yang melihat mimik wajah istrinya terlihat sedih.
Khaira mengalihkan pandangannya, menatap Kevin yang berdiri tepat disebelahnya. Tidak berkata ataupun untuk menjawab Kevin, ia berlalu dari tempatnya berdiri, dan menuju taksi yang standby.
Kevin menyusul langkah istrinya sudah masuk ke dalam taksi yang membawanya ke terminal ini. Ia lalu membuka pintu taksi dan duduk di sebelah istrinya lalu berbisik sedikit mendesahh. "Siapkan stamina!"
Glek...
Khaira menelan ludahnya maniknya melihat wajah Kevin yang tersenyum lebar.
~~
Setelah sampai di rumah, Kevin benar-benar menepati apa yang diucapkannya. Ia mengajak Khaira untuk duduk di sofa ruang keluarga. Memandangi setiap inci wajah istrinya. Namun melihat gelagat Khaira yang sepertinya belum siap, Kevin memegang ujung dagu Khaira agar menghadapnya.
"Kamu belum siap untuk ini kan?"
Khaira bersitatap dengan manik mata Kevin. "Kalau iya, apa Mas Kevin akan memaksaku?"
Kevin memajukan wajahnya lalu mencium singkat kening istrinya dan kembali duduk tegak. Senyumannya melebar.
Khaira bingung melihat senyuman Kevin.
"Aku nggak akan memaksamu untuk melakukan hubungan int*m denganku, aku akan menunggu mu siap. Karena hal semacam itu, akan di nikmati bersama jika kita saling menerima satu sama lain dan aku nggak mau adanya unsur pemaksaan." ucap Kevin lembut, ia kini menyadari bahwa pentingnya saling menerima satu sama lain.
Khaira terpana melihat wajah Kevin yang lembut seperti ini, bahkan ucapan yang terlontar dari Kevin membuatnya lebih tenang dari pada sebelumnya. Khaira menunduk dan berkata. "Mas Kevin berhak atas diriku sepenuhnya."
Kevin tersenyum lebar, maniknya melihat Khaira memilin ujung baju dengan tangan gemetar. "Dari gestur tanganmu yang gemetar sangat berbanding terbalik dengan apa yang kamu katakan,"
Khaira mengangkat wajahnya bersitatap dengan manik mata sang suami.
__ADS_1
"Aku akan menunggumu siap." Kevin beranjak dari duduknya.
Khaira melihat sofa kosong dikarenakan Kevin sudah berdiri. Lalu mengangkat wajahnya menatap Kevin dari bawah. "Mas Kevin mau kemana?"
Kevin menoleh melihat sang istri dari atas, "Aku butuh penyegaran di siang hari yang terik seperti ini."
"Aku ikut." spontan Khaira berkata dan kemudian beranjak dari duduknya.
Kevin heran dengan jawaban spontan Khaira. "Maksud kamu kita mandi bersama? Kamu dan aku?"
Khaira hanya mengangguk, ia merasa malu telah mengajukan dirinya untuk mandi bersama.
"Dengan senang hati nonaku." Kevin bukan hanya menggandeng tangan Khaira tapi ia langsung membopong istrinya menuju kamar mandi.
Tentunya semua orang yang sudah sah di mata agama hukum dan negara. Apa yang akan terjadi ketika pasangan suami-isteri mandi bersama? (Mikir nih yeh)
Kevin melepaskan bajunya sendiri, ia menatap istrinya yang sedang memejamkan mata. Lalu menyalakan shower membasahi sekujur tubuhnya dan juga tubuh Khaira. Perlahan sekali Kevin memegangi dagu Khaira agar menghadapnya.
"Bukalah matamu, aku suamimu." desah Kevin lirih.
Dag-dig-dug.. meskipun saat ini di bawah guyuran shower. Namun Khaira merasakan tubuhnya menegang darahnya berdesir hebat. Perlahan ia membuka matanya dan langsung bersitatap dengan dalamnya manik mata Kevin.
Kevin melebarkan senyumnya, ia tahu pasti Khaira saat ini sedang merasakan tegang itulah yang sedang dialami juga olehnya. Sebentar lagi, ia akan melepas masa perjakanya. Tapi tidak disangka olehnya, Khaira mendekati wajahnya lantas mencium bibirnya singkat. Kevin langsung menarik tengkuk leher istrinya.
Lamat-lamat pautan bibir semakin mendekat dan jadi semakin melumaat satu sama lain. Perlahan Kevin menurunkan bibirnya ke leher. Melihat Khaira seperti sudah sedikit lebih rileks. Dengan kedua tangannya, Kevin melepas pakaian yang melekat di tubuh Khaira.
Pandangan di depannya sangat eksotis. Perlahan Kevin mengangkat tangannya memegang salah satu bukit kembar yang masih tertutupi bra warna hitam.
"Ah.. Mas jangan lakukan itu, rasanya sangat geli." desahh Khaira merasakan gerakan tangan Kevin yang telah mulai menggerayangi tubuhnya. Tepatnya di bagian dada, dan ia tidak dapat menolak rasa nikmat dari sentuhan tangan Kevin.
Mendengar racauan Khaira, membuat Kevin semakin bersemangat. Ia berlutut, maniknya melihat perut rata istrinya. Perlahan sekali ciuman bertubi-tubi ia layangkan di perut istrinya.
"Aku ingin memiliki anak darimu." ucap Kevin bersuara berat menahan hasrat.
Khaira tersenyum simpul, ia meremass rambut Kevin yang kini sedang berlutut dihadapan perutnya yang sudah tidak memakai baju.
Rasanya si junior sudah semakin menusuk-nusuk ingin segera dikeluarkan dari celana jeans panjang yang dipakainya. Kevin tak dapat menahannya lagi. Ia kembali berdiri lalu berbisik di telinga Khaira.
"Aku sudah nggak tahan lagi sayang." kata Kevin bersuara berat.
Mendengar Kevin bersuara serak-serak basah membuat bulu kuduknya merinding. Khaira merasa inilah saatnya merelakan mahkotanya untuk sepenuhnya ia berikan kepada seorang pria yang telah menjadi suaminya.
"Mas Kevin, kita lakukan di kamar saja." kata Khaira mencium bibir Kevin.
Kevin melumaat bibir Khaira, lalu menarik dirinya dan berkata. "Dengan senang hati."
__ADS_1
Bersambung...