
"Lihatlah papamu serius sekali berbincang dengan suamimu!"
"Hah..., mama ini. Tumben nggak nguping?"
"Nguping? Kapan mama pernah nguping?"
"Kapan? Kayak nggak pernah saja ma. Apa ini ma?"
"Hadiah untukmu."
"Hadiah? Nggak yang aneh kan?"
"Kamu ini..., sama mama buruk sangka."
"Barang kali, ma."
"Sil..., besuk ke rumah mama ya!"
"Lihat nanti ya, ma. Silla minta ijin dulu sama kak rafa."
"Ciee..., yang mulai berubah setelah menikah. Ternyata permintaan willy ada benarnya juga, meskipun baru lulus sekolah tapi setidaknya merubahmu menjadi lebih dewasa."
"Ah mama..., silla kan hanya mengikuti wejangan mama dan papa."
"Good girl."
Ucap ine mengusap kepala putrinya.
"Ma, makan disini ya ma."
"Ciee..., anak mama sudah dewasa rupanya."
"Mama ini, anak berubah kok diledekin."
"Hihihi..., tidak sayang. Mama dan papa sudah kenyang, banyak makan di tempat kondangan."
"Yakin?"
"Iya. Papamu ngajak mampir ingin melihat putrinya yang ternyata jauh lebih dewasa dari bayangan kami orang tua."
"Sil..., putri papa baik- baik saja?"
Mahendra tiba- tiba muncul di hadapan mereka.
"Iya, pa. Silla baik- baik saja."
"Baguslah, papa tidak salah mempercayakan mu pada rafa."
"Kita pulang sekarang, ma?"
"Kok buru- buru, pa? Baru sebentar."
Ucap silla menatap nanar pada papanya. Kalau dulu silla akan merengek minta ditemani berbeda dengan sekarang jauh lebih dewasa.
"Papa ada sedikit pekerjaan kantor yang belum selesai."
"Pa, jangan terlalu capek! Papa harus jaga kesehatan, sekali- kali refresing."
Ucap silla menggandeng lengan papanya.
"Iya, sayang. Papa mengerti, papa pulang dulu ya. Fa, titip silla!"
" Iya, pa."
Silla dan rafa mengantar kedua orang tuanya hingga ke pintu depan. Rafa melihat jelas wajah dan tatapan sendu istrinya yang mungkin masih merindukan mereka.
"Hati- hati pa ma!"
"Iya, sayang. Kalian juga, jangan bertengkar ya!"
Ucap ine melambaikan tangan nya pada kedua putra dan putrinya. Selepas kepulangan mahendra dan ine, silla memutuskan mandi membersihkan diri.
"Pa, apa yang papa bicarakan dengan rafa? Serius sekali."
"Oh..., itu. Perihal penculikan silla. Rafa masih menyelidiki motif dari penculikan tersebut."
"Lalu...?"
__ADS_1
" Belum ada titik terang, karena para penculik hilang begitu saja."
Ucap mahendra pada istrinya.
" Maafkan papa, ma. Papa terpaksa berbohong pada mama, sebenarnya bram lah dalang di balik penculikan itu."
Gumam mahendra dalam hati.
"Papa tak ingin mama cemas, mengetahui kemunculan pria itu lagi. Yang menyebabkan bayi kita meninggal."
"Papa tak ingin kejadian itu mengorek luka hati mama."
"Apalagi pria itu pasti mencari cara menjauhkan jack dari mama."
Mahendra masih bergelayut di alam pikiran nya dan juga memikirkan cara manangkis peluru tembakan yang di luncurkan bram pada keluarga mereka.
Mobil mewah berwarna hitam melaju dengan kecepatan biasa menuju kediaman mereka.
Sementara silla yang sudah selesai mandi, seperti biasa mencari pakaian ganti di ruang wardrobe. Kalau dulu silla masih menggunakan bathrobe karena malu pada rafa meskipun mereka sudah menikah, tapi tidak sekarang setelah kejadian unboxing itu. Silla berpikir wajar saja karena status mereka yang sudah resmi menjadi suami istri.
Silla yang hanya memakai handuk menutupi setengah dadanya, membuka bungkusan dari kakak iparnya stela dan juga mamanya.
"Baju apa ini? Katanya limited editon, kayak jaring sih."
"Ini mama lebih parah, masak bolong- bolong begini?"
"Hah..., kado kok seperti ini. Silla pikir baju branded atau tas limited editon. Tapi..
, Dasar Orang tua."
Silla menggerutu kesal saat melihat kedua box yang ternyata isinya lingerie.
"Sayang sekali kalau di buang, harga nya mahal. Kalau dipakai, bolong- bolong kurang bahan."
Dasar silla yang masih terlalu polos tak mengerti kado untuk pasangan pengantin.
"Seumur hidup belum pernah silla memakai baju seperti ini."
Entah ada angin apa, silla tergerak hatinya memakainya meskipun tergolong kurang bahan.
"Hah..., bagian dada saja hanya separuh. Bisa jadi mangsa kepiting kalau pakai baju ini."
Namun, bukan melepas gaun tersebut silla asyik melihat kanan kiri bahkan ke belakang melalui cermin besar yang berada di ruang wardrobe.
"Sexy juga. Tapi sayang, aku tak boleh memakainya."
"Kenapa?"
Deg...
Berharap suara itu hanya halusinasi nya, saat membalikkan badan nya. Silla sedikit gemetar dan tentu saja dengan rasa malu yang di rasakan nya saat ini. Meskipun telah resmi menjadi istrinya, namun silla gadis polos itu tak mau di anggap kecentilan.
"Kak rafa...? Sejak kapan kakak ada disana?"
Dengan sigap silla menutup belahan dadanya.
"Sejak..., em..., sejak tadi."
Mata silla mencari keberadaan handuk nya, yang ternyata sudah di keranjang baju kotor.
"Aduh..., kenapa sudah disana?"
Senyum rafa mengembang melihat sang istri memakai lingerie di hadapan nya, bahkan rafa mulai bergerak maju menghampiri istrinya saat tengah sibuk mencari keberadaan handuk yang di kenakan nya.
"Mencari apa?"
"A...a, handuk."
"Untuk?"
"Mengganti baju."
Rupanya rafa dengan sigap menggendong silla seperti menggendong beras dari ruang wardrobe.
"Aaa...., kakak. Turunkan silla! Silla bisa jalan sendiri."
"Hem."
__ADS_1
Rafa tak mengindahkan rengekan silla, tetap menggendong gadis itu ke tempat tidur yang jaraknya tak begitu jauh.
"Kakak mau apa?"
"Memangsamu."
"Haa...? Tapi..., tapi."
"Tapi apa?"
"Silla sudah mandi."
"Salahnya silla memakai baju limited edition."
"Hah..., bukan silla yang beli. Tapi pemberian mama."
"Hahahaha..., mama pengertian juga."
"Kak..., mandi dulu biar seger.'
Rupanya silla mencoba merayu rafa melepaskan nya. Silla menyesal memakai baju itu yang semula hanya ingin mencobanya, tapi berujung petaka baginya. Sudah pasti jika gagal merayunya, kepiting itu akan mencapitnya hidup- hidup.
"Iya, setelah ini."
Benar saja, ternyata sikap lembut silla tak mempan merayu suaminya.
Silla tertidur pulas setelah mendapat serangan yang bertubi- tubi dari sang raja kepiting, hingga melupakan makan malam nya meskipun rafa berulang kali membangunkan nya.
Dert... dert...
Bunyi ponsel bryan membangunkan pria muda yang telah beristri itu. Bryan yang semula menemani ane berbaring, ikut tertidur pulas disampingnya.
"Ya, pa."
"Ada apa malam seperti ini menelepon?"
"Oh..., begitu. Baiklah."
Setelah menutup panggilan telepon papanya, bryan berniat tidur kembali. Namun matanya membelalak ketika tak mendapati istrinya disampingnya.
"Sayang."
"Sayang."
Bryan melompat bangun dari tempat tidur memeriksa seluruh ruang kamar mereka. Bryan sangat panik tak menemukan keberadaan ane.
"Sayang..., sayang."
"Ane..., istriku..., dimana kau?"
Ane yang samar- samar mendengar teriakan suaminya, bergegas keluar dari rusng dapur.
"Sayang, aku disini."
Bryan mendengar suara kecil ane setengah berlari menghampirinya, lalu memeluk gadis kecil yang telah resmi menjadi istrinya bahkan kini tengah mengandung buah hatinya.
Ane tercengang mendapat perlakuan bryan, suaminya itu juga menitikkan airmata di kedua sudut matanya.
"Ada apa, sayang? Kenapa kau menangis?"
"Kenapa tidak bilang kalau sudah bangun? Aku bingung mencarimu."
Ucap bryan yang kemudian mencium kening ane.
"Aku lapar, jadi terbangun."
"Kenapa tak membangunkan ku? Aku akan membuat makanan untukmu."
"Tidak, kau tampak kelelahan. Mana mungkin aku tega membangunkanmu?"
"Lebih baik begitu daripada terjadi sesuatu denganmu."
"Baiklah..., baiklah..., aku salah. Maafkan mommy, daddy."
Bryan bernafas lega melihat sang istri baik- baik saja. Munculnya pria bernama bram dan juga penculikan silla, membuat bryan sedikit waspada terhadap kemungkinan yang terjadi.
Bryan ke dapur melanjutkan memasak makanan yang ingin dimakan ane, mengandung baby twin sedikitnya membuat ane merasa lapar. Ane duduk di mini bar dapur melihat lengan kekar bryan menasak nasi goreng untuknya. Senyum bahagia mengembang di wajah nya, tak menyangka suaminya yang terlihat cool pandai memasak.
__ADS_1
Ane bahkan tak mengira kalau menikah secepat ini, dan juga dengan jodoh masa kecilnya.
Bersambung🙏😊