Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Disidang


__ADS_3

Setelah menikmati bakso..


Kevin dan Khaira pun saling diam dan menunduk, kala Abah mengoreksi semua hal yang sama sekali Beliau tidak ketahui.


"Khaira Ningrum binti Ahmad Khoirun!" ucap Abah, mulai menginterogasi putri semata wayangnya.


Masih dengan tatapan menunduk, Khaira menjawab panggilan Abah takut. "Iya, Abah."


"Jelaskan sama Abah, kenapa bisa kamu ndak memberitahu Abah, kalau kamu menikah, kamu menganggap Abah mu ini apa? cah ayu?!" geram Abah duduk tepat didepan Kevin dan Khaira.


Sementara Mita pun ikut terlibat dan duduk di kursi yang terpisah.


Khaira pun bersimpuh di lantai, dan bersujud di kaki orang tua tunggalnya,


"Maafin Ning Bah, Ning takut."


Kevin turut mengikuti apa yang dilakukan Khaira dan bersimpuh dilantai. Namun Abah segera menghentikan aksi kedua manusia muda yang nampak menyesali perbuatannya, Abah meminta Khaira maupun Kevin agar duduk kembali di sofa.


Khaira bersikekeh untuk bersimpuh di lantai.


Kevin sempat bingung, tapi melihat Khaira tidak jua bangun. Ia akhirnya mengikuti aksi istrinya. Barangkali dengan cara ini bisa meluluhkan hati mertuanya, hehe...


"Abah, sebenarnya semua ini salah saya, saya lah yang menyebabkan kekacauan ini terjadi." ucap Kevin, tidak berani menatap Abah.


"Bener Paman, si rese, eh maksudnya Kevin sama Khaira nggak bersalah, mereka cuma di jebak. Lebih tepatnya untuk menggambarkan, kedua manusia ini dijebak." ucap Mita mencoba membela Kevin dan Khaira, karena sejak Pamannya datang dari kampung, Beliau langsung meminta untuk diantarkan dimana Khaira berada.


Abah melihat kesungguhan Kevin beliau merasa tidak tega, melihat Khaira yang nampak merasa bersalah.


"Ning putri Abah, hanya Ning harta yang Abah punya, Abah ndak marah, Abah hanya kepingin Ning tau, apapun yang Ning rasakan, apapun yang Ning alami, jangan sungkan untuk memberitahu Abah," ucap Abah, dan mengusap kepala Khaira lembut. "Kamu kan tau, kalau Abah ingin melihatmu menikah, Ning." sambungnya Abah sekilas melihat Kevin.


Khaira merasakan sedih, matanya mulai berkaca-kaca, mimik wajah Abah menunjukkan kesedihan yang mendalam.


"Abah, maafin Ning Bah, maafin Ning, Ning sudah menjadi anak yang durhaka.." ungkap Khaira, dengan tangisan yang tertahan.

__ADS_1


Abah merangkul putri semata wayangnya, air mata membasahi pipinya yang sudah keriput, mata yang kendur, serta uban putih menandakan waktu sudah melewatkan masa mudanya.


Ahmad Khoirun 53 tahun menikah di usia 30, dengan seorang wanita yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, tak lama setelah berkenalan. Ia memutuskan untuk menikahinya. Akan tetapi, kini garis nasibnya berkata lain.


Wanita yang di nikahinya 23 tahun silam telah meninggalkan dirinya juga seorang putri berusia 6 tahun pergi begitu saja, tiada kata, tiada kejelasan. Hingga sampai hari ini pun Abah Ahmad tidak tahu apa alasan dan kesalahannya, sampai tega wanita yang melahirkan putri cantik nan bermata indah, pergi entah kemana? Apakah karena enggan hidup susah? Ataukah memang tidak lagi ada rasa cinta? Sampai sekarang pun Abah Ahmad masih berkubang dalam lumpur duka lara.


Keharuan menyelimuti rumah Kevin, Mita pun ikut memeluk Khaira dan Pamannya. Ia tahu betul betapa berharganya Khaira bagi Pamannya, hidup sendiri mengurusi putri satu-satunya. Namun, Pamannya selalu sabar dan tegar kala kenakalan seorang anak kecil terus bertanya dimanakah Ibunya menghilang? Bila memang hidup kenapa tak juga bersua? Jika memang sudah tiada kenapa tiada jazadnya?


Kevin menatap ketiganya dengan tatapan berkaca-kaca, perasaannya luruh, bergemuruh, seperti ombak besar menghantam batu karang yang rapuh. Teringat dengan almarhumah Mamah dan adiknya.


Abah perlahan mengurai pelukannya, ia menatap wajah yang mirip seperti wanita yang di nikahinya dahulu. Begitu ayu, nan bermata indah. Orang tua tetaplah memandang anaknya yang sudah dewasa seperti anak-anak di benaknya. Ingin selalu melindungi, sampai pada waktunya Sang Khalik memberikan titah kepada Sang pencabut nyawa, untuk melepas nyawa dari raga.


Khaira mengusap air mata yang membasahi pipi Abahnya yang sudah termakan usia, meskipun hatinya seperti merasakan tajamnya pedang, namun kini ia bersyukur, Abah sudah mengetahui dan tidak ada lagi rasa beban di pundaknya.


"Maafin Ning Bah, Ning sudah menjadi anak durhaka, ndak pernah buat Abah bangga, selalu membuat Abah kecewa dan sedih, jangan lagi menangis Abah. Apalagi menangis di waktu malam yang sunyi. Khaira janji akan selalu berusaha menjadi anak baik, seperti nasehat Abah." ungkap Khaira, tatkala melihat Abahnya yang duduk termenung ketika tidak bisa tidur, menangis memandangi foto Ibu Purwasih, di kursi ruang keluarga yang berada di rumahnya, di kampung.


Abah terhenyak kala mendengar putrinya mengetahui dirinya yang selalu terbangun di tengah malam, setelah selesai sholat saat memanjatkan doa, tiba-tiba saja air matanya mengalir, hatinya perih.


Lalu mengambil foto wanita yang Ia selipkan di antara buku bersampul usang, memandangi foto wanita yang di nikahinya 23 tahun silam. Dengan sorot cahaya lampu redup, membuat ia merasa terjebak dalam pusaran waktu yang terasa pilu.


"Ning, anak Abah. Abah hanya ingin Ning bahagia, Abah tidak pernah beranggapan Ning anak durhaka, justru Abah bersyukur, Abah masih punya Ning harta Abah yang paling berharga dari apapun di dunia ini." kata Abah, seraya mengusap kristal bening yang membasahi pipi putrinya.


"Dan kamu, Preng! Kenapa kamu bisa lalai." kata Abah, mengalihkan pandangannya kepada Mita, yang ikut merasakan haru.


Mendengar tuduhan Pamannya, Mita pun manyun. "Mita Paman, Mita! Bukan Preng, apalagi Cempreng!” protes Mita, seraya mengusap air matanya. "Lalai? Memang Mita ini baby sitter Khaira, lagian mana Mita tau, Kevin tiba-tiba ada di kamar kosan Mita!" sambungnya bersungut-sungut tidak mau di salahkan Pamannya, dan menunjuk Kevin yang duduk di sebelah kiri.


Abah beralih menatap Kevin tajam, duduk tepat di depannya.


Kevin yang mendapat sorotan tajam dari mertua yang belum mengakui bahwa ia menantunya takut-takut untuk membalas tatapan Abah.


"Maaf, Bah. Ini memang salah saya." ucap Kevin, seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Khaira menoleh kearah Kevin sekilas, ia juga turut andil, bukan hanya Kevin yang disalahkan. "Ini juga salah Ning Bah, Ning lalai, nggak ngunci pintu."

__ADS_1


Dengan mengusap kepala anaknya, Abah tersenyum lembut. Hatinya sudah mulai melunak, Beliau menyadari bahwa kini putri satu-satunya bukanlah gadis kecil lagi, entah esok atau suatu saat nanti, putri kecil yang Beliau besarkan seorang diri tanpa seorang Ibu, juga akan menikah. Seperti yang diharapkan.


"Jadi, mau dibawa kemana pernikahan kalian? Jika memang masih berstatus menikah secara agama?" Abah bertanya dengan suara mulai melunak, lalu menatap Kevin.


Kevin mulai memberikan diri untuk melihat Abah. Inilah saatnya ia gentle.


"Jika Abah mengizinkan, saya akan mengesahkan pernikahan saya dan Khaira di catatan hukum negara." kata Kevin mantap, secara tidak langsung ia sedang meminta izin untuk meminang Khaira kepada wali sang istri yang sebenarnya.


Abah melihat Khaira dan kembali menatap Kevin.


"Abah serahkan kepada putri Abah, Abah yakin Ning sudah dewasa dan sudah bisa memilih mana yang baik untuk dirinya." kata Abah, menyerahkan semua keputusan pada Khaira.


Kevin menatap Khaira, mencari jawaban atas keinginannya. Berharap gadis yang dinikahinya secara siri menjawab 'bersedia. Jika tidak menjawab bersedia. Kebangetan! pikirnya.


Khaira menatap Abah, juga Kevin, dan bergantian menatap Mita. Mita mengangguk tipis-tipis.


Dalam hati Mita. "Terima aja Ra, toh kalau lo nggak menerima Roma, eh Kevin. Emang lo mau jadi janda?"


Khaira seolah mendengar celotehan Mita, ia pun menyipitkan matanya menatap sepupunya. "Yah walaupun aku jadi janda, tapi rasa perawan!" balas Khaira, didalam hati.


"Dasar!" gumam Mita.


Mendengar umpatan Mita, membuat refleks Abah menoleh kearah keponakannya. "Siapa yang 'dasar! Mita?"


Mita dan Khaira membuyarkan tatapan sengit keduanya.


"Akh, hehe, Dasar nyamuk! Iya nyamuk janda, eh maksudnya janda nyamuk! Aduh gimana? Nih mulut." jawab Mita crengengesan, sambil menggeplak mulutnya.




Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2