
Di luar dari toilet, seorang pria yang bertugas sebagai keamanan toilet celingukan mengamati keadaan sekitar, dan bergegas menjegal pintu toilet dengan memasangkan kayu balok besar, lalu memasang tulisan [TOILET RUSAK]. Lantas segera pergi dari sana.
Kevin sedang berada di dalam toilet, setelah membuang hajat. Saat akan keluar dari toilet, ternyata pintunya terkunci. Berulang kali Kevin menarik pegangan pintu, akan tetapi tetap saja, pintu memang terkunci atau bisa jadi memang pintu ada yang sengaja menguncinya. Mendadak perasaan khawatir menyeruak memikirkan Khaira.
"Khaira!" Kevin kembali menarik pegangan pintu sangat kuat. Hingga pegangan pintu stainless steel patah.
"Oh sial!"
Kevin mendongakkan kepalanya melihat ke atas toilet, ada secercah harapan untuk bisa keluar dari toilet ini. Tanpa pikir panjang, Kevin memanjang dinding. Hap! Ia melompat turun dari dinding toilet.
Kevin segera keluar dari dalam toilet pria, dan membaca sekilas di depan pintu toilet bertuliskan [TOILET RUSAK]
Kevin terpekur, jelas-jelas saat ia memasuki toilet tidak ada tulisan dan kondisi pintu dalam keadaan baik-baik saja. Kejanggalan ini, seolah memperkuat dugaan pasti ada yang sengaja menguncinya di dalam toilet.
Rahang Kevin menegas, giginya gemeretak. Takut, gelisah dan tegang menyatu menjadi satu dalam hatinya, memikirkan Khaira.
"Apa mungkin Clara merencanakan ini semua? Dasar gadis rubah!"
Kevin segera berlari menuju ruangan besar hotel yang dijadikan resepsi pernikahan Clara dan Anto. Kevin kembali di semula ia meninggalkan Khaira, akan tetapi nihil. Ia tidak mendapati istrinya, saat mengedarkan pandangan dari kejauhan, Kevin melihat Rezki dan juga Mita sedang asik menyantap hidangan.
Kevin bergegas menghampiri kedua orang itu.
"Rezki, Mita!" Kevin berseru penuh kepanikan memanggil keduanya.
Rezki dan Mita terkesiap ketika melihat Kevin nampak sangat panik.
"Ada apa Vin?" tanya Rezki sembari menaruh piring di atas meja.
"Khaira?" kata Kevin panik.
Mita mengedarkan pandangannya kebelakang Kevin, lalu kembali melihat Kevin. "Dimana Khaira, Vin?"
"Khaira menghilang." seru Kevin.
"Apa?" jawab Mita dan Rezki bersamaan.
Beberapa tamu undangan yang hadir, spontan melihat ketiga orang yang nampak sedang berdiskusi sangat serius.
"Gimana bisa hilang di ruangan sebesar ini? Lo dari tadi kemana?" tanya Rezki ikut panik.
"Gue tadi ke toilet, tapi sepertinya ada yang sengaja mengunci gue di dalam toilet, pas gue bisa keluar dan balik lagi ke sini, Khaira udah nggak ada. perasaan gue kagak enak, takut Clara menjebak Khaira lagi." jelas Kevin, mengingat kala rencana Clara yang gagal saat akan menculik istrinya.
Baik Rezki maupun Mita melihat Clara yang sedang duduk di atas pelaminan. Keduanya menyangsikan ucapan Kevin.
"Tapi belum ada bukti Vin, Clara sedang ada di atas panggung pelaminan jadi mana mungkin dia merencanakan untuk menjebak Khaira?" kata Rezki.
"Kalau begitu kita berpencar saja, gue tanya ke satpam penjaga. Siapa tahu Khaira ternyata sudah keluar." kata Mita memberikan saran.
__ADS_1
"Oke!"
Kevin dan Rezki segera berpencar mencari Khaira berada. Rezki menyusuri para tamu undangan yang hadir. Begitupun juga yang dilakukan oleh Kevin, namun Kevin teringat sesuatu.
"Ruang cctv." Kevin pergi ke ruang cctv yang sebelumnya di ditunjukkan oleh petugas yang berjaga.
"Pak, tolong mundurkan rekaman cctv di setengah jam yang lalu." ujar Kevin melihat seorang bapak-bapak penjaga cctv bergeming. Ia lantas mengeluarkan dompetnya dan memberikan uang. "Tolong putar ulang cctv di setengah jam lalu."
Bapak penjaga cctv senang kala melihat uang berwarna merah, ia segera mengambil uangnya dan memutar cctv di setengah jam lalu.
Di cctv Kevin melihat Khaira berjalan menjauhi kerumunan para tamu undangan yang hadir, ia membelalakkan matanya melihat seorang pria agak gendut selalu membuntuti Khaira, hingga Khaira pingsan.
Secara refleks tangannya yang terkepal menggebrak meja sangat keras. "Brengsek!"
Penjaga keamanan pos cctv tercengang melihat dan mendengar seorang pria yang sedang mengecek cctv nampak sangat marah dan emosi.
Kevin segera keluar dari ruangan tempat pengamanan cctv. Ia segera berlari untuk mencari seorang penjaga keamanan yang sempat dilihatnya dalam rekaman cctv.
Dari kejauhan Kevin melihat seorang penjaga keamanan, "Pak tunggu Pak!"
Seorang petugas keamanan menghentikan langkahnya kala mendengar seseorang memanggilnya.
Kevin mengatur nafasnya yang terengah-engah. Ia lalu bertanya kepada seorang penjaga keamanan. "Bapak tadi melihat seorang wanita berhijab pink muda tidak?"
Seorang penjaga keamanan sebut saja Toni terdiam, seraya berpikir. "Wanita berhijab pink banyak Mas?"
Pak Toni terdiam sambil mengingat-ingat. "Oh yang pingsan itu, dia di bawa sama Pak Hengki, katanya istri muda Pak Hengki."
Kevin terperanjat mendengar kata 'istri dari pria bernama Hengki. "Istri?"
Pak Toni mengangguk kecil. "Iya, kata Pak Hengki, istri mudanya lagi sakit. Terus dia bawa ke kamar hotelnya."
"Apa?" seru Kevin, ia meremass rambutnya kuat-kuat. "Sial, siapa Hengki?" gerutunya kesal.
Pak Toni bingung melihat respon dari seorang pemuda yang nampak frustasi. "Memangnya kamu ini siapa?"
"Bapak lihat dimana orang yang bernama Hengki membawa istri saya?" kata Kevin bertanya sembari memegangi kedua tangan Pak Toni.
Pak Toni semakin dibuat bingung saja. "Istri?"
Kevin semakin panik. "Wanita itu istri saya Pak, dia dijebak. Tolong cepat kasih tahu dimana orang yang bernama Hengki itu pergi?"
Meskipun bingung dan tidak mengerti akan apa yang sedang terjadi, namun Pak Toni menjawabnya. Karena ia tahu, Hengki merupakan seorang pria yang selalu gonta-ganti wanita dan juga seorang staf di hotel ini. "Kalau tidak salah, kamar Pak Hengki berada di lantai 18 nomor 29."
"Makasih Pak." Kevin segera berlari menuju lift.
Dari kejauhan, Rezki dan Mita melihat Kevin memasuki pintu lift, keduanya saling bersitatap. Tanpa pikir panjang, Rezki maupun Mita segera menyusul Kevin masuki pintu lift lainnya.
__ADS_1
~~
Di dalam kamar hotel, Hengki melihat seorang wanita berhijab yang sebelumnya di ditunjukkan fotonya oleh Clara.
"Benar apa kata Clara, wanita ini cantik. Kagak bakal gue menyesal melakukan ini, apalagi secara gratisan. Hahaha..."
Sebelum memulai aksi panasnya, Hengki terlebih dulu meminum obat penguat, agar dapat tahan lama dalam menggempur wanita yang berada di atas ranjang.
Setelah meminum obat penguat, Hengki melepas kemeja dan celana panjangnya.
Setengah dari kesadarannya, Khaira siuman. Samar-samar ia mengedarkan pandangannya menatap keseluruhan ruangan yang menurutnya sangat asing.
"Dimana aku?" gumam Khaira lirih seraya memegangi kepalanya yang seperti dilanda bongkahan batu besar. Sangat berat dan pusing. Badannya juga dilanda kepanasan, seolah ada yang membakar hasratnya.
"Sangat panas, kenapa tubuhku sangat panas." masih dengan gumaman lirih, Khaira mencoba untuk beranjak duduk, dalam pandangan remang-remang. Khaira melihat punggung seorang pria yang berdiri tidak jauh dari keberadaannya sedang membuka pakaian. Spontan saja, ia memegangi pakaiannya sendiri, dan bisa bernafas lega kala mendapati pakaian yang melekat di tubuhnya masih utuh.
Khaira memukuli kepalanya agar kembali sadar, tapi memang sangat berat. Bahkan suhu panas dalam tubuhnya lamat-lamat meningkat, ingin rasanya melepas pakaiannya. Tapi tidak mungkin ia lakukan. Khaira berusaha untuk turun dari ranjang, akibat tidak seimbangnya pertahanan kakinya, ia ambruk ke lantai.
"Aah.." erang Khaira kala keningnya sempat menghantam ujung meja kecil samping tempat tidur.
Hengki terperanjat mendengar suara erangan dari belakangnya, netranya membelalak kala ranjang sudah kosong. Ia mendekati ranjang, saat pandangannya mengedar ia melihat wanita yang akan menjadi target nafsuunya bersimpuh di lantai sedang memegangi kepala.
Hengki menarik satu gari bibirnya ke atas. Lalu menghampiri serta berjongkok dihadapan wanita berhijab ini.
"Hallo Khaira, aku senang akhirnya kamu siuman. Kan kita bisa melakukannya lebih banyak gaya, beda kalau aku memainkannya sendiri." Hengki berkata menahan hasrat seksuall kala obat penguat sudah mulai bereaksi. Lalu memegang tangan Khaira, namun tangannya tidak disambut baik oleh Khaira.
"Pergilah! Jangan ganggu aku!" Khaira menghardik pria asing yang hanya memakai CD.
Hengki tidak menyerah, ia kembali memegangi kedua bahu, bahkan mencengkram nya. "Dasar wanita jal*ng, sok suci."
Sekali tarikan tangan Hengki menarik hijab yang di pakai oleh Khaira. Nampaklah rambut Khaira yang tergerai panjang terlepas dari jepit rambut.
Hengki terpesona, ia menelan air liurnya. Hasrat untuk menjamah kian menggebu. "Ternyata kamu sangat cantik kalau tidak memakai kerudung."
Hengki mengulurkan tangannya untuk membelai rambut panjang hitam nan legam Khaira. Dan lagi, Khaira menepis tangannya kasar.
Khaira menutupi kepalanya, ia memberontak lalu menendang kaki pria asing di depannya.
"Jangan ganggu aku!" teriak Khaira bersuara gemetar, mencoba untuk mengembalikan kesadarannya. Meskipun terasa sangat lunglai untuk berdiri.
Hengki ikut berdiri, ia tidak akan membiarkan mangsanya lari
Hap! Hengki menarik tangan Khaira lalu menghempaskan tubuh Khaira ke ranjang.
__ADS_1
Bersambung...