
"Darimana kamu tahu Clara?" Kevin menyelidik menatap Khaira.
"Semalam dia datang dan memberikan amplop cokelat, kamu terlihat sangat akrab di dalam foto itu. Ku pikir dia adalah mantan pacar atau wanita yang sudah kamu campakkan. Dia juga mengancamku, agar menjauhi mu." Khaira menunjukkan lengannya yang terluka. "Kamu lihat ini, dia sampai meremass lenganku yang terluka sampai-sampai teramat sangat sakit dan mengeluarkan darah lagi." kali ini ia ingin lebih terbuka kepada Kevin, ia ingin melihat reaksi dari suaminya. Dapat dilihatnya olehnya Kevin menegaskan rahang juga mengepalkan tangan.
Kevin mengambil amplop cokelat yang berada di atas ranjang, dan mengeluarkan beberapa foto didalamnya. Batinnya bergelora emosi membara. "Clara! Gue kagak nyangka lo bakal bertindak sejauh ini. Sampai-sampai mengancam dan memberikan hal semacam ini terhadap Khaira."
"Jadi siapa Clara?" Khaira mengulangi pertanyaannya kepada Kevin tentang siapa Clara. Ia melihat netra Kevin nyalang dalam menatapi foto-foto yang diambil dari amplop cokelat. Sesaat kemudian Kevin meremass kuat-kuat foto-foto tersebut.
Kevin memegang kedua pipi Khaira, ia menatap istrinya sendiri seksama. "Aku akan mengurus Clara, kamu jangan khawatir. Clara bukanlah siapa-siapa."
Setelah mengatakan itu, Kevin lantas beranjak dan pergi dari hadapan Khaira.
Masih di dalam kamar, Khaira mengusap pipinya bekas tangan Kevin. Meskipun bingung karena Kevin belum menjelaskan siapa Clara,
Tak ingin berburuk sangka, Khaira lebih memilih berjalan keluar dari kamarnya dikarenakan waktu subuh telah tiba. Ia lantas berwudhu dan melaksanakan sholat. Meminta petunjuk kepada Sang Maha Pemberi Kehidupan, agar senantiasa memelihara dan menjauhkan hatinya dari perasaan berburuk sangka.
"Ya Allah, janganlah Engkau jadikan hamba mu ini termasuk dari golongan orang-orang yang zalim yang mengingkari kenikmatan yang telah Engkau berikan kepada hamba, dan aku mohon lapangkanlah hatiku untuk bisa menerima perpisahan kedua orang tua hamba. Ampunilah hamba karena sudah meremehkan tentang syari'at dan anjuran pernikahan. Padahal hamba sendiri tahu, pernikahan adalah sebagian dari ibadah. Maka hamba mohon lapangkanlah hati hamba untuk menerima pernikahan ini bersama dengan Mas Kevin. Semoga kelak kami akan menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah. Dan jikalau kami nantinya berpisah, maka pisahkan kami dengan cara sebaik-baiknya. Amin."
Membasuh wajah dengan tangannya yang tertutupi mukenah, tak sadar dalam untaian doanya sampai meneteskan air mata.
~~
Tak ada yang Khaira lakukan pagi ini di halaman depan rumah. Ia hanya duduk dan melihat beberapa pot tanaman hias yang terbengkalai. Tanpa adanya penghidupan yang berarti dari taman kecil ini.
Terlihat gersang dan tandus, andai saja tangannya bisa segera pulih, pastilah ia akan pergi beli sendiri beberapa tanaman hias yang disukainya.
Teringat kembali dengan jawaban Kevin, saat ia bertanya siapa Clara? Ada hubungan apa Kevin dan wanita itu? Bukannya turut ikut campur ke dalam masalah pribadi Kevin.
Namun, Khaira merasa ia perlu tahu, agar kedepannya lebih berhati-hati dan tidak berpikiran negatif kepada Kevin. Dan kejadian seperti semalam tidak terulang lagi. Kini jawaban Kevin terus terngiang-ngiang di kepalanya.
"Aku akan mengurus Clara, kamu jangan khawatir. Clara bukanlah siapa-siapa."
Dan sekarang ini, entah kemana perginya Kevin. Sejak subuh tadi belum juga kembali, sampai pada pukul 09:00 wib.
Khaira merasa jenuh, di kota asing ini. Ia merasa seperti di planet lain. Berulang kali tarikan nafasnya seolah menyelaraskan perasaannya yang bosan.
Benarkah preman yang menyerangnya adalah suruhan dari Clara. Benarkah Clara hanya mau Kevin dan menginginkannya berpisah dari Kevin. Khaira merasa relung hatinya tercubit.
"Kalau memang benar Clara mencintai Mas Kevin, kenapa harus dengan cara brutal seperti ini untuk mendapatkan hati seseorang. Bukankah setiap manusia mempunyai hak untuk memilih dan di pilih. Dan aku nggak membenarkan tindakan wanita bernama Clara adalah suatu kebenaran. Semoga Mas Kevin bisa menyelesaikan masalahnya dengan cara baik-baik."
~~
Sementara itu, setelah mencari tahu keberadaan Clara dan Clara juga mengabarkan sedang berada di apartemen. Kini Kevin sedang bertemu dengan Clara. Ia ingin mencari tau apa niatan Clara semalam datang ke rumah dan mengancam Khaira.
"Gue curiga kalau selama ini orang yang neror istri gue, tu lo!" Kevin menyipitkan matanya menatap punggung Clara.
"Maksud istri yang lo sebutkan tadi wanita kampungan itu, atas dasar apa lo nuduh gue yang melakukannya? Memangnya Lo punya bukti, Kevin?" jawab Clara mengelak.
"Nggak perlu bukti yang valid guna membuktikan lo meneror istri gue. Karena satpam kompleks perumahan lingkungan gue tinggal pernah melihat wanita dan ciri-cirinya itu lo. Lo juga nggak bertindak sendirian, kadang lo menyuruh orang lain yang melakukannya." kata Kevin tegas.
Clara berbalik badan melihat Kevin dari jaraknya yang lumayan jauh, "Terus kalau lo tahu yang neror istri palsu lo itu gue, kenapa lo kagak pernah bertindak menghentikan gue? Gue mempertanyakan, benarkah lo udah cinta sama istri palsu lo itu? Kalau lo beneran udah cinta, maka gue adalah orang yang akan menghancurkan rasa cinta lo itu!"
__ADS_1
Kevin tersenyum devil. "Jangan bilang gue kagak melakukan apa-apa Clara, apa lo kagak merasa kehilangan orang suruhan lo semingguan ini? Orang suruhan yang lo suruh menaruh kardus berisikan bangkai di depan rumah gue? Dan yang perlu lo ingat Clara, kagak ada yang bakal bisa menghancurkan rasa cinta gue!"
Clara membulatkan matanya, ternyata orang suruhannya telah dipergoki Kevin. Namun Clara bersikap biasa saja, seolah bukan ialah pelaku terornya. "Enggak, gue enggak kehilangan siapapun."
"Benarkah?" Kevin sangatlah meragukan pengakuan Clara.
Clara masih mempertahankan sandiwaranya, ia bersikap santai seraya menyilangkan tangannya di depan dada. "Permintaan gue cuma simple, gue pengen lo ningglin si cewek kampungan itu!"
Kevin menatap Clara nyalang, "Jangan mimpi!"
Clara mengangkat bahunya tak acuh, ia berjalan menjauhi balkon apartemen dan kini mendekati Kevin yang sedang berdiri di tengah-tengah kamar apartemennya, "Ya udah terserah lo aja Vin, gue cuma mau lo, dan lo harus jadi milik gue seutuhnya,"
"Gila! Lo harus mencuci otak lo Clara, gue nggak pernah kenal Clara yang arogan seperti ini? Apa yang membuat lo berubah?" tegas Kevin mempertanyakan benarkah wanita yang ada di depannya merupakan Clara yang ia anggap adiknya.
Lagi-lagi Clara mengangkat bahu mulusnya tak acuh. Sebenarnya siapapun laki-lakinya, akan tergoda melihat penampilannya kini. Karena Clara sedang memakai lingerie sutra merah yang terlihat sangat seksi di tubuhnya.
Merasa muak melihat ekspresi wajah Clara yang dipenuhi makeup, Kevin hendak berbalik badan namun kakinya mengalami hambatan.
Clara melihat Kevin berbalik badan dengan bersikap dingin. Ia menghentikan langkah Kevin dengan cara menarik lengan kekar Kevin dan terjatuh di atas ranjang empuk. Sehingga pria ini sekarang sedang berada diatasnya.
Kevin terkejut dengan perilaku Clara yang benar-benar seperti wanita penggoda, ia menyanggah tubuhnya sendiri menggunakan kedua tangannya agar tidak menindih tubuh Clara yang sekarang ini berada di bawahnya.
Senyuman merekah selaksa bunga mawar merah menggoda, Clara sangat senang dalam posisi seperti ini, begitu dekat melihat wajah Kevin, "Lakukanlah sekali saja sama gue, maka gue nggak akan menganggu Khaira."
Kevin masih menatap Clara tajam, "Jangan harap, secantik dan seseksi apapun lo saat ini, bahkan seujung kuku gue kagak bakal nyentuh lo!"
Clara sedikit mengangkat kepalanya lantas mencium jaket yang dipakai Kevin hingga meninggalkan bekas merah di sana. Kemudian ia melihat ke samping kanan dan kiri lengan Kevin yang terlihat kekar, sangat menggoda hasratnya ingin menjamah, ia merunut dada Kevin yang tertutupi kaos menggunakan jari tangannya, lamat-lamat Clara menggunakan kedua kepalan tangannya menyenggol cukup keras lengan Kevin yang digunakan sebagai penyangga agar menimpa tubuhnya.
"Dengarkan baik-baik Kevin! Gue bakal menculik dan menyekap Khaira sampai lo mau jadi milik gue seutuhnya." kata Clara tegas, tanpa melihat Kevin, ia masih dalam posisi yang sama berbaring di ranjang dengan tatapan menatap plafond kamar apartemennya.
"Kalau sampai lo melakukan siasat lo buat menculik istri gue. Gue bakal menghancurkan hidup lo sehancur-hancurnya Clara!" Kevin memperingati Clara ia berucap dengan nada penuh penekanan. Ia lantas melenggang pergi dari kamar apartemen Clara.
Setelah kepergian Kevin, Clara menjadi semakin murka. Ia beranjak dan melepas paksa seprei serta membuang bantal ke sembarang arah.
"Aaaahhh.. awas lo Vin, gue kagak bakal nyerah!" teriaknya labil.
Dilihatnya obat penggugur kandungan di atas meja, dituangkannya ke telapak tangan dalam jumlah tak terhitung.
"Bayi ini cuma jadi parasit dalam tubuh gue!" ucapnya lantas duduk di sofa tunggal berukuran cukup besar di bawah jendela kamar apartemennya.
Baru saja memasuki obat-obatan penggugur kandungan. Pintu di dobrak oleh seseorang.
Clara terkejut mendapati seseorang yang mendobrak pintu kamar apartemennya, "Anto."
"Clara!" Anto terperangah melihat keadaan Clara yang pucat pasi sedang terbaring lemah di atas sofa. Sesegera mungkin Anto membopong Clara. Dilihatnya kunci mobil yang berada di atas meja kecil samping tempat tidur.
Berlari menuju lift dan kemudian menuju basman apartemen dan mencari keberadaan mobil Clara, tak begitu sulit untuk menemukannya karena kunci mobil serta mobil Clara saling terhubung. Setelah membuka pintu mobil. Lantas mendudukkan Clara ke jok tengah dan ia mengemudikan mobil.
"Sabar Clara, tahan yah aku akan membawamu ke rumah sakit." kata Anto khawatir.
Dua puluh menit Anto melewati jalanan, ia kini telah sampai di depan rumah sakit. Dengan gerakan cepat, Anto segera membopong Clara untuk mendapatkan penanganan medis.
__ADS_1
"Dokter! Suster! Tolong, cepat Suster!" teriak Anto di lobby rumah sakit.
Perawat jaga pun terkesiap dengan kedatangan seorang pria yang berteriak-teriak memanggil suster dan dokter. Kedua perawat laki-laki dan perempuan bersiap siaga mengambil brankar.
Anto segera membaringkan Clara yang mulai kejang-kejang di atas brankar yang disediakan. Ia mengikuti kemana dua perawat mendorong brankar sampai di depan ruangan UGD.
"Maaf Pak, anda tidak boleh masuk." kata seorang perawat kepada pria yang mengantarkan pasien.
Terpaksalah Anto menunggu dengan perasaan was-was di depan ruangan UGD. Dalam kekhawatirannya ia sangat beruntung, bisa membuntuti Clara dan akhirnya menyadari bahwa tidak boleh dibiarkan sendiri.
Karena bisa saja Clara yang mempunyai gangguan mental arogan, bisa melakukan hal-hal yang membahayakan.
Kemudian dalam kepanikannya Anto berpikir, "Beni, Om Beni." ia lantas mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Beni.
~~
Kevin telah sampai di depan rumah, ia melihat Khaira sedang duduk menyamping di teras rumah. Ia berspekulasi bahwa mungkin saja Khaira sangat berkeinginan untuk membeli tanaman hias guna mengusir rasa bosan.
Memarkirkan motornya di jalanan depan rumah, Kevin turun dari motor dan berjalan memasuki halaman rumah dan duduk di samping istrinya yang sepertinya sedang melamun, sampai-sampai tidak menengok kala mesin motornya masih menyala.
"Hay My Delf, apa kamu sudah lama menungguku?" kata Kevin setelah duduk di sebelah Khaira.
Khaira terkejut, suara Kevin membuyarkan lamunannya. Ia segera saja menoleh kearah Kevin yang kini sudah duduk disebelahnya.
"Kapan Mas Kevin sampai di rumah?" kata Khaira bertanya dengan nada terkejut, diliriknya motor Kevin yang terparkir di depan rumah, sedetik kemudian kembali menatap Kevin.
"Jadi beli tanaman nggak?" kata Kevin bertanya memastikan bahwa Khaira masih berkeinginan membeli tanaman hias.
Dilihatnya dengan seksama wajah Kevin yang nampak sumringah, tatapan Khaira beralih menatap jaket jeans denim yang dipakai Kevin tepatnya dibagian dada kanan, ada noda merah di sana.
Khaira beranjak dari duduknya di atas lantai, "Lap dulu tuh bekas lipstik merah di jaket mu!"
Kevin tercenung mendengar jawaban yang dialihkan menjadi seperti tuduhan, ia mencari lipstik merah yang barangkali menempel di bahunya, benar saja. Kevin mendapati bekas lipstik merah di bahu kanannya.
"Ini pasti kerjaannya si Clara!" monolog Kevin dalam hati, ia memejamkan matanya dalam-dalam, dan beranjak dari duduknya menghampiri Khaira ia menggapai tangan istrinya yang terlihat merajuk.
"Ayuk, kita beli tanaman?" kata Kevin membujuk.
Khaira menghembuskan tangan Kevin, "Nggak mood!"
Entah mengapa melihat bekas lipstik merah menempel di bahu Kevin sangat menghancurkan moodnya. Khaira geram ingin marah, ingin memaki Kevin dengan siapa pria itu bertemu, apakah bertemu Clara? Lalu apa yang dilakukannya bersama dengan Clara? OMG Khaira enggan berpikir negatif lagi.
Melihat mimik wajah Khaira yang memang terlihat bermuram durja, membuat Kevin ingin menguyel-uyelnya. Ia segera membopong Khaira, dan berjalan menuju motornya yang terparkir di depan rumah, lantas menurunkan istrinya disebelah motornya yang terparkir. "Udah jangan kebanyakan mikir yang buruk-buruk, aku nggak melakukan berbuatan yang tercela."
"Mas Kevin! Malu lah Mas, sampai-sampai dilihatin banyak orang." Khaira berbisik mendapati tatapan dari penjual bubur ayam dan pembelinya, beserta tatapan dari Ibu-ibu kompleks.
Bersambung
__ADS_1