Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Sikap jack yang berbeda


__ADS_3

"Pa..., mau kemana?"


Ucap silla melihat papanya tepat dihadapan nya.


"Ke kantor, sayang. Papa harus menyelesaikan sedikit pekerjaan."


"Kamu datang sendiri? Rafa mana?"


"Kak rafa hanya drof off silla, pa. Buru- buru ke kantor."


Ucap silla.


"Oh..., papa pergi dulu."


"Pa..., nggak sarapan dulu? Silla bawa sarapan."


"Sarapan...?"


"Iya."


Silla menarik lengan papanya duduk di kursi tunggu di depan kamar ruang rawat ane. Mahendra sedikit terkejut melihat sikap dewasa silla yang memang benar- benar berubah.


"Enak, pa? Silla baru belajar memasak dari kakak ipar."


"Enak. Rupanya putri papa sudah dewasa."


"Papa bisa saja, memangnya silla selalu bikin rusuh papa ya?"


"Tidak, semenjak kau menikah."


"Ih..., papa."


Silla memeluk lengan papanya seakan merindukan papanya. Sehari setelah menikah, rafa memang memboyong silla tinggal bersamanya di apartemen. Juga beberapa masalah yang menimpanya seakan ingin bermanja dengan papanya.


"Hei..., kenapa menangis? Putri papa sudah besar, malu jika terlihat orang lain."


"Tidak, siapa yang menangis? Papa yang menangis bukan silla."


Memang benar mahendra yang menitikkan airmata melihat kedewasaan silla, namun juga bersedih melihat putrinya yang lain terbaring lenah di rumah sakit.


"Sil, papa ke kantor dulu. Terima kasih sarapan nya, enak. Seperti masakan ane."


"Iya, pa. Hati- hati di jalan ya pa!"


"Iya, sayang."


Mahendra sedikit terenyuh dengan kedewasaan silla dan juga melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu setelah berpamitan pada silla.


"Pa..., jaga kesehatan ya!"


"Ha..., iya sayang."


Mahendra menghela nafas panjang mendengar putrinya memang sudah dewasa.


Mahendra bergegas pergi akan menyelesaikan sedikit masalah dan juga menyelesaikan masalah jack.


Mahendra sengaja datang ke kantor jack, namun sekertaris jack memberitahu belum datang ke kantor bahkan dalam beberapa hari jack mangkir dari beberapa meeting dengan client. Dan juga tak datang ke kantor beberapa hari ini.


"Apa yang terjadi dengan jack?"


"Apa dia sudah terkena pengaruh bram?"


"Hah..., maafin papa nak. Jika semua harus terjadi padamu, tapi sesuai janji papa pada mama mu papa akan berusaha menyelamatkan mu."


Gumam mahendra dalam hati berjalan meninggalkan kantor jack. Mahendra tak lantas pergi ke kantornya namun ke apartemen jack.


Mahendra hanya memastikan keadaan jack dan juga stela kalau mereka baik- baik saja. Mahendra khawatir jack terpengaruh dengan bram dan juga akan berimbas pada rumah tangga mereka. Mahendra yang membesarkan jack sejak baru lahir, mengerti sifat jack yang sedikit sama dengan bram.


Ting tong....


Ting tong...


Ceklek...


"Papa...? Masuk pa!"


Stela sedikit terkejut dengan kedatangan mahendra ke rumah mereka.


"Stel..., dimana jack? Apa suami mu baik- baik saja?"


"Iya, pa. Jack baik- baik saja, bahkan sudah berangkat ke kantor pagi tadi."


Ucap stela yang berada di dapur membuatkan minuman untuk mahendra.

__ADS_1


"Ke kantor?"


Gumam mahendra dalam hati.


"Aku baru saja dari kantornya, bagaimana mungkin jack ada di kantor?"


"Sekertarisnya bilang, beberapa hari jack tak ke kantor."


"Ini yang ku takutkan."


Mahendra masih bergelayut dalam pikiran nya mendengar cerita stela kalau jack dalam masalah.


"Papa ada masalah dengan mas jack?"


"Tidak. Apa suami mu bilang ada masalah dengan papa?"


Ucap mahendra.


"Tidak, pa. Hanya...., mas jack terlihat marah saat menjemput stela di rumah papa."


"Cucu papa kemana? Nggak kelihatan."


"Safa baru saja tidur, pa. Malam agak rewel namgis terus."


"Oh..., kalian tidak sedang bertengkar kan?"


"Tidak, pa. Mas jack memang agak sibuk jadi pulang agak larut dan juga berangkat agak pagi. Katanya ada sedikit masalah."


Ucap stela.


" Masalah?"


" Iya, pa. Papa mau sarapan?"


"Tidak, nak. Papa sudah sarapan di rumah sakit."


"Dirumah sakit? Bagaimana keadaan ane, pa?"


"Adikmu mengalami benturan di kepalanya mengakibatkan lupa dengan ingatan nya. Juga ada sedikit kerusakan saraf hingga membuat otaknya tak bekerja secara optimal, tubuhnya mengalami kelumpuhan."


"Apaa..., bagaimana bisa?"


"Yah..., papa sempat tak percaya. Tapi...., tapi memang seperti itu. Doakan adikmu pulih seperti biasanya!"


" Rewel? Safa nggak sedang sakit kan?"


"Tidak, pa. Hanya..., mungkin sedikit kecapekan. Safa mulai aktif bergerak."


"Oh..., begitu. Papa pergi dulu, nak. Katakan pada suamimu papa mencarinya dan beritahu papa jika terjadi sesuatu dengan kalian!!"


Stela mengerutkan dahinya mendengar permintaan papa mertuanya seperti ada satu kejanggalan.


"Iya, pa."


Mahendra sempat melihat cucunya safa yang tengah terlelap dalam tidurnya.


"Cucu opa..., jangan nakal ya! Kasihan mama mu."


Setelahnya mahendra melangkah ke arah pintu meskipun sedikit kecewa dengan apa yang di dengarnya.


"Nak..., jangan ragu beritahu papa jika kalian dalam kesulitan!"


"Iya, pa. Hati - hati pa!"


,


"Iya, sayang."


Mahendra berjalan meninggalkan rumah stela dan jack. Dengan nafas dalam, mahendra harus bisa menemukan jack yang terkesan menghindar bahkan menghilang begitu saja. Atau mungkin ada sedikit kegelisahan yang dirasakan mahendra karena munculnya bram yang akan mengacaukan kehidupan putranya.


"Sepertinya aku harus menghentikan bram, jika tidak jack akan masuk ke dalam lubang pengaruhnya.'"


Gumam mahendra.


Sementara stela sedikit heran dengan setiap ucapan mahendra yang membuatnya sedikit curiga.


"Kenapa papa bicara seperti itu? Sepertinya ada yang disembunyikan jack padaku."


Gumam stela.


"Tak mungkin ada masalah dengan papa, papa saja datang ke rumah."


"Apa yang sebenarnya terjadi?"

__ADS_1


" Bagaimana aku bisa keluar? Tak mungkin aku menitipkan safa pada mama."


"Semua orang pasti dirumah sakit."


"Ibu..., aku harus telepon ibu."


Belum sempat stela menjalankan rencananya, langkah stela terhenti melihat gagang pintu bergerak dan membuka pintu.


"Sayang..., sudah pulang?"


"Hem..., ada berkas yang tertinggal."


"Papa baru saja pulang, tak papasan dengan nya?"


'' Papa...?"


" Iya, papa."


"Tidak, aku tidak ketemu dengan nya."


Jawab jack pergi meninggalkan stela di ruang tamu ke ruang kerjanya. Stela sedikit heran dengam sikap jack yang beberapa hari semakin berbeda bahkan sedikit berubah.


"Lagi pula ngapain dia datang ke rumah?"


Gumaman jack meskipun lirih saat berjalan ke ruang kerjanya terdengar sampai ke telinga stela.


"Dia? Dengan nya? Semenjak pacaran hingga menikah dan punya safa, aku tak pernah jack berkata seperti itu dengan papa."


Gumam stela dalam hati.


"Ini semakin mencurigakan."


Stela mengikuti jack hingga ke ruang kerjanya.


"Papa datang mencarimu."


Ucap stela menyentuh bahu jack lalu memijit pelan saat jack mulai duduk di kursi kerjanya.


"Mencariku? Untuk apa?"


"Entahlah?"


"Stel, cukup!! Aku lelah, jangan ganggu aku! Pekerjaan kantor benar- benar menguras energiku."


Stela terdiam membisu saat mencoba bersikap mesra padanya, namun di tolak mentah- mentah jack. Tak seperti biasanya sikap jack seperti itu, bahkan kecurigaan stela semakin memuncak.


"Aku akan kembali ke kantor."


Ucap jack setelah mengambil beberapa map ditangan nya.


"O... iya, safa baik- baik saja kan?"


"Em."


Melihat reaksi stela yang menatapnya dengan penuh tatapan kosong. Jack menghampiri istrinya mencium pipinya untuk menghilangkan kecurigaan stela.


"Sayang, maafkan aku. Aku bukan menolak tapi memang pekerjaan kantor agak banyak."


"Ti..., tidak apa- apa."


Jawab stela sedikit gugup.


"Oh... ya, jika orang tua itu datang lagi em..., maksudku papa datang katakan aku sedang sibuk. Dan jangan biarkan safa sendirian!"


Ucap jack kembali membalikkan badan nya menatap stela.


"Iya."


Jack pergi terburu- buru seperti di kejar maling menghilang dibalik pintu.


"Aneh..., tak seperti biasanya jack seperti itu. Apa yang sebenarnya terjadi?"


Gumam stela.


Tak berpikir panjang, stela mengambil ponselnya yang berada dikamar menghubungi ibunya untuk datang menjaga safa.


Dibalik pintu yakni didepan rumah mereka, jack menutup mulutnya menitikkan airmata yang keluar tak terbendung.


"Maafkan aku sayang, aku belum bisa memberitahumu hal yang sebenarmya padamu."


"Maafkan atas semua sikapku."


Setelahnya jack pergi ke lantai basement dimana ia memarkir mobilnya.

__ADS_1


Bersambung🙏😊


__ADS_2