
Dalam perjalanan Kevin dihadang oleh anak buah Frans. Yah, ia tahu empat pria kekar yang menghadang laju motornya dengan mobil hitam.
"Turun lo Vin!" teriak salah satu anak buah Frans bernama Dedan.
Kevin menatap keempat anak buah Frans dengan netra malas.
"Ada urusan apa lagi lo cari masalah sama gue, hah?" hardik Kevin semula bernada kecil diakhiri kata Kevin bersuara menegas.
"Lo yang udah melapor ke polisi kan tentang penyelundupan narkoba yang dilakukan Yanto, kurir narkoba Bos Frans?" tegasnya anak buah Frans bernama Romeo menghardik Kevin.
Kevin tergelak, ternyata Frans tahu ia yang telah bekerjasama dengan Brian guna membuka malpraktek bandar narkoba, namun ia berkata santai dan mengelak. "Buktinya apa, kalau gue yang ngelaporin usaha menjijikkan tuh si Babon ke polisi? Lagian kalau terbongkar kan itu bagus, kalian nggak lagi mengganggu anak bangsa?"
"Kalau bukan lo siapa lagi? Lo pernah ngancem Bos Frans. Dan lo harus ikut kita menghadap Bos Frans sekarang juga!" seru anak buah Frans bernama Fredy.
Kevin melihat satu persatu anak buah Frans yang berada di depan motornya berjarak dua meter.
"Minggir kalian! Gua kagak ada urusan sama lo'lo pada. Gua juga kagak punya urusan sama tuh Bos lo yang bongsor itu! Mau bisnisnya ancur atau bagaimana pun gue kagak perduli!" teriak Kevin berang karena laju jalannya sudah di hadang.
"Kalau bukan lo, kenapa elo kagak secara baik-baik saja untuk menemui Bos. Atau sampai kami yang menyeret lo agar menemui Bos, hah!" seru Jaja.
"Gue udah bilang, gue kagak punya urusan dengan Frans!" sergah Kevin, kembali menyalakan mesin motornya.
Tanpa aba-aba, Fredy menghampiri Kevin yang masih stan by di atas motor lantas menarik Hoodie yang dipakai Kevin secara paksa.
Kevin terkesiap, dengan gerakan cepat ia memegang tangan besar Fredy, dan melepaskan cengkraman tangan besar Fredy di hoodienya paksa. Ia lantas turun dari motornya, dan melihat keempat anak buah Frans siap untuk menyerang.
Perkelahian kembali terjadi antara Kevin dan anak buah Frans. Satu lawan empat. Kevin kewalahan, gerakan-gerakan yang dilakukan keempat anak buah Frans terlihat ada kemajuan.
Berbeda pada saat Kevin saat menghajar keempat anak buah Frans di apartemen Sonia.
Empat anak buah Frans menyerangnya secara brutal, seolah kali ini tidak ada ampun untuk Kevin. Kevin dibuat kewalahan.
Pukulan dari Romero menjurus ke perut Kevin, lalu beralih di lutut Kevin.
Sedangkan Dedan menambahkan tinjunya di wajah Kevin tepat di bagian mata.
Seketika Kevin merasa lunglai untuk berdiri, matanya berkunang-kunang melihat empat buah anak buah Frans. Menahan sakit di sekujur tubuhnya mendapatkan pukulan demi pukulan yang di lakukan secara beruntun oleh keempat anak buah Frans.
Kevin kembali berusaha untuk melawan, meskipun dengan mata berkunang-kunang, ia melayangkan tinjunya ke arah salah satu dari keempat anak buah Frans yang bernama
Namun Fredy melayangkan kakinya keatas dan tepat mengenai wajahnya Kevin sangat keras, hingga Kevin jatuh terpelanting di aspal.
"Aaarhhh!" erang Kevin menahan sakit membersamai dengan rasa panas.
Tak hanya menendang Kevin, Ferdy menginjakkan kakinya di atas punggung Kevin yang tertelungkup di aspal. "Kami tadi udah bilang, mau dengan cara baik-baik atau dengan cara paksa! Dan lo sendiri yang mengiyakan dengan cara paksaan!"
__ADS_1
"Sekarang langsung bawa saja Kevin ke Bos, seterusnya terserah Bos mau diapakan si Kevin!" kata Romero.
Pada saat Jaja dan Fredy hendak mebungkuk guna memegang tangan Kevin. Tiba-tiba saja keduanya mendapat serangan tendangan dari seseorang yang baru saja datang.
Jaja dan Fredy tersungkur di jalanan.
Sedangkan Romero dan Dedan langsung menatap kearah seseorang yang mendadak melakukan penyerangan.
"Oh Jaksa? Lo mau jadi jagoan, hah?" kata Romero mengitari seseorang yang dipanggilnya Jaksa.
Kevin meremang melihat Brian yang sedang berdiri berhadapan dengan Romero dan Dedan, "Brian..." gumamnya, mengerjapkan mata rasanya sangat sakit.
"Kalau kalian mau cari kebenaran tentang siapa yang melaporkan Yanto dan gerombolannya ke polisi, gue lah orangnya. Karena gua yang sudah melaporkan bisnis haram Frans. Dan kalian tunggu saja, berikutnya adalah kalian berempat!" kata Brian menatap dua orang yang berdiri dengan jarak tiga meter darinya, dan dilihatnya juga dua orang yang sudah berdiri kembali.
Dedan menatap tajam seorang Jaksa yang sudah dikenalnya, ia berkata tegas, "Kalau begitu lo juga harus mati!"
Meskipun tenaganya sudah terkuras, namun Kevin tak ingin menyerah begitu saja atas kekalahannya. Ia berdiri di belakang keempat anak buah Frans.
Mendapat kode berupa anggukkan kecil dari Brian, Kevin telah siap mengambil ancang-ancang. Ia menendang Dedan dan Fredy dari belakang.
Dedan dan Fredy tersungkur.
Sedangkan Brian menghajar dua anak buah Frans.
Daden dan Fredy kembali bangkit, lantas menyerang Kevin. Namun kali ini Kevin menghalau pukulan serta tinju yang di lakukan secara terus-menerus oleh Dedan dan Fredy.
Sama halnya dengan Brian yang membalas pukulan yang dialamatkan padanya. Ia membalas dengan meninju secara beruntun ke perut Romero. Dengan tangan cekatan langsung beralih memukuli Jaja.
Siapa yang tidak tahu Brian dan Kevin, merupakan satu perguruan silat dengan penghargaan master silat.
Kevin memutar tubuhnya semaksimal mungkin membersamai dengan tendangan kakinya yang menendang pada tubuh Dedan, hingga Dedan terpelanting menghantamkan keras aspal.
"Aaarrhhh...." erangan menguar dari mulut Dedan.
Sementara itu Fredy tak tinggal diam, ia menyerang Kevin dengan gerakan kaki dan tangannya yang sangat cepat. Namun dapat dihalau oleh Kevin. Kevin menendang dengan sangat cepat ke perut Fredyan.
Membuat Fredy terjengkang kebelakang membentur pembatas jalanan. Kembali erangan menguar dari mulut Fredy.
Keempat anak buah Frans dapat juga dikalahkan.
Beruntunglah ada segerombolan dari pihak kepolisian yang sedang melaksanakan patroli malam. Delapan dari pihak kepolisian memakai kendaraan yang berbeda-beda.
Ada juga yang mengendarai motor patroli ada juga yang menggunakan mobil namun bukan mobil polisi melainkan mobil Avanza.
"Jaksa Brian!" seru seorang polisi memarkirkan motornya dan menghampiri seorang Jaksa yang dikenalnya.
__ADS_1
Brian sedang mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, cukup menguras tenaga dalam melawan kedua anak buah Frans.
"Shandy," Brian menoleh kearah seorang polisi, ia mengenali temannya dari pihak kepolisian.
Sementara Kevin bukan lagi mengatur nafasnya, ia beringsut terduduk di atas jalanan trotoar. Ia merasa sangat lemas dan lunglai.
Kevin mengusap wajahnya yang kembali merasakan kenikmatan pukulan yang serasa terbakar dan sangat sakit di bagian mata. Ia melihat Brian sedang menjawab polisi yang berpatroli sedang menanyakan temannya itu.
Setelah empat anak buah Frans diamankan dengan cara di borgol oleh pihak dari kepolisian. Selanjutnya anak buah Frans dibawa ke dalam mobil untuk dibawa ke kantor polisi.
Brian menghampiri Kevin yang sedang terduduk selonjoran di atas jalanan trotoar.
"Lo seperti terlihat kagak baik-baik aja Vin, sebaiknya lo mengobatinya di klinik atau rumah sakit," Brian melihat wajah Kevin yang lebam dan juga terlihat berantakan.
Kevin menggeleng, "Temenin gue minum Bin!"
Netra Brian membulat mendengar jawaban Kevin, "Lo gimana sih, lo harus mengobati lebam di wajah lo Vin, tuh hidung lo juga mengeluarkan darah!"
Kevin bersusah payah untuk berdiri, ia menepuk pundak sahabatnya, "Temenin gue minum!"
Kevin berjalan menuju motornya dan mengarahkan pada salah satu club'.
Brian dibuat geleng-geleng melihat Kevin yang sepertinya memang sedang adanya masalah pribadi. Ia lantas berjalan kearah mobilnya yang terparkir dibahu jalan, lantas mengikuti kemana perginya sahabatnya itu.
~
Di sebuah club malam, kini Kevin duduk dan menuangkan whisky kedalam gelas. Ia ingin mabuk, benar-benar ingin menghilang dari pikiran kalutnya. Ia sejenak ingin melumpuhkan otaknya dengan mengonsumsi minuman beralkohol dengan kadar alkohol yang tinggi.
Brian duduk berhadapan dengan Kevin yang terlihat sangatlah frustasi. Berulang kali juga Kevin menuangkan whisky kedalam gelas, dan menenggak miras sampai tandas.
Saat Kevin akan menuangkan kembali whisky kedalam gelas Brian menghentikannya, "Udah Vin, lo sebenarnya ada masalah apa? Lo kagak bisanya mabuk seperti ini?"
Direbutnya botol whisky berwarna bening dari tangan Kevin, terlihat olehnya whisky tinggal sedikit, Brian menatap Kevin yang menatapnya dengan tatapan seperti mata mengantuk.
"Siniin botolnya Brian!" berang Kevin, hendak meraih botol yang dipegang Brian.
"Kagak!" hardik Brian tegas, "Lo jangan mabuk begini. Lo harus jelasin sama gue sebenernya apa yang terjadi sama lo?" kata Brian, ia menjauhkan botol whisky dari Kevin.
"Kenapa, kenapa cinta itu membagongkan Bin?" Kevin bersuara lunglai, ia beringsut berbaring ke sofa kosong disebelahnya.
Bersambung
__ADS_1