
" Iya, ma. Masih dtangani dokter, rafa tunggu ya ma." Selesai menghubungi mama ine, rafa tetap tak tenang selama dokter masih belum keluar dari ruang instalasi tersebut.
Tak berapa lama dokter keluar menghampiri rafa yang tengah risau brtjalan tak tentu arah.
"Dokter..., bagaimana keadaan istri saya?" Sang dokter mengernyitkan dahinya mendengar kata istri dari mulut rafa. Namun sang dokter mengabaikan kecurigaan nya tentang gadis kecil itu.
"Begini mas..., adiknya maksud saya istri nya tidak apa- apa. Dalam trimester kehamilan pertama sepertinya mbaknya belum terlalu siap atau masih kaget."
" Terlalu sering muntah hingga menyebabkan mbaknya dehidrasi. Perlu diperhatikan agar tak terjadi sesuatu dengan nya."
"Iya, dok. Terima kasih."
"Perawat sedang mempersiapkan kamar yang anda pesan, sebaiknya tinggal dulu dirunah sakit sampai kondisinya membaik." Ucap dokter jaga tersebut.
"Baik, dokter. Terima kasih."
Tak berapa lama dua orang perawat mendorong bangsal tempat tidur silla untuk dipindahkan ke ruang perawatan, di ikuti rafa yang ada disamping mereka.
"Pa..., papa bangun!"
"Ada apa ma? Kenapa membangunkan papa? Masih malam." Gumam mahendra mengusap- usap matanya melihat jam dinding ketika ine membangunkan nya.
"Kita harus ke runah sakit."
" Ke rumah sakit? Siapa yang sakit? Apa jack kesakitan?" Mahendra sedikit terkejut dengan pernyataan istrinya. Mereka memang sengaja menginap di rumah jack dan stela untuk menghindari penyerangan atau aksi penculikan lain nya.
"Bukan."
" Lalu?"
"Putri bungsumu masuk rumah sakit."
"Apaa..., silla masuk rumah sakit? Ada apa dengan nya? Bukan kah tadi siang baik- baik saja?" Mahendra hampir syok mendengar penjelasan sang istri yang mengatakan putrinya masuk rumah sakit.
" Makanya ayo cepat! Mama juga tidak tahu pastinya, rafa menelepon memberitahu silla masuk rumah sakit."
" Baiklah. Tapi bagaimana dengan jack?"
"Tidak apa- apa, ada ratna disini."
Mahendra maupun ine bersiap bergegas menuju rumah sakit setelah mendaoat kabar dari menantunya sang putri dibawa ke rumah sakit.
Mahendra dan ine terkejut melihat ratna dan suaminya yang keluar dari kamar secara bersamaan.
"Loh..., rat."
"Loh..., ne."
"Kalian mau kemana?" Tanya ine terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kami mau melayat, sepupu prayogo meninggal tengah malam tadi." Jawab ratna.
"Dan kalian?"
"Silla masuk rumah sakit, rafa baru saja menelepon. Makanya kami bergegas kesana, silla tak pernah sakit." Ucap ine.
"Lalu..., bagaimana dengan anak- anak?" Gumam ratna.
"Aku sudah menyuruh mbok ijah dan securiry untuk datang kesini menemani mereka. Sebentar lagi mereka datang."
"Baiklah kalau begitu, aku jadi lega." Ratna bernafas lega ketika ine memberitahu menyuruh orang berjaga di kediaman jack. Meskipun ada security komplek tak menjamin keselamatan mereka, terbukti kejadian pagi tadi yang sangat mengerikan. Jika saja silla tak datang tepat waktu mungkin mereka akan kehilangan jack untuk selamanya.
"Ma..., bu...., mau kemana? Kenapa keluar bersamaan?" Stela yang mendengar suara riuh dari luar, mencoba memeriksa keadaan takut terjadi sesuatu diluar sana.
"Stela..., kami membangunkan mu ya?" Tanya mama ine menoleh ke belakang menatap stela.
"Tidak, ma. Safa baru saja minum susu dan baru saja tidur." Jawab stela.
"Oh..., begitu. Mama mau ke rumah sakit, adikmu masuk rumah sakit. Mama sudah menyuruh mbok ijah dan security untuk menemani kalian." Ucap ine.
" Cepat kabari mama kalau terjadi sesuatu!" Ucap ine sebelum pergi meninggalkan stela.
"Iya, ma. Dan ibu?"
"Pakde mu meninggal, stel. Ibu dan ayah harus ke sana, kamu tidak apa- apa kan ibu tinggal? Ibu dan ayah akan secepatnya kembali." Ucap ratna.
"Iya, nduk."
Mereka menghilang dibalik pintu, sementara stela masih menunggu mbok ijah dan beberapa irang security suruhan mama ine untuk menjaga mereka. Tak berapa lama yang ditunggu pun datang, stela menyuruh mbok ijah tidur di kamar belakang yang ketulan tak ditempati. Sementara beberapa security berjaha di depan rumah.
"Ada apa sayang? Kenapa terdengar suara ricuh?" Tanya jack yang terbangun karena mendengar suara samar- samar dari luar kamar mereka.
"Kau terganggu? Maaf membangunkanmu." Gumam stela menyalakan lampu tidur.
"Tidurlah! Mama dan papa ke rumah sakit, silla masuk rumah sakit."
"Hah...., silla masuk runah sakit? Sakit apa silla? Kenapa tidak memberitahuku?" Jack sedikit berteriak karena kaget mendengar berita adiknya masuk rumah sakit. Besar bersama bukan tidak mungkin jack mengkhawatirkan kondisi adiknya.
"Tenanglah! Rafa baru menelepon memberitahu mama tengah malam tadi."
"Kenapa? Kepala mu sakit? Ayo minumlah obat nyeri kepalamu!" Stela turun dari tempat tidur ketika melihat sang suami nemegangi kepalanya. Jack merasa ada yang aneh dengan kepala nya tak sepetti biasa, rasa nyeri tengah melandanya tapi juga ada sebuah sinar seperti membus retina nya hingga menyilaukan.
Setelah meminum obat yang diberikan stela, secara perlahan jack memejamkan matanya mulai tidur kembali. Stela ikut berbaring disamping sang suami memeluk badan kekar miliknya.
Stela terbangun karena baby safa yang menangis minta susu, kemudian tertidur kembali setelah kenyang juga setelah diganti popoknya oleh stela. Sementara stela berniat ke kamar mandi membersihkan diri mengingat kemarin gagal dengan rapat kantor jack, stela berniat melakukan meetimg pagi ini.
Jack terkejut bangun dari tidurnya setelah bermimpi buruk hingga mengeluarkan keringat dingin di sekujur tubuhnya. Namun ada yang aneh dengan jack, merasa bisa melihat sesuatu di depan nya. Jack hanya membuang jauh harapan nya dan menyatakan kalau itu hanya mimpi.
Jack menoleh ke samping kanan kiri dan juga ke atas melihat ke sekelilingnya yang ternyata jack mampu nenembus benda hitam yang beberapa saat ini menghalangi pandangan matanya. Jack bangun dari tempat tidur menghampiri baby box milik safa, yang ternyata safa masih tertidur pulas ditempatnya.
__ADS_1
"Sayang, apa kau merindukan papa? Papa juga sangat merindukan mu." Jack menyentuh pelan pipi embul safa lalu berjalan mengelilingi kamar,encari keberadaan sang istri.
Ceklek ...
"Ah..., jack. Kau membuatku terkejut." Stela memapah jack duduk di samping kloset. Jack merasa bingung dengan kabar bahagia ini,tapisedikit mengerutkan dahinya ketika melihat sang istri seperti lemah tak berdaya.
" Duduklah! Aku akan mandi sebentar, hari ini harus ke kantor. Aku menunda rapat kemarin."
Entah perasaan sedih atau senang bisa kembali melihat istrinya, terapi ia juga kasihan harus membuat istrinya kecapekan mengurusnya safa maupun kantor.
Stela melepas piyamanya tepat di depan nya, jack menelan ludah kasarnya setelah beberapa pekan absen menyentuh keindahan tubuh stela. Jangankan untuk menyentuh melihat saja jack tidak mampu. Jack selalu menghindar saat stela berusaha mencairkan suasana. Stela mengerti sikap penolakan jack karena keadaan nya.
Glek.... Glek...
Stela mengguyur tubuhnya dibawah air shower sedikitnya membuat jack panas dingin melihatnya. Lelaki mana yang tidak terpancing melihat pemandangan yang begitu indah, surga dunia nya para lelaki.
"Sayang..., tolong ambilkan handuk!" Stela terdiam sesaat lalu mematikan air shower melangkah keluar ruang shower hingga membasahi jack. Jack merasa tidak tahan menarik pergelangan tangan stela yang lalu jatuh duduk di pangkuan jack.
Stela sedikit menahan menangis lalu memeluk jack, dalam keadaan seperti itu jack memanfaatkan kesempatan itu mencium leher jenjang stela. Stela yang merasa kesepian merespon apa yang di inginkan jack . Pergumulan panas tak sampai disana saja bahkan hingga ke ruang shower, dimana jack sangat menyukai tempat itu saat bergumul dengan istrinya.
Jack masih berpura- pura tak bisa melihat meskipun merasa kasihan dengan istrinya yang terlihat kecapekan karena ulahnya tapi harus tetap menjalankan misi ini.
Stela memapah sang suami ke tempat tidur setelah memakai bathrobe, sedangkan dia membawa baby safa yang sudah bangun keluar kamar menyerahkan nya pada bi ijah.
"Bi..., tolong bantu jaga safa ya! Stela ingin tidur sebentar." Ucap stela.
"Iya, non. Non safa sudah mandi?"
"Belum, bi. Safa baru saja bangun."
"Baiklah, bibi akan mandikan dulu. Non istirahat saja, pasti kecapekan menjaga safa sendiri." Stela hanya tersenyum lalu mengangguk pelan.
Stela menutup pintu kamarnya lalu berbaring di tempat tidur di samping jack yang juga sangat kekelahan. Setelah kecelakaan itu, jack tak pernah menyentuh istrinya meskipun stela mencoba merayunya tak mengalahkan egonya karena keadaan nya.
Sesaat stela menelepon asisten jack memberitahu kalau tak bisa ke kantor, setelah itu berbaring di samping jack memeluk tubuh sang suami hingga terlelap tidur.
" Maafkan aku yang tak bisa menjaga mu. Kau pasti kecapekan dan kesepian selama ini." Gumam jack dalam hati.
" Aku yang tenggelam dalam kesedihan ku hingga mengabaikan mu seperti ini."
" Maafkan aku sayang. Aku janji akan menjagamu dengan baik."
Jack membelai wajah sang istri hingga ikut terlelap disampingnya. Tak berapa lama sang bibi membuka pintu kamar, terdengar suara samar- samar safa menangis yang mungkin ingin menyusu dengan mama nya atau mungkin karena lapar.
" Kasihan non, terlihat capek. Mbok bikinin susu formula ya non, kasihan mama sedang tidur itu." Gumam mbok ijah lirih. Seakan mengerti ucapan mbok ijah, safa diam dari tangisnya lalu seperti mengoceh.
Jack terbangun ingin melihat baby safa, tetapi mbok ijah sudah menutup kembali pintu kamar.
Bersambung🙏🙃
__ADS_1