Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Tempat apa ini


__ADS_3

Percayalah, setiap orang pasti pernah merasakan kengerian dalam hidupnya.


Tapi jangan pernah menjadikan kengerian itu menjadi sebuah alasan, untuk tidak bahagia.



Setelah semua kesalahpahaman di antara dua Pria ini, mereka selesaikan, Rezki mengungkapkan perasaan yang ia rasakan terhadap wanita yang dari awal bertemu sudah mencuri perhatiannya. Namun sayangnya, wanita itu sudah menjadi milik orang, yang tidak lain adalah Kevin, temannya sendiri.



Brian pun menceritakan, awal mula Kevin bertemu dengan Khaira, yang sudah digariskan oleh takdir, bertemu dari ketidaksengajaan, menjadi awal mula perjalanan dari kedua insan, yang sebelumnya tidak pernah berkenalan.



Mendengarkan dengan seksama, terlukis sebuah cerita, menggambarkan sebuah luka, membawa gadis itu ke masalah yang melibatkannya. Salah siapa?



~



Kini Rezki sudah berada di restoran miliknya, duduk di salah satu kursi restorannya. Ia memandang wanita yang masih sibuk dengan pekerjaannya, membawa nampan berisikan pesanan, dan kembali dengan wadah kotor bekas pelanggan.



Ia merasa iba pada wanita yang masih pantas menyandang status gadis, itu. Gadis yang menjadi pusat perhatiannya, kini tengah berhenti sejenak, untuk mengelus pergelangan tangannya yang tertutupi kemeja panjang hitam bercorak batik, khas baju pegawai resto.



Rezki pun mendekatinya, dengan perasaan yang membuat hatinya semakin membuncah. Hap...!



Sekali gerakan tangan, Rezki menangkap gelas yang siap menghajar lantai berwarna cokelat corak kayu. Gadis itu terkejut, kala gelas yang masih di atas nampan, menggelinding indah seperti paralayang dari ketinggian.



Khaira merasa beruntung ada seseorang yang menangkap gelas yang menggelinding dari nampan. Khaira menoleh seseorang yang telah menolongnya, dari kekacauan yang akan ia perbuat.



"Bos Rezki.." Khaira merasa lega, ia melihat laki-laki berkemeja pink muda, bak kembang gula yang dijajakan di pasar malam. Dua kali pulalah laki-laki itu menolongnya.



Rezki pun menaruh gelas yang ia pegang, di atas nampan yang masih dipegang Khaira. "Khaira, kalau lenganmu masih terasa sakit, kenapa kamu masuk kerja."



"Aku sudah lebih baik dari hari sebelumnya, Bos." jawab Khaira, seolah ia sudah terbiasa berteman dengan rasa sakit dan berharap agar orang lain tidak menganggapnya lemah.



Rezki, lantas memanggil salah satu waiters lainnya, untuk membawa nampan yang dibawa Khaira.


"Ay, tolong bawa ini kebelakang." titah Pria berambut dicat warna neon cream, kepada pegawainya.



"Nggak, nggak perlu, aku bisa, udah kamu lanjutin aja kerjaan kamu Ay." kata Khaira, menolak memberikan nampan kepada Ayla, rekan kerjanya.



"Kamu hendak melawan Bos kamu!" hardik Rezki pada Khaira.



Khaira pun pasrah, dan memberikan nampan kepada Ayla, "Maaf yah Ay," ucap Khaira tak enak hati, pada Ayla.



Ayla menerima nampan yang diberikan Khaira dengan wajah datar, bibir yang sejajar, menandakan ketidaksukaan. Ayla pun pergi dari hadapan Rezki dan Khaira menuju ke dapur resto.



Rezki memegang tangan Khaira, memeriksa pergelangan tangan yang tertutupi kemeja panjang hitam bercorak batik, dan perban yang mengganjal di dalamnya. Tanpa Rezki hiraukan banyak orang-orang yang sedang memperhatikannya.



Khaira merasa tidak nyaman, kalau ia sekarang menjadi pusat perhatian dari sebagian pengunjung resto dan pegawai lain. Ia tidak mau kalau sampai ada yang berprasangka buruk tentang hal ini.



Terlihat ada seorang wanita cantik, berpakaian modis tengah memegang ponsel, dan memotret Rezki yang tengah memegangi tangan Khaira. Tanpa pikir panjang ia mengambil gambar dari kamera ponselnya dan mengirimkan foto itu kepada seseorang, dan tersenyum licik.



"Ikut ke ruangan ku." titah Rezki, namun Khaira justru berjalan kearah pintu samping resto.



Khaira terduduk, di sudut bangunan resto yang sepi, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, dan menghadap ke langit, yang saat ini bermega agak mendung.


"Abah, Ning merindukan Abah, kenapa Ning masih memikirkan pendapat orang lain tentang ku, yang terkadang sangat menyakiti perasaan ku." gumamnya lirih.



Seorang wanita berpakaian modis mendekati dan memberikan selembar tissue kepada Khaira. "Jangan nangis."



Khaira menengadahkan wajahnya, menatap seorang wanita berpakaian modis yang tengah berdiri. "Clara?"



Clara tersenyum tipis, lalu duduk di sebelah Khaira.



"Gue sudah bilang, ini akan sangat rumit buat lo, tinggalkan Kevin, dan kembalilah ke tempat lo berasal." ucapnya, sekali lagi memperingati Khaira untuk meninggalkan Kevin.



"Clara siapapun kamu? Dan apapun maumu? Aku juga nggak mengenalmu? Lagipula aku sudah bilang padamu, jika kamu memang mencintai Mas Kevin dan merasa mampu mengambilnya dariku, maka ambilah dia agar kamu puas? Jangan lagi menjadi parasit yang membuntuti ku seperti penguntit, sangat menyebalkan!" cecar Khaira tidak tahan lagi, selalu mendapat pesan dan merasa ia mendapat teror dari wanita yang bahkan ia tidak mengenalnya.



Dalam beberapa hari, Khaira selalu diteror melalui pesan oleh Clara. Entah, darimana Clara tahu nomornya. Namun, Khaira memilih mengacuhkannya, karena ia merasa pesan dan ancaman yang dikirimkan Clara tidaklah penting.



Khaira berdiri dan hendak melanjutkan pekerjaannya. Akan tetapi, lagi-lagi wanita itu tidak jera akan cercaan yang di lontarkan Khaira..



"Tunggu!" Clara menghentikan langkah Khaira yang baru berjalan tiga langkah. Ia lantas berjalan dihadapan Khaira yang sudah membelakanginya,

__ADS_1


"Gue hamil, dan ini anak Kevin." ungkapnya.



Seperti tersambar petir ditengah hujan rintik, menyengat pikiran yang mulai terusik. Tanpa kata, tanpa suara, Khaira diam membisu tidak percaya, atas apa yang dikatakan wanita bernama Clara.



"Bohong!" sergah Khaira, baru saja beberapa hari lalu ia mendengar bahwa Kevin, adalah Pria baik-baik dan selalu menjaga dirinya, dari perbuatan tercela.



"Terserah, tapi gue kasih ini supaya lo bantu gue buat Kevin tanggung jawab." Clara memberikan amplop bersampul hijau putih, dan berstample Dokter kandungan. Ia berikan di tangan Khaira, yang masih tidak percaya.



"Bacalah ini baik-baik, dan segera tinggalkan Kevin." kata Clara seperti peringatan.



Suara cempreng dari pemilik gadis berambut sebahu itupun membuyarkan keseriusan diantara Khaira dan Clara. Clara buru-buru pergi dari sana, dan melirik sekilas kearah Khaira yang masih menatap amplop yang ia berikan.



Mita nampak curiga dengan tatapan Clara, dan berpikir pasti telah terjadi sesuatu. Sebulir hangat keluar dari kelopak mata bermanik hitam. Mita pun dibuat terkejut, kala melihat Khaira menangis.



"Ra, Lo kenapa? Siapa perempuan tadi?" Mita bertanya, untuk memastikan apa yang sedang terjadi.



Khaira hanya memeluk Mita, dan menyandarkan kepala di bahu sepupunya.



"Ra, Lo kenapa? Ra tolong ngomong dong Ra, jangan kaya gini, biar gue tau, apa masalah Lo?" ucap Mita khawatir melihat Khaira yang hanya menangis dalam diamnya sambil menahan isakkan.



Khaira meremas amplop yang diberikan Clara padanya, hati yang kembali tergores luka, membuka kembali sakit yang dirasa, "Mit, aku benar-benar nggak tahu perasaan apa yang ku rasakan saat ini, kenapa begitu sakit Mit. Tolong aku Mita. Hatiku sakit, aku merindukan Ibuku. Aku nggak mau ditinggal pergi oleh orang yang ku sayangi."



Mita merasa tidak tega melihat sepupunya, menderita lagi. Kepergian Ibunya sudah cukup membuat anak yang saat itu berusia enam tahun menahan perih dan derita sampai detik ini.



Hawa panas menyelimuti pelupuk matanya, Mita tidak tega melihat Khaira terpuruk seperti ini. Khaira bersimpuh di atas tanah yang basah akibat guyuran rintik hujan.



Tanpa Mita dan Khaira sadari, Rezki telah lama memperhatikan keduanya dari kejauhan, dengan perasaan gamang..



~~



Berjalan gontai, gamang masih bergelayut santai, tapi kali ini menjelma rantai, mengikat kuat di pergelangan kaki yang berjalan lunglai. Mengumpulkan kepingan demi kepingan harapan, merajut masa depan, menghapus kesedihan, mulai dengan doa-doa yang dipanjatkan.



"Ra, kali ini, Lo harus bisa melupakan semua beban dihidup Lo." celoteh Mita, mencoba membuat Khaira tersenyum.




Pikir Khaira, hanya sekedar hiburan malam, yang seperti pasar malam, atau semacamnya. Ia sudah mengirim pesan via wawa kepada Kevin, kalau dirinya akan pulang malam.



Meskipun saat ini hatinya tengah merasa kecewa pada Pria itu, tapi Khaira merasa harus tetap memberitahu dan meminta izin kemana ia akan pergi.



Mita, Rezki juga Khaira tengah berjalan kaki, menikmati semilirnya angin, sesekali Rezki melirik Khaira yang nampak lusuh, sedangkan Mita sedang bernyanyi-nyanyi ria, kala ia mendengar akan ada traktiran yang menghampirinya.



Bukan Mita melupakan kesedihan sepupunya, hanya saja mungkin dengan cara seperti ini, Khaira bisa melupakan kesedihannya. Mita pun mengalungkan tangannya dilengan Khaira, dalam pikirannya.



"*Kevin sejahat inikah Lo? Ataukah memang ada yang tidak menyukai hubungan kalian*?"



Setelah satu jam menyusuri jalanan khusus untuk pejalan kaki. Kini Rezki, Mita dan Khaira sudah sampai di depan bangunan tiga lantai yang cukup besar. Nampak, dari luar seperti cafe biasa, tidak ada yang menyangka bahwa di tempat inilah. Para penikmat waktu malam menghabiskan sisa harinya sampai menjelang malam.



Khaira amat sangat mengamati bangunan tiga lantai di hadapannya, ia membaca Cafe dan diskotek *Boleros*.



"Tempat apa ini?" tanya Khaira curiga, karena ia melihat wanita dengan pakaian minim, dan laki-laki yang keluar masuk kedalam bangunan.



"Tenang aja Ra, kita cuma mau lihat-lihat aja kok, nggak minum." kata Mita.



"Minum? buat apa kita minum, kan tadi kita udah minum banyak di resto." jawab Khaira, tidak mengerti apa yang dikatakan Mita.



Rezki hanya tersenyum, mendapati jawab lugu Khaira. "*Dia memang beda, dari cewek-cewek lain*."



"Ayok." ajak Mita, menarik tangan Khaira, dan disusul oleh Rezki yang berjalan dibelakangnya.



Khaira lantas memakai tudung Hoodie hitam yang dipakainya, dan menutupi seluruh kepala yang tertutupi hijab hanya menyisakan wajahnya saja. Khaira masih biasa, melihat orang-orang yang hanya duduk-duduk di sofa ataupun kursi yang ada didalam cafe.



Namun, berbeda saat memasuki bagian lantai dua cafe, yang nampak sangat ramai dengan alunan musik DJ yang menggema di seluruh ruangan serta orang-orang, maupun muda-mudi yang ber'ajojing santai.



Khaira terheran-heran, untuk pertama kalinya ia berada didalam dan melihat diskotek, yang menjajakan minuman beralkohol. "Inikah diskotek?" gumamnya masih sangat mengamati, akan tata cahaya dari lampu sorot, serta tata suaranya yang menggema.

__ADS_1



Meja DJ lebih tinggi dari lantai dansa. Di langit-langitnya ada chandelier yang amat sangat besar. Terkadang sinar laser mencuat ke sana ke mari, mengikuti alunan musik yang tengah dimainkan.



Berada di tengah lantai dansa, bagaikan sedang berada di dunia sarat imajinasi, dengan catatan jika musiknya saat itu masuk dengan selera.



Pikirannya pun mulai mengingatkan, akan foto-foto mesra Kevin dan Clara, Khaira melihat botol minuman keras yang mirip seperti didalam foto yang diberikan Clara padanya. "*Inikah gambaran tempat dimana foto yang diberikan Clara*?"



Mengamati dengan mata telanjang, dan memilih duduk di kursi bar dan meja panjang didepannya. Sementara Mita nampak bersemangat dan sedikit menggoyangkan tubuhnya, sedangkan Rezki mengikuti kemana langkah Khaira berada, ia pun duduk di kursi kosong samping Khaira.



Dengan cahaya yang redup, Khaira dapat melihat seorang DJ Pria sedang berada dimeja DJ, tengah memainkan tombol-tombol yang ada didepannya, Khaira merasa tidak asing dengan postur tubuh DJ itu.



Akan tetapi karena cahaya lampu yang redup, Khaira tidak begitu jelas melihatnya, DJ yang juga memakai masker hitam dan memakai topi. Sampai seorang DJ wanita seksi hanya memakai tengtop menggantikan DJ Pria.



"Apa semua DJ Pria misterius, seperti DJ favorit ku, AW, Marshmellow, dan DJ Deso official YouTube." gumam Khaira, ditengah menggemanya alunan keras music remix yang diputar seorang DJ wanita.



Khaira merasa ini bukanlah tempat yang pas untuk meluapkan segala rasa, ia pun akhirnya keluar dari dalam diskotek yang membuat isi telinganya terasa tersumbat katembat.



"Ra tunggu!" Rezki mengejar Khaira yang sudah berada didepan bangunan cafe.



Tepat saat Rezki memanggil Khaira. Kevin juga menoleh membersamai dengan Clara yang bersandar pada bahu Kevin sedang bergelayut manja, saat pandangan Clara yang setengah lunglai melihat Khaira, ia tersenyum menyeringai kearah istri siri Kevin.



Saat ini Clara tengah mabuk berat, dan ia yang sengaja menyuruh orang untuk memanggil Kevin diatas panggung DJ, dan meminta agar DJ wanita yang menggantikan Kevin.



Kevin, Khaira dan Rezki, sama-sama tertegun melihat satu sama lain.



"Khaira?" gumam Kevin lirih, melihat Khaira di tempat ini bersama Rezki.



Khaira pun sama tertegunnya, juga Mita yang baru saja keluar dari dalam diskotek. Khaira melihat Clara yang bersandar manja di bahu suaminya. Khaira memalingkan wajahnya, dan berjalan tanpa memperdulikan Kevin yang memanggil-manggil namanya.



"My Delf."



"Khaira...!!!"



"Ra!"



Kevin menyuruh seseorang yang lewat untuk memapah Clara. Ia mengejar Khaira yang semakin menjauh. Akan tetapi, di hadang oleh Rezki.



"Jangan campuri urusan gue!" sergah Kevin kepada Rezki yang menghalangi langkahnya.



"Khaira, tolong dengerin penjelasan ku terlebih dulu." pinta Kevin, yang sudah berhasil menggenggam tangan Khaira.



Namun Khaira tidak bergeming, diam membisu, bara dalam hatinya terlanjur menggelora, ia pun menyetop taksi yang lewat, dan melepas tangan Kevin, yang berpaut di pergelangan tangannya. Membuka pintu taksi yang sudah berhenti di depannya berdiri, dan memasuki taksi tanpa memperdulikan Kevin.



"Akh sial..!" teriak Kevin.



Mita menggelengkan kepalanya, dan menghampiri Kevin yang masih berdiri di tempat Khaira menghentikan taksi, Kevin melihat taksi yang membawa Khaira semakin menjauh, dengan tatapan sedih.



"Gue nggak nyangka, Vin, ternyata Lo bajingan!" hardik Mita yang mulai membenci Pria memakai Hoodie biru dongker.



Namun Kevin malah menghampiri Rezki, dan mencengkeram jaket abu-abu yang dikenakan Rezki.


"Lo, sengaja kan, bawa dia kesini?" hardik Kevin dengan suara dingin.



Rezki tidak terima atas tuduhan Kevin, ia hanya mencebikkan bibirnya,


"Cihh... lo seharusnya bisa menjaga perasaannya, bukan malah melibatkannya kedalam masalah lo sama si Clara.”



Kevin tertegun, mendengar ucapan Rezki.



"Tau apa lo? Jangan pernah ikut campur." kata Kevin, lalu melepaskan cengkraman tangannya, dan pergi begitu saja menuju parkiran.



~



Didalam mobil taksi yang melaju pelan, Khaira mencoba untuk tidak menangis, untuk tidak merasa lemah. Namun, api membara seperti membakar seluruh hatinya. Khaira menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan rasa sesak yang menyeruak.



Akan tetapi, seperti apapun kuatnya ia menahan, buliran kristal bening luruh membasahi pipinya, kelopak matanya terasa panas.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2