Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Salim


__ADS_3

Lima belas menit sudah berlalu, dari Kevin dan para jama'ah di mushola Baitul Muslim menjalankan ibadah sholat subuh. Juga bagi umat muslim di hampir seluruh negeri.


Di teras mushola inilah Kevin berada bersama beberapa Bapak-bapak di sekitar mushola.


Saat ini Kevin merasa sudah lebih bisa menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitar kosan sepupu istrinya. Kevin juga tidak segalak saat pertama kali penggrebekan itu, ia lebih luwes dalam menjawab dan mengobrol dengan beberapa Bapak-bapak yang menyapa dan bertanya.


Penilaiannya kini sedikit lebih berubah, dari beberapa hari lalu yang ia anggap warga di daerah sini primitif, dan kini lebih baik menilainya. Ternyata tak buruk juga, para warga hanya berlaku sangar jika ada perbuatan tercela yang mencoreng nama baik kampung tempat mereka bermukim.


~


Beberapa para wanita yang sebagian Ibu-ibu baru saja keluar dari mushola, termasuk Mita dan Khaira.


Khaira berjalan beriringan dengan Mita, Khaira berjalan dengan pandangan merunduk, ia masih malu dengan warga di sekitar sini. Meskipun bukan kesalahannya, tapi cukup membuat Khaira kehilangan rasa percaya diri sebagai manusia yang sangat menghindari zina.


Mita tak sengaja saat mengedarkan pandangannya melihat seseorang seperti Kevin sedang berbincang-bincang dengan beberapa Bapak-bapak di teras mushola bagian depan. Ia mengucek matanya takut apa yang dilihatnya salah.


Dan benar saja pria yang dilihat Mita adalah Kevin. Mita membelalakkan matanya melihat suami sepupunya, ia lantas menyikut lengan Khaira yang tertutupi mukenah yang dipinjamkannya pada Khaira.


“Ra! Ra!” panggil Mita pada Khaira, agar sepupunya itu menghentikan langkah kaki.


Khaira masih saja terus berjalan, “Hemm!” jawabnya hanya berdehem saja.


Karena tidak mendapati Khaira berhenti melangkah, membuat Mita menarik tangan Khaira lantas meletakkan tangannya di pipi kanan Khaira agar Khaira menoleh kearah seseorang yang telah berstatus suami dari sepupunya itu, “Ra lihat tuh, suami lo ada di sini!”serunya.


Netra Khaira langsung tertuju pada seorang pria yang terlihat sangat berbeda, ia melihat Kevin yang memakai sarung kotak-kotak warna hitam. Baju koko warna putih tulang serta sajadah yang terlampir di pundak kiri pria itu, mata yang sebelumnya memandang dengan tatapan sayu, kini membulat sempurna. “Mas Kevin?!” gumamnya terkejut.


Kevin pun tak sengaja kala mengedarkan pandangannya, ia melihat Khaira yang jaraknya sudah lumayan jauh dari depan mushola. Ia tersenyum tipis kepada istrinya itu, ada perasaan rindu.


Arhh rindu gundulmu! Pikir Kevin. Jika ia sampai mengatakan kata rindu pada Khaira. Palingan ya jawab Khaira (Dasar sinting) atau ya (gundulmu).


Kevin masih perlu meyakinkan diri untuk bisa mengartikan jika perasaan ini bukanlah hanya sekedar pelarian karena patah hati yang disebabkan Sonia.


“Tuh Khaira, dia sudah minta izin sama Bapak. Jika dia mau menginap di kosan Mita, karena kamu sedang pergi bekerja,” ujar Pak Wahyu pada Kevin.


Kevin melihat Pak Wahyu dan kembali menatap Khaira, senyumnya tak kunjung memudar. Ia masih saja tersenyum simpul.


Pak Wahyu, Pak Ramli dan Beberapa Bapak-bapak pun beranjak dari duduknya. Kelima Bapak-bapak itupun berpamitan kepada satu sama lain, dan pulang ke rumahnya masing-masing, untuk menjalankan tugasnya sebagai kepala rumah tangga. Guna mencari rezeki yang insya Allah halal diberi lebel meres keringet!


Kevin menghampiri Khaira, ia tak sedikit pun mengalihkan tatapannya. Sampai seseorang berdehem dan membuyarkan lamunannya.

__ADS_1


“Ehem...” Mita berdehem cukup keras.


Kevin dan Khaira nampak salah tingkah. Keduanya celingusan, kegugupan serta kecanggungan menghinggapi relung hati mereka berdua.


Kevin mengulurkan tangannya dihadapan Khaira, “Kamu nggak berniat salim. Kan biasanya suami-istri kalau habis sholat suka salim?”


Mita ikut melebarkan senyumnya, melihat Kevin dan Khaira yang masih sangat-sangat nampak malu-malu kucing. "Meong!" pekik Mita menirukan suara kucing.


Khaira memelototi Mita.


Mita hanya mengangkat kedua alisnya, "Why, ayo salim sama Pak guru. E-eh Pak guru! Suami lo, maksud gue." ia memberi kode melirik tangan Kevin yang masih terulur dihadapan Khaira.


Khaira melihat tangan Kevin yang terulur dihadapannya. Dengan perasaan canggung, ia menjabat tangan Kevin dan membawanya di antara kedua alisnya.


“Ahaayy cie-cie-cie! Gue kanan aja dah, dari pada gue ngiri, kagak baik!” Mita berjalan sambil terkekeh geli belok ke kanan, menuju kos-kosannya.


Khaira merasa wajahnya menghangat, ia menyentuh pipinya, memang benar wajahnya seakan menghangat dan berubah menjadi sedikit memanas, perasaannya kini pun tak karuan. Seperti dihantam gelombang elektromagnetik.


Begitu pula dengan Kevin, ia pernah jatuh cinta dan menjalin asmara selama dua tahun. Tapi entah mengapa baru kali ini perasaannya sangatlah berbeda, seolah-olah ada sesuatu yang menyenangkan, membuat nyaman, dan malu-malu kucing. (Meong)


“Ehemm..” Kevin berdehem guna mengusir kegugupannya. “Kita nggak mungkin berdiri di sini sampai siang bukan?” ujarnya sambil sesekali melirik Khaira yang tertunduk seraya memilin bibir, seolah sedang menahan senyum.


Kevin tersenyum tipis-tipis, ia pun menyusul Khaira yang sudah berjalan mendahuluinya. Lalu membersamai langkah istri dadakannya.


Sampai di depan kosan Mita, Kevin dan Khaira masih saja canggung.


“Emm.. Gue mau balikin baju koko ini ke Pak Wahyu, tadi beliau udah berbaik hati minjemin ini ke gue buat sholat. Soalnya pakaian yang gue pakai takutnya kotor dan nggak khusyuk buat sholat,” ujar Kevin berhadapan dengan Khaira.


Khaira mengangguk dalamnya ia merunduk.


Kevin pun berjalan kearah rumah Pak Wahyu sang pemilik kost.


Khaira baru berani mengangkat wajahnya setelah Kevin pergi dari hadapannya, ia melihat punggung Kevin yang nampak sangat gagah memakai baju koko. Khaira terus mengembangkan senyumnya, “Kenapa aku ini? Kenapa bisa aku melihatnya sambil tersenyum? Apa karena melihat Mas Kevin nampak sangat gagah pakai baju koko?”


DUWANGG!!!


Tutup panci menggetarkan gendang telinga Khaira. Bukan hanya gendang telinga. Khaira melompat terkesiap sudah seperti barongsai, ia dikejutkan ulah usil Mita yang menabuhkan tutup dan panci. Tepat di belakang Khaira yang terus menatap kepergian Kevin ke rumah Pak Wahyu.


"Mita!" hardiknya pada Mita.

__ADS_1


Sementara itu dengan wajah tanpa dosa, Mita melepaskan tawanya, "Hahaha... ketahuan lo, Ra. Kalau lo sekarang udah mulai tertarik ama Kevin,"


Belum juga dapat mengatur detak jantungnya yang terkejut dengan usilnya Mita. Kini apalagi tuduhan yang disangkakan Mita padanya, Khaira menoyor kepala sepupunya yang suka bertindak usil.


"Eeee... tertarik apaan? Memang kamu anggap aku ini tambang, main tarik tertarik!" seru Khaira nyelonong masuk ke dalam kosan Mita.


Mita mengusap kepalanya yang di sambar oleh tangan Khaira, "Lihat aja lo, katanya hati lo kagak gampang jatuh cinta. Tapi kalau lo berani taruhan ma gue, kalau lo kagak bakal jatuh cinta sama si Kevin. Gue kasih duit gajian gue sebulan buat lo, tapi kalau sampai lo jatuh cinta, berarti taruhan itu berbalik. Gimana?"


Khaira melepas bawahan mukenah, dan melipatnya, "Mita, sejak kapan cinta bisa buat taruhan. Bukannya aku nggak berani, tapi aku nggak mau cinta buat mainan apalagi kalau sampai buat taruhan!"


Mita menyasingkan ucapan Khaira, ia mendekapkan kedua tangannya di depan dada, "Bilang aja kalau lo takut kalah taruhan sama gue, ya kan Ra?"


Khaira menatap Mita malas, "Terserah kamu, tapi aku nggak bakalan mau taruhan soal cinta. Biar Allah yang Maha Membolak-balikkan hati. Aku pasrah saja," Ia berjalan mendekati sepupunya dan diambilnya panci serta tutup dari tangan Mita.


Khaira membalas kejahilan Mita.


DUWANGG!!!


Tutup panci pun penyok di tangan Khaira.


Mita membelalakkan matanya, melihat tutup panci yang penyok serta gendang telinganya yang seperti menari-nari.


"Khaira!!!" teriaknya lantanf menyerukan nama sepupunya, Mita lantas menghamburkan diri menghantamkan tubuh Khaira dan menggelitiki sepupunya tanpa ampun.


Keduanya sama-sama tertawa terbahak-bahak di dalam kamar kosan Mita.


~


Sementara itu di luar kamar kosan Mita, tak sengaja Kevin mendengar semua pembicaraan Khaira dan Mita.


Ia tersenyum dibuatnya. Dan merasa jawaban Khaira cukup bijak, "Allah Maha Membolak-balikkan hati." gumamnya lirih.


Kevin menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, ia menadahkan wajahnya menatap hamparan luasnya langit yang terlihat biru muda dengan semburat warna keemasan dari mentari pagi.




Bersambung

__ADS_1


__ADS_2