
Persiapan penyambutan kepulangan ane sudah selesai beberapa asisten pribadi ane maupun asisten rumah tangga mereka menunggu di depan pintu rumah mereka.
"Kasihan non, bi. Masih muda harus melewati ujian seberat ini."
"Iya, benar."
"Hah..., mungkin memamg sudah jalan nya non ane melewati semua nya."
"Doakan saja yang terbaik."
"Benar, kata bibi."
"Kita akan jarang mendengar celoteh, nona."
"Suara manjanya, teriakanya yang menggemparkan isi rumah, apalagi saat memasak."
"Benar itu."
"Juga pemandangan so sweet yang bikin iri hati itu."
"Tapi kita bisa melakukan satu cara untuk membuat suasana lebih ramai."
Ucap salah seorang asisten rumah tangga yang merupakan orang kepercayaan bryan dan ane mengurus rumah itu.
"Apaa...?"
"Apaa...?"
"Apaa...?"
"Apaa...?"
Mereka menjawab secara serempak menoleh pada bi inah yang tersenyum sendiri.
" Kalau dulu non ane yang banyak bicara, sekarang giliran kita yang harus sering bicara dengan nona."
"Benar."
"Iya, benar.
"He em."
"Jadi..., kita harus semangat."
"Semangat."
Ucap mereka serempak tersenyum dan salong pandang satu sama lain.
Tak berapa lama yang mereka tunggu datang, rasa haru sedih bahkan tetesan air mata tak dapat di bendung ketika melihat ane di gendong bryan ke kursi roda lalu sang majikan mendorongnya masuk ke dalam rumah.
"Selamat datang, nona."
" Terima kasih, bi."
" Ane pasti senang dengan penyambutan kalian."
"Terima kasih, den."
"Terima kasih, bi. Ane sangat beruntung memiliki kalian yang sangat perhatian."
"Sama- sama, nyonya."
Della merasa terharu dengan para pekerja di rumah bryan yang begitu menyayangi ane.
"Waow..., rumah yang bagus. Jadi..., kalian pindah kesini?"
Ucsp della mengikuti bryan yang tengah mendorong ane dari belakang.
"Tidak, ma. Kami baru pindah beberapa hari."
Rupanya bryan membawa ane menuju sebuahblift tang menang sengaja dibangun papa mahendra menuju lantai dua atau pun lantai tiga.
"Beberapa hari?"
Della terkejut dengan jawaban bryan yang menyatakan baru tinggal beberapa hari di rumah itu.
"Lalu..., kalian pindah kemana? Ada rumah lain?"
"Rumah impian ane, ma."
"Rumah impian ane?"
Della mengerutkan dahinya tak mengerti apa yang di ucapkan menantunya itu, namun tetap ikut dibelakang nya.
" Iya, ma."
Della semakin terkejut ternyata rumah ini dilengkapi dengan fasilitas yang tak kalah berbeda dengan rumahnya bahkan kalah jauh lebih modern dan juga lebih mewah.
"Rumahnya bagus, ian. Mama nggak nyangka kalian tinggal dirumah mewah."
Ucap della.
"Juga dilengkapi fasilitas modern. Rumah mama jauh dari ini."
"Hihihi..., mama bisa saja. Ini kado dari papa, ma."
"Kado dari papa? Maksudmu mahendra, papamu?"
__ADS_1
"Iya, ma."
Jawab bryan singkat.
"Sayang, istirahat dulu ya? Siang nanti kita akan ke kebun bunga kesukaan mu."
"Kebun bunga? Waow..., rupanya mahendra masih ingat kesukaan putri kecil nya hingga membuat rumah se perfeck ini dan juga design kesukaan ane."
"Papa ane ngasih apa untuk kalian?"
Seakan merasa iri karena mahendra memberikan rumah yang begitu mewah untuk bryan dan ane, della sengaja menanyakan pemberian suaminya.
"Ada ma, sebuah apartemen."
"Hanya apartemen?"
Seakan kecewa dengan jawaban bryan, della menanyakan kembali padanya.
"Iya, ma. Sebenarnya papa menawarkan hadiah yang lebih dari itu, tapi ane yang memintanya sendiri."
"Ane...?"
Bryan tersenyum pada della mengerti kalau sang mama mertua sedikit kecewa.
"Yah..., kenapa hanya minta apartemen sih ne? Jadi malu sama besan."
Gumam della lirih duduk di samping sang putri.
"Memang nya kenapa kalau hanya apartemen ma?"
"Eh..., tidak. Hanya ..., kenapa tidak meminta yang lebih mahal?"
"Mama biasa saja. Apartemen nya mahal lo ma, bryan ke ruang kerja dulu ya ma."
"Iya, sayang. Mama akan menemani istrimu."
"Tidak! Mama pasti capek, istirahatlah ma! Di samping kamar bryan dan ane ada kamar, bisa mama gunakan untuk istirahat."
"Tidak apa, sayang. Mama hanya ingin menjaga putri mama, setelah banyak waktu yang mama buang meninggalkan nya demi apa yang tidak penting."
"Baiklah, terserah mama saja.''
Bryan menghilang di balik pintu yang ada disamping sebuah lemari hias berisi benda- benda pernak- pernik.
"Kesayangan mama, cepat sembuh ya! Kasihan dua baby yang ada disini."
Gumam della lirih menyentuh pelan perut ane, tanpa disadarinya bulir- bulir air mata menetes di sudut kedua matanya lalu mengusapmya dengan cepat.
"Kamar mu sangat mewah, ne. Papa hendra sangat menyayangimu, membuat rumah impian mu meskipun tak di pinggir pantai."
"Design sangat cantik, barang- barang unik dan antik kesukaan mu, juga warna kamar warna favorite mu."
" Waow..., design wardrobe sangat mewah dan juga cantik. Semua tersusun rapi dan juga teratur."
"Ne..., mama sangat merindukan mu."
"Kenapa semua terjadi pada mu? Kenapa tidak pada mama saja?"
"Kau baru saja menikah, tapi harus menerima ujian sebesar ini."
"Eh..., tunggu..., tunggu. Apa mahendra memang mengetahui kalau kau menantu yang di inginkan nya?"
Gumam della.
'' Tidak, ma. Sebelum nya papa tidak mengetahui kalau istri ian ane."
Jawab bryan yang tiba- tiba muncul dari balik pintu ruang kerjanya yang memang terhubung dengan kamar mereka.
"Lalu..., bagaimana papamu bisa membuat rumah sesuai selera ane?"
"Waktu itu..., bryan sengaja mengajak ane mampir dan menginap dirumah ini. Saat pulang dari pesta kampus karena melihat ane tertidur di mobil."
Ucap bryan mendekati istrinya yang masih memejamkan matanya.
"Saat yang bersamaan papa datang ke rumah ini, meskipun kami tidak bertemu karena lebih dulu pulang."
"Dan rupanya bi ijah memberitahu papa selera ane pada papa."
Ucap bryan memberitahu mama della.
"Lalu..., bagaimana papa mu dan papa ane mengetahui nya?"
"Saat itu..., bryan sempat salah paham melihat ane bersama papa di sebuah hotel dimana bryan membooking restoran."
Ucap bryan.
"Salah paham?"
Della semakin tak mengerti apa yang dimaksud bryan.
"Hihihi..., iya ma. Bryan sangka papa ada main dengan ane."
"Ada main dengan ane? Maksudnya?"
" Mungkin bryan terlalu mencintainya, jadi mudah cemburu saat ane bersama pria lain meskipun dengan papa bryan sendiri."
"Hah..., kau ini. Lalu...?"
__ADS_1
" Bryan tak melihat rupanya disana juga ada om rendy yang memang di ajak papa bertemu dengan papa wijaya atas undangan bryan waktu itu yang ingin mempertemukan papa wijaya dan papa hendra."
"Namun..., bryan malah nggak hadir."
"Nggak hadir?"
" Hihihi..., iya ma. Bryan cemburu papa memeluk ane bahkan mencium pipinya."
"Hahahaha....,jadi menantu mama sangat mencintai istrinya."
Della tertawa terbahak mendengar cerita bryan, tak menyangka menantunya sangat mencintai putrinya.
"Hihihi... ."
Bryan menggaruk kepalanya meskipun tak gatal juga tertawa lirih.
"Lalu....?"
"Lalu..., ada sedikit kesalahpahaman antara bryan dan ane. Tapi..., bryan beruntung karena papa menelepon tepat pada waktunya sebelum putri mama yang cantik itu meninggalkan rumah bryan."
"Waow..., kisah yang dramatis."
"Saat bryan mengetahui kalau ternyata ane adalah orang yang sama yang mama jodohin untuk bryan, hati ini sangat terkejut hampir syok."
"Bryan tak menyangka dunia begitu sempit, mati- matian bryan mengejar ane bahkan dapat penolakan karena tak ingin menyakiti hati mama rupanya kami berjodoh."
"Hem...., itulah anak muda. Selalu menyimpulkan sendiri sebelum mengetahui kebenaran nya."
Ucap della.
"Hah..., semua sudah terlanjur seperti ini. Ingin mengulang seperti sedia kala rasanya tidak mungkin, istri mu seperti ini."
"Ma...., bryan yakin ane akan sembuh."
Bryan memeluk kedua bahu della yang merasa sedih dengan kondisi putrinya.
Ceklek...
"Kalian kejam sekali! Tidak memberitahu ku sebelum nya."
Baik bryan maupun della terkejut dengan sebuah suara yang terdengar setelah pintu itu terbuka.
"Mama."
"Ine."
"Kenapa kalian terkejut? Senang? Menghukum ku karena aku yang menyebabkan kecelakan ane?"
"Del, apa maksudmu? Baru saja sampai langsung marah."
Ucap della bingung dengan sang besan.
"Iya, mama kenapa? Bukan kah kita sudah deal tak membahas itu lagi?"
Bryan mengerutkan dahinya mendengar perkataan yang dilontarkan mama nya.
"Mama sudah sampai dirumah sakit, tapi tidak ada seorang pun. Perawat mengatakan kalian sudah pulang, kenapa tak memberitahu mama?"
"Hah..., itu rupanya. Bryan sudah mengirim pesan pada mama, juga menelepon papa."
Ucap bryan.
"Pesan? Telepon papa? Jadi..., apa yang dikatakan papa mu benar?"
"Bryan menelepon papa saat melihat pesan hanya centang satu."
Ine dengan cepat mencari ponselnya di dalam tasnya yang ternyata mati tak ada daya karena lupa mencharger nya.
"Yah..., ponsel mama mati."
"Nah..., itu salah satu sifat mama mu."
Ucap della yang sudah hafal sifat ceroboh sahabatnya itu.
"Hah."
Bryan menepuk dahinya sendiri yang juga paham dengan sifat mama nya.
"Hihihi."
Ine terkekeh tersenyum dwngan kecerobohan nya.
"Sayang, kau masih tidur? Mama datang membawa makanan kesukaan mu juga menjaga mu."
Ucap ine menghampiri sang menantu yang masih memejamkan matanya.
"Kenapa semua ini terjadi saat mama mengetahui kau menantu mama sih, ne?"
Ine tampak merasakan penyesalan yang teramat mendalam saat melihat ane tak bergerak ataupun menunjukkan reaksi apapun.
"Sudahlah, ma. Jangan dibahas lagi! Bryan mohon."
Ine mengangguk pelan mengusap air matanya yang mengalir begitu saja di kedua sudut matanya.
Mereka memutuskan menjaga ane secara bergantian, meskipun bryan ada setiap saat.Salah satu moment yang tak ingin mereka lewatkan dalam komdisi ane yang tak mengenal siapa pun.
Bersambung 🙏😊
__ADS_1