Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Sangkar emas


__ADS_3

Erik sedang berada di perjalanan menuju hotel tempat pertemuannya dengan para pemegang saham, namun tiba-tiba saja ponselnya berdering.


Netra tuanya melihat orang rumah yang telah menghubunginya.


"Iya Bik.." kata Erik setelah menghubungkan sambungan telepon.


Erik membulatkan matanya, kala mendengar aduan dari Bik Siti jika Clara telah memesan obat penggugur kandungan yang jelas saja bisa membahayakan nyawa Clara sendiri.


"Sadam, cepat putar arah. Kita harus pulang sekarang!" titah Erik pada sang supir yang akan membawanya ke hotel Margarita. Setelah mematikan sambungan telepon.


Sadam dan seorang ajudan yang duduk di sebelah jok kemudi bingung, namun tak berani bertanya. Sadam segera memutar arah laju mobil yang sedang dikemudikannya.


Selama kurang lebih satu jam, mobil mewah Erik telah sampai di pelataran rumahnya yang sangat luas. Erik segera keluar dari dalam mobil, dan menjumpai Bik Siti serta Bik Tuti yang langsung menunjukkan plastik bekas paket yang dipesan oleh Clara.


Erik membelalakkan matanya, ia langsung berlari menuju anak tangga. Dalam situasi genting seperti ini, ia telah melupakan jikalau kakinya sering mengalami kram sebab itulah Erik memasang lift di dalam rumah mewahnya yang seperti istana.


Pada saat membuka pintu, dilihatnya Clara duduk di sofa tunggal meja rias, sedang di telapak tangan Clara terlihat obat-obatan yang siap akan meluncurkan ke dalam mulut putrinya.


Erik segera menepis tangan Clara agar tidak mengonsumsi obat-obatan yang tidak adanya legalisasi dokumen surat resmi dari pemerintah.


"Papa..." Clara terkejut atas kemunculan Papa Erik, yang tidak biasanya akan pulang secepat ini.


"Apa yang akan kamu lakukan kali ini Clara!" seru Papa Erik bernada suara meninggi, sampai telinganya sendiri pun dapat mendengar suaranya yang terdengar menggelegar.


Clara tercengang menatap Papa Erik, ada kilatan kemarahan di netra Papa'nya, "Biarkan Clara menggugurkan kandungan ini Pa. Lagipula Kevin juga nggak mau bertanggungjawab, Clara nggak mau melahirkan anak ini. Clara nggak mau."


"Tapi Clara, obat-obatan ini bukannya menggugurkan kandungan mu, justru akan mengakibatkan kematian mu sendiri Clara!" tukas Papa Erik masih tidak melunakkan suaranya.


Clara mulai menangis, "Biar-biar sekalian Clara mati aja Pa, Clara hidup pun nggak ada yang perduli sama Clara, nggak ada yang memperhatikan Clara. Clara hidup dalam sangkar emas tapi secuil pun Clara nggak merasa bahagia," teriak Clara meremas rambutnya kuat-kuat, "Biarkan Clara mati Pa!"


Plak... tamparan keras Erik layangkan di pipi putrinya. Ia tercengang atas apa yang dilakukannya, inilah kali pertama bagi Erik menampar Clara, putri kecilnya.


Clara terhuyung dari sofanya, ia beringsut terduduk di atas permadani tebal. Clara merasakan panas seperti terbakar di wajahnya, ia memenangi pipinya yang mendapatkan tamparan keras dari Papa Erik.


"Jadi benar bukan, Papa nggak sayang sama Clara?" kata Clara bersuara parau seraya menundukkan pandangan.

__ADS_1


Erik beringsut berlutut di depan putrinya, ia menyesal. "Maafkan Papa, Clara. Papa tidak bermaksud melakukannya, Papa sangat menyayangi mu, Papa tidak ingin kehilanganmu Clara, putri kecil Papa,"


Clara mengangkat wajahnya, bersitatap dengan sorot mata Papa Erik yang berkaca-kaca. "Cukup Pa," kata Clara lirih, "Cukup sudah Papa sama Mama bilang menyayangi ku, tapi-" tatapan Clara yang sendu berubah nyalang.


"Papa sama Mama hanya mementingkan diri kalian sendiri! Tanpa sedikitpun memperhatikan ataupun meluangkan waktu untukku! Aku bukan lagi putri kecil Papa ataupun Mama, tapi aku telah berubah menjadi monster kecil yang tumbuh di dalam sangkar emas ini Pa! Clara sudah menjadi monster, Papa harus tau itu!" teriak Clara parau. Ia beranjak menyambar kunci mobil dan segera berlari keluar dari kamarnya meninggalkan Papa Erik yang masih berlutut dikamar.


Pada saat semua ajudan Papa Erik menghalangi jalannya, Clara berteriak, "Minggir kalian! Kalian hanya sekedar kucing liar yang dipelihara Papa!"


Clara menjadi brutal, ia berlari keluar tanpa alas kaki. Menuju mobilnya yang terparkir di garasi, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dilihatnya empat ajudan Papa Erik yang mencoba menghalangi laju mobilnya, Clara semakin dalam menginjak gas mobil.


Seketika empat anak buah Erik kalangkabut dan lebih memilih menghindar.


Clara keluar dari pelataran luas rumahnya, entah kemarahannya akan membawanya kemana. Namun disudut hatinya ia ingin bertemu dengan Kevin, sang pujaan hati yang telah bertahta di singgasana cintanya.


Namun, ia membelokkan laju mobilnya menuju restauran tempat Khaira bekerja. Yah, ia ingin meluapkan segala kemarahannya kepada Khaira, ia ingin Khaira tahu betapa Clara mencintai Kevin.


Sesampainya di restauran milik Rezki, Clara seolah menjadi seorang pengunjung resto, ia bahkan memesan menu makanan meski tak merasa lapar. Clara mengamati satu persatu karyawati yang menjadi waiters resto ini. Akan tetapi, Clara tidak mendapati seseorang yang dicari.


Alhasil Clara berinisiatif, in bertanya kepada seorang pelayan yang mengantarkan menu makanan yang ia pesan, "Mbak, boleh aku tanya?"


Clara langsung menanyakan seseorang yang sedang dicarinya,


"Mbak kenal sama Khaira?"


Salli bingung dengan pertanyaan wanita muda dengan potongan rambut blow sebahu, "Maaf, ada apa ya Mbaknya mencari Khaira?"


Clara terdiam sejenak, namun sedetik kemudian ia menjawab dengan alasannya yang dibuat-buat, "Kebetulan aku dan Khaira saling kenal, dan aku baru tau ternyata Khaira bekerja di sini,"


"Oh seperti itu," jawab Sallie, seraya menaruh pesanan di atas meja, "Katanya sih, kemarin kecelakaan." sambung Sallie menjelaskan ketidakhadiran Khaira dalam bekerja dikarenakan mengalami kecelakaan.


"Kecelakaan?" kata Clara cukup terkejut mendengar jawaban waiters yang sedang menaruh pesanannya di atas meja.


"Iya, semalam Khaira melawan preman. Terus tangannya terluka akibat tergores pisau dari si preman," jelas Sallie, ia telah selesai menyajikan menu pesanan dan berniat pergi, "jika tidak ada yang ditanyakan lagi, saya permisi."


"Tunggu Mbak," Clara menghentikan seorang waiters yang sudah ia tanya-tanya mengenai Khaira lalu mengeluarkan uang berwarna biru dan memberikannya.

__ADS_1


"Ini tips buat Mbaknya, makasih atas informasinya.”ujar Clara.


"Makasih Mbak." Sallie sangat senang, ia lantas berlalu dari hadapan pelanggan.


Clara senang dengan seulas senyuman tersungging di sudut bibirnya, mendengar Khaira mengalami kecelakaan. Ia akhirnya dapat menemukan ide untuk menjebak Khaira, ia telah siap untuk menghancurkan kebahagiaan Kevin.


Tak secuil pun Clara menyentuh makanan yang dipesannya. Perutnya juga tidak merasa lapar. Setelah menaruh sejumlah uang untuk membayar makanan, Clara langsung keluar dari restauran dan berjalan dengan langkah cepat menuju mobilnya yang terparkir.


Clara kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Menuju rumah Kevin, ia juga ingin memastikan benarkah Khaira mengalami kecelakaan? Syukur-syukur kalau kecelakaan itu sampai merenggut nyawa Khaira.


Setelah melewati jalanan yang padat di kala senja, Clara hampir sampai di kompleks perumahan Kevin. Akan tetapi pada saat mengedarkan pandangannya, ia tak sengaja melihat Kevin dan Khaira yang sedang duduk di bangku kayu taman.


Clara segera saja menghentikan laju mobilnya, dan memastikan bahwa apa yang dilihatnya adalah benar. Kevin dan Khaira. Ia juga melihat Khaira terlihat baik-baik saja, bahkan sesekali tertawa.


Melihat keakraban diantara Kevin dan Khaira membuat Clara panas hati. Ia menegaskan rahangnya, lantas memukul kemudi mobilnya sampai tak sengaja menekan tombol klakson.


"Sial!" geram Clara kesal.


~


Tanpa Clara sadari, Beni membuntuti Clara dengan mengendarai motor matic yang lumayan jauh. Tentu saja atas perintah Erik. Agar jangan sampai kegilaan bisa dilakukan oleh Clara.


"Clara, Clara. Gue heran sama hidup lo," gumam Beni terus mengamati Clara dari jarak sepuluh meter.


"meskipun gue lihat hidup lo dari bayi sampai lo jadi wanita dewasa yang cantik, tapi hidup yang lo jalanin kagak punya tujuan. Lo udah gue anggep sebagai adik gue, dan gue tau lo udah lama cinta sama Kevin, tapi apa lo kagak sadar Cla, rasa cinta lo ke Kevin bukan lagi sekedar cinta, tapi sebuah ambisi. Karena lo udah biasa mendapatkan apa yang lo inginkan dengan cara mudah, maka ketika lo kagak mendapatkan apa yang lo inginkan maka lo jadi brutal dan frustasi sendiri." sambungnya lagi, Beni menyayangkan sikap keras kepala Clara. Yang begtiu getolnya ingin mendapatkan Kevin.


Pria berusia 40 tahun ini, telah menjadi ajudan Erik selama kurang-lebih 21 tahun. Sejak Erik merintis usaha, menikah dengan wanita bernama Margaretha dan mempunyai anak bernama Clara.


Beni tahu, seluk-beluk kehidupan Erik, mengapa sampai Erik ditinggal pergi oleh Margaretha yang lebih memilih menjadi wanita karir di luar negeri.


Soal wanita, Beni telah lama menyimpan hati hanya untuk seseorang yang bernama Ane. Namun, sayangnya sang mucikari gadungan itu, telah menyimpan hati lain.



__ADS_1


Bersambung


__ADS_2