
"Fa..., kak jack telah di culik. Bagaimana menurutmu?"
Ucap bryan di ruang kerjanya.
Rupanya rafa maupun bryan tengah membicarakan pekerjaan kantor, patutlah mereka memakai mode sibuk beberapa saat yang lalu.
"Apaa..., kak jack di culik?"
"Hem..., mama memberitahu ada dua orang yang membawa kak jack dan juga baby safa."
"Apa ini ada hubungan nya dengan bram?"
"Kemungkinan iya. Orang serakah sepertinya bisa melakukan apa pun, termasuk nengorbankan anaknya."
Ucap bryan.
"Termasuk tante melaty yang sudah jadi korban."
"Hah..., sangat disayangkan. Lalu..., apa yang harus kita lakukan?"
"Tidak ada."
Jawab bryan dengan santai nya kembali duduk di kursi kerja nya.
"Tidak ada? Maksudnya kita hanya menonton tanpa melakukan sesuatu?"
"Hem."
"Apa kau tak ingin menyelamatkan kak jack meskipun dia bukan anak kandung papa?"
"Tidak, bukan seperti itu. Pikiran mu terlalu jauh memikirkan ke arah sana."
"Lalu?"
"Security gedung apartemen kak jack sudah melaporkan penculikan tersebut pada pihak yang berwajib."
" Oh..., jadi begitu."
"Hem."
"Fa...., apa aku akan segera punya keponakan?"
"Huk..., huk..., huk. Apaan sih."
Rafa tersentak kaget saat bryan sengaja menyentilnya perihal keponakan. Tak menyangka ian akan menjahilinya, namun meskipun begitu rafa sama sekali tak marah tapi justru berpikir ke arah sana.
"Keponakan? Apa silla mau hamil secepat ini?"
Gumam rafa dalam hati.
"Bagaimana dengan cita- citanya?"
"Tidak. Aku tak boleh mengekang kebebasan nya."
"Semua gara- gara papa silla harus menikah muda. Tapi..., kalau tidak segera mendapatkan nya aku akan kehilangan nya."
"Aaa....h."
Tanpa sadar rafa mengoyak sendiri rambut di kepalanya dan tanpa di sadari bryan tersenyum menggelitik melihat tingkah adik iparnya.
"Kenapa? Kepikiran?"
Ucap bryan tersenyum menaikturunkan alisnya seakan mengetahui apa yang di pikirkan rafa.
"Hihihi..., tidak. Hanya..., mungkin sedikit memikirkan nya."
"Apa?"
"Baby."
"Baby? Jadi benar?"
"Tidak. Lebih ke..., bagaimana nanti nya kalau silla benar- benar hamil?"
" Memangnya kenapa? Bagus dong udah goal."
"Bagus apanya? Kasihan silla tak bisa kuliah."
"Kata siapa?"
"Kalau hamil bagaimana kuliah?"
"Setelah melahirkan."
"Iya..., ya. Kenapa aku tak berpikir kesana?"
Rafa baru menyadari keleletan nya juga karena pertanyaan jebakan batman sang kakak ipar yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.
"Aa..., tidak. Aku tidak boleh egois menyuruh silla hamil, lagi pula ia juga baru lulus sekolah menengah. Tidak seperti istrimu atau istri jay."
"Pikiran mu terlalu kuno."
"Kuno? Hei..., apa maksudmu? Sudahlah, kau selalu nengejek ku. Lebih baik aku pulang."
"Pulang atau program?"
"Program apa? Menunda iya."
"Menunda? Hahahaha..., yakin mampu?"
"Yakin."
__ADS_1
"Benarkah? Tak ingin bulan madu? Aku akan memberi tiket bulan madu untuk mu."
"Tidak."
"Begitu saja marah, bagaimana kalau punya anak nanti?"
Gumam bryan lirih namun terdengar sampai ke telinga rafa yang saat ini tengah berjalan meninggalkan ruang kerja bryan.
Rafa menoleh menatap tajam seperti akan menerkam mangsa pada bryan, meskipun bryan tak menghiraukan nya karena bryan lebih dahulu memutar kursi kerja nya.
"Dasar tak punya perasaan."
Gumam rafa.
"Hei..., aku mendengarnya. Lihat saja, kau akan menginginkan secepatnya."
Ucap bryan yang membelakangi rafa.
Rafa tak mengindahkan ucapan sahabatnya berlalu pergi mencari keberadaan istrinya yang sedang menemani kakak iparnya.
"Dimana mereka?"
"Bukan kah tadi ada di taman? Kenapa tidak ada?"
Rafa mengingat saat meninggalkan silla, istrinya itu berlari ke arah taman saat melihat kakak ipar duduk ditaman ditemani beberapa asisten rumah tangga.
"Bi..., dimana silla dan kakak ipar?"
"Oh..., non silla sedang membawa non ane ke kamarnya, den."
"Kamar?"
"Iya, den. Baju non ane sedikit kotor, jadi non silla membantu nya mengganti pakaian."
"Oh begitu, baiklah. Tolong panggilkan silla ya bi! Katakan padanya saya menunggunya di depan!"
"Baik, den."
Seorang asisten rumah tangga bryan yang kebetulan melewati rafa memberitahu dimana silla berada.
Asisten tersebut kembali ke lantai atas dimana kamar ane berada, memanggil silla karena rafa telah menunggunya.
"Non..., non silla..., den rafa sedang menunggu di depan non."
"Aneh..., kenapa tidak ada jawaban?"
Gumam asisten tersebut setelah beberapa saat menunggu di depan pintu.
"Apa mereka sudah turun?"
"Tidak..., kenapa aku tidak berpapasan?"
Asisten tersebut mencoba mencari di ruang wardrobe, tapi ternyata tak seorang pun ada di sana bahlan ruangan tersebut tampak kosong.
Tak menunggu lama, asisten tersebut berlari menuruni anak tangga namun kembali lagi ke lantai atas mencari bryan di ruang kerjanya namun ternyata ruangan tersebut kosong.
Tak mendapati sang majikan disana, asisten tersebut berlari menuruni anak tangga menuju ruang kerja bryan yang berada di lantai bawah.
"Den..., den..., den."
"Ada apa bi? Mana silla?"
Tak sabar menunggu, rafa berniat menyusul ke lantai atas namun terkejut melihat asisten tersebut berlari menuruni anak tangga sedikit berteriak dan entah teriakan nya ditujukan untuk siapa.
"Non..., non..., non."
"Non siapa bi? Terjadi sesuatu dengan ane? Atau silla?"
"Non ane dan non silla tidak ada di kamar, den."
"Apaaa...., bagaimana bisa?"
Bryan tersentak kaget saat mendengar asisten rumah tangga nya memberitahu kalau ane maupun silla tak ada di kamar.
"Sewaktu di taman non silla menyuapi non ane cake yang dibawanya. Karena baju non ane sedikit kotor, non silla membawa non ane ke kamar mengganti baju."
Ucap nya dengan nafas terbata- bata.
"Sewaktu bibi ke kamar non memanggil non silla, mereka tidak ada den. Bibi sudah mencarinya di kamar tapi tidak ada den."
"Hah..., bagaimana bisa? Tak mungkin ada yang menyelinap masuk kerumah."
Gumam bryan.
"Cepat cari mereka!"
"Baik, den."
"Aku akan memeriksa cctv."
Ucap bryan.
"Aku ikut dengan mu."
Tak menjawab ucapan rafa, bryan hanya berlari ke ruang cctv berada.
Semua penghuni rumah bryan bekerja sama mencari dimana keberadaan ane maupun silla yang hilang ditelan bumi.
Sementara bryan dan rafa masih mengamati layar cctv yang sengaja di pasang untuk mengawasi setiap sudut ruangan di rumah bryan.
"Lihat itu!"
__ADS_1
Teriak rafa pada salah satu layar yang memperlihatkan seseorang mendorong kursi roda ane.
"Mundurin waktu beberapa menit!"
"Baik, bos."
"Siapa dia? Aku tidak mengenal wanita itu?"
Gumam bryan.
"Jangan bilang ada yang menculik ane?"
Ucap rafa.
"Lalu.., dimana istriku?"
"Mundurin lagi saat jam makan siang!"
"Baik, bos."
Belum sempat bryan melihat layar monitor, ponsel yang ada di sakunya berdering mengganggu konsentrasinya.
"Halo..., siapa?"
"Apaa..., brengsek."
"Jangan sampai ada goresan sedikit pun di tubuhnya! Jika sampai itu terjadi, aku akan membuat tulang mu remuk tak terkira."
Mendengar umpatan bryan rafa pun mengalihkan pandangan nya dari layar monitor.
"Ada apa?"
"Ane di culik."
"Bagaimana bisa?"
"Entahlah? Rupanya perempuan itu tak bisa dianggap remeh."
"Siapa?"
"Stevi."
"Kalau ane diculik, lalu dimana istriku? Tidak..., tidak..., tidak."
Gumam rafa menggelengkan kepalanya.
"Silla akan trauma dengan semua ini."
Rafa lalu mengeluarkan ponselnya memeriksa alat pelacak yang sengaja dipasangnya diliontin yang di pakai silla.
Sementara bryan mengumpulkan seluruh penghuni rumah menanyakan seorang pekerja yang belum pernah di lihatnya.
"Bi..., bi inah."
"Ya, den. Belum ketemu den, kami sudah mencari dimana- mana tapi tak menemukan keberadaan non ane maupun non silla."
"Apa bibi mengenal wanita ini?"
Ucap bryan memperlihatkan potret seorang yang mendorong kursi roda ane.
"Oh..., dia sepupu mira den. Mira sedang cuti karena menjaga ibunya yang sakit jadi mengirim sepupunya menggantikan nya."
"Kenapa tidak bilang bi? Kalau tak bisa masuk tak perlu mengganti dengan pekerja lain."
Ucap bryan.
"Loh...loh..., memangnya aden tidak tahu?"
"Tidak."
"Aduh..., ketiwasan. Apa jangan- jangan non ane diculik den? Sepupu mira juga tidak ada."
Bi inah mulai merasa khawatir dan juga merasa bersalah tak memberitahu bryan sejak semula.
"Ane memang diculik bi."
"Haa...., hiks... hiks...hiks...., non diculik. Maafin bibi non nggak bisa menjaga non."
Tangis bi inah pecah ketika mengetahui ane memang benar di culik.
"Sudahlah, bi."
Bryan tampak mengeluarkan ponselnya menghubungi seseorang.
"Jay... ."
"Ada tugas penting untukmu."
"Wanita itu telah menculik ane."
"Ya, aku tunggu secepatnya."
Bryan mengerutkan keningnya ketika melihat rafa berjalan mondar- mandir melihat layar ponselnya, namun berhenti menatap ke arah tangga lalu menatap ke lantai atas kemudian menatap ke arah bryan.
"Ada apa?"
"Kenapa alat pelacak silla ada di lantai atas?"
Ucap rafa.
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Bi...., bibi."
Bersambung🙏😊