
Flash back.
Stela merasa sedikit curiga saat jack memberitahu stela akan pindah petang nanti, namun jack justru terburu- buru keluar seperti tengah merisaukan sesuatu.
"Ada apa dengan jack?"
"Kenapa pergi terburu- buru?"
"Siapa yang menelepon nya?''
"Aku tak boleh diam saja."
Stela menangkap sedikit kecurigaan dengan sikap jack semula berniat mengikuti kemana jack pergi. Namun tak berapa lama jack kembali lagi dan terburu- buru pergi membawa sebuah berkas ditangan nya.
Stela mengerutkan dahinya saat sang suami menutup pintu dengan begitu keras.
" Ada apa dengan nya?"
" Aneh..., ini benar- benar tidak beres."
Gumam stela.
" Bi..., bibi."
" Iya, non. Non membutuhkan sesuatu?"
" Tidak, bi. Tapi..., tolong jaga safa ya! Strla mau keluar sebentar."
" Tapi..., non. Bagaimana kalau den jack mengetahuinya?"
" Tidak apa, bi. Stela lelah seperti ini terus, jack sudah tak menghargai saya lagi. Berbeda dengan jack yang dulu."
" Hah..., baiklah. Yang sabar ya non."
" Stela pergi dulu ya bi."
" Hati- hati ya non!"
" Iya, bi."
Stela menghilang di balik pintu setelah menyerahkan safa pada bibi.
Bermodal navigasi yang bisa dilihatnya melalui ponsel nya, stela berniat mengikuti kemana jack pergi. Ia merasa sedikit curiga dengan sikap jack yang berubah- ubah, terkadang bersikap lembut juga bersikap kasar.
Stela sengaja memesan ojek online agar tak di ketahui oleh jack, juga lebih praktis dan hemat waktu. Benar saja, stela melihat jack datang ke sebuah gedung yang mana ada seorang yang tak asing baginya.
"Pak bram? Untuk apa jack bertemu dengan nya?"
"Apa yang diserahkan jack pada pak bram?"
"Mau kemana lagi?"
Setelah melihat jack dari kejauhan tampak terlihat jack sedang bertemu dengan bram, mereka kemudian pergi menggunakan mobil jack. Stela kembali menyuruh sopir ojek online yang senhaja di pesan nya mengikuti kembali mobil jack.
Keberuntungan tak berpihak pada stela, saat lampu merah menyala menghadang mobilnya sehingga mobil jack terlepas dari pengawasan nya.
" Aah..., sial. Lampu merah lagi."
Lampu merah menyala memang agak lama membuat stela kehilangan jejak jack.
" Ke arah mana non?"
Ucap sopir tersebut.
" Kanan ya pak."
Merasa percuma mengejar jack karena sudah kehilangan jejaknya, stela memutuskan pergi ke rumah mama ine.
Rumah kediaman mahendra tampak sepi seperti tak berpenghuni meskipun tampak rapi dan juga bersih. Seperti biasanya, stela masuk ke dalam rumah setelah memberi upah pada ojek online yang sempat mengantarnya tersebut.
"Ma..., mama."
Tampak bi ijah berlari terhuyung- huyung saat mendengar suara teriakan stela.
"Non stela..., syukurlah non baik- baik saja."
Bi ijah merasa senang kerika melihat kedatangan stela.
"Baby safa mana non?"
"Ada dirumah bi."
"Sehat, non?"
"Sehat, bi. Memang nya ada apa?"
"Syukurlah kalau sehat, non. Nyonya dan tuan sangat khawatir non stela tak bisa dihubungi, Sedangkan den jack tak mengangkat telepon."
Ucap bi ijah.
__ADS_1
"Jack tak mengangkat telepon?"
Gumam stela dalam hati.
"Non tidak sedang bertengkar dengan aden kan, non?"
Ucap bi ijah.
"Tidak, bi. Mama mana bi?"
" Ke rumah den bryan, non. Setiap hari nyonya pergi ke rumah mereka."
" Oh..., begitu. Dimana alamatnya bi? Stela mau bertemu mama? Ada hal yang harus stela bicarakan."
"Ada, non. Sebentar bibi tuliskan."
"Baiklah, terima kasih bi. Stela pergi dulu."
"Iya, non. Hati- hati di jalan!"
"Iya, bi."
Setelah mengambil selembar kertas yang dituliskan bi ijah, stela berlari mencari taksi di depan jalan raya menuju rumah bryan.
Tak lama kemudian stela berhasil menghentikan sebuah taksi umum tergesa- gesa menyuruh sopir mempercepat laju kemudinya menuju rumah bryan.
"Terima kasih, pak."
" Sama- sama, non."
Setelah memberikan upah sesuai agro yang tertera, stela berlari ke dalam runah. Namun setelah mencoba menerobos pagar runah, kedua security menghadang jakan stela hingga melarangnya masuk. Meskipun terburu- buru namun stela memahami tugas kedua security tersebut.
Akhirnya mau tidak mau stela menelepon bryan untuk mengijinkan nya masuk ke dalam rumah. Benar saja, setelah salah satu security berbicara dengan bryan sendiri.
Stela berlari ke dalam rumah merasa sangat khawatir dan tidak tenang saat meninggalkan safa dirumah.
"Ma."
Suara panggilan yang tidak asing bagi ine dan mungkin sangat dirindukan nya terdengar ditelinganya.
"Stela..., kau tidak apa- apa nak?"
Ine berdiri memeluk stela dengan sangat erat.
"Safa mana?"
"Kau sedang bertengkar dengan jack? Atau jack menyakiti mu? Kenapa ponsel kalian sulit dihubungi?"
Stela melihat bentuk kekhawatiran ine padanya dan juga keluarga kecilnya meneteskan air mata nya.
"Kenapa menangis? Ada apa yang sebenarnya?"
Ine yang semula tenang melihat sang menantu baik- baik saja berubah khawatir tatkala melihat stela meneteskan air mata.
"Ma..., hiks..., hiks."
Tak tahan dengan beban yang di pikulnya, tangis stela pecah.
"Duduklah! Minumlah! "
Ine mengajak stela duduk di sofa lalu mengambilkan segelas air minum dan memberikan nya pada stela.
"Katakan apa yang terjadi!"
Stela mulai menceritakan perubahan sikap jack yang berubah semenjak saat itu. Stela juga mengatakan kalau jack betubah menjafi dingin dan pemarah serta menjadi sangat kasar.
Ine menghela nafas panjang mendengar cerita stela tentang perubahan sikap putranya bahkan tentang kebohongan nya mengenai permasalahan kantor juga tentang niat jack mengajak pindah ke luar kota.
"Mama akan membicarakan nya dengan papa mu, tenanglah!"
Ucap ine.
"Ma..., stela menemukan sebuah kertas tes dna di ruang kerja jack. Apa ini benar?"
Stela mengeluarkan ponselnya yang baru memperlihatkan nya pada ine.
Ine mengerutkan dahinya ketika matanya melihat nama yang tak asing baginya.
" Bram prasetyo?"
Mendadak dada ine sesak ketika mengingat kejadian puluhan tahun yang lalu. Ine menundukkan kepalanya menahan kesedihan yang enggan ditunjukkan pada sang menantu.
Ine diam sejenak menghela nafas panjang dan bersiap memulai menceritakan hal yang sebenarnya pada stela. Rahasia yang disembunyikan selama ini terkuak begitu saja , entah siapa yang sengaja membukanya.
Semua dilakukan keluarga mahendra bukan tanpa alasan, tetapi atas permintaan ibu kandung jack juga untuk menjaga perasaan jack saat tumbuh dewasa.
"Ma."
"Benar, kak. Ayah kandung kak jack adalah bram prasetyo."
__ADS_1
Bryan yang tiba- tiba muncul membuat keduanya memandang bryan yang baru sampai setengah tangga turun.
"Bryan..., darimana kau mengetahuinya?"
Ucap ine tersentak kaget, sementara stela ternganga serasa tak percaya dengan apa yang dikatakan bryan.
"Papa sudah memberitahu bryan maupun bawel."
"Hem... , baiklah mama akan menceritakan semuanya padamu nak."
"Memang benar suami mu bukan putra kandung kami, nak. Jack memang putra bram dan ibu kandung nya adalah melaty yang merupakan sepupu mahendra."
"Mama dan papa bukan berniat menyembunyikan nya dari mu, nak. Saat melamar mu dulu, kami juga memberitahu kedua orang tua mu karena tak ingin salah paham jika rahasia itu satu saat terkuak."
"Ibumu melarang kami memberitahu kebenaran nya padamu, karena pada saat itu tak ingin kau sakit hati atau bersedih saat kau mengetahui kebenaran nya."
"Apaa...., ibu dan ayah mengetahuinya? Dan hanya stela yang tidak mengetahuinya."
Stela terkejut mendengar penjelasan ine, sementara ine menepuk pelan kedua tangan stela menenangkan nya.
"Nak..., saat itu kalian sangat mencintai satu sama lain dan kami tak ingin adanya jurang pemisah ketika melihat putra dan putri kami bahagia."
Ucap ine.
"Ibu kandung jack meninggal setelah melahirkan nya secara prematur. Karena masa lalu kelam ayah jack dan melaty tak ingin jack tumbuh seperti ayahnya, melaty sengaja menitipkan jack pada kami."
" Dan entah siapa yang menguak semua ini? Mungkin ada seseorang yang menceritakan sisi lain pada suami mu hingga berubah seperti itu."
"Oh.. ya, stela hampir lupa. Stela sempat mengikuti jack pagi tadi namun kehilangan jejak. Tapi stela sempat melihat jack melihatnya bertemu pak bram."
Stela memperlihatkan photo jack dengan bram di depan suatu gedung.
"Bram? Kapan dia keluar dari penjara?"
"Jadi..., orang ini yang bernama bram prasetyo ma?"
"Benar, nak. Setahu mama orang ini masih di penjara."
" Di penjara? Bagaimana mungkin? Jack membawanya ke rumah bulan yang lalu. Bahkan dia berkunjung ke rumah beberapa kali."
Ucap stela.
"Apaa..., jadi bram lah yang telah mempengaruhi jack?"
Stela mengerutkan keningnya mendengar ucapan ine.
"Tunggu..., tunggu ma. Kenapa pak bram di penjara?"
"Bisnis ilegal kak, juga terlibat perencanaan atas kecelakaan kakek kak jack."
Ucap bryan.
"Melaty menyerahkan kepengasuhan nya pada mama karena mengetahui bram penyebab mama kehilangan janin mama. Untuk menebus kesalahan suami nya, melaty memberikan jack pada mama."
Dert... dert...
Ponsel stela berdering saat stela dengan seksama mendengarkan cerita mama ine.
"Ya, bi."
" Tidak, bi. Sebentar lagi saya pulang."
"Apa ada masalah? Safa rewel ya?"
" Apaa."
"Baiklah, stel akan pulang sekarang juga "
Stela tampak sedikit terkejut dan khawatir, terlihat reaksi stela yang langsung reflek berdiri saat menerima telepon.
" Ada apa stel?"
"Ada apa kak?"
"Jack..., ma. Jack membawa safa ke luar rumah. Stela khawatir terjadi sesuatu dengan safa."
"Stel pulang dulu, ma."
" Mama ikut dengan mu."
" Tidak, ada tapi- tapian."
" Baiklah, ma."
"Ian..., mama pergi dulu."
"Iya, ma. Hati- hati ma!"
"Iya."
__ADS_1
Mereka pergi meninggalkan rumah ian ke rumah stela setelah bibi pengasuh menelepon nya.
Bersambung😊🙏