
"Hihihi..., ibu kesal dan geram dengan laki- laki itu."
Ratna meringis memperlihatkan giginya pada stela setelah keceplosan berbicara dengan ine.
"Kenapa?"
"Tidak penting kenapa, yang terpenting semua sudah beres."
"Tapi...,bagaimana kalau jack menanyakan nya?"
"Menanyakan apa?"
Tanpa disadari, jack keluar dari kamar meraba dinding kamar mereka tanpa ada suara. Jack pasti sudah hafal dengan barang- barang disekitar rumah, kamar atau pun ruangan yang lain.
Stela terkejut mendengar suara jack lalu menghampiri dan memapahnya ke ruang tengah. Tapi tidak dengan kedua mama itu, yang terlihat begitu santai.
"Nak..., ibu tidak sengaja menyenggol ponselmu jatuh ke lantai dan pecah menjadi beberapa bagian."
"Huk..., huk..., huk."
Ine terbatuk ketika mendengar ucapan ratna, yang langsung disenggol oleh ratna. Beruntung jack tak dapat melihat reaksi wajah mereka.
" Tidak apa- apa, bu. Nanti jack beli yang baru, lagi pula jack tak bisa menggunakan nya."
"Biar ibu yang menggantinya."
"Tidak, bu. Jack masih bisa beli, ibu jangan khawatir."
Stela ternganga dengan reaksi jack yang biasa saja.
" Oh iya, ibu punya kabar penting untuk kalian."
"Kabar penting?"
Gumam stela yang duduk di samping suaminya memberikan sedikit cemilan pada jack.
"Ibu mendapatkan kabar dari dokter keluarga kita yang ada di rumah sakit singapore kalau beliau telah menemukan donor mata untuk jack."
"Dan ibu sudah mengurus semua keperluan kalian disana, termasuk tempat tinggal kalian."
Deg...
Detak jantung jack berdegup kencang, perasaan sesak mulai menyelimuti hatinya. Ia mengingat beberapa kejadian yang lalu, hingga mengingat dimana saat bram akan melukai putrinya. Tiba- tiba jack mengingat sang mama yang jatuh tepat dihadapan nya.
Bukan hanya jack saja yang terkejut tetapi ine yang tengah menggendong safa pun tercengang. Bukan tanpa alasan, tapi firasat ine tidak baik- baik saja. Ia merasa ratna akan mengirim mereka berdua ke luar negeri, dan itu berarti ketiga anaknya akan tinggal diluar negeri.
"Ma...., mama."
"Iya, sayang. Mama disini menggendong safa."
"Mama tidak sedang membohongi jack, kan?"
"Tidak, sayang. Mama membohongi apa padamu, jack? Mama tengah menggendong safa."
"Bukan, ma. Tapi timah panas itu."
Semua orang saling pandang saat jack merasa sedikit curiga dengan kejadian itu.
"Hanya mengenai lengan mama mu saja, jangan khawatir! Sebentar lagi juga sembuh, sekarang sudah gendong safa."
Ucap ratna yang mengerti kekhawatiran ine mau pun stela.
" Benar, ma? Stela...., benar yang dikatakan ibu? Kalian tidak sedang membohongi jack kan?"
"Tidak, jack. Mama baik- baik saja."
"Syukurlah, jack lega kalau mama baik- baik saja."
"Maafin jack, ma. Karena jack semua ini terjadi."
Ucap jack penuh penyesalan.
" Tidak, sayang Jangan terus- terusan menyalahkan dirimu sendiri! Mama tidak apa- apa. Justru mama tidak akan bisa memaafkan diri mama jika terjadi sesuatu dengan mu."
Ucap ine yang memberikan safa pada ratna, lalu menghampiri sang putra.
"Tapi ma... ."
" Hei..., putra mama bukan seorang yang lemah hanya karena luka mama."
__ADS_1
"Jack yang terlalu bodoh percaya pada laki- laki itu, seharusnya jack bicara dengan mama."
"Kau sudah tahu letak kesalahan mu?"
"Em."
"Jack..., jika mama dan papa hanya ingin menguasai harta kekayaan paman anggoro tak mungkin mama membesarkanmu. Dan tak mungkin juga papa memberikan Jk group pada mu."
Jack mengernyitkan dahinya menyadari kesalahan yang diperbuatnya, namun sedikit tak mengerti kenapa ine berbicara seperti itu padanya.
"Jk group? Maksud mama?"
"Jk group adalah anggoro group peninggalan paman anggoro yakni kakek kandungmu. Papa sengaja mengubah nama perusahaan tersebut dengan menutup ijin perusahaan lama, kemudian mendaftarkan perusahaan baru untuk menghilangkan jejak mu atau menyembunyikan identitasmu."
"Tapi..., papa kecolongan dengan akta lahir mu yang masih mencatut nama anggoro. Papa merasa tidak ada lagi ancaman yang akan mengkhawatirkan mu kelak di kemudian hari, karena bram memang dihukum seumur hidup."
"Entah bagaimana laki- laki itu bisa keluar dari jeruji besi? Papa mu masih menyelidikinya."
" Ma...., apa jack tetap anak mama?"
Tak....
"Aduh..., sakit ma."
Ratna dan stela tercengang dengan apa yang dilakukan ine yang langsung menyentil kepala jack hingga meringis kesakitan.
"Sudah tahu sakit jangan bicara yang aneh- aneh."
Ucap ine.
"Mau berapa kali bertanya seperti itu? Bukankah mama sudah memberitahu kalau kau tetap anak mama? Jawaban mama tetap sama, nggak ada yang berubah. Bahkan kedua adikmu akan tetap sama."
"Bagaimana dengan bryan dan silla, ma? Mereka pasti tidak memaafkan kesalahan jack."
"Kakak ngomong apa sih?"
Semua orang terkejut melihat kemunculan silla dari balik pintu yang tiba- tiba tanpa terdengar suara.
"Kapan kamu datang, nak? Suami mu mana?"
Ucap ratna yang menyambut hangat kedatangan silla, sedangkan ine hanya tersenyum. Silla seperti dewi penolong bagi ine yang muncul disaat yang tepat.
Jawab silla.
"Hai..., safa. Tante kangen sama embul safa."
"Perfect!! Disamping ganteng juga rajin bekerja. Menantu idaman."
Tanpa disadari pernyataan ratna membuat jack mengerutkan keningnya.
"Apa jack bukan menantu idaman?"
Semua orang terkejut mendengar perkataan jack, terutama ratna yang serba salah menghela nafas panjang atas pernyataan nya yang menimbulkan kecemburuan bagi menantunya sendiri.
"Aaa...., bukan begitu maksud ibu."
"Idih..., cemburu ya sama suami adiknya yang rajin?"
Ucap silla.
"Nggak."
Jawab jack sedikit kesal.
"Idih yang benar? Jujur aja kalau cemburu."
Silla yang mendekati kakaknya, menyenggol siku lengan jack yang sedikit merajuk.
"Nggak."
Ratna sedikit khawatir dengan reaksi jack, tapi tidak dengan ine mau pun stela yang tersenyum dengan tingkah silla. Kedua nya memang sudah hafal dengan sifat kakak beradik itu.
"Heh..., kau tak khawatir dengan suami mu?"
"Tidak, kenapa bu?"
"Bagaimana kalau dia tambah merajuk?"
"Tidak, bu. Tenang saja!"
__ADS_1
Meskipun sedikit khawatir tapi ratna hanya memasang mata mengawasi sang menantu.
"Ah..., yang benar?"
"Kalau kakak bilang nggak ya nggak."
"Nggak perlu sampai sewot gitu kali, kak."
"Kamu yang memulai?"
"Tidak, tapi kakak."
"Kapan kakak mulai? Ibu yang mulai."
"Hah..., ya lah ibu yang salah."
Ucap ratna penuh penyesalan.
"Tidak, bu. Kak jack yang salah, kenapa harus cemburu? Lagi pula kami akan segera pindah ke sidney, jadi tak perlu merasa cemburu."
Ucap silla.
"Baby safa..., ikut tante ya?"
"Enak saja, safa anak aku."
"Tahu."
"Kalau tahu kenapa masih tanya?"
"Kakak tidak tahu kalau kak stela hamil lagi?"
Ucap silla pergi begitu saja meninggalkan drama kecemburuan sang kakak padanya.
"Apaa...., stela hamil? Sayang..., kau hamil lagi? Kenapa tidak memberitahu ku?"
Jack terlihat gembira mendengar kabar itu, sedangkan stela hanya menghela nafas dengan kejahilan adik iparnya.
Sementara ine dan ratna tertawa lirih saat silla mulai menjahili kakaknya, mereka memilih pergi menyiapkan makan siang untuk putra dan putrinya.
"Hah..., sayang sepertinya adikmu sedang tidak baik- baik saja."
"Apa maksudmu sayang? Kau tidak sedang bicara silla sakit kan?"
" Tidak, hanya mungkin dia kurang kerjaan saja."
" Kurang kerjaan?"
" Yah."
" Maksudmu silla berbohong? Dan kau tidak hamil?"
" Tidak. Kamu lupa kalau safa masih berapa bulan? Bagaimana aku tega untuk memberhentikan air susu nya?"
" Hah...,begitu."
" Dasar bocil..., awas kau!!"
Kebahagiaan mendengar kehamilan istrinya seketika merubah sikap jack yang tersenyum bahagia menjadi muram seperti benang kusut.
Jack berdiri berjalan serengah menunduk meraba sofa meninggalkan ruang tengah, ketika stela hendak membantu tangan jack menepisnya.
"Biarkan aku belajar sendiri! Lagipula kau sudah repot mengurus safa sendirian."
"Tapi."
Ine menepuk sebelah bahunya menganggukkan kepalanya meminta stela membiarkan nya. Jack seorang yang mandiri yang dari kecil memang dilatih mandiri oleh ine maupun mahendra.
"Baiklah, panggil aku kalau kau membutuhkan sesuatu!"
"Em."
Stela memang harus legowo dengan perubahan sikap jack, bukan tidak mungkin karena karena kekecewaan hatinya juga karena keadaan nya.
" Sudahlah, jangan terlalu bersedih! Kau harus membiarkan jack beradaptasi dengan keadaan nya."
" Iya, ma. Stela mengerti."
Meskipun sedikit kecewa, stela memang harus bersabar hati menghadapi sikap jack. Yang memang benar kata ine, harus membiarkan nya beradaptasi.
__ADS_1
Bersambung🙏😊