
"Khaira!" seru seorang pria datang dari arah kiri halte bus.
Khaira mencari sumber suara seorang pria yang memanggil namanya, ia tersenyum penuh dengan bangga. Seperti dalam kisah Rama hendak menyelamatkan Shinta dari marabahaya Rahwana.
"Bos Rezki...?" gumam Khaira.
Khaira melihat Bos-nya berdiri tidak jauh dari keberadaan berandalan.
"Biar gue aja Ra." Rezki berhadapan dengan berandalan dengan rasa percaya diri.
Baru saja hendak melayangkan tinju, Rezki langsung keok oleh tendangan dari si berandalan hingga membuangnya terhuyung-huyung dan jatuh, "Aarhhh..." erangnya menahan sakit di perut.
"Haduh..." Khaira terperanjat melihat Rezki ditendang oleh si berandal. Agaknya memang, kisah ksatria hanya ada dalam cerita legenda Rama dan Shinta.
"Mampus! Rasain noh tendangan gua. Makanya jangan sok jadi pahlawan!" seru si berandal memakai kepada seorang pria yang sok jadi pahlawan.
Khaira segera saja beranjak, mengusap sekilas pantatnya yang terasa nyeri lantas menghampiri Rezki masih terduduk di atas jalanan halte.
"Bos Rekzi, Bos nggak kenapa-kenapa?" Khaira bersuara dalam kepanikan.
"Nggak, gue baik-baik aja." kata Rekzi menyembunyikan sakit di perutnya, ia tak ingin kalah gengsi.
Khaira melihat berandal bringas yang berdiri sembari tertawa kecil melihat keadaannya dan Bos Rezki, Khaira celingukan mencari beda yang bisa dipergunakan untuk melawan si berandal.
"*Tak ada batu, tali tas selempang pun jadi*!"
Dilihatnya si berandalan yang memunggunginya, Khaira segera melepas tas selempang, dibentangkannya tali tas kuat-kuat, lantas beranjak dan segera menghampiri si berandal yang nampak lengah, ia menjerat leher si berandalan tanpa ampun.
Si berandal menahan sesan nafas akibat jeratan di lehernya, ia tidak tinggal diam. Lalu memutar balikkan badannya dan segera saja mendorong pundak gadis sedang menjerat lehernya dengan tali tas selempang.
Tak dapat Khaira tahan atas dorongan kuat dari tangan si berandalan di pundaknya. Khaira mundur selangkah dan lambat laun ia terjengkang kebelakang.
"Aduh... Pantatku!" erangnya menahan sakit di pantatnya. Untuk kedua kalinya Khaira jatuh.
Namun, Rezki nampaknya sudah berhasil memukul kepala si berandalan dengan tangan kosong.
Khaira sesegera mungkin bangkit, dan menahan pantat yang terasa sakit. Ia dan Rezki langsung saja menghajar, mengerahkan segala tenaga yang mereka bisa, guna mengalahkan berandalan bengis.
Rezki dan Khaira, pun berhenti sejenak karena merasa capek, dengan nafas yang ngos-ngosan, mereka tertawa bersama, melihat keadaan dari diri mereka masing-masing, terlihat berantakan.
"Hahahaha..!!!” tawa mereka berdua lepas seperti makan kerupuk udang.
__ADS_1
Tapi seketika gelak tawa itu sirna, kala pria berandalan bangkit dari rasa lunglainya dan mengambil pisau yang terjatuh di jalanan, secepat kilat bagai petir yang menyambar. Pria berandalan mengayunkan pisau
Khaira membelalakkan matanya berandalan itu hendak menikam Rezki dari belakang, dengan gerak cepat Khaira menghalau pisau yang diayunkan pria berandalan menggunakan lengan kirinya.
Seketika darah mengucur dari kemeja yang sudah terkoyak oleh pisau, memperlihatkan goresan dipergelangan tangan Khaira yang menganga.
"Ssshhhh, sakit." Khaira mendesah menahan sakit di pergelangan tangannya yang terus saja mengeluarkan darah.
Rezki tercengang melihat Khaira menghalau pisau yang akan mengarah padanya. Ia melihat pergelangan tangan Khaira yang bersimbah darah.
"Ra, Khaira!" seru Rezki langsung menghampiri karyawatinya.
Pria berandalan kabur ketika melihat orang-orang berlarian kearahnya.
"Woy, jangan kabur woy!" seru seseorang mengejar berandalan yang kerap kali meresahkan masyarakat terutama pengguna jalan.
Beberapa orang pun menyarankan agar Khaira segera dibawa ke petugas medis terkedat.
"Ada rumah sakit yang paling dekat dari sini, mendingan bawa aja Mbaknya ke rumah sakit, Mas."
"Iya bener tuh, dilihat juga lukanya cukup dalam."
Saran dari beberapa orang-orang pun diterima oleh Rezki. Ia segera mengambil mobilnya yang masih terparkir di pelataran restauran.
Sementara itu Khaira hanya bisa terduduk seraya memegangi pergelangan tangannya yang terluka, menahan sakit. Dilihatnya kedua tangannya berlumuran darah.
Rezki sudah kembali dengan mengendarai mobil.
Khaira di bantu beberapa orang guna mendapatkan pertolongan pertama medis di rumah sakit terdekat.
Rezki melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, sesekali ia melirik Khaira, yang sudah terlihat pucat pasi, karena darah terus merembes dari saputangan Rezki, yang ia lilitkan di goresan lukanya.
Keringat dingin mengucur deras di kening Khaira, badannya pun menjadi semakin menggigil akibat dari AC didalam mobil milik Rezki.
"Tahan, Ra, Tahan. Sabar kita sebentar lagi sampai,” ucapnya yang terlihat sangat khawatir.
Beberapa kali Khaira mendengar dering ponsel berbunyi, namun tak ia hiraukan.
"Astaghfirullah,” ucapnya istighfar, Khaira tidak tahu sedalam apa lukanya ini, tapi terasa sangat ngilu sampai terasa ke ulu hati.
__ADS_1
lima belas menit berlalu kisaran Rezki mengendarai mobil, kini Rezki sudah memarkirkan mobilnya. Dan membuka pintu kemudi, serta membukakan Khaira pintu mobil.
"Ayo, ayo Ra.” ucapnya dengan gugup sambil mencoba menuntun Khaira turun dari mobil, baju putih yang Khaira kenakan pun kini bagaikan lautan darah.
Keduanya lantas memasuki loby rumah sakit, di sana terlihat ada beberapa perawat dan security yang berjaga malam, rumah sakit terlihat lengang dimalam hari. Perawat segera membawa kursi roda, dan membawa Khaira yang berdarah-darah kedalam ruang instalasi gawat darurat dan menuntun Khaira keatas brankar.
Dokter jaga segera melakukan pemeriksaan, serta luka yang di derita pasien baru tiba.
"Suster, denyut nadi pasien sangat lemah, tolong siapkan sekantong transfusi darah, golongan darah AB,” kata dokter sesudah memeriksa golongan darah si pasien. Segera mungkin perawat pergi dari ruangan yang di dominasi warna putih.
Perawat lain lantas memasangkan selang oksigen di hidung Khaira, sayu-sayu, Khaira melihat dan masih mendengar Dokter serta satu perawat yang telah membawa sekantung plasma darah menggantungkan di tiang kecil bersama dengan selang infus.
Kengerian mulai menyelimuti pikiran Khaira, sekilas ia mengingat, saat dirinya kecil, berusia delapan tahun. Khaira mengalami sebuah kecelakaan, namun ia tidak begitu jelas apa kecelakaan itu.
Hanya saja, saat itu, Khaira mengingat, ada banyak orang yang memakai baju berwarna putih di ruangan yang serba putih. Segurat ingatan itu membuatnya semakin dalam kengerian, pandangannya mulai berkabut, perawat dan Dokter yang tengah menanganinya pun seperti angin lalu.
Khaira mencoba untuk menyadarkan kembali kesadarannya, akan tetapi ia merasa semakin takut, dan gelisah, kala ingatan yang tidak terlalu jelas itu melintas didalam pikirannya.
Sedangkan Rezki, Khaira tidak tahu, dimana Bos-nya berada sekarang, ksatria yang telah mencoba menyelamatkannya. Sedetik kemudian, ia tidak sadarkan diri, Khaira pasrah atas apa, yang terjadi, dan apa yang dua perawat serta Dokter ini lakukan padanya.
"Sepertinya pasien, tidak sadarkan diri Dok,” kata seorang perawat wanita berpakaian hijau toska yang sedang memakai sarung tangan karet.
"Segera kita lakukan operasi penutupan lukanya, perawat Ridwan, tolong siapkan obat bius.” ucap Dokter dengan titahnya kepada perawat laki-laki yang ia panggil Ridwan.
Tindakan operasi pun dimulai, Dokter dengan telaten membersihkan luka Khaira terlebih dulu, untuk menghilangkan parasit barangkali ada yang menempel pada lukanya, ia pun akan memulai menjahit goresan luka yang cukup dalam sampai terlihat tulang keringnya.
Yang sebelum itu, Dokter sudah menyuntikkan pengaruh obat bius. Agar sewaktu-waktu ketika si pasien sadar dari pingsannya, pasien tidak merasa sakit.
"Wah, ini lukanya cukup dalam Dokter.” kata perawat laki-laki bernama Ridwan.
Dokter bernama Sakti Irwan pun membenarkan ucapan perawat Ridwan, dengan menganggukkan kepala.
"Kita harus cepat, dan segera menghentikan pendarahan'nya.” kata Dokter Sakti.
"Suster Heni, berikan pada pasien untuk menghentikan pendarahan,” titah Dokter Sakti kepada Suster yang ia panggil Heni.
"Baik Dok,” jawab Suster Heni.
Operasi penutupan luka pun dimulai.
__ADS_1
Bersambung