Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
penculikan jack


__ADS_3

Hari berganti hari berganti minggu bahkan sudah memasuki bulan baru, tak ada yang berubah di kehidupan keluarga wijaya dan della yang tetap beraktifitas seperti biasanya. Begitu juga kakak ane rio, merasa sedikit sibuk juga sesak dadanya jika teringat apa yang di alami adiknya. Sebagai seorang kakak, rio merasa gagal menjaga dan melindungi adiknya.


Dina melihat kesedihan sang suami merasa kasihan dan menenangkan serta menghiburnya, bahwa semua terjadi bukan karena kesalahan nya tapi karena memang sudah taldirnya seperti itu.


Rio merasa tenang mempunyai istri sepertinya, yang sangat perhatian dan juga mengerti keadaan nya.


Jika keluarga wijaya tak mengalami perubahan yang berbeda sejak kepergian bryan dan ane ke america, tetapi tidak pada keluarga mahendra yang kalang kabut menghadapi aksi balas dendam bram pada keluarga mereka.


Mahendra menyayangkan aksi balas dendam bram yang ternyata berujung pada putra kandungnya sendiri, terkena cidera mata hingga mengalami kebutaan. Jack sendiri harus beradaptasi dengan keadaan nya, meskipun sang mama sering mengunjunginya juga sang mertua yang silih bergantian datang tak merubah keadaan nya.


Jack harus menyadari keadaan nya tak seperti dulu, meskipun ada penyesalan tapi sudah terlambat baginya. Nasi telah menjafi bubur tak mungkin kembali seperti semula, hanya harus menerima keadaan dengan lapang dada.


Jack beruntung mempunyai istri sesabar stela yang dengan sabar menemaninya, merawatnya, serta menjaga nya dan juga putrinya meskipun keadaan jack sperti ini.


Hari berganti hari jack mulai terbiasa apalagi dengan kecerewetan adik nya yang sering mengunjunginya. Silla memang tak memandang jack sebagai orang lain, yang ia tahu jack adalah kakaknya. Lihatlah! Betapa beruntungnya jack memiliki keluarga angkat yang sempurna menyayanginya.


Terkadang silla mengajak baby safa bepergian untuk mengurangi kesibukan kakak iparnya. Tapi terkadang juga mengajak jack ke taman bawah apartemen mereka. Yang paling banyak meluangkan waktu hanya silla dan sang mama, sementara stela sesekali ke kantor suaminya menggantikan posisi jack.


Semua atas permintaan mahendra yang membimbing nya memimpin kantor suaminya, karena keadaan jack yang tidak mungkin menghandle kantor sendiri yang menyebabkan stela setuju dengan saran papa mahendra.


Berbeda dengan bram yang masih bertahan dengan keadaan nya, meskipun mendapatkan donor tulang tengkorak tapi tetap saja tak berhasil karena bentuk yang sedikit berbeda. Bram masih berusaha mencari keberadaan jack, mencari dimana mereka pindah tempat tinggal.


Karena sering mendapatkan teror dari anak buah bram, baik papa mahendra maupun papa stela bekerja sama melindungi putra dan putri mereka. Hingga mereka menyarankan pindah ke tempat tinggal mereka, namun rumah mahendra maupun papa stela yang memiliki dua lantai akan sangat berbahaya untuk jack. Jadi memutuskan membeli rumah yang tidak ada lantai dua.


Beberapa hari setelah mereka pindah, jack mulai kembali beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Namun mahendra seakan melupakan keselamatan mereka yang berpikir kalau jack telah aman dari kejaran anak buah bram.


Pagi itu stela berpamitan ke kantor, ada sebuah rapat penting yang harus dihadirinya sedangkan baby safa pada ibunya.


" Sayang, aku berangkat dulu ya. Safa sudah dijemput ibu, aku sudah menyiapkan sarapan."


" Bibi akan membawakan nya kesini."


" Em."


Stela mengerutkan keningnya mendengar jawaban sang suami yang merasa seolah tidak senang.


Stela membalikkan badan nya menghampiri sang suami yang terlihat sangat lesu.


" Kenapa? Seperti tidak senang?" Ucap stela mengusap pelan punggung telapak tangan jack.


"Tidak, pergilah! Hati- hati dijalan!" Gumam jack lirih.


"Tidak...? Tapi cemberut? Ada yang dipikirkan? Atau mau makan sesuatu?" Stela masih membujuk suaminya untuk mengatakan isi hatinya.

__ADS_1


"Tidak, tidak ada. Hanya." Jack terdiam memilih tak melanjutkan ucapan nya.


"Hanya?"


"Sudahlah. Pergilah!" Ucap jack mencoba bangun dan meraba samping tempat tidur untuk sampai ke kamar mandi. Namun stela tak membiarkan jack berjalan sendirian, memapahnya hingga ke depan pintu kamar mandi.


" Jangan terlalu banyak pikiran! Hanya sebentar kok, aku sudah menelepon silla datang untuk menemanimu sampai siang nanti." Ucap stela.


Jack tak menjawab pernyataan stela hanya menghela nafas lalu menutup pintu kamar mandi. Sementara stela hanya terdiam melihat sikap jack yang berbeda dari biasanya. Stela mengerti dan paham kalau jack merindukan kebersamaan mereka. Stela memang sibuk akhir- akhir ini juga karena sendirian mengurus baby safa maupun dirinya.


Stela tak mengatakan apa pun berlalu pergi ketika melihat jam yang ada di pergelangan tangan nya yang menunjukkan jam mepet ke kantor. Stela memang akan menghadiri rapat penting hari ini.


" Bi..., stela berangkat dulu ya. Titip jack." Ucap stela menghampiri bibi asisten rumah tangganya di belakang.


" Iya, non. Hati- hati dijalan!" Ucap sang bibi.


Stela tak mengatakan apapun hanya tersenyum mengangguk pelan.


Entah berapa lama jack mengguyur tubuhnya, menyesalkan apa yang terjadi. Namun semakin lama berdiam diri di bawah guyuran shower semakin nyeri rasa hati yang dirasakan nya.


Tak berapa lama setelah memakai pakaian, jack berjalan meraba dinding kamar hingga sampai ke ruang makan. Tinggal tak berapa lama dirumah ini membuat jack harus mandiri. Stela, silla maupun mamanya bahkan ibu stela mengajari jack mempelajari keadaan sekitar rumah. Hingga jack tahu bagaimana sampai keluar ruangan dan juga benda apa saja yang ada disekitar nya.


"Hah..., den. Kenapa tidak panggil bibi?" Sang bibi terkejut ketika melihat jack secara perlahan berjalan meraba dinding tembok hingga sampai ke ruang makan.


" Sebentar ya, den. Bibi ambilkan sarapan nya."


" Iya, bi.''


Bibi mengambilkan sarapan yang ada di meja makan meletakkan nya di depan jack, lalu mengambilkan jus segar untuknya.


" Makan, den. Non stela membuat nasi goreng kesukaan aden." Ucap bibi menarik tangan jack lalu meletakkan sendok ditangan nya.


" Iya,bi. Terima kasih." Jack mulai menyendok nasi goreng yang ada di depan nya, meskipun tak bisa melihat namun jack berusaha keras agar seperti orang biasa pada umum nya.


Ting tong...


Ting tong...


Sang bibi yang menemani jack mengalihkan pandangna nya ke arah bel pintu berbunyi.


" Sebentar ya, den."


" Iya, bi. Mungkin silla yang datang, stela menyuruh nya datang pagi ini." Sejenak bibi tertegun dengan perkataan jack, karena silla tak pernah membunyikan bel jika berkunjung ke rumah itu.

__ADS_1


Ting tong...


Lamunan sang bibi buyar ketika bel itu berbunyi lagi tak menaruh curiga pada bel tersebut, bibi berjalan mendekati pintu utama berniat membuka pintu. Namun, sang bibi terkejut ketika pintu itu sedikit terbuka beberapa orang menariknya lalu membekap mulutnya.


Orang itu meletakkan sebilah pisau tajam di leher sang bibi hingga kesulitan melakukan perlawanan. Orang itu menyeret bibi masuk ke dalam rumah hingga membuat jack sedikit risau.


" Siapa bi? Silla, kau kah itu?" Teriak jack dari dalam ruang makan.


Tak mendengar jawaban dari bibi maupun silla, jack mengerutkan dahinya. Seperti biasa silla selalu bermain petak umpet saat datang ke rumahnya, hanya ingin menghibur dirinya.


" Em...e." Jack yang mulai berjalan meraba dinding tembok untuk sampai ke ruang tengah, samar- samar mendengar suara aneh dari arah luar membuatnya mengernyitkan dahi.


" Bi..., bibi."


" Silla."


Jack sedikit curiga dengan keadaan ini yang tak seperti biasanya. Silla tak pernah bermain petak umpet selama itu juga sang bibi yang tak menjawab panggilan nya membuatnya sedikit curiga.


"Em..., to." Bibi menggigit tangan orang itu mencoba meminta tolong untuk keselamatan tuan nya, namun salah seorang dari mereka tidak bodoh menodongkan belati ke arah lehernya hingga membuat sang bibi tak berkutik.


" Bi...,bibi." Jack berjalan ke arah sumber suara yang sedikit mencurigakan. Bibi menggelengkan kepala nya sedikit berusaha keras untuk menghentikan jack agar tak berjalan keluar.


"Em..., em... ." Sekali lagi bibi berusaha menggigit tangan pria yang sengaja membekapnya, meskipun akan mempertaruhkan nyawanya.


"Den..., lari den. Lari...,aaak." Sang bibi terkapar terkena tusukan benda tajam para preman tersebut. Sementara jack bingung harus bagaimana antara lari atau diam akan tetap sama baginya. Keadaan matanya yang tidak memungkinkan lari bahkan melalukan perlawanan, juga karena mendengar rintihan bibi yang terdengar kesakitan.


Saat jack berdiam diri tak tahu apa yang harus dilakukan nya, beberapa orang memegang kedua tangan nya memaksa jack mengikuti mereka.


"Lepaskan! Siapa kalian?" Tak mendapat jawaban dari beberapa preman tersebut, jack mencoba untuk minta tolong namun sebuah benda tajam sedikit menusuk di leher jack. Jack tak bisa berbuat apa pun kecuali menuruti permintaan mereka.


Entah siapa yang menyuruh mereka melakukan semua itu, yang dipikirkan jack hanyalah keselamatan bibi.


Silla menghentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah kakaknya, namun dikejutkan dengan beberapa orang yang menarik kakaknya keluar rumah.


"Kak jack..., siapa mereka?" Gumam silla. Silla tak lantas mendekati gerbang pintu melainkan berlari ke arah pos security juga menelepon suaminya atau pun sang papa.


Salah satu security menelepon pihak yang berwajib juga menemani silla memeriksa keadaan untuk memastikan laporan dari silla. Mereka sedikit terkejut ketika melihat preman itu menarik tangan jack juga menodongkan benda tajam ke arah jack.


Silla merasa khawatir dengan keselamatan kakak nya namun tetap harus mengikuti arahan security demi keselamatan bersama.


Tak berapa lama beberapa pihak yang berwajib datang mengintai secara perlahan tanpa membuat preman itu curiga.


Dooor...

__ADS_1


Bersambung🙃🙏


__ADS_2