
"Sayang, sudah selesai. Makanlah!"
"Hem..., baunya wangi. Pasti enak."
"Kau menyukainya?"
"Iya, semuanya."
Dengan sedikit tawa lebar ane mulai menyendok nasi goreng di depan nya. Seperti sedang kelaparan, ane melahap sepiring nasi goreng itu sendirian.
"Ah..., kenyang nya."
Ucap ane kemudian merentangkan kedua tangan nya, sedangkan bryan hanya memandang istrinya tanpa berkedip dengan satu tangan menyangga dagu nya.
"Terima kasih, daddy."
Tanpa basa- basi ane mencondongkan badan nya ke depan mencium bibir bryan.
"Sudah?"
"Em."
"Kita ke atas."
"Baiklah. Tapi kenapa kau begitu khawatir?"
"Bagaimana aku tidak khawatir? Kau tidak ada di tempat tidur dan juga tidak membangunkan ku."
"Uh..., maaf."
"Kau lupa kejadian penculikan silla? Aku tidak ingin kecolongan seperti rafa, karena itu aku membawamu kemana pun aku pergi."
"Baiklah, baiklah. Aku mengerti, dan lain kali aku akan membangunkanmu atau minta ijin padamu."
" Good girl."
Bryan menyentuh hidung ane dengan jari telunjuknya.
"Ah..., auw."
"Kenapa sayang? Ada yang sakit? Kita ke rumah sakit sekarang."
Bryan panik seketika, raut wajahnya berubah menegang mendengar suara teriakan ane yang sedikit nengarah kesakitan.
"Tidak."
"Tidak...?"
"Baby twin bergerak."
"Apaa, baby bergerak?"
"Iya."
Bryan kemudian menarik ane duduk di sofa, saat mereka hendak menaiki anak tangga menuju kamar mereka.
Secara perlahan bryan meletakkan kepalanya di perut ane mendengarkan baby yang mulai aktif menendang.
"Baby..., kau ingin menyapa papa? Atau memberitahu sesuatu?"
Ucap ane mengusap pelan bagian samping perut.
"Hah..., mereka menendang."
Ane tersenyum menganggukkan kepalanya saat bryan memberitahu baby menendang perut ane. Kedua sudut mata mereka menetes air mata kebahagiaan. Bryan mengecup kening ane lalu memeluk tubuh istrinya.
"Kita tidur sekarang. Aku tidak ingin kau kecapekan."
Ane tak menjawab ajakan bryan hanya menganggukkan kepala nya.
"Sayang, aku akan menggendong mu."
"Tidak, biarkan aku jalan sendiri. Jangan manjakan aku berlebihan! Kita baru mulai babak awal."
"Ya, aku mengerti."
Meskipun tawaran nya mendapat penolakan dari ane, tak lantas menyurutkan semangat bryan menjaga istrinya. Bryan dengan hati- hati memapah ane hingga ke lantai atas dimana letak kamar mereka, membantu istrinya berbaring kembali ke tempat tidur setelah menggosok gigi.
Apartemen jack.
"Sayang, tidak tidur?"
Stela menghampiri jack yang masih berada di ruang kerjanya.
"Sebentar lagi, sayang. Ada beberapa berkas yang harus ku selesaikan."
__ADS_1
Ucap jack sedikit panik mendengar suara stela yang tiba- tiba muncul di ruang kerja nya.
"Tidurlah dulu! Aku akan menyusulmu."
"Jangan terlalu memikirkan pekerjaan! Aku dan safa juga membutuhkan mu."
Ucap stela yang mendekati jack memijat lembut pundaknya.
"Apa kau sedang merayuku?"
"Tidak. Tapi memang kami juga butuh perhatianmu bukan hanya kertas putih itu saja."
Pijatan stela berpindah lembut ke bagian kepala, seperti biasanya stela akan menggunakan kelembutan nya menarik perhatian jack.
"Ahh..., ini yang membuatku tidak tahan. Kau selalu menggunakan caramu mwnghentikan aktivitasku."
Dan pada akhirnya jack menutup berkas- berkas yang ada di meja nya, mengikuti alunan menikmati pijatan stela.
"Tidak. Aku hanya membantumu meregangkan otot- ototmu yang kaku."
"Baiklah..., baiklah. Kau menang."
Dan jack memutar kursi kerjanya kenarik stela ke pangkuan nya.
"Sayang..., kalau aku mempunyai identitas lain apa kau masih mencintaiku?"
" Tentu saja. Apa kau meragukan cintaku? Kalau kau ragu sebaiknya kau lihat baby safa, tak mungkin aku mau melahirkan anakmu."
Jawaban stela memang masuk akal, dan tak mungkin juga stela mau menikah dengan nya.
Jack menggendong stela meninggalkan ruang kerja nya menuju kamar mereka, karena memang hari sudah larut.
"Maafkan aku sayang. Aku belum bisa mengatakan yang sebenarnya padamu."
Gumam jack dalam hati setelah membaringkan stela ke tempat tidur.
"Oek..., oek..., oek."
Suara tangis baby safa membangunkan jack setelah mencoba membangunkan stela namun tak mendapat jawaban.
"Sayang..., bangun ya? Safa lapar? Sebentar ya, papa buatin susu."
Mendengar suara jack membuat satu kenyamanan sendiri pada baby safa yang diam dari tangisnya.
Jack melihat popok baby safa yang penuh segera menggantinya, serelah itu menyusui safa yang lapar di tengah malam.
"Sayang, minum susu dari botol ya nak. Kasihan mama mu kecapekan."
Jack menggendong baby safa lalu memberikan susu botol padanya.
"Papa tidak akan sanggup kehilangan mu atau pun mamamu. Jangan tinggalkan papa ya nak!"
Gumam jack dalam hatinya. Jack kembali membaringkan kembali baby safa ke tempat tidur setelah kenyang menyusu.
Entah mengapa pikiran jack risau dan sedikit gelisah mengingat isi percakapan dari flashdisk yang di berikan bram padanya. Jack memutuskan kembali membuka flashdisk tersebut setelah melihat dan menyelimuti istrinya.
"Apa aku tidak salah dengar? Tidak mungkin papa berkata seperti itu."
"Papa yang ku kenal seorang yang berwibawa."
"Perusahaan nya juga punya nama di kota ini bahkan di kota lain."
"Property dan asetnya tersebar."
"Bagaimana mungkin papa menggunakan cara kotor mengambil perusahaan orang lain?"
"Tapi ini suara papa."
"Tidak..., tidak jack. Pasti ada kesalahan dan pasti suara ini telah di manipulasi."
"Aku harus menyelidikinya."
" Aku tidak boleh mempercayai begitu saja. Meskipun hasil test dna itu akurat, papa pasti punya alasan menyembunyikan semua nya."
"Tapi kenapa?"
"Tapi bagaimana jika semua itu benar? Bagaimana kalau memang ada unsur kesengajaan?"
Kepala jack terasa pening memikirkan semua yang terjadi dan atas apa yang di dengarnya. Jack tak menyangka di sela kebahagiaan nya akan ada badai yang menerjang tepat didepan nya.
Jack menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya hingga tertidur disana, namun tak berapa lama atau entah berapa lama tertidur suara tangisan safa mengagetkan nya.
"Sayang, apa kau lapar lagi? Atau popokmu basah?"
"Sebentar ya, papa lihat dulu."
__ADS_1
"Oo..., pupup ya? Baby risih karena pupup ya? Papa gantiin."
Dari kejauhan seseorang tersenyum menyilangkan tangan nya ke dada nya melihat jack berinteraksi dengan putrinya.
"Sudah ya, sekarang tidur lagi."
"Oek...,oek..., oek."
"Lapar ya? Mau mimik susu? Ayo, papa gendong. Papa buatin susu dot baby ya."
"Sayang, sini biar aku susui."
Ucap stela menggendong baby safa. Jack membalikkan badan nya tak menyangka melihat stela berdiri tersenyum padanya.
"Sejak kapan ada disana?"
"Sejak baby menangis."
Jack mengerutkan dahinya mendengar jawaban istrinya yang ternyata memperhatikan nya sejak tadi, bahkan mungkin mendengar percakapan nya dengan baby safa.
Stela meraih safa dari gendongan jack lalu membawanya ke sofa untuk disusui. Setelah kenyang baby safa tertidur kembali dan stela membaringkan gadis kecil itu di box tempat tidurnya.
"Kasihan kamu, mas. Harus bangun malam kareba baby safa."
Gumam stela menyelimuti jack yang tidur kembali di tempat tidur. Rasa lelah dan gelisah bercampur jadi satu hingga tertidur sangat cepat.
" Aku mencintaimu."
Stela ikut berbaring di samping suaminya memeluk tubuh kekar yang tidur dengan posisi tengkurap itu.
Pagi- pagi buta sebelum stela bangun, jack rupanya telah siap memakai jas kerja nya bahkan pergi tanpa membangunkan stela. Jack hanya menitip pesan pada pembantu paruh waktu yang kebetulan sudah datang pagi itu untuk memberitahu kalau ia telah berangkat.
Rupanya jack tak lantas pergi ke kantor tetapi ke suatu tempat dimana ia harus menemukan bukti tentang kebenaran yang di dengarnya dari flashdisk tersebut.
Kantor mahendra, yah..., jack pergi ke kantor papanya sebelum banyak orang datang bahkan penghuni kantor masuk kerja apalagi papanya mahendra sampai di kantor.
Security maupun cleaning service yang melihat kedatangan jack hanya bersikap biasa saja karena mereka memang mengetahui jack adalah putra sulung pemilik mahendra group itu.
Jack berjalan menuju ruang kerja papa nya, mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk membenarkan pernyataan bram. Sesekali jack melihat ke arah jam yang mana jam berapa papanya akan tiba ke kantor memang diketahui jack.
"Tidak ada sama sekali."
"Dirumah juga tidak ada, di kantor juga tidak."
"Dimana papa menyimpan berkas- berkas penting?"
"Apa papa punya tempat lain selain kantor dan rumah?"
"Kakek..., yah dirumah kakek."
Jack tanpa sengaja menjatuhkan sesuatu dari meja kerja mahendra tanpa disadarinya. Dengan terburu- buru jack berjalan ke arah lobby mengambil mobil yang di kendarainya menuju rumah kakek yang selama ini dikunjunginya. Meskipun kakek telah tiada tapi jack yakin masih ada yang tersisa di sana.
Memang benar, tak berapa lama mahendra sampai di kantor dan seperti biasa melihat berkas- berkas yang tertata rapi di depan mejanya. Namun seperti ada yang kurang di meja kerja nya, yakni pena yang setiap hari gunakan nya. Mencari pena tersebut beberapa saat hingga tak sengaja melihat beberapa kertas tercecer di lantai.
"Kenapa dokumen ini ada dibawah?"
"Tidak mungkin rani berani membuka lemari ini atau pun rian meakipun mereka orang kepercayaan ku."
"Lalu..., siapa?"
Dengan sangat cepat mahendra memencet tombol intercom pada rani sang sekertaris untuk memeriksa siapa yang masuk ke ruangan nya.
"Rani, tolong periksa ruang cctv siapa yang nasuk ke ruangan ku sebelum kau datang?"
"Ya, benar. Aku menunggu secepatnya."
Lalu tanpa sengaja mahendra menemukan pena kesayangan nya tergeletak di lantai saat membungkuk membereskan berkas tersebut.
Ceklek...
" Permisi, pak. Saya sudah meminta staf cctv untuk memeriksa kejadian pagi tadi sebelum saya datang."
" Dan yang masuk ke ruangan bapak adalah seorang cleaning service yang setiap hari membersihkan ruangan bapak. Dan setelahnya... ."
Rani agak ragu menyebutkan nama yang terpampang di cctv.
" Setelahnya?"
Mahendra menatap tajam pada rani yang mengerti gadis itu sedikit ragu menyebutkan nama itu.
" Pak jack, pak."
" Jack."
Bersambung😊🙏
__ADS_1