
Selepas Paman Joko dan Bulek pulang. Tak ingin berlama-lama berada di rumah sakit. Sehari saja sudah cukup bagi Khaira. Dokter Sakti juga membolehkan Khaira untuk pulang, namun masih tetap harus rawat jalan guna melihat kondisi jahitan di lima hari kemudian.
Setelah selesai dengan semua rangkaian administrasi rumah sakit, Khaira yang masih di temani Mita saudara sepupunya, yang sangat teramat cerewet. Keduanya menaiki taksi yang membawanya ke rumah Kevin.
Sedangkan Kevin, ia mengendarai motornya berada tepat di belakang taksi yang Khaira naiki, seperti seorang pengawal.
"Ra, kayaknya Kevin udah mulai tertarik deh sama lo, atau bahkan sekarang udah falin in love,” ujar Mita yang sejak menaiki taksi mulutnya selalu menggema.
Khaira sedang melihat sibuknya lalu lalang kendaraan pun menoleh kearah Mita, "Ngawur kamu Mit!”
"Lah, ni bocah kagak percayaan amat sama gue, nih ya buktinya, dia sekarang manggil lo dengan sebutan aku-kamu, terus dia keberatan lo pindah. Terus nih ya, perhatian-perhatian kecil yang dia tunjukkin ke lo, itu udah jadi suatu bukti kalau dia cinta sama lo. Lo'nya aja yang nggak nyadar, hati batu!” cerocos Mita menjelaskan perubahan yang terjadi pada Kevin.
"Kalau aku tetap pindah, gimana menurutmu Mit?" Khaira menoleh sekilas kebelakang kaca mobil taksi, dan melihat Kevin yang tengah fokus mengendarai laju motor.
"Lha gimana lo tetap pindah, kan lo lagi sakit. Gue kagak setuju kalau lo pindah sekarang. Soalnya kontrakan yang mau lo sewa udah di ambil alih sama orang lain," jawab Mita, mendengar kabar dari pemilik kontrakan bahwa kontrakan yang akan disewa Khaira telah disewa kepada orang lain.
"Lho kok bisa secepat itu Mit?" tanya Khaira tidak mengira pemilik kontrakan membatalkan perjanjian tanpa menginformasikannya.
"Lah iya, semalam pemilik kontrakan ngabarin gue. Katanya siapa cepat dia dapat." balas Mita, menggidik pundaknya.
Khaira menghela nafas, ia kembali mengedarkan pandangannya menatap lalu lalang kendaraan.
~~
Tak berselang lama, mobil taksi pun berhenti di depan rumah Kevin. Khaira dan Mita lantas turun dari taksi tak lupa Khaira membayarnya, Mita nampak sangat mengamati bangunan yang terlihat sederhana namun bergaya modern.
Inilah kali pertama bagi Mita melihat rumah Kevin, setelah satu bulan Khaira tinggal.
"Kirain, nih ya, dalam pikiran gue. Lo terjebak sama Pria kaya raya, alias tajir, banyak duit, perusahaannya dimana-mana. Uuh pokoknya Sultan dah, kayak di novel-novel berlogo biru yang pernah gue baca,” ucap Mita menghalu setinggi khayalan kelabu, di langit abu-abu.
"Menghalu kamu, Mit! Mana ada di dunia nyata Pria tajir mau menikahi wanita miskin seperti aku ini, atau sebaliknya, yang ada tuh mereka menikah juga lihat-lihat dulu kali, latar belakang, bibit, bobot, atau paling nggak yang sama-sama setara. Kebanyakan nonton sinetron sama baca novel halu si kamu, Mit!" Khaira mencecar sepupunya yang halunya ketinggian.
"Lho, orang sakit kok ngegas! Tenang saudara..?" kata Mita, dengan seulas senyuman getir.
"Ya bukannya ngegas, tapi kalau menghalu tuh jangan ketinggian. Ntar kalau kita lihat kenyataan nggak kecewa," balas Khaira.
Kedatangan Kevin membuat Mita dan Khaira menghentikan percakapan yang akan mengarah pada percekcokan kecil.
__ADS_1
"Maaf yah, gue tadi berhenti dulu buat beli sesuatu.” ucap Kevin baru sampai, dan membuka gerbang minimalis. Lantas di bukannya pintu rumah. Disusul oleh Khaira dan Mita.
"Silahkan Nona-nona masuk kedalam, gue mau mengambil barang yang diluar," ujar Kevin, mempersilahkan Khaira dan Mita untuk masuk terlebih dulu. Lantas ia kembali ke motornya yang masih terparkir di jalanan depan rumah.
Mita mengamati ruang tamu, sederhana namun elegan. Setelah duduk sebentar dengan Khaira, Mita lantas pamit "Ra, kayaknya gue nggak bisa lama-lama di sini. Lo kan tau, kemarin gue baru ambil cuti, maaf ya, soalnya gue harus kembali kerja. Nanti sore kalau pulangnya nggak terlalu malem, atau gini, besok dah, gue kesini lagi"
Khaira mengangguk, ia dapat memahaminya, "Iya, makasih Mit, terus kamu ke tempat kerja naik apa?"
"Lha, lo gimana si? Angkot kan banyak noh di jalanan.” sahut Mita menunjuk arah luar rumah.
Khaira menoleh kearah Kevin, yang baru memasuki rumah dengan membawa dua kantung plastik.
Kevin menatap Khaira, ia merasa istrinya itu ingin ia mengantarkan Mita, "Apa?"
Sebelum Khaira bersuara dan bermaksud meminta Kevin untuk mengantarkan Mita, Mita terlebih dulu menolaknya.
"Gue kagak mau naik motor bareng dia, nanti yang ada, make up mahal yang udah gue irit-irit makainya jadi kagak karu-karuan!" sergah Mita, sambil memegangi pipinya.
"Baguslah, kalau lo nyadar!" kata Kevin.
Mita pun melirik sinis, nampaknya ia geram dengan ucapan Kevin, "Dih, emangnya gue mau naik motor lo!"
"Waduh nyolot jawabnya. Santai aja bos!" balas Mita sinis.
"Kenapa kalian ribut, kamu suka sama Mas Kevin, Mit?" kata Khaira, akhirnya ikut membuka suara, daripada diem-diem bae kaya suporter bola tatkala jagoannya kalah.
"Nggak!" celetuk Mita.
Kevin membulatkan matanya melihat Khaira yang berkata demikian, "Kamu bicara apa si Ra?"
Khaira menggidik pundaknya, "Ya kali aja, melihat kalian sering berantem kalau ketemu lama-lama jadi saling suka?"
"Hilih... lo ngomong apa si Ra? Rupa-rupanya tangan lo yang diperban, otak lo yang luka? Daripada gue disini ngomong kagak jelas, mending gue pergi," sergah Mita, menolak persepsi Khaira. Ia menoleh kearah Kevin yang berdiri tidak jauh dari Khaira, "dan lo Vin. Meskipun lo nyebelin, tapi gue yakin lo bakal bersikap baik dan menjaga sepupu gue, gue cabut. Makasih udah mau nerima Khaira buat tinggal di rumah lo," ucapnya pada Kevin.
Kevin hanya berdiam diri mematung menatap Mita tanpa ekspresi yang berarti.
"Dah sepupu gue, semoga lekas sembuh." ucap Mita seraya melambaikan tangan dan berjalan mundur menjauhi teras rumah Kevin.
__ADS_1
Khaira mengangguk dan hanya bisa melihat Mita di ambang pintu. Meskipun Mita 24 tahun dan hanya selisih dua tahun lebih tua darinya, akan tetapi naluri keberanian dan kemandirian Mita patut diacungi jempol.
Saat Khaira berbalik badan, ia sudah dikejutkan akan kehadiran Kevin yang sudah berdiri tepat dibelakangnya, seketika kening Khaira bersentuhan dengan bibir Kevin. Khaira langsung mundur selangkah.
"Mas Kevin!" hardik Khaira mengusap keningnya, dan melihat Kevin sedang tersenyum. Ia melenggang pergi dari hadapan Kevin.
Kevin menoleh merunut kepergian Khaira yang berjalan masuk kedalam kamar, ia mengusap bibirnya,"ah menang banyak gue." selorohnya dalam hati, senang bisa mencium Khaira tanpa adanya paksaan.
~
Tidak mungkin ada debaran yang berarti dalam hatinya, karena kecupan itu bukanlah kecupan yang pertama. Sebelumnya ia juga sudah menerima kecupan dari Kevin dengan cara paksaan. Khaira menggosok keningnya agak kasar.
"Bisa bae tuh orang, mencari kesempatan dalam kesempitan!" gerutunya gemas, selalu saja Kevin mendekat dan ingin menyentuhnya. Khaira berjalan sampai ke kamar yang ditempatinya.
Dilihatnya noda darah yang mengering di pakaian putihnya lantas berniat untuk mandi agar badannya lebih terasa segar. Diambilnya handuk, serta pakaian ganti, hanya menggunakan tangan satu, dikarenakan tangan kiri harus ia gendong didepan dada.
Sebelum benar-benar keluar kamar, Khaira melongokkan kepalanya melihat ruangan tengah nampak lengang.
"Huhhh... aman." Khaira menghela nafas panjang, demi menghindari pertemuannya dengan Kevin yang nantinya hanya akan membuat semakin kesal, Khaira berjalan kearah kamar mandi dengan mengendap-endap seraya menundukkan pandangan.
Dan pada saat bersamaan Kevin keluar dari kamar, mendapati Khaira sedang berjalan dengan mengendap-endap, "Kenapa cara jalanmu begitu?"
Khaira terperanjat mendengar suara Kevin menegurnya, sampai-sampai ia melempar pakaian. Hingga mengakibatkan semua pakaiannya melayang dan jatuh berserakan.
"Alamak.....!" seru Khaira melihat kengerian, ia membulatkan mata melihat pakaiannya berceceran tepat di depan kaki Kevin, tak luput juga pakaian dalamnya.
Kevin melihat pakaian Khaira yang berserakan terpisah di depan kakinya, diantara baju piyama bermotif Spongebob netranya juga melihat pakaian dalam Khaira yang berupa bra warna merah dan celana dlm warna kuning.
Glek... Khaira menelan ludahnya yang serasa mengganjal. Ia melihat
Kevin lalu bergantian melihat pakaian dalamnya yang tergeletak tak berdaya dilantai, tepat didepan kaki Kevin.
Khaira seakan mati kutu ditempatnya berdiri. Batinnya berkata, "Tolong jangan sampai Kevin memungutnya."
__ADS_1
Bersambung...