Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Makanan kepiting hidup


__ADS_3

"Sayang, jadi ke rumah mama?"


Ucap rafa melihat silla keluar dari kamar mandi dengan wajah cemberut nya.


"Tidak."


"Kenapa? Masih sakit?"


"Tidak."


"Lalu...?"


"Aduh kakak..., lihatlah! Banyak ****** di leher silla, bagaimana mungkin silla berani bertemu mama?"


Ucap silla menunjuk dengan jari telunjuk ke lehernya.


"Memangnya kenapa? Bisa ditutup dengan foundation."


Silla mengerutkan keningnya ketika mendengar pernyataan rafa seperti mengetahui lebih detil wanita.


"Dari mana kakak tahu? Jangan katakan kakak pernah melakukan nya dengan gadis lain? Atau kekasih kakak?"


Silla berdiri menyipitkan matanya menunjuk pada rafa yang sedikit heran dan terkejut dengan reaksi istrinya.


"Tidak. Kakak tidak pernah punya kekasih atau melakukan nya dengan gadis lain."


Ucap rafa tetap tenang di depan silla.


"Lalu..., bagaimana kakak tahu?"


"Melihat dari beberapa film action dewasa."


"Tidak mungkin, pasti kakak mempunyai wanita lain."


"Tidak. Really, only you my wife."


"Bagaimana silla percaya?"


"Hahaha. Ayolah sayang, jangan katakan kau sedang cemburu?"


"Cemburu...? Tidak, untuk apa aku cemburu kalau akulah pemenangnya."


"Lalu..., yang baru saja?"


Rafa memeluk silla dari belakang ketika silla membalikkan badan nya dari membelakangi rafa.


"Tidak, bagaimana mungkin pria setampan kakak tak punya kekasih? Apalagi dikampus, pasti banyak gadis- gadis yang mengejar kakak."


"Oo..., jadi istri kakak sedang mengagumi ketampanan suaminya? Dan juga merasa cemburu?"


"Tidak."


"Sayang, kakak sudah bersegel bagaimana mungkin mencari gadis lain? Bisa dihajar habis- habisan oleh kakakmu."


"Hihihi..., sungguh? Kakak tak punya kekasih? Jadi silla nomor berapa?"


"Number one, first time and the last one."


"Hem..., gombal."


Meskipun sedikit tersipu malu, silla menundukkan kepalanya tersenyum bahagia.


"Aaa... ."


Silla sedikit berteriak seperti melupakan sesuatu, setengah berlari keluar kamar menuju dapur. Sedangkan rafa tertegun sedikit heran dengan tingkah istrinya hanya mengikuti kemana silla berlari setelah berteriak kecil. Rafa menyandarkan badan nya disisi tembok menyilangkan kedua tangan nya menatap sang istri dari jauh.


"Hah..., ternyata kakak sudah menyiapkan sarapan. Bagaimana sih silla? Bukan nya istri menyiapkan sarapan tapi malah suami."


Gumam silla menghela nafas panjang sedikit menyesal. Rupanya silla hampir melupakan tugasnya sebagai istri, silla memang harus belajar banyak dari orang tua nya.


"Ada apa? Kenapa melamun disana?"


"Tidak. Tadinya ingin membuat sarapan, tapi kakak sudah menyiapkan sarapan."


"Tidak apa- apa. Kau terlihat lelah setelah semalam menemaniku."


Silla semakin tertunduk malu mengingat kejadian malam yang dihabiskan bersama suaminya.

__ADS_1


"Kita ke rumah kakak ipar saja ya, kak."


"Tidak. Kakakmu membawa kakak ipar kemana pun ia pergi, bagaimana kita tahu mereka ada dimana?"


"Hah...? Memangnya kenapa?"


"Kau lupa dengan kejadian yang menimpamu? Apalagi kakak ipar sedang hamil, tak mungkin bryan meninggalkan nya dirumah.Jika kakak tidak sigap memasang alat pelacak itu, bagaimana bisa menemukan mu?"


"Em..., maafin silla kak. Silla tidak tahu akan tertimpa musibah seperti ini. Silla tidak yakin rara terlibat dalam penculikan silla."


"Kakak tahu, tapi tetap saja dia juga harus bertanggung jawab atas keselamatanmu."


" Tapi kak... ."


" Silla, kau ingin melindungi orang yang membahayakan nyawamu?"


Silla tertunduk lemas tak mampu berkata apapun membela sahabatnya yang dikenalnya selama beberapa tahun ini.


"Bagaimana perasaan mama dan papa jika terjadi sesuatu dengan mu?"


Silla menatap nanar atas apa yang di ucapkan rafa padanya memang benar adanya bahkan silla tak kan mampu membayangkan kesedihan kedua orang tua dan kakaknya.


"Ya, silla mengerti."


"So..., ke rumah mama?"


''Tidak, silla dirumah saja."


"Tidak."


"Tidak? Memangnya kenapa? Lebih baik silla dirumah daripada ke rumah mama."


Ucap silla cemberut menundukkan kepalanya.


" Sayang, kakak tidak akan bisa meninggalkanmu sendiri dirumah. Kalau kakak tidak kerja, kakak tidak yakin akan membiarkanmu turun dari tempat tidur."


Senyum penuh arti dan juga kedipan mata rafa menandakan maksud tertentu, silla menyipitkan matanya.


Silla dengan cepat paham arti maksud yang dikatakan rafa, ia pun mengangguk dengan cepat.


"Hah..., bisa jadi makanan kepiting kalau dirumah. Lebih baik ke rumah mama saja, meskipun akan diledekin mama."


"Sarapan dirumah atau dirumah mama?"


"Dirumah, sayang sekali sudah dimasakin suami."


Gumam silla tersipu malu. Rafa hanya tersenyum melihat tingkah istrinya. Hampir tak pernah ia bayangkan akan menikahi gadis yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, sekaligus umur yang masih muda. Setidaknya rafa harus benar- benar bersabar menghadapi istrinya yang baru saja lulus sekolah menengah atas tersebut.


"Kak, kita menginap dirumah mama?"


"Tidak. Kakak akan menjemputmu sore nanti."


Ucap rafa.


"Kenapa tak menginap saja?"


"Hah..., seperti tidak tahu mama saja. Kau lupa kejadian saat malam kira baru menikah?"


"Oh... iya, mama pasti kepo di depan pintu kamar."


Gumam silla menarik kursi meja makan.


"Mana kakak sangat buas lagi, ups."


Silla tak sadar menutup mulutnya sendiri. Sedangkan rafa mendekatkan kepalanya tepat dibelakang silla membisikkan sesuatu padanya.


"Tapi kau menyukainya, bukan?"


Blush on merah muda seperti warna tomat membuat silla tertunduk sedikit malu.


Setelah menyantap sarapan, mereka bersiap keluar rumah. Rafa sengaja mengantar istrinya ke rumah mertua nya tak ingin hal yang sudah terjadi akan terulang lagi.


Namun saat rafa baru mengemudikan mobilnya beberapa meter keluar dari tempat parkir basement, ponsel silla berbunyi beberapa kali.


"Ya, kak."


"Tidak. Silla baru keluar rumah akan ke rumah mama."

__ADS_1


"O..., begitu. Baiklah."


Silla menutup kembali ponselnya setelah penelepon memutus sambungan telepon.


"Siapa sayang?"


"Kak jack"


"Hem... ."


"Antar ke rumah kak jack saja, kak. Baby safa sedikit rewel, sementara kak jack harus ke kantor ada urusan kantor."


"Baiklah."


Beruntung jack menelepon tepat pada waktunya, sebelum rafa jauh mengemudikan mobilnya. Jika tidak, mereka pasti memutar balik karena arah rumah jack dengan orang tuanya tidak sama.


"Sayang, kakak hanya bisa mengantarmu sampai disini. Kakak akan menjemputmu nanti sore."


"Iya, kak."


"Ingat, kakak tidak mau kau berhubungan lagi dengan rara!"


"Hah..., iya kak."


"Good girl, muach."


"Kakak hati- hati di jalan!"


"Okay, my wife."


Silla terkekeh geli mendengar jawaban rafa. Asing, namun terasa menyenangkan dan juga membuatnya sedikit tersipu malu.


Silla naik ke lantai atas menuju apartemen dimana jack dan stela tinggal. Sedikit terbayang tentang kehidupan yang baru dijalaninya terasa menggemaskan. Masih muda bahkan baru lulus dati sekolah tiba- tiba menikah begitu saja.


Ting tong....


Ting tong....


"Nah..., itu dia pasti silla."


Ucap jack yang sengaja menyuruh silla datang ke rumah menemani stela dan safa. Bukan tanpa alasan jack menyuruh silla datang tapi karena rasa khawatir yang menghantuinya membuat sedikit gelisah.


Ceklek...


"Sayang, baguslah kau sudah datang. Rafa mana?"


"Kak rafa langsung ke kantor kak."


"Hah..., kenapa tidak mampir dulu?"


"Sedikit sibuk kak, dua hari cuti."


"Ciyee..., cuti honeymoon?"


"Ih..., kakak."


Disela ketegangan dan kegelisahan jack, masih sempat bercanda dengan sang adik.


"Sayang, kakak pergi dulu. Titip kakakmu dan baby ya."


"Iya, kak. Hati- hati dijalan."


Ucap silla.


"Sayang, aku pergi dulu."


"Iya sayang, hati- hati."


"Em.. ."


Ceklek...


Derrr...


Jack sedikit lega menyuruh silla datang ke rumah, setidaknya jack tidak khawatir dengan stela dan juga baby safa. Jack tak langsung ke kantor tetapi ke rumah kedua orang tuanya. Mama ine mengatakan tidak bisa datang saat jack menyuruhnya menemani istrinya pasca safa imunisasi, karena ada undangan dari teman kolega papanya jadi harus menemani mahendra.


Jack memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari tahu kebenaran yang diketahuinya atau diberitahu bram padanya.

__ADS_1


Bersambung😊🙏


__ADS_2