Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Story jack2


__ADS_3

" Stel..., bantu jack ke kamar mandi. Bau kecut sampai menyengat."


"Hihihi..., iya ma. Maaf, stela belum sempat membantu jack mandi. Safa rewel dari semalam."


Bukan tanpa alasan kenapa ine mengalihkan pembicaraan dan juga menyuruh jack mandi agar pergi dari ruang tengah, terlihat dibagian dada ine tampak ada noda bercak merah.


"Ma... ."


Stela terkejut setelah melihat pijama sang suami tampak ada noda merah, ia menoleh ke belakang tepat pada sang mertua yang tengah memeriksa luka nya.


Ine mengerti kekhawatiran stela setelah melihat noda merah dibaju nya, tak ingin melihat sang putra cemas ine hanya memberi isyarat stela untuk diam. Stela mengangguk pelan, lalu berjalan menuju kamarnya tepat ke kamar mandi untuk membantu sang suami.


Rupanya bukan tanpa alasan menyuruh stela membantu jack atau bisa dikatakan untuk menghindari kecurigaan jack atas luka yang dialaminya. Ine meminta art stela mengambilkan kotak obat dan juga air bersih untuk mengusap darah yang keluar dari luka nya.


" Saya bantu, nya."


" Tidak, bi. Saya bisa sendiri, kasihan bibi pasti capek beberapa hari harus menginap di rumah."


" Tidak apa- apa, nya. Kasihan non stela kerepotan."


" Terima kasih, bi. Sudah menemani stela, saya tidak tahu apa yang terjadi kalau bibi tidak ada."


"Nyonya bisa saja, ada bu ratna juga kok nya."


"Tetap saja, bibi nyatanya menginap disini."


"Sudah kewajiban bibi, nya. Non stela banyak membantu keluarga bibi, sudah sepantasnya bibi membantu non stela saat seperti ini."


"Terima kasih, bi."


"Sama- sama, nya."


Selesai bibi membantu ine membersihkan lukanya dan membantu mengganti perban ine, bibi ke belakang beristirahat. Stela memang menyediakan kamar untuk art nya beristirahat.


"Ma..., luka mama tidak apa- apa."


Ucap stela yang tiba- tiba muncul dari balik pintu kamarnya.


"Tidak apa- apa, sayang. Hanya keluar darah sedikit, jack terlalu erat memeluk mama tadi. Apa dia sudah selesai? Kenapa kau meninggalkan nya?"


"Jack sedang berendam, ma. Ia meminta stela meninggalkan nya sebentar."


"Oh..., begitu rupanya."


Stela mengangguk pelan pada sang mertua.


"Ma..., kenapa tidak bilang saja kalau mama punya luka?"


Tak....


"Aduh."


Ine menyentil kening stela setelah mendengar protes sang menantu hingga stela pun meringis kesakitan.


"Sakit?"


"He em."


"Sudah tahu sakit jangan bicara yang aneh- aneh. Kasihan suami mu kalau mama harus memberitahunya, rasa bersalahnya akan menghantui pikiran nya lalu memperlambat kesembuhan nya."


Ucap ine.


"Jack sudah terlalu syok mendengar dan melihat semua kejadian ini, terlebih setelah mengetahui identitas aslinya."


"Tapi..., kenapa mama menyembunyikan semua ini? Bahkan stela sendiri tak mengetahuinya."


"Karena mama menyayanginya, dan mama bukan tak ingin memberitahumu tapi karena kedua orang tua mu melarang kami memberitahumu saat melamar mu."


"Itu tidak adil."


"Apa yang tidak adil?"


Keduanya saling menoleh ke arah pintu utama setelah mendengar suara yang tidak asing bagi mereka.


"Ibu...."


"Rat..., bawa apa banyak sekali?"


Ucap ine.


"Sedikit belanja kebutuhan mereka saja, ne. Sudah lama? Aku belum sempat memasak dirumah, sudah sarapan? Bibi sudah masak sarapan?"

__ADS_1


"Nyonya ine bawa sarapan, bu."


Ucap bibi yang muncul dari dapur membantu mengangkat barang bawaan ratna.


"Syukurlah, anak- anak sudah makan."


"Kau ini..., memikirkan anak- anak sampai badan mu kurus seperti itu."


Ucap ine menggelengkan kepalanya.


"Hihihi..., untuk seorang ibu apapun akan dilakukan untuk anaknya."


"Ah..., ibu. Stela nggak jadi marah kalau seperti ini."


Ucap stela memeluk sang ibu.


"Marah? Kenapa?"


Ratna mengeryitkan dahinya saat mendengar putrinya mengucapkan kata yang berbeda dari biasanya. Namun, belum sempat menjawab pertanyaan ibunya stela beranjak pergi setelah meninggalkan ruang tengah.


Sementara ratna menatap sang besan memajukan dagunya seakan bertanya apa yang sedang terjadi dan ine hanya mengangkat bahunya tak mengerti apa yang dimaksud stela.


Tak berapa lama stela kembali membawa ponsel ditangan nya yang rupanya milik jack yang sedang berdering.


"Ma."


"Ada apa sayang? Ponsel siapa yang berdering? Kenapa tak mengangkatnya?"


Stela membawa ponsel itu kepada ine memperlihatkan ponsel suaminya yang rupanya tertulis nama pemanggil telepon tersebut.


"Bram."


"Bram."


Reaksi kedua ibu itu sedikit terkejut melihat ke arah layar telepon tersebut.


"Sayang...., stela..., mama...., ponselku berdering.Bisa minta tolong ambilkan?"


Teriak jack dari dalam kamar.


"Biar mama yang angkat, pergilah! Katakan pada jack kalau penelepon sudah memutus sambungan."


Stela bergegas berlari menghampiri jack yang saat ini berada di kamar mandi. Sementara ine berlari keluar rumah di ikuti dengan ratna yang mendadak menjadi kepo ingin mengetahui kenapa bram menelepon menantunya.


Ine menyentuh layar jawab dan juga layar speaker supaya keduanya bisa mendengar maksud dari bram menelepon jack.


"Halo, jack. Lama sekali kau mengangkat telepon? Kau tak merindukan ayah? Ayah sangat merindukan mu dan juga anakmu."


"Apa ayah bisa melihat anak mu, nak?"


"Ah..., tentu saja tidak bisa. Kau sendiri tak bisa melihat dan tidak mungkin istri mu mengijinkan mu membawa cucu papa."


Ketika ratna akan bersuara, ine menyentuh tangan nya menggelengkan kepalanya untuk tidak bersuara.


"Tapi..., percayalah! Papa akan menjaga anakmu."


"Jack..., kenapa kau diam saja? Apa kau belum tahu kalau kau buta permanen?"


Ine tampak meremas tangan nya sendiri sedikit kesal dengan perkataan bram yang merupakan ayah kandung jack tapi tak beradab sama sekali.


"Ayah bisa membantumu merawat anakmu, tapi ayah punya kendala. Bagaimana kalau kau mendonorkan tulang kepala mu pada ayah?"


" Tidak akan pernah aku ijinkan!! Dasar tua bangka tak tahu diri."


"Jack..., siapa kau? Kenapa ponsel jack ada padamu? Dimana jack?"


"Heh..., kau dengar baik- baik! Aku akan melindungi keluarga putriku. Tak kan ku ijinkan kau mendekati menantuku, bahkan menemui nya sekalipun kau ayah kandungnya. Kau dengar itu!!"


Entah syeitan apa yang merasuki ratna merebut ponsel dari tangan ine, tersirat kemarahan yang sangat dalam seperti sedang terbakar api yang sedang berkobar. Sedikitnya membuat ine ternganga tercengang tak percaya melihatnya.


"Hei..., dia itu putraku. Sudah sepantasnya dia berkorban untuk ayahnya."


"Justru sebaliknya, seorang ayah seharusnya berkorban untuk putranya. Kau yang menyebabkan jack kehilangan penglihatan nya, seharusnya kau yang menggantinya."


Ratna setengah berteriak setelah mendapat jawaban mengejutkan dari bram.


"Aku...? Enak saja. Seharusnya dia yang harus mengganti rugi padaku, dia yang menyebabkan semua terjadi."


"Hah..., aku tidak menyangka ada orang setamak kau dan seegois ini. Tapi..., tenang saja! Aku akan mencari donor mata lain untuk menantuku. Dan kau dengar itu baik- baik, mulai detik ini aku tidak akan membiarkanmu berhubungan dengan jack. Camkan itu!!"


Prak....

__ADS_1


Tak..., tak...., tak...


Ratna tersulut emosi mengambil ponsel tersebut lalu membanting nya sangat keras hingga terpecah menjadi beberapa bagian. Tak sampai disitu saja, rupanya kemarahan ratna memuncak hingga menginjak- injak potongan ponsel tersebut. Sementara ine yang masih ternganga semakin terkejut melihat sikap ratna yang terkesan melindungi jack.


Ratna meninggalkan ine yang masih ternganga menutup mulutnya dengan kedua tangan nya menatap setiap gerakan dan langkahnya. Lalu membanting pintu rumah hingga membuat art stela terkejut melihatnya, begitupun dengan stela yang keluar dari kamarnya.


Sang putri ternganga melihat sikap ibunya, yang beruntung lagi jack tak turut ikut keluar kamar dengan nya. Jack merasa sedikit lelah dan mengantuk setelah selesai berendam, mungkin juga karena pengaruh obat dan vitamin yang diberikan dokter padanya.


"Enak saja, awas kau!! Aku akan membuat perhitungan dengan mu."


Gumam ratna yang sedikit geram lalu terlihat membuka tas miliknya seperti mencari sesuatu.


"Bi..., ibu kenapa?"


" Entahlah, non? Bibi tidak tahu."


" Mama mana?"


"Masih diluar, non."


"Diluar?"


"Iya, non. Nyonya dan ibu menerima telepon diluar rumah."


Ucap bibi.


Stela hendak mencaritahu apa yang terjadi dengan ibunya hingga membanting pintu seperti itu. Selama ini, stela tak pernah melihat ibunya bersikap kasar seperti itu. Namun, tak berapa lama ine masuk ke dalam rumah membawa beberapa potongan ponsel yang tadi dibanting ratna.


"Ma."


"Hah..., ponsel jack kenapa bisa seperti ini?"


Stela ternganga melihat tangan ine membawa ponsel suaminya yang sudah menjadi beberapa bagian, lalu memberikan nya pada stela. Ine ke ruang dapur mengambil air minum, meminum nya seperti orang kehausan. Setelahnya, ine mengambil segelas air lagi membawa nya ke ruang tengah dimana ratna tengah sibuk menelepon seseorang.


"Bi..., apa yang terjadi?"


"Entahlah, non?"


"Kenapa mama dan ibu terlihat seperti marah? Dan ponsel ini?"


Gumam stela yang mengikuti langkah mertua nya, lalu duduk di sofa mendekati ine yang tengah memperhatikan setiap gerak- gerik sang ibu.


"Ma... ."


"Hem."


"Apa yang terjadi?"


"Tidak ada."


"Tidak ada? Kenapa ibu terlihat sangat marah? Dan ponsel jack?"


"Ratna yang membantingnya."


"Apaa..., ibu yang membantingnya? Kenapa?"


"Stela..., jack mana?"


Belum sempat ine menjawabnya, ratna memutus pembicaraan mereka.


"Tidur, bu. Ia sedikit mengantuk setelah minum obat."


"Minum dulu!"


Ine menyodorkan segelas air putih yang sempat dibawanya dari dapur pada ratna. Ratna yang tampak seperti orang kehausan meneguk segelas air tersebut tanpa sisa.


"Sudahlah, tak perlu dipikirkan. Kita akan berusaha memberi kebahagiaan pada anak- anak kita."


Ucap ine.


"Aku tidak menyangka ada orang se egois itu."


"Bram memang seorang psikopat yang tidak punya hati nurani. Ia bisa menumbalkan siapa pun untuk kepentingan pribadinya, termasuk istrinya."


"Aku tidak akan membiarkan pria itu mendekati jack. Beruntung aku sudah menghancurkan ponsel."


"Apaa..., jadi benar ibu yang membanting ponsel ini?"


Stela membelalakkan matanya meletakkan potongan ponsel itu di atas meja, ketika ratna keceplosan berbicara apa yang terjadi sebenarnya.


Bersambung😂🙏

__ADS_1


__ADS_2