
Restauran sedang sibuk-sibuknya, semua pegawai mengerahkan tenaganya di bagiannya masing-masing. Bahkan untuk sekedar makan siang pun mereka lakukan secara bergantian dan cepat agar lebih menghemat waktu.
Salah satu dari pegawai restauran adalah Khaira, ia di bagian waiters. Maka tugasnya adalah mencatat dan mengantar pesanan dari pelanggan resto.
Memang tak banyak mengandalkan pikiran, tapi ia harus mengandalkan kecepatan dan hati-hatian dalam membawa pesanan pelanggan agar sampai di meja dengan aman.
Adapun pelanggan yang ramah, maka mereka tidak akan sungkan untuk mengucapkan terimakasih sebagai penghargaan atas kerja keras dan keramahtamahan pegawai restoran.
“Terima kasih Mbak.”
Seperti yang dilakukan oleh seorang pelanggan wanita kepada Khaira.
Khaira tersenyum simpul, “Sama-sama.”
Setelah menyajikan pesanan, Khaira melihat seorang pria yang baru saja datang duduk di kursi meja kosong restauran serta melambaikan tangan. Khaira terkejut dengan pelanggan yang melambai-lambai tangan kepadanya.
Keningnya mengerut heran.“Ada apa Mas Kevin ke sini?” monolognya dalam hati.
Bukannya menghampiri Kevin, Khaira justru menghampiri Vita yang sedang membersihkan meja bekas pelanggan meninggalkan piring kotor.
“Vit, ada pelanggan tuh,”
Vita bingung mendengar bisikan rekan kerjanya yang saat ini memakai hijab warna hijau army. “Lha kan lo tau sendiri gue lagi sibuk!” ketusnya Vita menjawab.
Khaira mengambil lap yang digenggam Vita, “Biar aku aja yang bersihin meja dan piring kotor ini. Udah kamu urus aja tuh pelanggan, ganteng pula. Kamu kan suka yang ganteng-ganteng apalagi yang mancung-mancung kayak Petruk,”
Vita mengalihkan atensinya dari Khaira dan menatap seorang pria yang duduk sendiri di sudut ruangan restauran. Agaknya ucapan Khaira sudah meracuni otaknya, Vita pun mengikuti saran Khaira, “Oke, ambil nih lap!”
Khaira tersenyum sumringah, lalu melanjutkan pekerjaan yang sebelumnya dikerjakan oleh Vita.
Sementara itu Vita menangani pelanggan, ia memasang wajah seimut dan secantik mungkin dengan senyuman yang menggoda, “Selamat siang, silahkan dilihat menunya?”
Kevin terus saja memperhatikan Khaira yang malah sibuk membersihkan meja berjarak lima meja bundar restauran. Ia tidak fokus terhadap waiters cantik yang memberikannya menu dan telah siap guna menulis pesanannya.
Vita pun kembali mengulangi perkataannya yang seolah seperti angin lalu bagi pelanggan yang satu ini, “Permisi Mas, mau pesan apa, silahkan dilihat menunya,”
Tanpa sedikitpun melirik selembar menu yang berada di atas meja, Kevin menjawab pertanyaan waiters, “Ini gue lagi lihat,”
Vita bingung, apa yang dilihat pelanggannya ini. Menunya saja dimana? Sementara matanya melihat kemana? Ganteng, tapi kok aneh! kesal Vita.
“Terus mau pesan apa, Mas?” Vita bertanya dengan nada seramah mungkin kepada pelanggan restauran.
Kevin spontan menunjuk Khaira yang sedang membersihkan meja, “Itu, gue pesan itu!”
Vita mengikuti arah telunjuk, mengernyitkan keningnya. Vita sangatlah heran, ia semakin dibuat kesal. Kalau saja ia bukanlah seorang waiters, pastilah ia sudah memakai pria aneh ini!
__ADS_1
“Permisi Mas,” ujar Vita masih batas dari kesabarannya.
Kevin tidak menggubrisnya.
Karena semakin kesal, sebab musabab keberadaannya tak indahkan oleh pelanggan. Vita lantas melambaikan tangannya di hadapan pelanggan restauran yang memang tampan, “Halo Mas, saya di sini,”
Barulah Kevin merasa terganggu oleh lambaian tangan seorang waiters yang menawarkan menu padanya, ia mengalihkan atensinya dari semula terus mengamati sang istri yang sedang sibuk membersihkan meja, kini beralih menatap seorang waiters di depannya,“Iya gue tau! Kagak sabaran amat si!” ketusnya.
Lagi-lagi dan lagi Vita mengernyitkan dahinya dalam kebingungan sekaligus keheranan dengan pengunjung restauran yang satu ini. Rasa-rasanya ia ingin memaki pria nyolot di hadapannya.
“Mas kalau Mas-nya nggak mau makan, ya mendingan Mas nya pergi dari sini!” namun ucapannya itu hanya ada dalam awang-awang Vita. Ia tak mungkin berkata kasar seperti itu pada pelanggan restauran. Bisa-bisa ia mendapatkan pemotongan gaji, bahkan bisa jadi ia di depak dari pekerjaannya tanpa uang pesangon dari Bos.
Secara kebetulan sang pemilik resto baru saja tiba di restauran miliknya, dan melihat seorang teman yang sedang duduk di depannya ada seorang pegawainya yang nampak sangat kesal.
“Ada apa ini Vin?” tanya Rezki pada Kevin.
Kevin langsung saja menolehkan wajahnya dan menatap teman masa kuliahnya, ia tak acuh. Dan kembali melihat Khaira yang kali ini sibuk membawa pesanan untuk pelanggan.
Melihat Kevin tidak merespon membuat Rezki duduk tepat dihadapan Kevin, “Jangan bilang lo ke sini cuma sekedar cari simpati para pegawai gue yang kebanyakan perempuan?!”
“Kagak!” jawab Kevin cepat menyanggah tuduhan Rezki.
“Terus apa yang lo lakuin, sampai-sampai wajah pegawai gue yang cantik ini nampak marah,” Rezki menunjuk Vita menggunakan dagunya.
Sepintas Kevin melirik Vita dengan tatapan dingin, dan menatap Rezki, “Gue emang mau makan, tapi kalau pegawai lo yang itu, yang melayani gue!” ujar Kevin menunjuk Khaira yang sedang membawa nampan.
“Apa hubungan sama diskotik? Gue emang mau pesan makanan. Tapi kalau pegawai lo yang pakai hijab hijau army itu yang melayani gue, Ki. Apa salahnya menyenangkan pelanggan sekaligus menyenangkan teman?”jawab Kevin tak mau kalah, "ingat pelanggan adalah raja!" jelas Kevin lagi.
"Kalau rajanya itu lo, gue mah ogah!" Rezki menatap Kevin malas.
Kevin hanya menggidik pundaknya tak acuh kepada ucapan Rezki.
“Ada-ada aja nih orang! Lagian lo juga bukan pelanggan gue yang makan di sini,” kerap kali bertemu dengan Kevin, Rezki selalu saja merasa kesal atas tingkah polah Kevin yang kadang di luar dari logika.
“Jangan lupa Ki, gue pelanggan yang selalu pesan via delivery. Cepetan dah lo panggilin pegawai lo yang gue minta!” ujar Kevin.
Terpaksalah Rezki menuruti apa mau Kevin, “Panggilin Khaira Vit.” titahnya pada Vita, salah satu pegawai cantiknya.
Vita pun langsung saja menuruti titah Bosnya. Dan memanggil Khaira.
~
Dari kejauhan persisnya di bagian meja kasir. Mita sedang mengamati Kevin yang sedang berbincang-bincang dengan Rezki, “Kayaknya Rezki memang kenal baik sama Kevin, dan kelihatannya akrab. Apa memang Kevin ini temannya Rezki yah? Tapi kok gue nggak pernah lihat Kevin ke sini, tapi wajah Kevin memang nggak asing?”gumamnya, lalu melanjutkan pekerjaannya.
~
__ADS_1
Kevin melihat Khaira nampak enggan untuk menemuinya, tapi ia melihat pegawai Rezki yang sebelumnya diperintahkan untuk memanggil Khaira nampak memaksa, agar gadis hijab army itu mau menurutinya. Kevin menghitung satu sampai tiga dalam hatinya. Dan pada saat hitungan yang ke tiga, Khaira berjalan menuju ke mejanya.
Kevin mengulum senyumnya, ia melihat Khaira kini sudah berdiri di samping mejanya, namun wajah dari gadis itu jelas tidak bersahabat alias seperti awan mendung.
“Mau pesan apa? Cepat saya sibuk dan masih banyak yang harus dikerjakan!” ketus Khaira tanpa melihat Kevin dan menawarkan menu, lalu memegang buku catatan kecil guna mencatat pesanan pelanggan.
Rezki terkejut dengan nada bicara Khaira yang tidak sopan, tidak seperti biasanya. “Ra, kamu sakit?”
Kali ini Khaira melihat Bos-nya, “Enggak Bos, aku baik-baik aja.”
“Terus cara bicara mu kenapa ketus begitu?” tanya Rezki, melihat gelagat yang tak biasa dari Khaira. Meskipun Khaira adalah pegawai yang terbilang masih baru, namun Khaira selalu menyambut pelanggan dengan sangat ramah.
Kevin mengembangkan senyumnya, ia menatap Khaira yang seperti enggan menatapnya. Lalu mengedipkan matanya saat Khaira bersitatap, “Udah biarin aja Ki, dia mungkin lagi sariawan.”
Khaira dleming, ia enggan menjawab perkataan Kevin. Ia mempelopoti Kevin.
“Rezki, dah sana lo pergi. Tempat seorang Bos kan bukan di sini, tapi di ruangan ber'ace. Dan gue mau duduk berhadapan sama pegawai lo yang manis ini. Terus panggilin dah tuh pegawai lo yang lain,” tukas Kevin pada Rezki.
Khaira membulatkan matanya, dan langsung menatap Kevin yang menatapnya dengan seulas senyuman jahil, bukan hanya itu. Kevin pun mengedipkan mata, membuat Khaira ingin sekali mencolok mata Kevin yang kegenitan!
Rezki tentu saja merasa heran, tapi ia menyadari memanglah temannya ini sudah rada sinting. “Dasar sinting! Ya gue pergi ke ruangan gue + gue panggilin pegawai gue yang lain. Puas lo Vin!” Rezki pun beranjak dan pergi dari hadapan Kevin serta Khiara.
Khaira tercenung, melihat keakraban antara Kevin dan Bos-nya, mengapa Bosnya itu manut saja dengan omongan Kevin yang memang sinting!
“Duduklah.” titah Kevin.
Khaira bergeming ditempatnya berdiri.
Melihat Khaira yang hanya diam saja, membuat Kevin menarik tangan Khaira untuk duduk. Tentu saja sambutan tangannya tidak disambut baik oleh Khaira, gadis itu langsung menepis tangan Kevin.
Khaira masih berdiri.
“Sebenarnya apa yang membawa Mas Kevin ke sini? Aku rasa bukan hanya sekedar ingin makan?” kata Khaira bertanya tanpa melihat lawan bicaranya.
Kevin menghentikan jarinya, “Cerdas!” Kevin lantas berdiri dan mendekati Khaira, ia berbisik di telinga Khaira yang tertutupi hijab,“Sampai kapanpun lo nggak bakal bisa lepas dari gue! Selamanya dan semalam-lamanya lo bakal terkurung bareng gue, dan gue bakal bikin lo klepek-klepek sampai meleleh meluber-luber sayang sama gue,”
Setelah mengatakan itu, tanpa menunggu pendapat Khaira juga tanpa menunggu pegawai lain yang akan mencatat pesanannya, Kevin pergi dari hadapan Khaira.
Khaira tercengang mendengar bisikan manja dari Kevin, ia melihat Kevin yang sudah pergi meninggalkan restauran. “Apa-apaan, dia ke sini udah membuat onar. Tapi hanya itu yang ingin dia katakan?”
Yanti pun menghampiri Khaira, “Mana pelanggannya?”
“Udah minggat!” ucap Khaira sambil berlalu dari hadapan Yanti yang baru saja tiba.
__ADS_1
Bersambung