Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
welcome america


__ADS_3

" Jadi menyuruh anak- anak pindah?"


" Tentu saja. Aku tak kan membiarkan laki- laki itu mendekati jack."


"Hah...., beginikah nasibku?"


" Bagaimana?"


"Anak- anakku akan tinggal diluar negeri semua, hanya berharap badan ini tetap sehat agar bisa mengunjungi mereka."


" Hahaha..., bagus dong. Bisa sekalian holiday."


" Holiday? Menurutmu begitu, tapi tidak bagi ku. Tempat tinggal mereka berbeda, sku harus membagi waktu untuk berkunjung ke tempat mereka."


"Semua kan demi kebaikan mereka, ne. Aku sengaja mengirim jack ke singapore untuk menghindari kejaran dari laki- laki itu. Semakin cepat pergi akan lebih baik, kau sendiri mendengar keegoisan laki- laki itu."


Ucap ratna.


"Jika jack masih berada disini, bukan tidak mungkin akan mengancam nyawanya."


"Yah, kau benar."


"Sabar ya, aku yakin semua akan cepat berlalu."


Ine hanya mengangguk pelan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Mereka duduk di ruang tengah setelah selesai menyiapkan makan siang.


America.


Bryan memang tidak memberitahu kedua orangtua nya kalau mereka akan pindah ke america, bukan tidak ada alasan melainkan karena kesehatan ine yang kurang membaik pasca operasi. Mereka takut ine tidak akan bisa mengontrol emosi jiwanya hingga membuat kesehatan nya memburuk.


Mereka memutuskan memberitahu setelah tiba di tempat tujuan. Meskipun perjalanan memakan waktu yang lama, ane tetap berpura- pura seperti sedia kala.


Ceklek...


Pintu apartemen yang telah terbuka, hadiah pemberian wijaya yang sengaja diminta bryan dan ane sebagai hadiah pernikahan mereka dan juga atas kehamilan cucu mereka.


"Hah..., lega sekali."


"Kau menyukainya?"


"Hem...., sangat."


"Pemandangan yang bagus, bersih, ada dipusat kota. Papa pasti bersusah payah mencari tempat ini."


"Tidak."


"Tidak? Maksudmu?"


"Suami mu yang cari, tapi papa yang bayar."


"Hah..., pantas saja."


"Kau menyukainya?"


"He em. Terima kasih sayang, aku tak harus berpura- pura lagi. Capek duduk di kursi roda tanpa bergerak."


"Demi keselamatan mu dan bayi kita."


"Bagaimana perempuan itu? Apa dia selamat?"


"Entahlah? Anak buah ku masih menyelidiki nya, aku tidak yakin perempuan itu mati begitu saja."


"Hem..., kau menaruh dendam padanya?"


"Tentu saja, perempuan licik itu hampir saja membahayakan nyawamu. Aku tak kan melepaskan nya begitu saja."


Ane baru menikah beberapa bulan sudah hafal dengan perangai suaminya, tak ingin menyia- nyiakan waktu ane duduk dipangkuan bryan.


"Apa dia baik- baik saja?"


"Hem..., sangat baik. Beberapa kali bergerak kecil."


Ucap ane yang bergerak menyusuri leher jenjang sang suami. Bukan tidak mungkin ane sangat menginginkan sentuhan dari sang suami, setelah beberapa waktu harus berpura- pura lemah tak berdaya untuk mengimbangi kelicikan musuh dalam selimut itu.


"Jangan! Aku takut tak bisa mengontrol diri."


Ane tersenyum devil semakin lincah menggoda sang suami meskipun ian sudah melarang nya. Namun tak kuasa menolak hasrat itu setelah sekian lama memendam nya.


Benar saja, bryan mengangkat ane ke kamar tidur mereka yang tak jauh dari sofa ruang tengah. Kamar utama yang tersusun sangat elok, berisi benda- benda kesukaan ane maupun bryan. Bryan memang sengaja menyuruh orang mendesign kamar tersebut, persis seperti kamar tidur mereka.


Bryan maupun ane sangat bersemangat memadu kasih, bahkan olahraga panas tersebut tak membuat mereka merasa lelah setelah menempuh perjalanan jauh.


Deru debu nafas yang terengah- engah terdengar satu sama lain, mereka merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur yang empuk tangan berpegangan satu sama lain juga saling tersenyum.


"I love you."

__ADS_1


"Me too."


"Sudah memberitahu papa dan mama kalau kita sudah sampai?"


"Hem, aku mengirim pesan singkat pada mereka kalau kita sudah sampai."


"Aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi mama ine."


"Hahaha..., pingsan. Anggap saja sebagai hukuman."


"Ih..., kejam sekali. Tak baik seperti itu pada orang tua sendiri."


"Biar dijadikan pelajaran sama mama, agar lain kali tak mudah percaya pada orang lain."


"Tapi..., sepenuhnya bukan salah mama kan?"


"Tetap saja mama salah. Seharusnya mama tak mempercayai semua ucapan gadis itu dan harusnya mama menyelidiki dulu benar tidak nya!!"


"Iya..., iya..., sudah jangan marah. Aku lapar."


"Aku akan membuat makanan untuk mu."


"Tidak."


"Tidak? Lalu?"


"Delivery aja. Aku ingin berendam bersama mu."


Bryan mengerutkan dahinya mendengar permintaan sang istri, namun bryan sedikit curiga dengan permintaan istrinya.


" Baiklah."


Rupanya kecurigaan bryan tak terbukti, ane memang menyukai acara berendam bersama suaminya.


" Apa menurutmu mereka akan berkunjung kemari?"


" Tentu saja."


Semula bryan mengira akan ada ronde selanjutnya, tapi ternyata ane hanya mengajak bryan berendam merindukan kebersamaan bersama nya.


"Mau kemana?"


"Mandi."


"Tapi .. ."


" Hah..., iya iya. Tapi..., boleh kan satu lagi?"


" No, im hungry and baby twins juga."


" Okay."


Tebakan bryan yang salah membuatnya harus menghela nafas panjang, bahkan bisa dibilang harus bersabar hati menghadapi sikap istrinya.


"Sayang, apa menurutmu mama akan memaafkan kita?"


"Tentu saja."


"Aku kasihan sama mama harus menderita dengan luka tembaknya, juga karena kepindahan kita."


"Jangan khawatir! Mama akan kuat demi anak- anaknya."


"Bagaimana nasib kak jack?"


"Papa bilang, kak jack mengalami kebutaan permanen. Harus ada donor kornea mata untuknya jika masih ingin melihat keindahan dunia."


"Sefatal itu? Apa tidak ada cara lain?"


"Perkembangan yang terakhir seperti itu."


"Kasihan kak stela."


"Sudahlah, kita akan berusaha mencari pendonor disini."


"Hem."


'Kangen disuapi mama."


Bryan mengerutkan dahinya ketika sang istri mulai merindukan orang- orang yang disayanginya.


"Aku akan menyuapimu."


Makanan yang dipesan memang sudah datang sebelum bryan ikut berendam, dan sengaja menunggu istrinya puas dengan kesenangan nya.


Ane menikmati setiap suap dari tangan suaminya yang lama tak pernah dirasakan nya semenjak harus berpura- pura lumpuh demi menjalankan misinya menjebak wanita licik itu yang entah dimana keberadaan nya.

__ADS_1


"Sayang, kau tak berniat mengajak ku jalan- jalan?"


"Tentu, tapi tidak sekarang. Aku tak ingin kau kecapekan, apalagi dua malaikat kecil disana."


"Baiklah, tapi kau janji?"


"Hahaha..., ayolah sayang. Kita tak kehabisan waktu, kenapa harus jalan sekarang? Waktu kita masih banyak dan tak secepat itu pula kita akan kembali ke tanah air."


Deg...


Ane menherutkan dahinya menatap sang suami yang sedang membereskan meja makan juga melihatnya hingga sampai ke dapur mencuci piring makan tersebut.


"Apa maksudmu?"


"Apa kita akan tinggal disini selama nya?"


Ane berjalan mengikuti sang suami ke dapur.


"Tidak juga."


"Lalu?"


"Sampai kedua bayi kita lahir dan juga sampai cukup umur dibawa pulang."


"Aa..., benarkah?"


"He em."


"Aaa...., ye ye ye ye. Tinggal di america, kau dengar baby kita akan tinggal disini dalam waktu yang lama."


"Terima kasih, sayang.''


"Hahaha...., kita akan tinggal di america baby."


Ane merasa kegirangan hingga melupakan kalau dirinya tengah berbadan tiga, menari kesana kemari.


"Ane...., cukup!!'"


Teriakan bryan membuatnya berhenti menari lalu tersenyum meringis duduk di sofa.


"Maaf, hihihi."


Ane memilih menyalakan televisi dan juga melihat televisi menghindari kemarahan bryan.


"Kau menyukai kejutan papa?"


Ucap bryan yang ikut duduk disofa menyelipkan tangan nya tepat dipinggang ane.


"Kejutan papa? Maksud mu?"


"He em, semua kejutan papa."


"Papa? Papa ku?"


Bryan mengangguk pelan tersenyum pada sang istri.


"Jadi..., papa tahu kalau aku hanya pura- pura?"


"Em."


"Hah..., pantesan papa tak pernah menjenguk ku sama sekali selama di rumah."


"Kenapa? Kau kecewa?"


"Tentu saja."


"Baiklah, nanti akan ku sampaikan kalau papa menelepon."


"Ih..., aku bisa telepon sendiri."


Ane meraih ponsel yang ada di atas meja yang mana itu adalah ponsel bryan.


"Hem."


Bryan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah gemas istrinya yang tak berhenti berulah.


Mencoba menelepon beberapa kali tapi tak ada jawaban, sedikitnya membuat ane mengerucutkan bibirnya menahan sedikit kesal.


"Kenapa?"


"Papa tak mengangkat telepon."


"Mungkin sedang sibuk, sudahlah. Nanti kita coba lagi "


Merasa sedikit lelah ane memituskan berbaring di pangkal paha bryan menonton televisi beberapa kali mengusap perut buncitnya. Hingga kedua mata indah itu terpejam terbang ke alam mimpi.

__ADS_1


Bersambung🙏🙃


__ADS_2