
"Papa? Tumben telepon silla."
Gumam silla dalam hati setelah bangun dari tidurnya, saat mengambil ponselnya yang ada di atas nakas.
"Sayang..., sudah bangun?"
"Hem..., papa menelepon kenapa kakak tak mengangkatnya?"
"Kakak sedang ada di dapur, tapi papa menelepon kakak."
"Tumben papa telepon, ada apa?"
"Makan dulu yuk!"
"Makan? Kakak masak?"
"Tidak."
"Lalu?"
" Delivery."
Rafa tersenyum menyentil hidup silla.
'Hem."
Silla mengerucutkan bibirnya ketika tahu sang duami delivery makanan, karena memang dirumah tak ada bahan makanan.
"Hihihi..., thanks my husband."
Silla terkekeh geli melihat perhatian sang suami yang memang sangat menyayanginya.
"Mimpi apa aku ini? Menikah muda, dapat suami yang ganteng, kaya, pekerja keras juga sayang padaku."
Gumam silla dalam hati.
Senyum silla mengundang kecurigaan rafa yang sejak tadi memperhatikan nya, juga mengaduk- aduk makanan yang ada di piring makan nya.
"Sayang..., kau sedang memikirkan sesuatu?"
"Eh..., hihihi..., sedikit."
"Apa?"
"Tidak apa- apa."
"Tidak mau memberitahu?"
"Tidak, bukan begitu."
"Ya sudah, cepat makan!"
Melihat perubahan sikap dingin rafa, silla merasa tidak enak hati juga merasa bersalah.
Sudah sepantasnya seorang suami istri saling terbuka dan saling berbagi pendapat, bahkan saling percaya satu sama lain.
"Sayang..., kakak marah ya?"
" Tidak."
"Kenapa wajahnya seperti itu?"
"Memang nya seperti apa?"
"Itu."
"Apa?"
"Ih..., kakak. Nggak gitu ah."
"Hem..., gimana sayang?"
"Kakak ini."
Yang semula kesal adalah rafa ternyata berbalik pada silla yang tampak kesal.
" Apa sayang? Makan! Aa... ."
Dengan terpaksa rafa merebut sendok dari tangan silla lalu menyuapi sang istri mengingat harus ke rumah sakit menjenguk mana maupun kakak iparnya.
Silla yang semula merajuk melihat keromantisan yang diberikan rafa seketika meleleh. Tak berapa lama makanan yang ada dimeja habis tak tersisa bahkan silla merasa sedikit kekenyangan setelah rafa memaksa menghabiskan semua makanan.
" Sayang, belum siap?"
" Memangnya mau kemana?"
" Lupa? Atau sudah malas?"
" Hihihi..., mager kak. Malas gerak."
"Baiklah, kakak akan menggendongmu."
Silla tersenyum merentangkan kedua tangan nya.
Namun silla tercengang saat rafa berjalan menuju arah pintu bukan ke kamar mereka.
" Mau kemana?"
__ADS_1
" Belanja."
" Besuk saja ya."
" Tidak, besuk tidak akan ada waktu karena kakak sibuk."
" Hem..., baiklah baiklah. Silla ganti baju dulu ya?"
"Hem, baiklah."
Silla melompat dari gendongan rafa sedikit berlari menuju kamarnya mengganti baju,dan juga mengambil tas tenteng miliknya.
"Sudah siap, lets go!"
Rafa sedikit tersenyum lalu mencium kening silla.
"Aku tidak tahu bagaimana reaksimu ketika melihat mama terbaring di tempat kesakitan?"
Gumam rafa dalam hati.
Tak berapa lama mereka sampai di lantai basement dimana rafa memarkir mobilnya.
Silla tak curiga sedikit pun ketika susminya mengajak keluar rumah dengan dalih belanja kebutuhan rumah, karena memang bahan makanan telah habis.
Karena kesibukan rafa juga karena harus bolak- balik ke rumah bryan mengantar istrinya, membuatnya tak ada waktu untuk sekedar mampir ke supermarket.
"Kak..., kita mau kemana? Kenapa jalan ke rumah sakit?"
"Iya, mau menengok seseorang."
"Tapi..., kita tak membawa buah tangan?"
"Tak masalah."
Memang benar, rafa mengajak ke rumah sakit tanpa memberitahu hal yang sebenarnya. Bukan tanpa alasan tetapi lebih menjaga kondisi silla yang pasti syok mendengar kabar buruk tentang orang tuanya.
Ceklek...
"Fa..., kau sudah datang nak? Silla mana?"
"Papa? Siapa yang sakit?"
Silla yang berada dibalik punggung rafa terkejut ketika mendengar suara papanya sendiri.
"Mamaa...., maa..., apa yang terjadi dengan mama pa?"
Silla berteriak histeris ketika melihat sang mama terbaring krmah dengan selang infus yang terpasang di tangan nya.
"Kak..., kenapa kakak tak mengatakan hal yang sebenarnya?"
"Sayang...., mama membutuhkan perhatian kita untuk secepatnya pulih dari keadaan nya."
Ucap mahendra.
"Tapi ..., pa."
"Papa mengerti kamu oadti syok melihat ini, tapi alangkah baiknya kalau kita memberi support pada mama."
Silla yang masih terlalu muda, perlahan sadar kalau semua yang dilakukan rafa demi dirinya juga.
"Jack."
Kata pertama yang keluar dari mulut ine adalah nama jack.
"Kak jack?"
Silla semakin terkejut dengan panggilan mamanya saat kesadaran menghampirinya.
"Apa terjadi sesuatu dengan kak jack?"
Tanya Silla yang tentu saja pada papanya karena mata silla tertuju pada mahendra.
"Kakak mu ada ruangan sebelah."
Ucap mahendra.
"Maksud papa?"
"Jack..., mana jack pa?"
Ine menoleh ke kanan kiri mencari putra sulungnya.
"Jack ada di ruang sebelah, ma. Ia sedikit terluka, mama jangan khawatir!"
Ucap mahendra.
Silla yang belum mengetahui secara detail tentang kejadian sebenarnya semakin bingung mengerutkan dahinya. Bibir silla yang gatal ingin mengeluarkan suara, mengetahui apa yang sebenarnya terjadi namun saat akan membuka mulut rafa terlebih dahulu menutup mulutnya. Membisikkan kata untuk tetap diam.
Silla mendongakkan kepalanya menatap sang suami lalu menganggukkan kepalanya.
"Ma..., mama ingin sesuatu? Ingin makan? Minum?"
Ucap silla yang kemudian melepas tangan rafa lalu menghsmpiri sang mama.
"Tidak, sayang. Mama hanya lelah."
"Baiklah, mama istirahat ya! Silla akan temani mama ."
__ADS_1
"Bagaimana kondisi ane?"
"Kak ane baik- baik saja, bahksn tangan nya mulai merespon saat silla berbicara panjang lebar."
"Benarkah?"
"He em. Tapi silla tak bisa menjaganya."
"Oh..., kenapa?"
" Silla harus menjaga mama juga."
"Rupanya putri mama sudah dewasa."
"Tentu saja."
Silla tersenyum memeluk sang nama secara perlahan. Mengetahui kalau sang mama mempunysi luka di bilah dadanya.
Perasaan silla gemuruh sesak di dadanya seakan ingin meledak ketika mengetahui orang- orang yang dicintainya terluka saat yang bersamaan.
Entah bagaimana silla harus menyembunyikan rasa sakit nya bahkan kesedihan nya saat ini. Beruntung silla sudah menikah, mendapat perhatian dari orang yang sangat menyayanginya, menjadi pelipur lara saat seperti ini.
Setelah mama ine tertidur pulas, silla meninggalkan sang mama menjenguk kakak sulungnya yang kebetulan dirawat diruang sebelah.
"Kak... ."
"Silla."
"Bagaimana keadaan kak jack?"
"Kakakmu telah sadar dari pasca operasinya namun sepertinya pengaruh obat bius masih ada, jadi tidur lagi."
"Kenapa dengan mata kak jack? Kenapa di perban?"
"Ada luka di sisi sudut mata kakak mu jadi harus di operasi."
"Oh..., begitu. Apa kak stela sudah makan?"
Stela menggeleng pelan.
"Ikut silla ke kantin!'
" Tidak, silla. Kakak tak ingin meninggalkan kakakmu."
" Tapi kakak juga harus makan, bagaimana kakak akan menjaga kak jack kalau kakak sendiri tak menjaga kesehatan?"
"Tapi..., kakak mu?"
" Kak rafa akan menjaganya."
"Baiklah."
"Rafa..., titip jack sebentar!"
" Iya, kak."
Silla berhasil membujuk stela untuk ikut bersamanya ke kantin, sejedar mengisi perutnya.
"Sil..., bagaimana keadaan mama?"
"Mama baik- baik saja, kak. Makan yang banyak ya! Biar kakak kuat menjaga kak jack, kasihan juga baby safa kalau kakak sakit."
Ucap silla.
"Dimana baby safa?"
"Pulang bersama ibu, ayah yang mengantarnya. Ayah tak ingin baby safa terlalu lama berada di rumah sakit, tak baik untuknya."
" Iya, benar kata ayah."
"Sill..., kau masih menganggap kakak kakak ipar mu kalsu jack ternyata bukan kakak kandung mu?"
"Ih..., bicara apa kak stela ini? Mau kakak angkat, mau kakak kandung , kak jack tetap kakak sulung silla dan tetap putra sulung mama."
Ucap silla.
"Kalau mama saja tak ingin mengganti kedudukan anak pertamanya, kenapa silla harus berbuat begitu?"
Ucapan silla membuat nanar dimata stela yang langsung berkaca- kaca. Stela sama sekali tak menyangka dengan jawaban silla.
"Jadi..., kau sudah mengetahui kalau jack bukan kakak kandung mu?"
"Sudah. Memangnya kenapa? Atau jangan- jangan kak stela yang tidak terima ya?"
"Ih..., pertanyaan mu sama dengan mama. Sebelas dua belas."
"Tentu saja, silla putrinya mama. Hihihi."
Silla terkekeh geli melihat ekspresi kakak iparnya.
Tak berapa lama setelah stela kenyang mengisi perutnya, stela mengajak silla kembali ke ruang rawat jack tak ingin berlama- lama meninggalkan nya. Namun stela masih menyempatkan diri menjenguk sang mama mertua, ingin memastikan keadaan nya.
Meskipun sang mama dalam keadaan tidur, setidaknya stela sudah menadtikan keadaan nya.
Silla dan rafa menyuruh nahendra pulang beristirahat dirumah, mengingat kondisi sang papa yang sedikit syok dengan kejafian yang menimpanya hari ini. Meskipun awaknya menolak, tetapi silla berhasil meyakinkan sang papa. Hingga akhirmya mahendra menerima usulan putri kecil nya untuk istirahat dirumah.
Bersambung🙏😊
__ADS_1