Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Maunya kamu


__ADS_3

Esok pagi.


05:00


Waktu sholat subuh terlewati, dengan adanya Khaira yang telah usai melaksanakan sholat subuh. Tentu saja Kevin yang menjadi imam. Setelah drama yang panjang untuk membujuk Kevin agar menjadi imam.


Kini Khaira tidak langsung beranjak dari atas sajadah, ia mengambil Al-Qur'an yang masih ia simpan di dalam tas ransel.


Sedangkan Kevin setelah sholat yang dipinta oleh Khaira, ia kembali berbaring di atas kasur, Kevin berpikir ada manfaat dan positif yang luar biasa setelah adanya Khaira di hidupnya.


Kevin yang semula ogah-ogahan melaksanakan sholat, sekarang meskipun masih tahap ringan dan belum adanya keniatan dari hatinya, akibat paksaan lebih tepatnya rengekkan dari Khaira yang seperti anak kecil, ia akhirnya luluh dan melaksanakan sholat dan menjadi imam.


Padahal istrinya itu tahu betul bacaan yang Kevin baca masih amburgadul diakibatkan ia yang memang jarang sekali sholat, bahkan sangat kaku dilidahnya untuk mengucapkan kalimat-kalimat iftitah.


Tapi tidak sedikitpun istrinya itu menghujatnya, justru setelah selesai sholat, kadang Khaira membenarkan bacaannya tanpa menyinggung perasaan Kevin.


Maka Kevin berkeniatan akan lebih rajin dan lebih niat dalam melaksanakan sholat dari hati karena ingin dekat kepada Sang Maha Pencipta. Bukan karena orang lain, juga bukan karena paksaan ataupun rengekkan lagi dari istrinya.


Yang dilakukan Kevin saat ini hanyalah mengamati wajah Khaira yang menyiratkan makna ketenangan. Namun, tiba-tiba saja ada hal yang membuatnya baru menyadari bahwa Khaira masih menyimpan semua pakaian termasuk Al-Qur'an di dalam tas ransel.


Kevin beranjak dari pembaringan, dan melihat ransel Khaira yang masih di sudut sofa. Sebulan! Sebulan Khaira tinggal di rumahnya, mengapa ia baru menyadari hal sesepele ini? "OMG, suami macam apa gue?" gumamnya lirih.


Setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit, akhirnya Khaira selesai melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an. Kevin mengalihkan posisi duduknya dari tepian ranjang kini beralih turun dan duduk di lantai menghadap sisi kanan Khaira.


"Ra." ucap Kevin manja memanggil istrinya.


Khaira tersenyum geli mendengar suara Kevin yang seolah-olah dibuat manja, ia lalu menoleh ke sisi kanan, "Hehe... ada apa dengan suaramu itu?"


"Ehem.." Kevin berdehem guna mengembalikan suaranya agar seperti sedia kala. Karena dirasa bersuara pelan malah ditertawakan Khaira, "Aku cuma mau bilang, apa pakaian mu masih berada di tas?"


Khaira melihat Kevin lalu melihat tas ranselnya tiga detik kemudian kembali melihat Kevin, ia mengangguk singkat, "Iya, memang kenapa?"


Kevin menghela nafas panjang, masa istrinya itu bertanya kenapa? Kevin semakin gemas saja dibuatnya, ingin sekali ia memakan Khaira seperti memakan yupi. Digetoklah kening Khaira dengan tangannya.


"Aish.. Mas Kevin, sakit tau!" ucap Khaira mengusap keningnya yang di getok Kevin.


"Aish.. Mas Kevin sakit tau!" ucap Kevin meniru gaya suara Khaira, "Ampun dah ah, kamu kan bukan seorang musafir yang menginap lalu pergi. Kamu udah sebulan bahkan lebih dari satu bulan, tapi kamu masih bertahan menaruh semua pakaianmu umpel-umpelan di dalam tas? Berasa gemas aku, kalau andai kata kamu ini permen karet udah ku makan..." umpat Kevin seperti memarahi Khaira, dilihatnya Khaira hanya memasang wajah datar.

__ADS_1


"Penjabaran mu seolah aku ini memang pantas laksana permen karet, habis manis spah di buang!" jawab Khaira datar.


Glek... Kevin menelaah ucapannya yang di mata Khaira telah keliru. "Nah kan salah ngomong! Kevin-Kevin." selorohnya dalam hati.


"Ya bukan begitu, maksud ku itu. Kamu taruh di tas memangnya kamu ini seorang musafir, Joko Kendil?" kata Kevin, meralat ucapannya yang mungkin telah salah dalam penyampaiannya.


Khaira mengangguk membenarkan adanya ucapan Kevin yang mengatakan musafir.


"Ya memang, memang aku ini musafir. Kamu harus tau Mas, aku terpaksa pergi dari kampung guna menghindari Paman ku yang sinting, dan aku malah terjebak sama kamu si tuan arogan, dan seketika aku menjadi istri? Hahaha.... Istri apaan? Bahkan selama ini aku nggak membayangkan kehidupan sebagai seorang istri?" kata Khaira santai, ia merasa sudah saatnya Kevin tahu tentang kepergian dari desa ke kota, lalu beranjak dari duduknya di atas sajadah dan melepas bawahan mukenah.


Dilihatnya Khaira yang tertawa kecil, seperti menyembunyikan beban dibalik tawa, Kevin melihat tawa Khaira pura-pura, "Maka dari itu kita dipertemukan, supaya kamu nggak perlu membayangkan untuk menjadi istri, cukup kamu nikmati saja sekarang sebagai istriku,"


Khaira berbalik arah menghadap Kevin, "Hahaha... kita suami-istri. Ya ya ya... kita memang suami istri yang terjadi karena kesalahpahaman. Mungkinkah kita bisa saling mencintai setelah ini?"


Kevin beranjak dari duduknya, ia menghampiri Khaira, sekali hentakan tangan. Kini Khaira dalam pelukannya, ia berkata pelan tepat di telinga Khaira yang masih tertutupi mukena, "Lalu bagaimanakah caranya supaya pernikahan dan status kita yang terjalin akibat kesalahpahaman ini bisa menjadi suatu kebenaran dan bisa menghasilkan cinta? Agaknya kita memang memerlukan anak untuk pembuktian, gimana menurutmu, hm?"


Mengerjap-ngerjapkan matanya menatap Kevin sangat dekat, Khaira memundurkan tubuhnya. Enggan bersitatap dengan sorot mata Kevin yang seperti busur panah, dan lebih memilih menunduk.


"Anak? Lagi-lagi soal anak yang jadi alasanmu?" Khaira menadahkan wajahnya bersitatap dengan sorot mata Kevin. "jika kamu menggunakan alasan itu hanya untuk pemuas nafsuu mu, maka maafkan aku! Karena sampai kapanpun aku nggak akan bisa! Yakinkan dulu, di dalam hatimu, ada aku dan selamanya hanya aku seorang." Khaira menunjuk dada Kevin dengan jari telunjuknya.


"Kamu membuatku sulit bernafas Mas Kevin. Sekarang lepaskan aku." Khaira mendorong dada Kevin.


Seketika itu juga Kevin melepaskan pelukannya. Dilihatnya Khaira yang terjatuh di lantai.


"Mas Kevin!" seru Khaira kesal, tiba-tiba saja Kevin melepaskan pelukannya dan membuatnya terjatuh dilantai.


Kevin tertawa kecil, "Hemmm..." lantas sedikit membungkuk mendekati Khaira, "Lihatkan, kamu terjatuh kalau terlepas dari pelukanku, begitulah seterusnya. Maka dari itu, mendekaplah, maka selamanya kamu akan aman." ucapnya pelan, ia tersenyum tipis lalu kembali berdiri tegak dan tidak berniat membantu Khaira untuk berdiri.


Khaira memasang wajah memelas menatap Kevin, ia lantas mengulurkan tangannya berharap agar Kevin mau membantunya berdiri.


Kevin menghela nafas panjang melihat wajah memelas Khaira yang seperti anak kucing, ia lantas mengulurkan tangannya.


Dilihat tangan Kevin yang terulur dengan telapak tangan yang terbuka, Khaira menarik tangannya sendiri tanpa bantuan dari Kevin, ia lantas berdiri.


Kevin membulatkan matanya sempurna melihat Khaira yang tidak menggubris tangannya yang terulur. Sepertinya Kevin baru menyadari siasat Khaira, bahwa ia dinyatakan kena Prank!


"Lihatlah Mas Kevin, aku bisa berdiri sendiri tanpa bantuan dari mu! Maka dari itu, hilangkan rasa percaya dirimu yang setinggi gunung Merapi!" ucap Khaira, ia lantas menanggalkan mukena atasannya dan melenggang pergi dari hadapan Kevin sembari menggidik pundaknya tak acuh.

__ADS_1


Gemas, itulah yang ada di hati Kevin melihat tingkah bertingkah Khaira. Serasa dalam hatinya ada yang menggelitiki geli, ingin sekali membalas Khaira.


~~


Setelah mencuci pakaian, meskipun dengan susah payah hanya menggunakan tangan satu, bersih tidak bersih urusan belakangan. Yang terpenting cuciaj beres.


Akan tetapi pada saat akan menjemur pakaian di taman belakang yang luasnya hanya 3x3 meter. Suara Kevin mengacaukan lamunannya.


"Aku udah bilang jangan di cuci, nanti kan aku bisa bawa ke binatu," kata Kevin berdiri dengan bersandarkan lengannya di kusen pintu dapur menuju ke taman.


Sekilas saja, Khaira melihat Kevin tanpa menjawab.


Melihat Khaira diam saja membuat Kevin gemas, ia menghampiri Khaira dan merebut pakaian basah yang sedang di pegang oleh istrinya, "Kali ini dengarkanlah ucapan suamimu ini!"


Dilihatnya mata Kevin dan beralih melihat tangan Kevin yang merebut pakaian basah dari tangannya. Khaira menghela nafas.


"Memangnya aku belum jadi istri yang baik yah?" Khaira mengalihkan posisi ember yang berisikan cucian kepada Kevin, "baiklah suamiku, kali ini aku menuruti perkataan mu, jadi tolong sekalian bantuin aku jemur cucian, Oke?" ucapnya sembari melingkarkan ibu jari dan jari telunjuknya. Khaira berlalu dari hadapan Kevin yang masih termangu.


"Lha gue kena batunya." Kevin melihat kepergian Khaira, ditatapnya tangan yang sedang memegang cucian dan beralih menatap tumpukan cucian di ember, ia menghela nafas panjang. Pasrah. Akhirnya ialah yang menjemur pakaian.


Dapur, seperti wanita pada umunya. Dapur adalah tujuan Khaira berikutnya, ia menyiapkan sarapan seperti biasanya.


Cukup sederhana hanya nasi sisa kemarin, wortel, col sebagai campuran nasi goreng dan dua butir telur. Menu nasi goreng adalah tujuannya untuk menu sarapan pagi ini.


Setelah air mendidih, Khaira menyiapkan teh, namun sebelum memasukkan kantung teh ke dalam teko bening Kevin menghentikannya, membuat Khaira terkesiap.


"Aku nggak mau teh," seru Kevin melihat Khaira yang akan menuangkan air panas kedalam teko.


Khaira menggidik pundaknya, "Terus maunya apa?"


"Aku maunya kamu." Kevin mendekati istrinya.




Bersambung

__ADS_1


__ADS_2