
Khaira terkejut melihat Kevin yang begitu cepatnya menyelesaikan tugas yang ia berikan, "Cepet amat jemur pakaiannya?"
Berjalan mendekati Khaira, Kevin menaruh ember nya di lantai, "Kalau nggak percaya, lihat aja sendiri,"
Khaira merasa curiga dengan hasil yang dikerjakan Kevin, biasanya seorang pria enggan melakukan pekerjaan rumah dengan benar, meskipun itu menjemur pakaiannya sendiri.
Merasa kurang puas hati dengan jawaban Kevin, Khaira pun melongok kebelakang, dan manggut-manggut karena hasil dari jemuran Kevin lumayan juga.
"Gimana?" tanya Kevin, ia duduk di kursi meja makan yang berukuran cukup mini.
"Lumayan, daripada lumanyun," jawab Khaira, ia lantas berjalan menuju meja dan melanjutkan mengiris bawang merah, "oh ya tadi kamu bilang apa? Nggak mau teh, terus?"
"Maunya kamu?" jawab Kevin spontan. Dilihatnya Khaira yang mendengus. "Iya, iya. Nggak usah manyun begitu. Aku kan cuma becanda, nggak peka amat jadi istri."
"Jadi maunya apa suamiku? Teh apa yang lainnya?" Khaira menjawab sembari memaksakan diri untuk tersenyum.
"Kopi." sahut Kevin, lantas menarik kursi.
"Oke." jawab Khaira, ia lantas berdiri lalu berjalan menuju lemari dapur dan mengambil bungkusan kopi instan di dalam lemari dapur.
Semua kegiatan yang sedang dilakukan Khaira tak luput dari pengawasan Kevin, sebagai seorang lelaki ia takjub. Meskipun tangan Khaira sedang terluka tapi dijadikan oleh istrinya alasan untuk tidak bergerak.
Khaira menuangkan bubuk kopi instan kedalam gelas.
"Air panasnya, biar aku aja yang tuang." kata Kevin menghampiri Khaira yang sedang berdiri di depan kompor dan mengambil gelas berisikan bubuk kopi, lalu menuangkan air panas kedalam gelas.
Khaira menggidik pundaknya, lalu kembali ke meja makan dan melanjutkan mengupas bawang merah bawang putih.
Kevin kembali duduk di kursi meja makan, ia melihat sayuran wortel dan col yang berada di depannya, "Bagaimana caranya mengupas wortel?"
Khaira menghentikan aktivitasnya mengupas bawang, dan menatap Kevin tidak seperti biasanya akan bertanya ini dan itu menyangkut urusan pekerjaan rumah, terlebih lagi dapur. Sedangkan sebulan lebih ia tinggal di rumah ini, Kevin sering bersikap acuh tak acuh dengan semua hal yang ia kerjakan.
"Ada apakah gerangan yang merasuki tuan arogan?" seloroh Khaira dalam hati menatap Kevin, antara percaya tidak percaya.
Tanpa menunggu jawaban Khaira, Kevin berinisiatif mengambil pisau dan memegang wortel, "Apa begini cara mengupasnya?" tanyanya sembari menunjukkan hasl kupasan wortelnya kepada Khaira yang masih terbengong menatapnya.
Khaira mengerjapkan matanya menatap Kevin, "Hemm..." dilihatnya wortel yang ditunjukkan Kevin, "ini terlalu tebal, nanti kalau tebal-tebal begini, sisa wortel nggak ada," ucapnya menunjuk kulit wortel yang dikupas Kevin cukup tebal.
Kevin manggut-manggut paham, "Begitu yah, hehe... aku baru pertama kali ini soalnya,"
Dilihatnya Kevin yang amat serius mengupas wortel, Khaira memahami tidak mudah hidup sendiri. Itukah sebabnya Kevin mempertahankannya untuk tetap tinggal? Ada rasa iba melihat Kevin seperti ini.
Khaira kembali mengupas bawang merah, "Dimana Bang Andi?"
Mendengar pertanyaan Khaira, Kevin menghentikan aktivitas tangannya mengupas wortel, ditatapnya Khaira dari samping, "tinggal sama bininya,"
__ADS_1
Khaira melihat Kevin sepintas, dan fokus mengupas bawang, "Bini? Berarti Bang Andi sudah menikah?"
"Iya, tiga atau empat atau dua tahun yang lalu. Aku lupa, soalnya memang sengaja aku nggak ingat-ingat, hehe" jawab Kevin diakhiri dengan kekehan garing, kembali mengupas wortel.
Khaira manggut-manggut, "Jadi selama Bang Andi tinggal sama istrinya, Mas Kevin tinggal sendirian? Berapa sering Bang Andi ke sini? Atau seberapa seringkah kalian bertemu?"
"Nggak tentu, kadang bisa sampai empat bulan atau bisa jadi lima bula. Kami sama-sama sibuk, jadi memang sangat jarang bertemu."
"Lama juga yah? Kan sama-sama tinggal di kota? Seharusnya nggak selama itu untuk saling bertemu, kan Mas?"
"Bang Andi tinggal di Depok, jadi jaraknya ke sini lumayan jauh. Selama itu pula aku merasa kesepian, dan aku juga jarang pulang ke rumah, makanya warga di komplek ini terkejut ketika pertama kali melihatmu," Kevin terkejut melihat Khaira yang seperti menahan tangis.
Khaira mengusap air matanya yang menetes di pipi, menggunakan punggung tangannya.
Kevin memegang tangan Khaira dan benar saja melihat kelupuk mata Khaira yang memerah dan berair, "kamu terharu, mendengar ceritaku, tenang aku nggak papa, aku udah terbiasa hidup dalam kehampaan,"
"Siapa yang terharu? Mataku perih terkena bawang ini!" kata Khaira menunjukkan bawang merah yang sedang ia iris-iris.
"Aku kira kamu terharu," Kevin kecewa, lantas kembali mengupas wortel. Dilihatnya Khaira lagi untuk akan mengusap matanya dengan tangan yang habis memegang bawang merah, "Jangan pakai tangan nanti matamu malah jadi iritasi,"
Khaira beranjak dari duduknya lantas mencuci matanya dengan air kran mengalir, "Hahh... rasanya lega."
Khaira kembali menyelesaikan tugasnya memasak menu nasi goreng, dengan telur mata sapi sebagai toping.
Tiada percakapan saat makan, karena Khaira selalu melarang adanya percakapan disaat mulut sedang mengunyah.
Khaira heran mengapa dalam dua hari ini Kevin lebih lama standby di rumah. Kemarin dan hari ini, rasa-rasanya memang janggal. Akan tetapi, Khaira kemudian berpikir, mungkin saja selama ia bekerja seharian. Yang dilakukan Kevin hanyalah tidur siang dan main laptop.
Dilihatnya Kevin sedang duduk di sofa memanjang, Khaira merasa penasaran, "Mas Kevin nggak kemana-mana?"
"Nggak, kenapa?" jawab Kevin mengalihkan atensinya dari laptop dan beralih menatap Khaira yang duduk di sofa tunggal sedangkan tangannya memegang buku, "Memangnya kamu mau kemana? Mau jalan-jalan ke mol? Ayuk ku antar." tanya Kevin, merasa Khaira sedang bosan.
"Ih pengertian banget, sih. Aku kan jadi kesemsem Mas."
Khaira menggeleng.
"Hari ini bukannya kamu cek up lukamu?" Kevin teringat bahwa hari ini merupakan cek up jahitan di luka Khaira.
Khaira mengangguk singkat, melihat Kevin entah mengapa ia mengingat kembali pada Clara dan seorang wanita yang Kevin jumpai di apartemen mewah.
"Mas Kevin, tahu nggak? Hati wanita itu, ibaratkan bunga dandelion yang mudah rapuh," ucap Khaira dengan nada menekan. Ia masih mengingat dengan jelas foto Kevin yang terlihat mesra didalam amplop yang diberikan Clara.
Kevin terlihat bingung, akan ucapan dan apa yang dimaksud Khaira, tiba-tiba saja mengatakan hal semacam itu, "Apa yang sebenarnya ingin kamu tegaskan?"
Khaira menutup buku novel bersampul biru, lalu menatap Kevin, "Mungkin Clara adalah segelintir dari wanita yang kamu tinggalkan atau kamu campakkan-" ada jeda dalam ucapannya, Khaira menunduk dan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, ia kembali menatap Kevin, "Jujur aku pernah melihat Mas Kevin masuk ke dalam apartemen mewah,"
__ADS_1
Kevin mengerutkan keningnya mendengar pengakuan istrinya. "Kamu membuntuti ku?"
Khaira refleks menggelengkan kepala.
"Enggak! Aku nggak sengaja melihat mas Kevin waktu itu di parkiran mol pas aku diajak Mita, dan aku melihat Mas Kevin menuju ke apartemen mewah, ya bukan bermaksud membuntuti tapi aku hanya penasaran?" tukas Khaira menjelaskan.
Kevin menghela nafas, "Mungkinkah kebencian mu dan menganggap aku pria mesum karena salah paham dengan apa yang kamu lihat?" dilihatnya Khaira hanya terdiam, "Aku sudah tegaskan, bahwa aku udah benar-benar berpisah dari mantanku. Bahkan aku sudah menghapus nomor kontaknya, karena aku merasa ingin membuka hatiku untukmu. Tapi kamu selalu melihat dari sisi negatif ku saja."
Khaira menunduk sambil mengetuk-ngetuk kedua jari telunjuknya. "Ya maaf, kan Mas Keim juga nggak mau menjelaskan lebih detail. Tentang siapa Clara juga Mas Kevin, hanya menjawab kalau aku nggak perlu mikir yang macem-macem, kan sebagai wanita aku juga butuh penjelasan."
Kevin lantas berdiri meninggalkan ruang tamu.
Khaira mengerjap-ngerjapkan matanya menatap kepergian Kevin dengan tatapan heran, "Ada apa tuh orang?"
Tak lama Kevin kembali lagi ke ruang tengah menghampiri Khaira, "Pakai ini,"
Dilihatnya hijab instan yang dipegang oleh Kevin, Khaira mengernyitkan dahinya heran, "Ada apa ini?"
Tak sabaran Kevin memakaikan hijab instan ke wajah Khaira, tentu saja Khaira tidak segampang itu menerima perbuatannya.
"Mas Kevin, apa-apaan sih ini?" hardik Khaira geram akan aksi arogan Kevik yang sedang memakaikannya hijab instan.
Tanpa menjawab Kevin menarik tangan Khaira hingga buku yang masih dipegang Khaira terjatuh dilantai. Kevin tidak perduli, apapun yang terjatuh di lantai. Ia menoleh sekilas buku yang terjatuh, dan kembali menarik tangan Khaira.
Tentu saja Khaira terkesiap atas sikap Kevin yang arogan, "Mas Kevin, kenapa? Ada apa ini?"
Kevin terus menarik Khaira tanpa sedikitpun bersuara, ia berjalan menuju luar rumah. Tak lupa ia mengunci pintu dan berjalan menuju motornya yang terparkir di garasi.
Khaira takut, melihat rahang Kevin yang menegas, ia juga merasakan genggaman tangan Kevin yang menaut di pergelangan tangan kanannya sangatlah erat, ia mencoba melepaskan cekalan tangan Kevin, "Mau kemana Mas?"
"Mau meluruskan suatu kekeliruan!" sergah Kevin geram, karena Khaira selalu salah menilai, "Duduk!" titahnya menyuruh Khaira untuk duduk di jok motor.
"Jelasin dulu kita mau kemana tuan pemaksa?" sahut Khaira, menolaknya, ia tidak mau ikut sebelum Kevin menjelaskan, ia akan membawanya kemana.
Tanpa basa-basi, Kevin langsung mengangkat tubuh Khaira yang hanya setinggi lehernya.
Seketika Khaira membelalakkan matanya menyadari dirinya sudah terduduk di atas jok motor, dengan sekali hentakan tangan Kevin.
"Mas Kevin sadarkah kamu, perbuatan ini adalah pemaksaan?!" hardiknya mencoba untuk turun dari boncengan motor.
"Diam!" tegas Kevin, mengacungkan telunjuk jarinya kehadapan Khaira. Setelah Khaira anteng dan tidak lagi memberontak, Kevin melangkahkan kakinya di atas motor.
Khaira menghela nafas kasar, pasrah? Yah bagaimana tidak pasrah, sebutan Kevin bukan lagi si tuan arogan, tapi juga tuan pemaksa!
__ADS_1
Bersambung