Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Maafkan aku


__ADS_3

Di halaman rumah, Kevin memarkirkan motornya, menatap nanar rumah yang masih terlihat gelap dari arah dalam. Ia lantas berjalan kearah pintu, dan membukanya perlahan, keadaan rumah yang gelap, hanya bias cahaya dari lampu teras, seperti tidak ada kehidupan didalam rumahnya.


Kevin, meletakan helm di atas meja ruang tamu, dan berjalan kearah kamar Khaira, menyalakan lampu kamar, namun ia tidak menemukan gadis itu di sudut kamar manapun, hanya ada sajadah yang membentang di atas lantai, samping tempat tidur.


Kevin keluar dari kamar Khaira, dan berjalan menuju dapur. Namun, ia terkejut, kala samar-samar melihat sesosok putih sedang duduk di kursi ruangan dapur yang gelap. Membuatnya terjungkal kebelakang.


Gedebugh


"Buset dah, kaget gue!" umpat Kevin terkejut.


Sesosok putih itu masih bergeming, Kevin lantas memberanikan diri bangkit dari jatuhnya, dan menahan pantat yang sakit, mencari keberadaan saklar lampu. Dan baru terlihat jelas dari lampu dapur, siapa sesosok putih yang tengah duduk di kursi meja makan.


"Khaira..!" pekiknya.


Khaira diam saja, padahal dalam hatinya dia tersenyum melihat kepanikan Kevin, sampai Pria itu terjatuh. Setelah sholat dan meluapkan segala rasa, mengadu kepada sang Pencipta, Sang Pemilik hidup dan matinya.


Khaira yang masih memakai mukenah, merasakan haus yang luar biasa, ia pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke dapur meminum seteguk air putih penghilang haus dahaganya. Khaira juga mendengar Kevin pulang, dan menuju kamarnya, namun ia lebih memilih diam saja.


Kevin lantas menghampiri Khaira. Namun, sebelum pantatnya ia jatuhkan di kursi kayu.


Khaira lebih dulu beranjak dari duduknya, dan hendak kembali ke kamar tanpa melihat Kevin yang ingin berbicara padanya.


"My Delf." Kevin memanggilnya dengan nada suara lembut.


Khaira terus melangkah tanpa menoleh, dan masuk kedalam kamar.


Disusul oleh Kevin, yang sangat tidak suka mendapat perilaku dingin Khaira. Kevin berhasil meraih tangan Khaira, dan segera memeluknya dari belakang.


"Dengerin dulu, jangan langsung percaya dengan apa yang kamu lihat, kadang apa yang kamu lihat tidak sesuai dengan kenyataan."


Kevin mencoba menjelaskan apa yang terjadi, saat di depan diskotek.


Namun Khaira masih tetap diam, tapi juga tidak memberontak, ia mengikuti langkah Kevin yang membawanya ke sofa, yang terdapat didalam kamar.


Masih enggan untuk membuka mukena putih tulangnya, Kevin membawa Khaira duduk berhadapan dengannya.


"My Delf." ucap Kevin lembut, ia masih melihat raut wajah Khaira yang manyun. "Khaira." panggilnya lagi. Namun Khaira masih enggan untuk menatapnya, dan lebih memilih menunduk lalu memainkan jari jemarinya.

__ADS_1


"Mari kita selesaikan permasalahan ini, jangan biarkan berlarut-larut." ungkap Kevin, dan mengangkat dagu Khaira yang masih menunduk dengan jarinya.


"Memang apa yang harus di selesaikan, apa pernikahan kita?" ucap Khaira, lirih namun masih bisa di dengar oleh Kevin.


Kevin menghela nafas panjang, "Sekarang, aku tanya? Apa kamu juga mau kita berpisah?"


Khaira terdiam, entah apa yang harus ia jawab, atas pertanyaan yang membuat hatinya serasa hilang setengah, Khaira berpikir. Dan tengah merangkai kata dalam benaknya, kata apa yang pas untuk ia utarakan.


"Jika memang kita berpisah adalah jalan yang terbaik, untuk mu dan juga untuk ku," ungkap Khaira, mengambang. Kevin masih menunggu, apa yang akan gadis mukenah putih tulang utarakan. "Jangan mengusirku, sampai aku mendapatkan gaji ku di bulan ini." sambungnya lagi.


Kevin tidak habis pikir.


Hemm... dia memang sudah salah paham.


"Oke tapi, ada satu syarat?" ucap Kevin, mengajukan syarat, ia juga tidak ingin ada perpisahan. Akan tetapi, Kevin ingin lebih tahu, sebenarnya apa kemauan istrinya.


"Apa syaratnya?" jawab Khaira, berharap agar syarat yang diminta Kevin tidak melampaui batas, yang ia bisa.


"Kita harus sekamar!" telak Kevin, no debat. Ia pun beranjak dari duduknya, tanpa menghiraukan Khaira yang hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya.


"A, apa? Sekamar?" Khaira tergagap.


Dan benar saja, Kevin tidak main-main dengan ucapannya, ia memboyong bantal miliknya ke kamar Khaira, dan berbaring terlentang di atas ranjang yang empuk.


Khaira berpura-pura tengah sibuk membaca buku di sofa tidak jauh dari tempat tidur, padahal matanya seperti lampu kuning tiga Watt, begitu sepet.


"Khaira.." Kevin memanggil Khaira, berharap gadis itu mau menghiraukan keberadaannya.


Rambut yang di ikat keatas memperlihatkan leher yang tidak terlalu jenjang, warna kulitnya yang seperti sinar fajar. Di tambah lampu tidur dengan bias cahaya agak kekuningan. Membuat Kevin gemas dan ingin menguyel-uyel makhluk keras kepala itu.


Kevin yang hanya memakai pakaian ala rumahan, turun dari atas ranjang dan menghampiri Khaira yang so' sibuk membaca buku bersampul biru.


Kevin sangat geram, akan tingkah Khaira yang diam, ia lebih memilih gadis itu banyak bicara, itu akan membuatnya merasa semakin hidup dan ceria. Kevin mengambil buku yang tengah di genggam gadis berpakaian piyama panjang.


Khaira terkejut, dan menatap Kevin dengan mata yang siap menghunus netra cokelat nya. Ia mencoba merebut kembali buku yang sudah ada di tangan Kevin dan mengangkatnya keatas kepala.


Khaira sangat kesulitan untuk mendapatkannya kembali.

__ADS_1


"Mas Kevin!" hardik Khaira, kesal.


"Bicaralah, apa yang sebenarnya membuat mu kesal, apa soal tadi di depan diskotek?" kata Kevin, ingin mencari kebenaran apa, sampai membuat gadis itu hanya diam sepanjang malam.


"Iya, apa sebenarnya pekerjaan mu. Kenapa selama ini kamu nggak jujur, dan hanya bilang pergi kerja, kerja dan kerja." sergah Khaira mengatakan uneg-unegnya, entah mengapa ia merasa lega.


Kevin tercenung, ia menatap wajah sang istri yang nampak serius. "Aku bekerja di diskotek, dan selama ini aku belum percaya ini untuk mengakui pekerjaan ku padamu. Aku takut, kamu akan salah paham atas pekerjaan ku. Lagian, bukankah selama ini kamu nggak bertanya apa pekerjaan ku, ya aku pikir kamu nggak perduli atas apa yang aku lakukan."


"Kata siapa hah? Kata siapa aku nggak perduli. Kamu sudah mengambil spekulasi sendiri Mas, kamu sudah menganggap ku orang lain karena nggak jujur sama aku. Apa hanya karena aku ini istri siri mu?" tukas Khaira.


Kevin mengeluarkan ponselnya, ia menunjuk foto kedekatan Khaira bersama dengan Rezki.


"Lalu apa? Ini apa Khaira? Kamu berpegangan tangan sama Bos kamu, kamu menolak untuk keluar dari pekerjaan mu, karena kamu jatuh cinta kan sama dia? Kamu cinta kan sama Rezki?" kata Kevin dengan sangkaannya.


Khaira membelalakkan matanya, ia melihat fotonya yang ada di ponsel Kevin. Jika diingat, itu adalah foto yang kemungkinan diambil sewaktu siang. Lalu kembali melihat wajah Kevin yang nampak tegang dan marah.


"Cukup Mas Kevin. Cukup!" Khaira menghardik tuduhan Kevin. "dengarkan aku Mas Kevin, aku sudah belajar melupakan Asep, itu karena mu, dan sekarang kamu malah menuduhku mencintai pria lain? Aku nggak segampang itu jatuh cinta. Trauma ku tentang pernikahan sedikit demi sedikit mulai aku singkirkan karena apa? Karena mu juga? Tapi kamu dan Clara, sudah membuatku berpikiran buruk terus, aku nggak tau hubungan apa antara kamu dan Clara, tapi tolong jangan persulit hidup ku." sambungnya meluapkan kekesalannya.


"Aku capek Mas Kevin, aku benar-benar capek." Khaira beringsut duduk dan berkata bernada suara putus asa.


Kevin merasa gamang, ia telah salah paham. Lalu menyusul duduk berhadapan dengan Khaira di sofa. "Maafkan aku." mengulurkan tangannya, mendekap istrinya yang sedang menunduk lesuh.


Khaira membalas pelukan Kevin, ia mencium aroma tubuh Kevin yang telah menjadi candu untuknya selama hampir dua bulan ini.


Perlahan Kevin mengurai pelukannya, mengusap air mata istrinya. Bersitatap dengan penuh kehangatan.


"Maafkan aku yah." kata Kevin lembut.


Khaira mengangguk singkat, ia kembali memeluk Kevin. Seolah pelukan ini, adalah pelukan sambutan atau bisa jadi pelukan perpisahan.


Seorang suami yang baik akan menyeka air mata istrinya, tapi suami yang hebat akan mendengarkan dengan baik cerita istrinya yang membuatnya menangis.




Bersambung

__ADS_1


__ADS_2