
Setelah dari restauran tempat Khaira bekerja. Meskipun tidak disambut baik oleh Khaira seperti pasangan pada umumnya yang selalu mendambakan keharmonisan.
Bagi Kevin tak mengapa, karena hubungan langgeng seringkali datangnya dari hubungan yang mengandung racun, dengan istilah terkenal toxic.
Ya, Kevin tak mempermasalahkan Khaira yang jutek kek! Galak kek! Asalkan jangan menyuruhnya makan tokek. Karena itu geli!
Bebas gadis itu mau berekspresi seperti apa. Kevin berpikir mungkin kejutekan Khaira adalah karmanya yang selalu menolak dan mempermainkan beberapa perasaan wanita yang menyukainya.
Karenanya Kevin menyadari, ke galakkan Khaira memanglah kesalahannya yang telah menyentuh apa yang telah gadis itu larang!
Mengapa yang dilarang selalu saja membuat penasaran? Dan ingin sekali bermain-main dengan yang dinamakan demikian. Larang!
Kevin telah memporak-porandakan ucapan yang pernah ia katakan kepada Khaira. Formalitas! Tidak menyentuh secuil pun! Bahkan kini tak rela jika membiarkan Khaira lepas dari jeratnya.
Egois? Ya terserah. Jika gadis itu akan menganggapnya egois!
Ruwet berpikir tentang Khaira, kini Kevin telah sampai di parkiran diskotik tempatnya bekerja adalah tujuan berikutnya. Ia ingin mencari bukti-bukti yang valid guna mensikronkan video cctv yang diberikan Stefan.
Ponselnya pun berdering, tertera nama (Hongchai) itulah nama China Stefan.
“Ya Stef?” ucap Kevin setelah menerima panggilan dari Stefan.
^^^📱 “Gimana udah lo lihat flashdisk yang gue kasih?”^^^
Kevin mengedarkan pandangannya, “Ya, gue udah lihat. Tapi kagak begitu jelas wajah dua orang yang gebuk serta nyulik gue!”
^^^📱 “Apa perlu gue yang lapor polisi biar diusut tuntas?” tawar Stefan^^^
“Kagak perlu Stef, gue yakin gue bisa menemukan petunjuk. Soalnya sekarang gue lagi ada di depan diskotik,” jawab Kevin, sambil mengamati situasi disekitaran diskotik yang memang berdekatan dengan gedung satu gedung yang lain.
Padahal sebelumnya tidak pernah ia mengamati keadaan area ini.
^^^📱“Lo yakin Vin?” Stefan meyakinkan Kevin.^^^
“Gue yakin!” Kevin melihat seorang pria dengan perkiraan usia 40 tahunan, memasuki pos satpam yang tidak jauh dari diskotek Valencia. Penjaga keamanan yang berbeda dari orang yang pernah dilihatnya ketika beberapa kali menanyakan tentang cctv.
Kevin menduga bahwa bisa saja petugas satpam penjaga adalah orang yang berbeda, “Nanti gue telpon balik Stef.”
Sambungan telepon pun dimatikan, Kevin berlari menuju pos satpam yang jarak darinya berdiri sembilan meter.
__ADS_1
“Pak satpam,” serunya setelah sampai di pos satpam dan melihat seorang penjaga keamanan sedang melihat layar monitor cctv.
Satpam pun menoleh kepada pria muda yang sedang berdiri di depan pintu masuk pos, “Ya,”
Kevin membaca tag nama yang tertera dada kiri sang satpam,
“Pak Susno,”
Satpam yang di sebutkan nama Susno ini lantas beranjak dari duduknya, “Ya saya Susno,”
“Pak Susno, boleh saya menanyakan beberapa hal?”
“Bukankah kamu yang menjadi DJ di diskotek milik Pak Erik?” Pak Susno mengamati wajah Kevin.
Kevin mengangguk singkat, “Betul Pak,”
“Bagaimana kabar mu? Sudah lama saya tidak melihat kamu, Kevin. Kalau tidak salah sebulan yang lalu, saya melihat kamu turun dari motor dan kamu dihampiri oleh dua orang,” jelas Pak Susno sekaligus menanyakan keadaan Kevin.
Kevin cukup terkejut, feeling-nya tidak salah. “Apa yang Pak Susno lihat? Apa Pak Susno juga melihat saya di pukul dari belakang dan apa Pak Susno melihat wajah dua orang yang memukul saya?”
Pak Susno kembali mengingat-ingat, “Saya lupa, soalnya sudah dua mingguan ini saya pulang kampung karena Ibu mertua saya meninggal,"
“Tunggu sebentar, tapi-” sambung Pak Susno.
Ucapan Pak Susno yang mengambang, membuat Kevin berharap bahwa masih ada jawaban yang pasti.
“Pas saya melihat kamu dan dua orang itu, kamu sudah pingsan dan di bopong lalu masuk kedalam mobil. Perasaan saya tidak enak, saya lari ke mobil hitam yang membawa mu, tapi mobil itu melaju kencang,” jelas Pak Susno dalam menguraikan apa yang dilihatnya setelah kejadian sebulan yang lalu.
“Apa Pak Susno melihat pelat nomor mobilnya?” tanya Kevin antusias.
“Sebentar!” Pak Susno kemudian mengambil secarik kertas yang pernah diselipkannya di sela-sela meja.
Kevin melihat Pak Susno seperti mencari sesuatu.
“Nah ini dia nomor pelatnya, saat itu saya tulis di telapak tangan. Tapi karena takut terjadi sesuatu, ya makanya saya salin di secarik kertas ini,” kata Pak Susno memberikan secarik kertas sobekan kepada Kevin.
Kevin menerima secarik kertas yang diberikan Pak Susno, lalu melihat pelat nomor. Kevin merasa tidak asing dengan pelat nomor ini, ia kembali menatap Pak Susno, “Terimakasih Pak Susno, berkat Pak Susno yang cerdas ini. Saya bisa menyusun kepingan puzzle yang masih buram agar sedikit lebih terang,”
“Sama-sama, tugas saya kan memang menjaga keamanan. Waktu itu malah saya akan melaporkan ke polisi, tapi saya bingung karena tidak punya bukti dan semenjak kejadian malam itu, saya tidak melihat kamu, karena rekaman cctv pada saat malam itu juga hilang, saya cuma takut benar-benar terjadi penculikan. Tapi syukurlah kamu terlihat baik-baik saja sekarang,”
__ADS_1
“Saya rasa, saya sudah dijebak Pak Susno. Tapi terimakasih karena Bapak saya sedikit lega. Berkat ini, semoga kebenaran akan terungkap,”Kevin menjabat tangan Pak Susno dengan perasaan girang.
“Ya sama-sama.” balas Pak Susno, ikut merasa senang. Karena tugasnya tidak sia-sia menjadi penjaga keamanan yang sudah ia emban selama 20 tahun lamanya, meskipun dibeberapa tempat berbeda ia menjalankan tugasnya sebagai security terpercaya.
“Lain kali saya akan mentraktir Pak Susno, tapi sekarang saya harus pergi guna menyelidiki sesuatu.” Kevin berujar dengan sungguh-sungguh.
Pak Susno mengembangkan senyumnya, ia lantas mengangguk sekilas. Dan melihat Kevin telah berlalu dari hadapannya.
~~
Kevin masuk kedalam diskotik yang sepi dari pengunjung, karena tempat hiburan malam ini hanya ramai pada malam hari.
Itulah sebabnya tim investigasi dari kepolisian akan menggelar pemeriksaan setiap satu bulan sekali, guna menertibkan dibeberapa tempat hiburan malam. Guna menetralisir peredaran narkotika dan penggunaan obat-obatan terlarang lainnya.
Netra Kevin tertuju pada seorang wanita berambut sebahu sedang duduk, dan beralih menatap kedua orang pria bertubuh tegap sedang berdiri di depan wanita yang Kevin lihat dari belakang.
Kevin mengernyitkan dahinya, “Kenapa wanita itu seperti Clara?”gumamnya.
Kevin lebih memilih berdiam diri disudut ruangan diskotik yang mengarah pada pintu belakang diskotik.
Detik berikutnya terdengar gelas yang dilemparkan oleh wanita yang Kevin duga Clara.
PRANGG!!!
Gelas bening jatuh berserakan membaur bersama dengan isi di dalam gelas tersebut.
“Bodoh kalian! Aris! Roni!” teriak wanita itu. “Kalian pikir, setelah kalian kabur. Gue kagak bakalan nemuin lo, lo salah karena sudah meremehkan gue!”
Dua pria di depannya hanya bisa menunduk, meskipun keduanya berbadan besar dua kali lipat dari wanita yang berada di depannya. Namun, dua pria ini jelas tak berani membantah kepada anak pemilik diskotek ini.
"A-ampuni kami Nona Clara," kata Aris bertekuk lutut sembari menangkupkan kedua tangannya di hadapan wanita yang dipanggilnya Clara.
Plak... Clara menampar Aris.
“Kenapa kalian itu sangat bodoh! Kemana saja kalian selama ini? Kenapa menghilang setelah menculik Kevin, hah!”teriak Clara menggila, ia berdiri dengan berkacak pinggang di depan kedua pria yang ditugaskannya untuk menculik Kevin.
__ADS_1
Bersambung