
Dirasa Kevin sudah tidur lelap, Khaira menarik bantal dan secara perlahan ia mengangkat kepala Kevin dan menaruhnya ke bantal.
Lantas Khaira beranjak karena waktu sudah menunjukkan pukul 05:11, ia telah melewati waktu sholat subuh.
Secepatnya Khaira berlari ke kamar mandi guna berwudhu. Setelah berwudhu ia memakai mukenahnya kembali yang semula ia letakkan di sofa ruang tengah. Dan berikutnya melaksanakan sholat juga di ruang tengah.
~~
Sang Surya telah keluar dari tempat persembunyiannya. Ia memancarkan sinar cerahnya di pagi hari ini, hingga memasuki celah-celah jendela dan tirai yang tersingkap.
Rumah yang beberapa hari lalu terlihat suram serta berantakan, kini lebih terpancar ada kehidupan.
Khaira selalu saja dibuat gelisah, ketika fajar terlihat. Habis, makanan apa yang bisa dimakannya. Tidak mungkin ia memakan piring dan gelas. Memangnya ia kuda lumping.
Hah... Khaira menghela nafas panjang. Mengingat soal kuda lumping sudah sangat lama ia tidak melihat pertunjukan kuda lumping.
Diambilnya sapu, meskipun dalam kondisi menahan lapar di pagi hari. Kendati setiap pagi ia jarang makan nasi, namun pada saat kehidupannya di kampung halaman. Maka ia akan mengolah camilan hanya sekedar pengganjal perut sampai makan pagi menjelang.
“Ya Allah, koyok ngene men uripku.” keluhnya, wajarkah ia mengeluh? Ya wajar saja kali yah. Namanya juga hidup.
Sebelum mulai menyapu ia membuka daftar lagu yang sering didengarkan oleh Abah. Jika mengingat Abah, ia akan mengingat petuah-petuah dan fatwa Abah.
Dalam nasehat Abah, pasti begini (Jika dalam menjalani hidup, jangan suka banyak mengeluh dan jangan lupa bersyukur. Karena dua hal itulah kunci kebahagiaan dalam menjalani hidup yang dirasa semakin menjadi beban pikiran.)
Musik pun terdengar syahdu dari Almarhum Megi Z. Dengan volume ponsel yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Khaira takut jika musik yang diputarnya akan membangunkan si tuan arogan.
🎶 Didalam gubuk bambu
Tempat tinggalku
Disini kurenungi
Nasib diriku....
Didalam gubuk bambu
Suka dukaku
Saat sedang asiknya menyapu lantai diruang tengah dengan ditemani musik dangdut klasik yang trending pada masanya.
__ADS_1
Pendengarannya terbuai dengan suara dari pedagang sayuran yang menyerukan dagangannya di kompleks perumahan.
“Sayuuuurrrr!”
“Yur sayuuuurrr!”
Dengan sigap Khaira meletakkan sapu yang masih dipegangnya dan melesat ke depan rumah.
“Sayur!” panggilnya pada seorang Ibu-ibu penjual sayur yang waktu itu lari terbirit-birit meninggalkan gerobak sayur di depan jalanan rumah Kevin.
Ibu penjual sayur lantas berhenti bersamaan dengan gerobak sayurnya, ia terkejut bukan main kala melihat seorang gadis berhijab ala rumahan keluar dari rumah yang nampak kosong.
Karena setahunya hanya ditinggali oleh seorang pria muda yang jarang sekali dilihatnya. Bahkan dalam kurun waktu sebulan pun Ibu sayur belum tentu melihat pria muda itu.
Ibu sayur mengucek matanya, memastikan bahwa apa yang dilihatnya merupakan bukanlah makhluk jadi-jadian, ataupun hantu yang menampakkan diri di pagi hari.
Iya kali! Ada hantu berjemur di sinar matahari pagi? Ibu sayur berulang kali mengerjap-ngerjapkan matanya sungguh terheran-heran.
“Tunggu sebentar, saya mau ambil uang!” seru Khaira dari teras rumah.
Ibu sayur mendengar gadis berhijab itu memintanya untuk menunggu, karena di rasa sangatlah penasaran siapakah gerangan gadis yang baru pertama kali dilihatnya. Ibu sayur pun akhirnya menunggu.
Bukan hanya Khaira seorang yang berbelanja, rupanya pemberhentian Ibu sayur sudah di tunggu-tunggu oleh dua Ibu-ibu kompleks perumahan.
Sama halnya dengan Ibu sayur, dua Ibu-ibu kompleks juga terheran-heran melihat gadis yang baru dijumpainya.
Dapat Khaira lihat dari ekor matanya ketiga Ibu-ibu di samping kanan, kiri dan Ibu sayur sedang menatapnya.
Namun Khaira lebih fokus saja untuk melihat-melihat gerobak yang berisikan sayur-mayur. Ia heran mengapa ikatan kangkung di desa dan di kota berbeda, kangkung di kota lebih kecil, ia menganggap mana mungkin satu ikat kangkung ini cukup.
Maka Khaira mengambil dua ikat kangkung. Satu bungkus tahu putih, setemplang tempe, sekantung cabai merah keriting dan sekantung cabai rawit, bawang putih, bawang merah, dilihatnya bungkusan sayur sup, ia pun mengambil dua bungkus sayur sup dan dua ikat sayuran bayam.
Wah agaknya ikan kembung yang tergantung sangat menggoda, maka ia pun mengambilnya. Tidak lupa ia mengambil bumbu penyedap rasa ayam.
“Berapa jumlahnya Bu?” tanya Khaira setelah memilih sayurannya.
Ibu sayur masih saja terbengong-bengong membersamai kedua Ibu-ibu kompleks perumahan, yang hanya diam mematung seperti terpaku ditempatnya berdiri memandangi gadis berhijab yang baru keluar dari rumah suram itu.
Bukan hanya ketiga Ibu-ibu dihadapannya, Khaira juga dibuat kebingungan. Ia mengibaskan tangannya, “Halo Ibu Sayur, halo semua?” sapanya bak model papan talenan.
__ADS_1
Melihat gadis berhijab dihadapannya mengibaskan tangan, barulah kedua Ibu-ibu kompleks maupun Ibu sayur tersadar dari terbengong melompongnya.
“E-eneng bu-bukan hantu kan?” tanya Ibu sayur tergagap.
Khaira terkejut atas apa yang didengarnya, ia tersenyum mengingat kejadian pada saat ia memanggil Ibu sayur dari dalam rumah.“Ya tentu saja saya bukan hantu, Ibu. Lagian mana ada hantu munculnya pagi-pagi begini, kalau nggak percaya pegang aja nih badan saya,”ucapnya sembari memegangi tangan dan wajahnya.
Ketiga Ibu-ibu melihat memang gadis berhijab dihadapannya seperti bukanlah hantu atau makhluk jadi-jadian. Atau makhluk astral.
“Bukannya kami takut, tapi heran aja mendadak Eneng keluar dari rumah Mas Kevin,” kata salah satu Ibu kompleks yang rumahnya berjarak dua rumah dari rumah Kevin.
Khaira tergagap harus menjawabnya apa, ia lantas mengalihkan pembicaraan dan meminta agar Ibu sayur menghitung jumlah sayuran yang sudah dipilihnya,“Ibu sayur, tolong dihitung jumlah sayuran yang saya pilih.” pintanya.
Ibu sayur lantas mengangguk dan juga menghitung sayuran yang dipilih oleh gadis asing yang seolah menjadi pertanyaan besar dalam benaknya, siapakah gadis ini?
“Totalnya jadi 72 ribu,” kata Ibu sayur.
Khaira terkejut hanya belanja segini sudah menghabiskan uang segitu banyaknya, ada apakah gerangan di kota ini? Mengapa mahal, kalau di desanya mungkin hanya sekitar 30 sampai 35 ribu. Padahal sekantung cabai dan bawang hanyalah seperempat.
Khaira enggan berkata apa-apa ataupun sekedar menawar jumlah harga yang disebutkan Ibu sayur, ia mengeluarkan uang dari dompet kecilnya, uang yang ia bawa dari kampung halaman.
“Ini Bu,” Khaira menyodorkan uang seratus ribuan kepada Ibu sayur.
Ibu sayur pun memeriksa keaslian uang yang diberikan, dan memang asli. Ya bisa saja uangnya nanti berubah menjadi daun kering setelah sampai di rumah. Karena Ibu sayur pernah melihatnya di film legendaris Suzanna.
Karena sangat penasaran, Ibu sayur lantas bertanya kepada gadis asing, “Eneng siapa? Kenapa Neng keluar dari rumah Almarhumah Bu Lusiana, setahu saya yang udah keliling di kompleks ini selama hampir tujuh tahun baru pertama kali lihat Eneng? Dan saya juga jarang melihat anaknya almarhumah Bu Lusiana yang cowok itu?”
Khaira kelabakan, ia gelisah akan menjawabnya apa? Tidak mungkin ia mengatakan bahwa ia adalah istri Kevin yang dinikahi secara terpaksa dan mendadak.
“Dia istri saya!” seru Kevin berdiri di teras rumah.
Bersambung...
•\_•
\[Yuk dukung karya ini agar tetap berlanjut, dimohon dukungan. Vote, like, komentar dan gift.
__ADS_1
Terimakasih 🙏🏼\]