Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Gagalnya aksi penculikan


__ADS_3

Dooor...


"Aaak." Seorang preman yang menodongkan benda tajam itu berteriak meringis kesakitan juga membuat preman lain nya terkejut tak mengira kalau ternyata mereka telah di kepung aparat keamanan.


"Jangan bergerak! Menyerahlah!" Teriak dari salah satu pihak yang berwajib.


Beberapa dari mereka yang membawa senapan bidik memcoba melawan, bahkan ada yang mencoba kabur dari kepunhan tersebut namun sia- sia belaka.


Salah seorang mereka mencoba menarik jack namun terjadi perebutan dengan silla.


"Hei..., lepaskan kakak ku!" Teriak silla dengan membawa sebilah balok panjang yang sengaja akan digunakan memukul preman tersebut. Preman tersebut meremehkan silla tak mengindahkan silla hingga terjadi tarik menarik antara silla dan preman tersebut.


Silla geram dengan preman tersebut hingga hilang kesabaran nya lalu mencoba memukul oreman tersebut dengan balok ditangan nya. Preman tersebut melawan dengan tangan nya menangkisnya namun di tendang oleh silla hingga jatuh tersungkur. Merasa teramcam dan juga tak ingin tertangkap, preman itu mendorong jack ke sisi tembok dinding hingga jack meringis kesakitan.


"Aaa."


"Kak jack." Setengah berteriak silla kehilangan konsentrasinya hingga preman itu berlari kabur dari tempat itu, namun silla melempar balok itu ke arah kakinya hingga jatuh tersungkur.


"Kak..., kakak tidak apa- apa?" Silla mencoba membantu kakaknya namun kakaknya menghentikan nya.


"Silla...., kakak tidak apa- apa. Cepat tolong bibi!" Ucap jack tersengal- sengal.


"Tolong bibi." Gumam silla yang sedikit bingung bahkan tidak mengerti apa yang dikatakan kakaknya.


"Silla...., cepat silla." Teriakan jack membuat silla sadar lalu berlari ke arah pintu utama.


"Aaa...., bibi. Bertahanlah bi! Silla akan memanggil ambulance." Silla terkejut berteriak melihat bibi terkapar dilantai berlumuran darah. Beberapa pihak yang berwajib bersiapa menghampiri silla yang terdengar berteriak histeris.


Mereka memanggil ambulance dan juga membantu silla mengangjat bibi ke dalam ambulance, sementara salah seorang security membantu jack masuk ke dalam rumah.


Beberapa petugas yang sedang olah tempat kejadian mengumpulkan barang bukti dan juga saksi untuk penyekidikan mengungkap siapa dalang dibalik kejadian ini.


Baik orang tua silla maupun stela berdatangan setelah mendapat kabar dari silla, begitu juga dengan stela yang harus menunda rapat karena kejadian ini.


"Jack...., jack. Apa yang terjadi nak? Kenapa bisa terjadi seperti ini?" Ine khawatir dengan luka yang ada di kepala jack.


"Silla..., apa yang terjadi dengan kakak mu?" Mahendra melihat silla yang duduk minum segelas air putih, sementara sang suami membersihkan noda merah yang ada dilantai.


"Entahlah, pa. Silla tidak begitu paham." Jawab silla.


"Tidak paham bagaimana? Kamu kan yang menghubungi mama jack mau diculik." Ine terpancing emosi dengan jawaban silla, mungkin juga karena kekhawatiran nya terhadap putra sulung nya itu.


"Aduh..., mama. Silla juga tidak tahu bagaimana awal mulanya, yang silla lihat beberapa orang menarik kak jack keluar rumah." Jawab silla.


"Bibi mana?"


"Bibi sudah dibawa ke rumah sakit, ada luka tusukan di bagaian perut bibi." Jawab silla.


"Hah..., tusukan?"

__ADS_1


"Hah..., tusukan?"


Baik ine mau pun stela dan ibunya yang baru datang terkejut mendengar ada tusukan di bagian tubuh sang bibi.


"Kak jack memberitahu silla untuk menolong bibi, setelah silla masuk silla melihat bibi terkapar dilantai berlumuran darah." Ucap silla menjelaskan apa yang terjadi.


"Mas..., kamu baik- baik saja?" Stela menghampiri sang suami yang saat sedang dibersihkan lukanya akibat benturan kepalanya membuat robekan dibagian kiri kepalanya. Dokter yang ikut ambulance yang di panggil pihak yang berwajib melihat luka dibagian kepala jack, segera melakukan pertolongan pertama agar tidak terjadi infeksi.


"Dokter, bagaimana luka putra kami?" Ibu stela ikut bertanya pada dokter sembari menggendong sang cucu.


"Tidak apa- apa, bu. Lukanya sudah dibersihkan, jika pak jack mengalami keluhsn sakit kepala atau yang lain nya segera ke rumah sakit melakukan pemeriksaan lanjutan." Ucap sang dokter.


"Takut ada luka dalam pada pak jack atau mungkin gumpalan darah dikepalanya akan sangat berbahaya." Ucap dokter melanjutkan penjelasan nya.


"Baik, dokter. Terima kasih."


"Kalau begitu kami permisi, bu." Dokter berpamitan di sertai pihak yang berwajib yang ikut undur diri karena pekerjaan nya sudah selesai.


Samar- samar terdengar jelas kalau aksi ini telah direncanakan bukan karena ketidaksengajaan. Security komplek juga memberi keterangan kalau beberapa hari ini mereka juga mengintai orang yang berkedok melihat perumahan yang sedikit mencurigakan. Dari keterangan security juga melihat cctv kamera di pos penjagaan security mereka menyimpulkan adanya unsur perencanaan.


Pihak yang berwajib juga berjanji mengungkap aksi ini sampai sejelas mungkin. Mahendra maupun sang besan saling berpandangan seakan memiliki kesimpulan yang sama tapi enggan mengatakan nya di depan pihak yang berwajib. Mereka memikih diam hingga ada titik terang dari penyelidikan selanjutnya.


"Nak..., ayo ibu antar ke kamar!" Ucap sang ibu mertua memilih membuat menantunya tenang terlebih dahulu. Ia tahu pasti jack menyimpan rasa syok dan kekhawatiran atas kejadian ini. Jack hanya mengangguk pelan di papah oleh sang ibu mertua juga istrinya, sementara safa dalam gendongan ine.


"Istirahatlah! Jangan terlalu banyak pikiran! Semua akan baik- baik saja." Ucap ibu stela.


Stela tetap tinggal menemani sang suami hingga tertidur pulas, sedangkan ibunya keluar berkumpul diruang tengah.


"Tempat ini sudah tidak aman, hen." Ucap Ayah stela prayogo.


"Benar, sepertinya bram telah mengendus tempat ini." Jawab mahendra.


"Apa yang harus kita lakukan?" Ucap ine.


"Pindah aja keluar negeri." Gumam silla.


"Pindah keluar negeri sama saja, pasti juga mudah ditemukan. Kamu masih kecil tak paham masalah begini." Ucapan ine membuat silla menghela nafas panjang lalu mengeryitkan dahinya.


" Bagaimana menemukan nya?" Ucap ratna yang penasaran dengan perkataan ine.


"Melalui tujuan utama ke negara mana kan bisa to rat."


"Idih... mama, nggak gitu juga kali konsepnya. Ikut aja silla ke sidney, dari sana mama bisa sewa hely atau jet pribadi. Mama kan kaya masak nggak bisa sewa hely, atau silla suruh papa willy sewain?" Ucapan silla seakan menusuk hati para ayah baik mahendra maupun prayogo merasa kesal dengan sindiran silla. Namun ucapan ine membuat ratna tersenyum bahagia hingga langsung memeluk gadis kecil itu.


"Aaa...., kau benar nak." Gumam ratna memeluk silla.


"Benar apa nya? Kau tidak tahu kalau suaminu ini disindir gadis kecil ini?" Jawab prayogo sedikit geram.


"Disindir apanya? Heh..., ide silla memang benar. Dari sidney kita bisa naik jet pribadi ke singapore, dengan begitu tidak akan diketahui orang." Ucap ratna.

__ADS_1


"Sama saja membahayakan willy disana." Gumam ine.


"Eh..., benar juga ya." Sejenak ratna berpikir apa yang dikatakan ine ada benarnya.


"Aduh mama...., telmi amat sih." Silla memang tak bermaksud membawa kakak dan kakak iparnya ke sidney hanya mencontohkan tetapi tak ada yang mengerti maksud silla yang sebenarnya.


"Heh..., kau mengatai mama telmi? Dasar bocah kecil! Awas kau!" Ine menyerahkan baby safa pada stela, berhambur mendekati putrinya menggelitiki sang putri.


"Aw...., hahaha...., ampun ma, sudah geli." Silla berteriak dengan keras merasa geli dengan gelitikan mamanya.


" Maksud silla, pesan saja ticket pesawat ke tujuan lain ma. Misal ke thailand atau ke newzealand, kita ke bandara seoalah akan ke negara tersebut. Dari situ kita sewa jet pribadi dihari yang sama ditempat yang sama lalu ke tempat tujuan." Ucap rafa.


"Maksudmu kita mengecoh mereka?" Sejenak mahendra mengerti apa yang dikatakan rafa, menganggukkan kepalanya.


"Benar..., apa yang dikatakan rafa." Gumam prayogo.


"Hah..., malang betul nasibku rat. Ketiga anak ku akan tinggal di luar negeri." Ucapan ine membuat ratna merasa sedikit bersalah lalu menepuk pelan bahu ine.


"Hei..., jangan begitu. Semua demi keselamatan putra dan putri kita. Apa kau tidak takut bahaya semacam ini menimpanya kembali?" Ucap ratna lirih menenangkan sang besan.


"Kau benar, tapi sulit dibayangkan apa yang terjadi denganku. Aku harus bepergian ketiga negara yang berbeda."


"Anggap saja liburan, ma. Lagipula mama dan papa bisa honeymoon sesion ketiga." Gumam silla.


" Apa kau bilang? Mama sudah tua, masa honeymoon lagi." Ine geram dengan putrinya yang senang menggodanya.


" Ya...., siapa tahu silla punya adik lagi."


" Hei..., mama sudah punya cucu. Masa mau hamil lagi? Kakakmu bryan sudah mau launching cucu kembar mama. Kenapa tidak kau saja yang hamil? Biar barengan sama kakakmu."


" Sudah."


" Huk..., huk." Rafa tersentak batuk ketika istrinya bicara sembarangan yang entah tujuan nya untuk apa namun rafa sendiri tak percaya silla hamil.


" Sudah? Kau sudah hamil? Mama mau punya cucu lagi?" Silla hanya mengangguk pelan tersenyum bahagia mengerjai mamanya.


" Ma, silla pulang ya? Mau nyiapin barang- barang yang akan silla bawa." Ucap silla.


" Hem, baiklah. Hati- hati dijalan! Jaga baik- baik cucu mama!" Sepertinya ine tak memperhatikan ucapan silla karena terlalu senang dengan kabar yang diberikan putri bungsunya.


"Iya."


"Heh..., persiapan? Persiapan apa?"


"Yah mama, silla kan akan pindah ikut papa willy."


Glek.... Glek...


Bersambung🙃🙏

__ADS_1


__ADS_2