
Mentari kian meninggi menyingsing di ufuk timur, tirai-tirai jendela disibakkan. Cahaya hangat mentari pagi langsung menerobos masuk menembus jendela kaca dan menghujam ruangan kamar rawat inap bernama Kenari.
Cahaya mentari seolah sedang menyampaikan kepada para cucu Adam yang sedang sakit untuk lebih bersemangat dan menyongsong hari lebih baik dan giat lagi.
Kegiatan pagi, seperti pada waktu yang seperti biasanya. Para pasien-pasien akan menyibakkan tirai hijau yang menjadi sekat brankar satu ke brankar pasien lainnya.
"Halo selamat pagi...?" seorang Dokter psikologi menyambangi saban pagi guna menyambut para pasien, agar lebih bersemangat dalam melewati ujian kesehatan.
"Pagi..." hampir semua penghuni kamar rawat inap ini menjawab Dokter psikologi.
"Bagaimana kabar anda-anda semua? Sudah lebih baik bukan?" kata Dokter berkacamata setengah baya ini.
"Baik Dokter." semua orang yang berada diruangan Kenari menjawab.
"Alhamdulillah, perkenalkan bagi sahabat-sahabat saya yang baru ataupun sudah lama di ruangan kenari ini, nama saya Ainun Zulkarnain seorang Dokter psikologi." Dokter psikologi Ainun memulai konseling paginya, "Bisa sekarang saya memulainya?"
"Iya Dokter." jawab beberapa pasien, siap mendengarkan semangat termotivasi dari Dokter psikologi bernama Ainun Zulkarnain.
Khaira juga salah satunya dari pasien-pasien yang sedang mendengarkan Dokter berkacamata serta hijab biru tua menyapa. Termasuk juga Kevin yang ikut mendengarkan.
"Menjaga kesehatan merupakan satu di antara hal penting yang harus kita lakukan. Tidak hanya kesehatan secara fisik, namun juga secara mental. Memiliki kesehatan fisik dan mental sangat berpengaruh kepada kehidupan kita sehari-hari. Makin sehat tubuh, makin produktif diri kita. Kualitas hidup kita juga makin baik," Dokter psikologi Ainun Zulkarnain dalam menjelaskan pentingnya menjaga kesehatan, dilihatnya satu-persatu pasien dan para sanak saudara yang menemani pasien ikut mendengarkan konseling paginya.
"Nah, ketika seluruh aspek kesehatan dapat terjaga dengan baik, pikiran akan menjadi lebih jernih sehingga dapat melakukan banyak hal positif. Memiliki tubuh yang sehat sepanjang hayat tentu menjadi dambaan semua orang, dan untuk memilikinya dibutuhkan kebiasaan baik dalam menjaga tubuh setiap hari.. Menjaga kesehatan dapat dilakukan dengan beragam cara, seperti menerapkan gaya hidup sehat, yakni mengonsumsi makanan bernutrisi, menjaga pola makan, dan rutin berolahraga," Dokter psikologi Ainun menjelaskan secara gamblang tentang pentingnya olahraga dan menjaga asupan nutrisi.
Semua pasien dan keluarga pasien mendengarkan penjelasan Dokter psikologi Ainun secara seksama.
"Ingatlah selalu untuk menjaga kesehatan, jangan sampai menyesal ketika berbagai penyakit mulai muncul dalam tubuh. Lebih baik mencegah daripada mengobati." akhir dari kalimat selalu seperti ini yang Dokter psikologi Ainun katakan.
"Terimakasih konseling paginya Dokter," kata salah seorang pasien dan diikuti oleh para pasien lainnya.
"Sama-sama, semoga yang sakit lekas sembuh, dan yang sehat bisa terus sehat." tukas Dokter psikologi Ainun.
"Amin." jawab orang-orang yang berada di ruang rawat inap ini.
Setelah beberapa lama bercengkrama dengan para pasien, Dokter psikologi Ainun pun pamit undur diri, untuk menyambangi ruang rawat inap lainnya.
"Tuh dengar nggak Mas Kevin, harus jaga kesehatan?" kata Khaira setelah mendengarkan penjelasan dari Dokter psikologi Ainun.
"Iya tau." balas Kevin.
__ADS_1
"Tau apa? Wong saban malam Mas Kevin keluyuran, dan beberapa kali aku mencium bau alkohol yang nyantol di pakaianmu?" Khaira membuka kartu Kevin, yang selama ini dipendamnya. Namun masih dengan suara pelan, agar tak berkesan membuka aib suaminya. Entah suka minuman miras atau memang Kevin terkena imbas dari bau kadar alkohol, Khaira tidak tahu, akan tetapi memang beberapa kali mendapati pakaian Kevin yang akan dicuci olehnya berbau alkohol.
Kevin membulatkan matanya menatap Khaira, "Jadi selama ini kamu mencium bau alkohol dari pakaian ku, kenapa baru bilang sekarang?"
"Sini...?" Khaira memberikan kode agar Kevin mendekatinya. Dilihatnya Kevin yang mendekat, lalu Khaira berkata sangat lirih, "suka atau nggak suka, tapi kamu harus mengubah minuman keras mu, ingat kesehatan!" Khaira menaik turunkan kedua alisnya. Bersitatap dengan netra Kevin.
"Oke." balas Kevin seraya membulatkan jari telunjuknya membentuk huruf O, "tapi ngomong-ngomong, mau ke kamar mandi." dilihatnya Khaira yang mengangguk.
Setelah kepergian Kevin, beberapa dari petugas medis juga mengunjungi para pasien-pasien guna mengontrol kesehatan menurun ataupun membaik. Ada pula para medis yang membantu para pasien untuk berjalan ke kamar mandi, dan ada juga perawat yang bertugaskan untuk mengantarkan menu sarapan pagi kepada para pasien.
Salah satu pasiennya adalah Khaira, seorang perawat bernama tag Sarah menyambangi Khaira, "Halo selamat pagi Nona Khaira,"
"Pagi sus," Khaira menjawab sembari tersenyum ramah.
"Apa sudah lebih baik, Nona?" Perawat Sarah bertanya pada pasiennya sekaligus mengecek tekanan darah.
"Baik Suster, bahkan saya merasa ingin pulang," Khaira merasa tidak kerasan tinggal lebih lama di rumah sakit.
"Tekanan darahnya normal, sebaiknya Nona ikuti apa saran dari Dokter. Kalau Dokter yang menangani operasi Nona mengatakan Nona dalam kondisi yang prima. Baru Nona Khaira akan diperbolehkan pulang." kata Perawat Sarah memberikan arahan kepada pasien yang kerap kali ingin segera pulang. Perawat berusia 34 tahun ini merasa janggal dikarenakan Khaira seorang diri, "Nona Khaira, tidakkah ada sanak saudara yang menemani?"
Khaira melihat pintu keluar rawat inap, "Ada Suster, dia sedang pergi ke kamar mandi,"
Perawat Sarah manggut-manggut, "Tahan yah, ini akan sedikit pegal,"
"Baiklah, saya sudah selesai." Perawat Sarah telah usai melakukan tes denyut nadi, tekanan darah, dan terakhir menyuntikan stamina tubuh di infus Khaira telah usai.
Namun perawat Sarah dikejutkan dengan suara dari seorang pria yang baru saja datang.
"Terimakasih, Suster." ujar Kevin baru saja tiba di ujung brankar.
Perawat Sarah mengalihkan atensinya menatap seorang pria, ia mengangguk sambil tersenyum ramah, "Sama-sama," ia kembali melihat pasiennya, lalu bertanya, "apa dia yang menemani mu Nona?"
Khaira melihat Kevin, lantas mengangguki pertanyaan Perawat Sarah, "Iya Suster,"
"Baiklah, semoga lekas sembuh. Kalau begitu saya permisi." kata perawat Sarah.
"Terimakasih Suster." balas Khaira, dilihatnya perawat Sarah yang berlalu dari hadapan Khaira dan Kevin.
Kevin berjalan kearah samping kanan brankar, "Gimana? Apa katanya tadi? Kamu hamil?"
__ADS_1
Khaira mendengus dingin menatap Kevin, "Halu!"
"Hahaha..." Kevin tertawa renyah melihat ekspresi Khaira, "Kan aku hanya bercanda, tanggapanmu begitu amat?" ia menoel dagu Khaira.
"Hehehe... lucu yah?" Khaira membalas Kevin dengan tertawa yang tidak dibuat-buat.
Khaira mendapat sarapan paginya, sama seperti pasien lain. ia melirik sekilas nampan berisikan menu rumah sakit yang dibawakan oleh petugas medis. Lantas memberikannya kepada Khaira.
"Sarapan dulu yah?" Kevin hendak membantu menyuapi Khaira.
Tidak seperti biasa, pasien yang ogah-ogahan, memakan menu makanan rumah sakit, Khaira justru antusias, ingin merasakan menu makanan yang katanya rasanya hambar.
"Biar aku makan sendiri," pinta Khaira, yang melihat Kevin akan menyuapinya.
"Lalu tanganmu?"
"Aku terluka di tangan kiriku, dan tangan kananku baik-baik saja Mas Kevin."
Kevin pun pasrah dan memberi nampan ke pangkuan Khaira.
Khaira bergumam guna mengucap doa, dan seterusnya ia menyuapkan makanan ala rumah sakit kedalam mulutnya dengan tangan yang masih menancap selang infus.
Memandangi Khaira memakan menu sarapan rumah sakit dengan lahap, Kevin pun merasa, ia harus mencari sesuatu yang bisa dimakan, karena Kevin merasakan dinding goa didalam perutnya menabuh drum, sang raksasa merasa lapar.
"Aku mau pergi cari makanan dulu, perut udah berdisko ria, pengen segera di isi." kata Kevin, setelah Khaira selesai makan. Dilihatnya Khaira menganggukkan kepala.
Sebelum, benar-benar keluar dari ruang rawat inap, Kevin terkejut kala terdengar suara cempreng seseorang memanggil Khaira.
"Duh Neneng, Oneng, gimana bisa lo sampai tergores pisau? Kan setau gue lo bisa karate?" seru Mita dengan rentetan perkataan yang membuat sakit telinga.
Di susul kedua orang tua Mita yang berjalan memasuki kamar rawat inap.
"Bulek, Paman?" gumam Khaira melihat untuk kedua kalinya orang tua Mita, setelah sebulan di kota.
"Bagaimana keadaan mu cah ayu?" kata Paman Joko melihat keponakannya.
Disusul Ibu Rukiah bertanya kepada Khaira, "Kamu nggak papa kan Ra? Bulek khawatir lho, dengar dari Mita kamu kecelakaan,"
__ADS_1
Bersambung