
" Bi..., bibi. Anak- anak belum bangun?"
Ine yang sudah rapi menghampiri bi ijah di ruang makan.
" Anak- anak belum datang, nya."
" Belum datang? Maksud bibi mereka semalam pulang?"
" Iya, nya. Non silla kangen rumah nya, maklum nyah pengantin baru."
" Hah..., kenapa tak pamit?"
" Nyonya kan sedang istirahat, mungkin nggak enak membangunkan nyonya."
" Hem..., anak- anak rupanya sudah dewasa. Rumah sebesar ini hanya kita yang menempati."
"Kan bisa mengajak mereka berkumpul sesekali, nya."
"Berkumpul bagaimana maksud bibi? Ian dan ane sudah pindah ke america."
"Apaa..., pindah ke america?"
"Iya, saya juga kaget saat della memberitahu mereka berangkat ke america. Tidak memberitahu sebelumnya, pergi begitu saja."
"Sudahlah, nya. Kan masih ada non silla dan den jack, bagaimana keadaan den jack? Nyonya tidak ke rumah mereka?"
"Silla? Bibi tidak tahu kalau silla juga akan pindah ke sidney."
"Hihihi..., tahu nya. Tapi sebelum pindah mereka masih disini, nya. Suruh saja tinggal disini."
"Hah..., bibi benar. Kenapa aku tidak kepikiran ya?"
"Tumben mama sudah rapi, tak seperti biasanya. Mau kemana?"
Mahendra yang datang ke ruang makan melihat sang istri yang sudah rapi tampak sedikit sumringah.
"Mama numpang di mobil papa ya?"
"Mau kemana? Mama dah sehat? Nggak merasa sakit lagi?"
"Tidak, mama sudah lebih baik. Ke rumah cucu, kangen."
"Baiklah, tapi kalau anak- anak kemari bagaimana?"
"Loh..., papa tahu mereka tak menginap di rumah?"
"Papa sempat lihat mobil mereka keluar dari halaman saat papa ada di balkon."
"Oh..., begitu. Anak- anak sudah besar pa, sudah punya keluarga sendiri. Tinggal kita sendiri dirumah ini."
"Bagus dong mengenang masa pacaran dulu."
" Ih..., papa."
Senyum sumringah tampak kembali diwajah istrinya setelah beberapa saat murung dan bersedih. Ine juga tampak bersemangat dan juga terlihat sangat segar.
Sarapan pagi dengan menu yang telah disiapkan bi ijah masih tersisa banyak, bi ijah lupa kalau silla tak menginap dirumah. Ine menyuruh bi ijah meletakkan sisa makanan ke dalam tupperware yang akan dibawanya ke rumah jack.
"Ma..., papa tidak mampir ya? Ada sedikit urusan yang harus papa selesaikan."
"Urusan? Penting dari menengok putra dan cucu?"
"Iya, sangat penting. Ada sedikit masalah di perusahaan jack, papa harus memegang kendali perusahaan itu."
"Jk group ada masalah? Apa masalahnya sangat fatal hingga papa harus turun tangan?"
"Sepertinya ada orang yang berkhianat dengan perusahaan Jk, ma. Papa masih menyelidikinya."
"Hem..., apa ada hubungan nya dengan bram?"
"Mungkin saja."
"Mama benar- benar tak habis pikir kalau lelaki itu berniat menghancurkan putranya sendiri. Dan semua itu demi harta kekayaan."
"Entahlah? Selama belasan tahun di penjara, tak membuatnya berubah sama sekali."
"Kasihan jack, pa."
"Benar, tugas kita menjaga dan melindunginya."
Ine memeluk lengan suaminya dan bersandar pada lengan tersebut. Mereka memang sangat menyayangi jack, disamping wasiat dari melaty juga karena kehadiran jack yang membuat senyum ine kembali mengembang setelah ulah bram yang mengakibatkan keguguran yang di alami ine.
"Yakin papa tak ingin mampir?"
__ADS_1
Mahendra menghela nafasnya menatap sang istri yang sengaja menggodanya lalu menggelengkan kepala nya.
"Safa makin gembul lo pa."
Benar saja, mahendra yang sudah hafal dengan perangai istrinya yang akan menggunakan segala cara membujuknya.
"Kalau papa mampir, kapan masalah ini akan selesai? Jk group adalah satu- satunya peninggalan om anggoro dan melaty."
"Kita bisa saja memberikan warisan lain pada jack, tetapi alangkah baiknya kita membantu mempertahankan yang diwariskan mereka pada jack."
"Ya, baiklah. Mama mengerti, hati- hati dijalan ya pa!"
Mahendra mengangguk pelan melambaikan tangan saat sang istri turun dari mobil yang ditumpanginya. Bukan tanpa alasan mahendra melindungi jack maupun perusahaan nya, disamping janji yang diberikan mahendra pada om anggoro juga karena kasih sayangnya pada jack.
Ting tong...
Stela mendengar bunyi bel berbunyi yang mengira ibunya yang datang, apalagi beberapa hari ibunya stela memang menginap di rumah stela. Ibunya stela, Ratna meminta ijin pulang karena ada undangan tetangga rumah di kawasan komplek yang mereka tempati.
Ceklek...
" Bu..., kenapa tidak masuk saja? Stela kan sudah memberi kunci duplikat sama ibu, pasti lupa lagi."
" Ibu...?"
Stela yang tengah menggendong safa tak melihat dengan jelas siapa yang datang memencet bel pintu, gadis itu terlalu sibuk dengan safa yang minta menyusu dari asi nya.
" Ma..., mama sudah sehat? Kenapa mama tak istirahat? Jauh- jauh datang kesini."
Ucap stela tersenyum sedikit malu.
" Memangnya tidak boleh mama kesini?"
" Boleh, ma. Maksud stela kan mama lagi sakit, takut mama kecapekan."
" Tidak, mama kangen kalian terutama ini. Ayo oma gendong!"
"Tapi ma."
"Tak perlu mengkhawatirkan mama, mama masih kuat gendong safa. Lihatlah dirimu! Mata mu sampai berubah seperti panda."
"Hihihi..., mama bisa saja. Ibu pulang ma, safa semalam rewel. Entahlah, tak seperti biasanya."
Ucap stela bermanja di lengan ine.
" Sudah ma, ada diruang kerja nya."
" Kau pasti kerepotan mengurus dua orang sekaligus?"
"Hihihi..., sedikit ma. Beruntung ibu menginap di rumah."
"Maafin mama ya stel, mama belum bisa menginap di rumah mu."
"Tidak apa- apa ma. Mama kan harus menjaga kesehatan mama juga, lagi pula luka mama kan belum sem... buh."
"Luka? Mama terluka?"
Baik ine maupun stela menoleh ke arah sumber suara yakni di sebuah ujung ruangan yang mana ada sebuah ruangan yang dijadikan ruang kerja jack.
Jack terlihat meraba- raba dinding untuk sampai ke sofa ruang tengah, stela yang sigap menghampiri sang suami menuntun nya duduk di sofa.
"Tidak sayang, mama hanya sedikit terluka kena goresan biji timah preman itu."
"Apa mama sedang membohongiku? Kenapa stela begitu khawatir dengan kesehatan mama? Mama pasti sedang berbohong kan?"
Ine tercengang dengan beberapa pertanyaan yang dilayangkan putranya, hingga tertegum menatap sang putra yang harus beradaptasi dengan keadaan nya.
"Ma..., mama. Sayang, apa mama baik- baik saja? Mama pulang ya? Kenapa tidak menyaut?"
Stela menatap ine yang menatap mereka sedari tadi, tak berkedip sedikit pun.
"Mama sedang mendiamkan safa, mas. Sepertinya safa ingin tidur, jadi mama tak menjawab."
Ine menghampiri sang putra yang terlihat begitu cemas, lalu duduk disamping nya menyentuh tangan jack setelah memberikan safa pada stela karena si kecil sudah terlelap dalam gendongan sang nenek.
"Mama tidak apa- apa, sayang. Kau jangan terlalu cemas! Hanya sedikit goresan saja, sebentar lagi juga sembuh."
"Mama tidak berbohong kan?"
"Tidak."
"Ma..., hiks... hiks... hiks..., jangan tinggalin jack ma! Jack tahu, jack telah berbuat salah pada mama."
Jack memeluk erat ine hingga sedikit meringis kesakitan.
__ADS_1
"A..., ."
Stela yang hampir saja akan berteriak mengeluarkan suara, terhenti dengan sinyal isyarat yang diberikan ine padanya.
"Maafin jack, ma. Jack memang tak tahu balas budi, jack terlarut dalam kesedihan. Jack tak menyangka kalau jack bukan anak mama."
"Ssts..., siapa bilang kau bukan anak mama? Meskipun kau bukan lahir dari rahim mama tapi mama menganggap mu putra kandung mama."
Ucap ine menenangkan jack.
"Kau melihat adanya perbedaan antara kau dan adik- adikmu? Apa mama berlaku beda pada mu?""
Jack menggeleng pelan merasakan kebodohan nya sendiri atas hasutan bram selaku ayah kandung nya.
" Tapi..., kenapa menyembunyikan ini?"
"Sesuai pesan ibumu, dan juga mama tak ingin kau merasa sungkan dengan kedua adik mu. Meskipun nama yang kau sandang pemberian ibumu tapi mama mencantumkan akta kelahiran atas nama mama dan papa."
"Apa mereka masih mau menerima jack ya, ma?"
Pletak...
"Auw...., sakit ma."
"Sudah tahu sakit, jangan bertanya aneh- aneh! Mereka sangat menyayangi mu, sebelum kau mengetahui semuanya mereka sudah tahu terlebih dahulu."
Jack tercengang mendengar jawaban ine.
"Jadi..., mereka sudah mengetahuinya?"
"Ya, papa mu yang memberitahu. Mereka tak ingin kau berkecil hati karena bukan putra kandung mama, makanya mereka diam tak bersuara. Bagaimana pun juga yang mereka tahu, kau adalah kakak nya."
Jack baru menyadari kalau yang dikatakan bram tentang keluarga mahendra, sepenuhnya tidak benar. Bahkan berbanding terbalik dengan semua perkataan bram.
"Bagaima mungkin mereka tak menerima mu?"
"Sudahlah, tak perlu dipikirkan. Yang terpenting kau adalah putra mama dan papa, seluruh kota mengetahui kalau kau putra mama dan papa."
"Tapi ma..., bagaimana kalau identitas jack terungkap? Dan pak b."
"Itu tidak mungkin terjadi. Bram tidak akan bisa melakukan nya, jangan khawatirkan orang itu! Meskipun bram ayah kandung mu tapi dia harus punya bukti yang kuat membuktikan nya dan itu tak kan mudah.Mama tak kan melepasmu begitu saja."
Ucap ine menenangkan jack yang terlihat sangat gusar. Ine takkan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada jack. Apalagi ine juga mengetahui kalau kondisi bram tidak sedang baik- baik saja, bertahan antara hidup dan mati.
"Kenapa badan mu bau kecut? Belum mandi?"
Ine sengaja mengalihkan pembicaraan agar jack tak terlarut dalam kesedihan nya.
"Hihihi..., belum ma."
Jack tersipu malu mengakui didepan sang mama kalau ia belum mandi.
"Ayo..., mama akan membantu mu."
Melihat jack tak bereaksi sama sekali bahkan diam termenung seakan ada yang mengganggu pikiran nya, ine kembali duduk menepuk punggung tangannya.
" Ada apa lagi? Ada yang sedang kau risaukan?"
" Apa papa masih marah pada jack? Kenapa jack tak mendengar suaranya?"
" Kangen?"
" Tidak."
" Lalu..., kenapa kau tanyakan dia?"
" Kenapa tidak boleh, ma? Kan..., papa jack."
" Eleh..., bilang aja kangen pura- pura segala."
Ucap ine mencebirkan bibirnya. Dari kejauhan stela memperhatikan keduanya terkekeh geli, tersenyum melihat obrolan kedua orang tersebut.
" Papa mu sedang menyelesaikan sedikit masalah di kantor mu, jangan terlalu merisaukan nya!"
" Di kantor jack? Apa yang terjadi di perusahaan Jk group? Kenapa jack tidak mengetahui apa pun?"
" Hah..., jadi kau tidak tahu? Salah satu orang kepercayaan mu telah mengkhianatimu, papa mu sedang mengatasi masalah ini."
Jack merasa menyesal mengabaikan kedua orang yang telah merawatnya dari kecil bahkan menyayanginya dengan sepenuh hati hanya karena kemarahan nya mengetahui identitas sebenarnya.
Jack menundukkan kepalanya, menyesalkan apa yang terjadi. Jack tak bisa membedakan mana urusan perusahaan dan juga pribadi. Rasa egonya yang tinggi sangat disayangkan hingga ia mengabaikan perusahaan nya demi kepentingan pribadinya.
Bersambung🙏😊
__ADS_1