Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Kapan mereka menikah?


__ADS_3

Papa Basuki dan Mama Julia telah kembali ke Singapura. Setelah seminggu lebih tinggal di Indonesia. Kevin juga sudah berbesar hati untuk menerima pernikahan Papa Basuki, barangkali dengan begitu. Kehidupan Papa Basuki akan lebih berwarna, setelah kepergian Mama Lusiana dan Kirana 6 tahun silam.


Kini Kevin dan Khaira sedang menyusuri jalanan pedesaan dengan laju motornya, tak terasa sebelas jam sudah mereka lalui dan sampailah di halaman sebuah rumah yang nampak asri.


Pepohonan yang rindang, tanaman hijau, serta kelopak bunga berwarna-warni. Menambah kesan sebuah permukiman yang betah untuk ditinggali.


"Assalamualaikum." sapa Khaira, didepan bengkel.


"Wa'alaikumussalam." jawab seorang Pria yang sudah renta pun mendongakkan kepalanya yang sejak tadi berkutat untuk memasang ban motor dari pelanggannya dan mengganti ban baru. Beliau terkesiap kala mendapati anaknya sudah berdiri di depan bengkel.


"Ning! Khaira Ningrum?" ucap Abah dengan raut wajah bahagia, Abah pun beranjak dari duduknya.


Melihat netra tua Abah berkaca-kaca membuat Khaira tak tega, lantas menghamburkan diri memeluk sang orang tua tunggalnya yang tangannya masih menghitam akibat berlumuran oli motor.


"Abah, Ning rindu berat sama Abah." ucap Khaira terharu, lalu mengurai pelukannya.


"Jangan rindu, rindu itu berat, biar si Dilan saja yang merangkul semua rindu." ucap Abah. Masih mengingat tontonan YouTube yang pernah Khaira tonton.


"Abah mah bisa aja." sahut Khaira, barulah ia menyalami tangan Abah, tak perduli tangan Abah yang hitam terkena oli.


"Aku juga nggak mau menanggung rindu, soalnya rindu itu bikin aku bengkel." imbuh Kevin yang sudah berdiri di belakang Khaira.


"Jengkel Mas?" timpal Khaira meralat ucapan suaminya.


"Iya-iya, bengkel- eh jengkel." balas Kevin, seraya mengulurkan tangannya di hadapan Abah.


"Tangan Abah kotor nak Kevin." ucap Abah, melihat uluran tangan Kevin.


Namun Kevin tidak mengindahkannya, dan tetap menyalami tangan Abah. "Ridho Allah, Ridho orang tua juga kan?"


Abah tersenyum hangat, melihat sikap sang menantu yang begitu sopan terhadap dirinya.


"Aish, kenapa kalian berdiri saja, Ning ajak suamimu masuk." ujar Abah.


"Iya Bah." balas Khaira, lantas mengajak Kevin dan melewati halaman rumah.


Ketiga orang yang sejak tadi berada di bengkel Abah tengah mengamati pembicaraan Abah, Khaira dan seorang pemuda asing. Ketiganya bertanya-tanya, saat Abah mengatakan suami Khaira. Padahal yang mereka tahu jikalau Khaira belumlah menikah.

__ADS_1


"Siapa tadi laki-laki yang bersama Ning Bah?" tanya salah seorang pelanggan bengkel Abah.


"Oh itu Kevin, suaminya Khaira." jawab Abah, lalu duduk kembali untuk memperbaiki sparepart motor.


Orang yang berada di bengkel Abah berjumlah tiga orang ini saling melempar tatapan heran.


"Kapan Khaira nikah Bah, setahu saya Khaira kan belum menikah?" Jamal bertanya pada Abah.


"Ningrum sudah menikah di kota, ceritanya panjang. Kamu ingat, saya seminggu lebih tutup bengkel, karena menjadi wali nikah putri saya." Abah menjelaskan sembari memasang ban motor.


"Kenapa nikahnya harus di kota Bah? Kenapa ndak nikah di sini saja?" Jamal bertanya lagi.


"Setahu saya juga, Ning kan nggak pernah mengenalkan seorang laki-laki manapun Bah. Kenapa tiba-tiba pulang dari kota bawa suami?" imbuh Petrik bersuara besar.


"Petrik, Ning menikah di Kota. Kalau saya ceritakan takutnya bakal terjadi kesalahpahaman." jawab Abah melihat Petrik dan Jamal.


"Apa jangan-jangan Ning hamil Bah?" kata Bahri menerka-nerka.


Bagai petir menyambar telinga, Abah mendengar fitnahan dari Bahri kemarahannya tersulut.


"Tapi kan, kebanyakan memang gadis desa pergi ke kota jadi rusak Bah?" timpal Jamal.


"Sudah-sudah, kalian ini laki-laki kan? Kenapa kalian malah menggosip!" sergah Abah geram. "ingat satu hal Jamal, Bahri, dan kamu Petrik. Laki-laki ataupun perempuan, di kota maupun di desa, siapapun yang melakukan tindakan tercela, itu merugikan diri mereka sendiri. Jadi tugas kita adalah? mencegah dari pada mengobati, yaitu menikah. Maka dari itu saya nikahkan saja anak perempuan saya, lagian di kota sana, Khaira Ningrum tidak tinggal sendirian, kalian paham?" sambung Abah berkata penuh dengan penekanan.


Mendengar suara Abah yang terdengar sangat marah membuat Jamal, Bahri dan Petrik mengangguk, dari pada nanti membangunkan sang jawara silat di kampung ini. Bisa berabe urusannya.


~~


Petang menjelang...


Abah tidak merasa kesepian lagi, kini ada putri semata wayangnya dan di tambah lagi seorang menantu. Meskipun belum lama Abah mengenal Kevin, akan tetapi Abah menganggap Kevin adalah orang yang mempunyai etika yang baik.


"Abah, saya boleh ikut sholat berjamaah di mushola?" tanya Kevin, kepada Abah hendak berangkat ke mushola untuk melaksanakan sholat Maghrib.


Abah yang baru keluar dari kamarnya sontak menatap Kevin, "Oh ya tentu boleh, malah pahalanya bisa berkali-kali lipat."


"Tapi Bah, saya nggak bawa sarung serta baju kokoh." kata Kevin, mengingat ia hanya membawa beberapa potong pakaian saja.

__ADS_1


"Ning, ambilkan baju serta sarung dalam lemari Abah, yang waktu itu kamu belikan, belum Abah pakai." pinta Abah pada Khaira yang sudah memakai mukenah.


"Iya Bah." sahut Khaira, ia pun berjalan ke kamar Abah, dan membuka almari. Lantas mencari sarung yang di maksud Abah, sarung warna hitam dengan corak batik dan baju kokoh putih tulang.


Netra Khaira melihat foto lawas di bawah tumpukan sarung yang ia ambil. Dan melihat sekilas foto seorang wanita sedang memangku anak kecil dengan kuncir dua, nampak bahagia duduk di atas becak. Foto lawas dirinya bersama dengan Ibu Purwasih.


Netranya berkaca-kaca melihat wanita yang sudah lama tidak ia jumpai, lima belas tahun lamanya. Khaira menggeleng, hampir enam belas tahun lamanya ia tak berjumpa dengan wanita yang telah melahirkannya. Suara Abah membuyarkan tatapan Khaira dalam menatapi wajah cantik Ibunya.


"Ning, ketemu ndak sarungnya?" suara Abah di ruangan tengah.


"I-iya Bah, ketemu." Khaira menyahut, lalu mengusap kedua matanya dengan tangan yang tertutupi mukena. Lantas mengembalikan foto lawas di tumpukan sarung Abah, dan bergegas keluar kamar Abah.


Khaira langsung memberikannya pada Kevin. "Ini Mas sarung sama baju kokonya."


Kevin menerima sarung dan baju koko yang diberikan Khaira. Sepintas ia melihat wajah sang istri yang nampak seperti menutupi kesedihan. Akan tetapi karena sudah waktunya untuk berangkat ke mushola, Kevin mengurungkan niatnya untuk bertanya.


Setelah berganti pakaian, Khaira dan Kevin berangkat ke mushola tak jauh dari rumah. Sedangkan Abah yang lebih dulu sudah berangkat ke mushola untuk mengumandangkan adzan magrib.


Namun ketika berjalan menuju mushola namanya juga kehidupan di desa, pasti ada saja orang-orang yang ingin tahu dan bergosip. Bahwa Khaira yang terlihat kalem pulang dari Kota dengan seorang Pria, tanpa mereka tahu kalau keduanya sudah resmi dan halal dimata agama dan hukum negara.


"Ra, pulang-pulang dari Kota kok bawa lelaki, kamu hamil yah?" kata salah satu Ibu-ibu, setelah selesai sholat, dan menghampiri Khaira yang baru keluar dari mushola.


Bukan Khaira yang menjawab, akan tetapi Kevin. "Doain ya Budhe, siapa tau istri saya beneran hamil."


"Ayo istriku." ucap Kevin lagi, sembari menggandeng tangan Khaira agar segera bergegas menuju pulang ke rumah.


Setelah Kevin dan Khaira menjauh, kedua Ibu-ibu bertanya-tanya dengan sebutan seorang pemuda yang disematkan pada Khaira.


"Istri?" kata Bu Sania.


Bu Wati juga bertanya-tanya. "Kapan mereka menikah?"


Khaira melihat sekilas Bu Wati dan Bu Sania sedang berbincang-bincang, tapi ia tidak kecewa jika Ibu-ibu itu membicarakan hal buruk tentangnya yang disangka telah hamidun, karena memang pernikahannya yang terbilang sangat misterius bagi masyarakat di desanya tinggal.


...~~...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2