
Stela memilih pergi ke rumah mertuanya yakni orang tua jack. Rasa kesal menunggu jack dan juga kecewa bahkan sedikit curiga karena perubahan sikap jack membuatnya sedikit merajuk.
Berbeda dengan ine yang terlihat tampak bersemangat bahkan rasa bahagia telah menyelimutinya. Bagaimana tidak? Suaminya memberitahu telah mengumpulkan putra dan putrinya petang nanti, dan ini saat yang tepat dimana ia harus mengenalkan stevi yang telah disembunyikan bryan maupun suami nya.
"Halo, nak. Nanti petang datang duluan ke rumah mana ya."
"Jangan beritahu suami mu."
"Mama tunggu lo, jangan terlambat!"
"Daa... , sampai jumpa nanti."
Ine mengakhiri sambungan telepon nya terlihat sangat bahagia. Senyum mengembang diwajah ine, namun berubah seketika saat melihat kedatangan sebuah taksi yang nembawa stela dan safa.
Dengan gerak cepat setengah berlari, ine menghampiri menantunya itu. Ine memang sangat menyayanginya apalagi semenjak kehadiran baby safa. Ine kebetulan berada di samping rumah berkebun, hal yang dilakukan nya saat waktu senggang.
"Stel..., kok nggak telepon mama kalau mau kesini?"
Ucap ine meraih safa dari gendongan nya, meskipun pakai hipseat tapi tetap saja sedikit keteter dengan barang bawaan baby.
"Mama bisa jemput kamu dan safa."
"Kenapa bawa rantang nasi segala? Nggak repot? Mama sudah senang kalian datang, nggak perlu rantang segala."
Stela diam tak menjawab perkataan mama mertuanya hanya tersenyum simpul terlihat kecut.
Melihat reaksi wajah stela, ine menyipitkan matanya sedikit curiga pada sikap menantunya tersebut.
"Tunggu..., tunggu. Kau tidak sedang bertengkar dengan suami mu kan stel?"
"Jangan katakan mama benar?"
"Tidak, ma. Stela tadi ke kantor mas jack, tapi tidak ada."
Ucap stela.
"Tadinya ingin makan siang bersama, tapi mas jack tak kunjung kembali ke kantor. Daripads nggak dimakan ya stela kesini saja."
Ine bernafas lega putra dan menantunya tak sedang dalam masalah.
"Masfkan stel, ma. Stel belum bisa cerita semua. Stel masih harus menyelidiki semuanya."
Gumam stela dalam hati.
"Syukurlah, mama lega mendengarnya. Ya sudah kamu makan saja, pasti belum makan. Mama baru saja makan siang."
Stela mengangguk tersenyum malu- malu membenarkan pernyataan mama ine.
"Baby..., papa tidak ada ya nak? Papa sedang ke luar kantor ya nak? Yasudah main sama oma saja."
Ine tampak senang dwngan kedatangan cucu nya, baby gembul itu menjadi penawar saat sedang ada kesedihan. Stela melahap makanan yang di buat bibi duduk disamping mertua nya kala sedang berbincang dengan safa.
"Stel, nginap sini saja ya. Mama kangen dengan kalian."
"Rumah ini terlalu besar, putra putri mama sudah berkeluarga semua."
"Adikmu dibawa juga suami nya, apalagi kalau jadi pindah ke sidney."
Ucap ine menghela nafas panjang.
"Gadis itu sering mana marahi, sekali balas dendam bikin nyesek mama."
"Hihihi..., mama ada- ada saja. Kan bisa berkunjung kesana, ma."
Stela terkekeh geli mendengar ine sedikit bercerita tentang adik iparnya.
"Iya, tapi harus menempuh perjalanan jauh. Kalau kalian tinggal diluar negeri semua,ama bisa gila merindukan kalian."
"Hahaha... ."
Tawa lepas stela terhenti saat melihat pemandangan yang aduhai di depan mata nya.Hingga ine mengikuti arah pandangan mata stela tertuju.
"Sayang, kakak tidak masuk ya. Kakak sudah terlambat."
__ADS_1
"Siapa suruh kakak ikut mandi bareng silla? Jadinya kakak terlambat."
"Hihihi..., mandinya bikin semangat. Apalagi ditemani istri."
Huk...
Ine menutup mulut stela yang ingin batuk mendengar percakapan absurd pasangan pengantin baru itu.
"Ih..., itu maunya kakak."
"Tidak. Maunya mama."
Ine menunjuk ke arah dirinya sendiri saat rafa menyebut namanya, sedangkan stela tercengang menatap sang mama mertua.
"Kok mama sih? Apa hubungan nya dengan mama?"
"Mama menginginkan cucunya segera hadir disini."
Ucap rafa menyentuh pelan perut silla.
"Hah..., silla kira kakak yang menginginkan nya ternyata karena mama."
Semula silla senang kalau rafa akan menjawab menginginkan daeah dagingnya segera tumbuh subur di rahim nya, tapi mendengar karena mama silla membalikkan badan nya pergi begitu saja dengan wajah murung.
Dua orang yang mengamati mereka secara seksama pun juga berubah ikut bersedih saling menyandar satu sama lain. Beruntung baby safa sedang tidur jadi rak membuat suara yang bisa mengacaukan semuanya.
Dengan gerak cepat rafa menarik pergelangan tangan silla yang tanpa persiapan jatuh ke dalam pelukan nya.
"Auw..., so sweet."
Guma stela lirih.
"Ssts."
Ine menyuruh stela diam agar tak menganggu atau terdengar mereka sedang menguping.
"Kau melupakan sesuatu."
"Tidak."
Rafa menunjuk pipinya sendiri yang memang menginginkan keromantisan.
"Kakak..., malu kalau sampai dilihat mbok ijah atau mama."
"Mau atau aku yang mencium bibir peach mu?"
Pikiran silla seketika oleng memikirkan perkataan rafa yang pastinya bukan ciuaman biasa. Eh..., kenapa pikiran silla berubsh menjadi mesum? Tidak, seperti biasanya rafa akan memanfaatkan kesempatan.
Mau tidak mau silla mencium pipi kanan rafa sesuai permintaan suaminya. Namun rafa dengan cepat menahan tengkuk silla mencium bibir peach miliknya memberi sedikit ******* dan gigitan kecil setelah itu tersenyum pergi begitu saja. Rafa membalikkan badanya menunjuk kan telunjuknya pada silla ysng masih tercengang dengan sikap rafa, yang pada akhirnya benar sesuai apa yang dipikirkan nya.
"Waow..., layar tancap ma."
Gumam stela lirih yang tak habis pikir dengan tingkah pasangan muda itu.
"Aaaa..., kakak."
Silla menggerakkan kedua kakinya menyadari kalau rafa tengah menipunya.
"Aku juga menginginkan nya, i love you my little wife."
Ucap rafa sebelum menghilang di balik pintu mobilnya.
"Menyebalkan, aku tertipu lagi."
Gumam silla yang masih diam membisu di tempat.
" Eh em..., sudah mesra- mesraan nya?"
Deg...
Degup jantung silla beroacu kencang mendengar suara yang tak asing, yakni mama nya. Silla berharap suara itu hanya mimpi, tak sanggup menahan malu kalau mamanya melihat apa yang tengah dilakukan suaminya.
Silla membalikkan badan nya ke belakang terkejut melihat mama dan kakak iparmya rupanya ada di samping rumah. Sedangkan stela menggerak- gerakkan kedua alisnya menatapnya dengan senyuman.
__ADS_1
"Mama..., kak stela..., sejak kapan ada disitu?"
Ucap silla berjalan menghampiri mereka.
"Hai..., baby safa kau sedang tidur ya?"
silla menoel- noel pipi gembul baby safa.
"Anak muda sekarang tak punya rasa sungkan, mentang- mentang sudah resmi jadi suami istri."
Ucap ine.
"Memangnya kenapa ma?"
Tanya silla pada mamanya, sedangkan stela melanjutkan makan nya.
"Tidak ada. Hanya nsnfinya ditemani istri jafi bersemangat."
Kata sindiran ine tepat menusuk jantung silla bahkan silla mengerutkan dahinya mendengar mamanya. Bukan tidak mungkin nereka telah lama berada disana dan menguping pembicaraan mereka.
"Ih..., mama seperti nggak pernah muda saja."
Silla memang punya seribu cara membakas mama nya.
"Dulu kak stela juga begitu. Ya kan kak?"
Giliran stela yang menjadi kambing hitam silla yang mengedipkan sebelah matanya pada stela. Stela tak mampu menjawab pertanyaan silla hanya nyengir tersenyum melanjutkan makan nya.
"Iya, terus sudah jadi keinginan mama? Lembur nggak?"
Ine semakin menjadi mempermainlan putrinya.
"Sudah. Sebentar lagi."
Jawaban ngawur silla bukan mendapat cemoohan mamanya, tetapi wanita paruh baya itu sangat bersemangat bahkan lebih girang.
"Benarkah? Senang nya mama dapat cucu lagi."
"Apaan sih ma."
Silla aedikit kesal dengan mamanya yag sengaja menggodanya. Stela tertawa mendengar nama ine yang secara sengaja menggoda silla.
"Ma..., papa ada masalah apa? Penting sekali."
"Enrahlah, mama kurang tahu."
"Ih..., mama berlagak jaga rahasia. Awas ya, nanti silla tak ijinin mama jenguk silla!"
"Tuh..., stel. Dengar sendiri kan?"
Stela tak membela siapa pun hanya tertawa lebar.
"Enak kak? Dimakan sendiri, silla tak ditawari."
"Masih ada kok, cukup buat gizi benih kecambahmu."
Rupanya stela ikut menggoda adik iparnya.
"Ih..., kakak."
Kesal dengan sikap mama dan kakak ipar nya silla beranjak berdiri menoel pipi safa dengan kasar.
"Eh..., eh..., jangan! Safa bisa ba."
Larangan stela tak berpengaruh pada silla yang bergerak sangat cepat.
Oek... oek... oek.
"Cup..., cup sayang. Unty nakal ya? Awas unty! Tunggu safa besar."
Ine mengayun- ayun safa mendiamkan baby gemoy itu. Sedangkan silla pergi begitu saja, masuk ke dalam rumah menuju kamarnya. Rasa lelah berperang dengan suaminya menyelimuti tulang- tulangnya yang terasa linu.
Bersambung😊🙏
__ADS_1