
Khaira mendengus kesal, tidakkah Kevin merasa dirinya salah? Atau memang pria di depannya memanglah tidak peka?
“Lagian mana ada suami yang mengurung istrinya sendiri selama tiga hari! Dasar sinting!” kesal Khaira akibat ulah Kevin yang mengurungnya. “Kan memang tujuan ku untuk datang ke kota karena-” diujung kata ia menggantungkan ucapannya tidak ingin keceplosan akan tujuan yang sebenarnya untuk datang ke kota ini.
Kevin dleming, ia menyadari kegalauan hatinya kemarin telah melupakan seseorang yang berada di rumah. Kevin merasa ucapan Khaira secara tidak langsung mematahkan rasa bangganya telah menjadi suami. Elah suami! Kapan ia benar-benar menganggap dirinya seperti seorang suami? “Emangnya tujuan lo apa datang ke kota ini?”
Khaira celingusan, namun sesegera mungkin ia menjawab, “Ya tentu aja buat kerjalah, masa buat jadi istri! Lagian kalau tujuan ku jadi istri, nggak perlu aku jauh-jauh ke kota, di kampung halaman ku, buanyak yang mengantri ingin melamar diriku cantik mempesona ini,” sebutnya penuh dengan kebanggaan.
Kevin mencebikkan bibirnya, melihat aksi laga mengibaskan tangan yang diperagakan Khaira, “Dih sombong! Sok cantik, sok laku!”
“Ya memang, memang aku ini cantik!” tukas Khaira menaik turunkan alisnya, “kata Abah ku.” ucapnya untuk pengakhiran kata.
Kevin dibuat geleng-geleng kepala melihat ekspresi Khaira yang jenaka, lalu beranjak dari duduknya, ia berdiri berjarak satu meter dari Khaira, “Memangnya lo udah tau, lo bakal naik angkutan apa? Nomor berapa? Dan turun dimana? Di sini kan angkutan beda dari yang ada di desa-desa! Itu setahu gue,”
Rentetan pertanyaan Kevin, membuat Khaira sadar, meskipun tiga hari lalu Mita sudah memberikan instruksi dan alamat tempat Mita menawarkan pekerjaan. Akan tetapi, Khaira memang tidak tahu apa-apa soal Kota ini, “Ya aku bisa kok tanya sama orang-orang di jalan,”
“Lo emang kagak tau sejahat apa Ibukota? Dari analisa gue, dari orok sampai segede kingkong ini. Gue menilai orang baik hanya 10 persen dari perbandingan 1000! Yang lainnya 0!” ujar Kevin, menjelaskan tentang kota kelahirannya.
“Emang iya?” Khaira meragukan perkataan Kevin.
“Coba aja lo buktiin sendiri! Coba lihat alamatnya?” tanpa ingin berdebat lama-lama, setelah melihat alamat yang di tunjukkan Khaira. Kevin pun berjalan ke arah kamarnya.
“Tunggu sebentar, gue mau cuci muka dulu.” telak Kevin, biar bagaimanapun juga, Kevin merasa ada tanggung jawabnya. Apalagi telah bersalah karena tidak sengaja sudah mengurung Khaira selama tiga hari di rumah.
Khaira melihat kepergian Kevin. Ia duduk kembali di sofa warna cokelat susu. Sembari berpikir, “Memangnya iya, di kota ini hanya ada 10 orang yang baik dari perbandingan 1000? Tapi kan walaupun cuma 10, tetep ada orang baik. Meskipun jumlahnya nggak sebanyak orang yang nggak baik.”
Sekian menitnya Khaira menunggu Kevin. Pria itupun telah siap untuk mengantarnya, dengan memakai kaos distro warna putih sebagai dalaman, dan kemeja panjang berbahan flannel yang tidak di kancing, digulungnya sampai ke lengan. Serta celana panjang hitam sedikit sobekan di kedua lututnya, menambah kesan cool. Tak lupa wajah Kevin yang rupawan membuat Khaira sekejap mata terkesima.
“Ahay Aku kenapa?!”gumamnya lirih. Khaira segera menyadarkan lamunannya untuk tidak menatap Kevin terlalu lama. Ia segera saja berdiri.
Kevin pun mengambil helm yang ada di atas lemari hias setinggi pusar. Spontanitas ia akan memakaikan helm di kepala Khaira. Namun gadis itu mundur selangkah.
“Kenapa?”tanya Kevin heran.
__ADS_1
“Aku bisa pakai sendiri, Mas Kevin nggak perlu semanis itu,” kata Khaira seraya menadahkan tangannya ke hadapan Kevin.
Kevin hanya bisa menghela nafas, dan memberikan helm yang ia pegang, kepada gadis dihadapannya, “Bukannya gue sok manis, hanya saja gue keinget ama mantan pacar gue!”
“Serah Mas Kevin, yang jelas jangan samakan aku dengan mantan pacar mu! Ingat, jangan sampai karena patah hati sampai melumpuhkan logika. Dan jangan sampai jadikan orang lain sebagai pelarian! Karena itu sadis!” tegas Khaira lalu mengambil helm dari tangan Kevin, lantas berbalik badan dan berjalan keluar rumah sambil memakai helm.
Kevin menyusul Khaira keluar dari rumah, tak lupa ia mengunci pintu. Kevin melihat kearah Khaira, gadis berhijab yang sudah berdiri di samping pagar teralis besi. Apa yang diucapkan Khaira memang benar. Sonia dan gadis itu jelas berbeda.
Mengapa ia masih mengingat tentang Sonia, apa karena lamanya hubungan dua tahun. Apa karena memang rasa cintanya kepada Sonia masih sangat dalam, hingga melupakan Sonia memerlukan waktu?
Hemm... entahlah, yang jelas apa yang Khaira katakan. Jangan sampai patah hati melumpuhkan logika adalah benar. Kevin lalu berjalan menuju motornya yang terparkir di garasi.
Khaira melihat Kevin akan keluar bersamaan motor sport, secara refleks membuka pintu teralis besi dan setelah Kevin berada di jalan ia kembali menutup pagar.
Melihat Khaira hanya memandanginya tanpa bergerak untuk membonceng membuat Kevin sedikit kesal, “Hey lo ngapain bengong! Ayo cepetan naik!” titahnya.
Khaira tersentak, ia melihat wajah Kevin di balik helm sport yang terlihat hanya matanya yang memiliki manik mata berwarna cokelat. Ia lantas membonceng, dengan perasaan kakuk.
Kevin pun mulai menjalankan laju motornya perlahan. Menyusuri jalanan ibu kota di pagi hari yang cukup padat.
Setelah melewati kemacetan dan keluar dari jalanan bebas hambatan, Kevin mulai melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Membuat Khaira terkejut dan serasa jantungnya seakan terlempar ke jalanan.
“Alamak!!!”seru Khaira, secara refleks karena takut terjatuh dari motor, Khaira mengalihkan pegangan tangannya dari jok belakang kini berpegang erat di pinggang Kevin serta membenamkan wajahnya di punggung pria yang sedang melajukan motor dengan kecepatan tinggi.
Sengaja atau tidak disengaja, Khaira mengutuki perbuatan Kevin yang selalu membuatnya senam jantung.
Kevin tersenyum puas! Melihat jemari tangan Khaira yang berpegang pada pinggangnya meskipun agak sedikit mencengkram perut dan terasa ada yang menggelitik.
Namun pada akhirnya cara ia mendadak menarik gas dengan kecepatan tinggi pun berhasil! Kevin manggut-manggut senang seolah ia sedang mendengarkan irama musik DJ yang biasa ia mainkan.
~~
__ADS_1
Sama halnya seperti pengguna jalan lain. Sonia sedang mengendarai mobil yang ia beli dengan harga terbilang cukup fantastis. Tentu saja cek yang diberikan Frans karena sudah memuaskan pria bongsor itu dengan pelayanannya yang menggetarkan seluruh jiwa raga, sampai menguras tenaga serta keringatnya.
Ia akhirnya bisa mendapatkan cek dengan nominal fantastis, tidak tanggung-tanggung lima ratus juta diterimanya.
Karena terbilang mobil baru seminggu dibelinya, Sonia tak ingin ngebut dan tak ingin membuat goresan di body mobil berwarna merah merona.
Pada saat ia mengedarkan pandangannya menatap jalanan depan. Mobilnya disalip oleh pengendara motor sport yang ia rasa tidak asing.
Setelah diamati dan dilihatnya plat nomor motor, memang benar pengendara motor sport yang tepat berada di depannya adalah pria yang dicintainya sampai hari ini juga ia masih menyisakan ruang dihatinya hanya untuk pria bernama Kevin Abimana.
“Kevin.” gumamnya, namun ada yang membuat hatinya teriris. Dilihatnya seorang wanita yang membonceng Kevin. Bukan hanya membonceng, namun wanita itu juga memeluk erat pinggang pria yang ia cintai.
Hatinya berkecamuk sedih, ada rasa tak menerima kenyataan dengan apa yang dilihatnya ini. Cemburu! Ya Sonia sangat cemburu melihat Kevin bersama dengan wanita lain. Selama dua tahun, ia mengerti bahwa Kevin sangat menjaga hubungan mereka.
Bahkan tak seorang wanita pun di izinkan oleh Kevin untuk membonceng motornya.
Siapa wanita itu? Mengapa bisa wanita itu membonceng Kevin yang anti terhadap wanita manapun. Kecuali diri Sonia.
Dan hanyalah Sonia seorang, tidak ada lagi wanita yang dibonceng Kevin.
Keningnya mengerut, ingin mencari tahu dan ingin membuntuti Kevin. Namun Kevin sudah berbelok arah ke kanan, sedang ia memasang lampu sen mobil ke kiri. Karena banyaknya pengendara lain yang membunyikan klakson. Akhirnya Sonia memang harus belok kiri menuruti lampu sen mobil yang ia nyalakan.
“Sial!” dipukulnya setir mobil, ia merasa sangat emosional melihat Kevin bersama dengan wanita lain.
“Gue harus mencari tau, siapa wanita itu?” gumam Sonia, netranya menatap lurus ke depan jalanan.
Bersambung...
__ADS_1
Terimakasih atas segala bentuk dukungan..