
Malam harinya Anto dengan sengaja menemui orang tua dari gadis yang dicintainya. Siapa lagi jika bukan Erik Laksamana. Awalnya perbicangan ini terasa sangat kaku dan menegangkan. Namun, seperti yang dikatakan oleh Beni sang ajudan kepercayaan Erik dan tak lain adalah Omnya sendiri.
Bahwa Beni menyarankan untuk membujuk dengan perkataan yang baik dan merendah diri saja ketika berhadapan dengan Erik, maka semua akan beres. Karena meskipun Erik memiliki sikap tegas dan terlihat galak, namun Erik sangat lembut hatinya.
Dengan maksud merendah diri bukan bermaksud seperti mengemis. Melainkan kesopanan jika berkata dengan Erik.
"Saya cinta sama Clara, saya tidak memandang siapa dia dan dari mana keluarganya berasal. Saya tulus mencintai putri anda Tuan, saya mohon maaf apabila hal yang telah saya lakukan adalah salah. Saya mohon maaf, tapi setidaknya berilah saya izin untuk bisa menjadi seorang ayah bagi anak saya.." Anto berkata dengan nada sangat lembut dan tulus. Sampai menetes air mata di pipinya.
Semula Erik tidak ingin melihat Anto, si pria bajingan yang telah melakukan hal bejad terhadap anaknya. Akan tetapi nasi sudah menjadi bubur, mau tidak mau bubur itu memang harus dimakan. Dan anak yang ada dalam kandungan Clara juga membutuhkan figur seorang ayah.
"Bekerja keraslah untuk menghidupi cucu ku. Karena aku tidak akan memberikan mu se'sen pun uang ataupun pekerjaan kepadamu. Maka kamu harus berusaha sendiri untuk membahagiakan putri ku."
Setelah berkata demikian, Erik meninggalkan ruangan tempat Beni mengatur untuk bertemu dengan pria yang telah menghamili putrinya.
Anto tergelak ia melihat kepergian Erik, apakah jawaban tadi, menandakan ia disetujui untuk menjadi pendamping Clara? Entah mengapa Anto sangat senang.
~~
Erik bertemu dengan Beni di luar gedung club yang sudah tidak terpakai tepatnya di parkiran club', netra tuanya menatap sang ajudan kepercayaannya tajam. Menghampiri dan memukul perut Beni cukup keras.
"Berani-beraninya kau telah memperdaya ku jika gedung ini akan di jual Ternyata itu akal balasmu untuk aku menemui si bedebah itu?" Erik berkata dengan nada tinggi.
Beni menundukkan pandangan, "Maafkan saya tuan, saya hanya ingin anda menemui Anto untuk segera menyelesaikan masalah tentang putri Anda, gedung ini adalah gedung yang akan dijadikan usaha tempat Anto merintis bisnis, dan pemuda itu sepertinya bersungguh-sungguh mencinta putri anta tuan. Maaf apabila saya telah lancang."
Erik melihat Beni yang bertekuk lutut dihadapannya sembari menangkupkan kedua tangan di depan dada, ia lantas mendekati sang ajudan. Bukan untuk menghajar, melainkan untuk menepuk pundak Beni.
"Terimakasih selama ini telah setia padaku." kata Erik lalu pergi dari hadapan Beni menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana.
~~
Seorang gadis dengan potongan rambut sebahu, sedang duduk di depan meja rias. Ia memandangi dirinya yang nampak sayu, dalam beberapa hari terkurung di rumah. Ia sama sekali tak melihat matahari, membuat kulitnya pucat seperti mayat hidup.
Ponselnya berdering, membuyarkan lamunan yang sejak tadi mengitari otaknya. Siapa lagi yang ia bayangkan jika bukan Kevin dan nasib bayi yang ada di rahimnya. Tanpa melihat siapa si penelepon, Clara mengangkat ponselnya.
"Halo?" ucapnya setelah panggilan tersambung. Clara mendengarkan suara seorang pria yang menjawab, sapaan Clara.
^^^π±"Ayo kita bertemu, aku kangen kamu."^^^
Clara membulatkan matanya sempurna, melihat dirinya di pantulan cermin, ia menjauhkan ponsel dari telinganya, dan nomor tidak diketahui telah meneleponnya.
"Siapa ini?" Clara bertanya dengan nada sedikit membentak.
^^^π±"Siapa lagi kalau bukan ayah dari jabang bayi yang ada di rahimmu." jawab seorang pria tidak lain tidak bukan adalah Anto.^^^
"Anto?" Clara berseru seraya berdiri, "dari mana lo tahu nomor gue?" tanyanya tidak ramah.
^^^π±Dari sambungan telepon Anto menjawab pertanyaan Clara dengan nada santai, "Nggak penting aku tahu darimana nomor ponselmu. Jangan persulit hidup mu Clara, akulah ayah dari jangan bayi yang ada di rahim mu, jadi akulah yang akan menikahimu. Dan Papa Erik juga sudah menyetujui kita untuk segera menikah."^^^
__ADS_1
"Jangan mimpi Anto! Gue bisa melahirkan dan merawat anak gue seorang diri tanpa adanya lo si bajingan yang sudah merebut keperawanan gue dengan sangat biadab!" Clara berkata geram, ia sangat-sangat kesal dan kecewa Anto telah meninggalkannya pada malam penuh hasrat dua bulan lalu. Seolah ia sama seperti wanita ******.
^^^π±"Kalau begitu, aku tunggu di taman dekat rumahmu. Dah sayang..." Anto memtuskan sambungan telepon secara sepihak.^^^
Clara menegaskan rahangnya, ia sangat kesal dan jengkel atas tindakan Anto. Ia juga sakit hati telah dicampakkan Kevin. Dilihatnya layar ponsel yang mati, menggenggamnya erat.
"Awas kamu Anto, Kevin! Kalian berdua telah membuatku seperti sampah!"
~~
"Cla!" panggil seorang Pria bertubuh tegap, kepada gadis yang kini tengah berdiri di samping pohon bunga Alamanda, bunga yang memiliki warna kuning keemasan dan bentuknya seperti terompet.
Clara mendengarkan panggilan Anto dengan sangat jelas, bahkan derap langkah Anto semakin mendekatinya. Namun Clara memilih diam saja. Alias masih sama pada posisinya memandangi bunga yang nampak sangat indah.
"Clara." Anto kini sudah berdiri di samping Clara, ia melihat wajah gadis pujaannya dari samping.
"Cepat ada apa lo mau menemui gue di taman?" Clara berkata dengan nada jutek.
Seketus apapun ucapan Clara, bagi Anto adalah seperti nyanyian Rosa. Yah, cinta memang buta, "Aku tahu beberapa hari ini kamu nggak keluar rumah, makanya aku memintamu untuk datang ke sini. Bagaimana indah bukan langit di kala senja?"
Anto memandangi sang mega yang berwarna tembaga dengan semburat jingga.
"Semanis apapun ucapan lo, nggak berarti apapun bagi gue!" kali ini Clara mengalihkan atensinya, ia menatap Anto sinis.
Anto menatap Clara nanar, seikat bunga mawar putih ia tunjukkan dari balik punggungnya. Khusus ia beli di pertokoan sebelum bertemu dengan Clara.
Anto menatap mawar putih yang ada dalam genggamannya, "Ada yang bilang kamu suka mawar putih."
Clara membuang tatapannya, ia kembali menatap bunga Alamanda, "Siapa orang dalem rumah gue yang pekerja sama, sama lo buat mencari informasi tentang gue?" Clara menjeda ucapannya, sekilas ia menatap Anto dan kembali melihat bunga Alamanda kuning keemasan yang nampak cantik, "apa kedua pembantu gue? Atau para ajudan Papa?"
Glek... ternyata Clara dapat membaca pergerakannya. Anto mengalihkan pembicaraan, "Cla, kenapa kamu seperti ini, tidak bisakah kamu melihat ku, tidak bisakah kamu membuka hatimu. Cla, Tiap hari aku telah mati karena menantimu. Aku minta maaf, saat itu aku benar-benar kalut dan meninggalkan mu,"
Clara diam membisu.
"Cla lihat aku, kamu hanya perlu melupakannya, apa yang kamu mau Cla?" Anto membujuk dengan kata-kata halus selembut sutra, ia tidak tahan sampai kapan pikiran dingin Clara membatu, tiada pernah melihat bahagia yang seakan semu.
Clara mengalihkan pandangannya, menatap Anto yang masih dengan setia menjadi tawanan hati dan budak cintanya. Ia pun berpikiran picik. "Kenapa gue nggak memanfaatkan Anto saja, toh dia yang mau!"
"Clara..?" Anto bersitatap dengan sorot mata Clara yang dingin.
"Singkirkan wanita berhijab yang selalu menempel pada Kevin?" kata Clara menguar begitu saja.
Anto memicingkan mata ditatapnya Clara yang sedang mendekapkan kedua tangannya di depan dada. "Kamu ingin aku melenyapkan wanita itu, dan setelah aku berhasil menyingkirkan dia, apakah kamu akan merajut kasih sama Kevin, kamu pikir Kevin akan mau bersamamu? Lalu, aku lah yang akan bertanggung jawab dan membusuk didalam penjara?β
Analisa Anto, pikirannya sudah melayang-layang, konsekuensi yang akan ia dapat dari permintaan Clara.
Clara hanya tersenyum menyeringai, "Kalau lo mau, lo bisa menyingkirkan Kevin juga."
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang kamu pikirkan, agar membuat hatimu puas?" kata Anto, masih tidak mengerti apa kemauan Clara.
Clara tidak menjawab pertanyaan Anto, ia memalingkan wajahnya, menatap bunga Alamanda, "Haruskah aku mati terlebih dahulu, baru aku merasakan kepuasan, hm?"
Mendengar perkataan itu, Anto langsung menarik Clara. Dalam sekejap gadis ini telah masuk kedalam dekapannya. "Jangan berkata tentang kematian."
Bersambung
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
\[Perhatian, jika berkenan silahkan mampir juga ke karya baru saya di bawah ini, sekuel dari **Presdir Cilok** season 2, berjudul **Kesabaran Hati Wulan**\]
Membina hubungan rumah tangga agar tetap harmonis itu tidak bisa dikatakan mudah. Ada berbagai kerikil yang bisa mengganggu hubungan kapan saja. Oleh karena itu, menjaga hubungan pernikahan sekuat mungkin sudah menjadi kewajiban bagi setiap pasangan.
Rumah tangga tidak hanya dijalani dengan cinta, tapi juga akal sehat. Dan Rumah tangga adalah ladang pahala bagi setiap orang yang mau bersabar dengan pasangannya.
Semula pernikahannya baik-baik saja, terbilang sangat harmonis. Wulan seolah menjadi wanita paling beruntung di dunia, menikah dan merasakan begitu banyak cinta dan kasih sayang dari seorang suami bernama Damar.
Tapi sekarang lain, ada yang lain dalam diri Damar. Seolah suaminya itu bukanlah orang yang sama. Seseorang yang dinikahinya hampir setahun lalu. Inikah hal dimana Kesabaran Hati Wulan sebagai seorang istri benar-benar di uji, bahkan dalam kondisinya yang sedang hamil besar.
Apakah kesabarannya akan mempunyai batasan, atau kesabaran memang tak terbatas.
**Dalamnya lautan masih bisa di ukur. Tapi dalamnya hati seseorang tidak bisa di ukur oleh apapun. Kendati memakai alat Poligraf**.

__ADS_1