Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Semangat pagi


__ADS_3

Sang mentari kini telah menampakkan diri. Semangat pagi, semangatkan menyambut hari.


Khaira sengaja menyibakkan tirai-tirai jendela yang berwarna cokelat tua lalu membuka jendela agar udara sejuk di pagi hari membawa semangat untuk terus melangkah maju, menapaki dunia yang seringkali menyajikan sebuah tantangan untuk menguji iman dan kesabaran.


Ia sangat semangat di pagi hari ini, inilah untuk untuk pertama kalinya ia merasa bersemangat di kota. Hari ini Kevin pulang, secara otomatis ia juga akan pergi bekerja dan menghasilkan pundi-pundi rupiah.


Bukan hanya itu, obrolannya dengan Asep juga membuatnya lebih baik. Meskipun tidak menceritakan tentang permasalahannya di kota ini, namun Asep selalu memberikan semangat untuknya.


Setelah membersihkan hampir semua ruangan kecuali kamar Kevin dan di kamar lantai atas. Kini Khaira sedang berdiri di depan kulkas. Namun, ia harus menghadapi hal yang satu ini.


Seperti halnya di empat hari ini, ia bingung tidak ada yang bisa di jadikan sarapan pagi. Menghela nafas panjang, membuatnya menjadi lebih sabar.


“Tuh orang emang nggak pernah makan di rumah? Masa kulkas sampai bersih-sih. Hanya di colok aja, ngabisin duit buat bayar listrik, mending di jual aja tuh kulkas!” Khaira ngedumel sendiri, ia heran mengapa Kevin tak mengisi makanan apa pun di dalam kulkas yang memiliki dua pintu dan cukup besar pula.


“Apa dia kebanyakan duit buat bayar listrik?” Khaira mengganjal perutnya dengan teh hangat yang ia buat.


Setelah sarapan ala kadarnya, bahkan bukan ala kadarnya, tapi memang tidak ada makanan yang bisa di makan kecuali mie instan. Ia pun berjalan ke ruang tengah yang juga sekaligus menggabungkan kamar utama alias kamar Kevin dan kamar kedua kamar almarhumah Mama dari Kevin.


“Mana sih tuh orang nggak keluar-keluar kamar, inikan udah jam delapan. Mana hari ini, hari pertama ku kerja, kalau sampai aku telat, bisa-bisa aku di pecat sebelum aku membawa nampan ke pelanggan!” Khaira merasa geram melihat pintu kamar Kevin.


Untung saja hari ini Kevin pulang, jadi ia sudah bisa beraktivitas. Dan tidak perlu sampai mendobrak pintu.


“Bagaimana pun juga kan aku harus berpamitan sama dia, dia kan pemilik rumah. Dan nggak baik main nyelonong aja!”


Khaira mondar-mandir bak setrika'an. Sambil melipat tangannya di depan dada, ia pun berjalan ke arah jendela. Terlihat sepi di luar. Ia kembali lagi ke depan kamar Kevin. Merasa sangat penasaran karena pria itu tak kunjung keluar.


Ia pun mengangkat satu tangannya yang ia genggam hendak mengetuk pintu kamar Kevin, namun ragu-ragu ia lakukan. Alhasil karena merasa kesal, Khaira pun mendekatkan wajahnya ke pintu kamar, dan menempelkan telinganya ke pintu.


Tepat sekali pintu terbuka dan membuat Khaira terhuyung ke depan lalu terjatuh ke lantai kamar Kevin.

__ADS_1


“Alamak!” seru Khaira merasakan badannya melayang dan menghantam lantai.


Kevin terkesiap atas keberadaan Khaira yang tiba-tiba muncul, “Oi, ngapain lo di situ?”


Khaira bangkit berdiri mengusap siku serta pipinya yang menghantam lantai cukup keras, ia mencebikkan bibirnya menatap Kevin sinis, “Ck! Ah Mas Kevin, kalau buka pintu tuh bilang-bilang dong!”


“Ya habis salah lo sendiri, ngapain di depan pintu kamar gue. Mana gue tau kalau elo lagi ngintipin gue, nyium lantai kan tuh wajah, kalau gue yang cium lo pasti marah-marah sama ngomel-ngomel, hahaha..”Kevin mengangkat bahunya tak acuh. Ia nyelonong keluar dari kamarnya masih dengan kekehan kecil. Lalu berjalan menuju dapur, ia melihat teko bening berisikan teh di meja makan.


Khaira mengikuti kemana langkah Kevin, masih dengan tangan yang mengusap pipinya, “Ih enak aja aku ngintip! Lagian tuh Mas Kevin kenapa nggak keluar-keluar dari kamar, kan aku mau pamit berangkat kerja, ini kan hari pertama ku kerja loh Mas Kevin, aku kan nggak boleh telat, tapi gara-gara nungguin Mas Kevin buat keluar kamar, aku jadi rada kesiangan!”


Khaira ngedumel sepanjang jalan ia membuntuti Kevin, dan berdiri berjarak satu setengah meter dari Kevin yang berdiri di menghadap meja makan.


“Ini teh lo yang bikin?” tanya Kevin menunjuk teko bening, dan langsung diangguki Khaira.


“Oh,” Kevin mengambil gelas di lemari dapur. Akan tetapi sebelum menuangkan teh, ia bertanya kepada si empu yang membuat teh, “ini teh nggak di campur racun kan?”


Masih menahan sakit di pipinya, Khaira masih harus menahan amarah, ia mencebikkan bibirnya, “Ck! Udah gila apa? Walaupun aku belum sepenuhnya se-Solehah seperti Siti Khadijah alaihi salam, tapi aku nggak bakal begitu mudah memberi racun!”


Dengan menahan kesal, Khaira merebut teko bening yang masih dipegang Kevin, lantas menenggaknya langsung dari teko.


Kevin tercengang melihat aksi brutal yang dilakukan Khaira, “Hey, hey lo udah gila? Lo bisa kesedak kalau cara minum lo kaya itu, apalagi langsung dari tekonya!”


Khaira menaruh teko di meja sedikit kasar, sampai menimbulkan suara yang ditimbulkan meja dan teko. Ia mengusap mulutnya dengan tangan kanan.


“Puas!” Khaira lantas berjalan kearah ruang tamu lalu duduk di sofa dengan mendekapkan kedua tangannya di dada. “Udah capek-capek beresin rumah, niat baik malah dianggap salah. Memang serba salah hidup ku ini, tadi subuh dia melow, paginya dia kaya gendruwo! Dasar cowok aneh! Arogan! Nyebelin! Selalu bikin kesel!”


Masih di dapur, Kevin menghela nafasnya sedetik kemudian menggeleng heran atas sikap brutalnya dari gadis yang kali ini memakai hijab warna navy dipadukan kemeja bercorak kotak-kotak serta celana panjang agak longgar warna hitam.


Ia pun melihat teko yang masih tersisa sedikit air teh hangat, tanpa rasa jijik meskipun baru saja ditenggak oleh Khaira. Kevin menuangkan air teh kedalam gelas, dan meminumnya sampai tandas.

__ADS_1


Setelah meminum teh yang di buat Khaira, ia teringat ucapan istri dadakannya yang akan pamit untuk pergi bekerja. Kevin segera menyusul Khaira ke ruang tamu.


“Lo tadi bilang apa? Lo mau pamit berangkat kerja?”


Khaira enggan menanggapinya, masih dalam mode kesal.


Kevin pun duduk tepat di samping Khaira yang menampakkan mimik wajah bermuram durja, “Hey lo-” kalimatnya menggantung kala melihat Khaira sudah berdiri.


“Aku berangkat kerja dulu, salim!”ujarnya seperti anak SD yang akan berpamitan dengan Bapaknya bersamaan mengulurkan tangan kehadapan suami dadakan. Ia juga merasa canggung jika duduk sedekat itu dengan Kevin.


Kevin melihat wajah Khaira dan beralih melihat punggung tangan Khaira yang berwarna kulit tidak putih tidak pula hitam, persisnya kuning langsat, “Gue, anter!” ucapnya menawarkan diri.


Khaira yang masih kurang begitu jelas mendengar suara Kevin pun, bertanya, “Kenapa, Mas Kevin?”


"Gue anter lo berangkat ke tempat kerja,” kata Kevin lagi.


Khaira mengibaskan tangannya.


“Nggak usah, aku bisa berangkat kerja sendiri,” keukeuh Khaira, menolaknya.


“Lagian kenapa lo mesti capek-capek kerja? Kan lo tinggal minta sama suami lo ini?” tukas Kevin seraya menunjuk dadanya dengan bangga.


“Suami Bapakmu!”ketus Khaira, mematahkan anggapan Kevin yang seolah-olah sudah menjadi kepala keluarga yang sesungguhnya.


“Ya elah marah-marah mulu jawabnya?” kata Kevin.



__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2