Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Hanyalah formalitas


__ADS_3

Ungkapan Khaira yang baru saja terlontar nyatanya berbanding terbalik dengan apa yang dilontarkan Kevin.


“Oke, gue bakal nikahin nih Cewek.” ungkap Kevin, netranya bertemu pandang dengan netra gadis yang baru ia ketahui bernama Khaira.


Telinga Khaira seolah berdengung, saat mendengar suara tegas dari seorang pria asing yang duduk berhadapan dengannya. Darimana asal keberanian itu? Mengapa dengan gamblangnya lelaki itu akan menikahinya? Apakah hanya karena ingin terbebas dari hukuman cambuk? Ataukah hanya kasihan? Entahlah, Khaira seolah tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Saat ia mencoba untuk ikhlas menerima hukuman cambuk, justru pria asing itu malah menawarkan diri untuk menikahinya.


Khaira tersenyum sinis menatap pria yang bernama Kevin. Ia menyangsikan ucapan pria itu, “Apa menurut kamu aku butuh dikasihani hah? Apa menurut mu pernikahan hanyalah sebuah lelucon?”


Kevin berkecil hati telah mengajukan diri untuk menikahi gadis itu. Seorang gadis yang bernama Khaira. Mengapa tatapannya seolah ingin menguburnya hidup-hidup! Ia mengalihkan pandangannya dari Khaira dan menatap Bapak-bapak yang berada di sekitarnya.


“Biar saya bicara sebentar dengannya Pak, saya rasa kami perlu sedikit berdiskusi,”tukas Kevin menunjuk Khaira dengan dagunya.


Pak Lurah pun memberikan izin bicara kepada Kevin, agar keduanya berdiskusi sebelum dijatuhi hukuman.


Pak Wahyu dan istri selaku pemilik rumah mengarahkan tempat disalah satu ruangan rumahnya guna Khaira dan Kevin bicara, tentu saja keduanya di dampingi oleh Pak Wahyu dan Umi Lasmi juga Mita.


Saran dari Pak Wahyu dan Umi Salma lebih baik menghindari hukuman cambuk yang bisa saja membuat malu dan trauma seumur hidup. Tanpa mengintimidasi Khaira maupun Kevin agar menikah saja. Karena keputusan yang mutlak ada di tangan Kevin dan Khaira.


“Menikah saja Nak Khaira, kamu akan menyesalinya jika kamu bersikeras untuk menerima hukuman cambuk.” saran Umi Lasmi.


“Bapak juga menyarankan begitu Nak Khaira, Bapak merasa kamu tidak bersalah. Maka dari itu menikah saja dengan nak Kevin, dan setelah itu terserah sama kalian, berpisah ya monggo, dilanjutkan ya monggo! Syukur-syukur kalau pernikahan kalian bisa bertahan lama, sampai kalian punya anak dan cucu,” ujar Pak Wahyu, turut mendoakan Khaira dan Kevin.


Tanpa sabaran Kevin berusaha meyakinkan Khaira, “Terserah lo dah, kalau elo mau di hukum cambuk. Kalau gue mah kagak, lagian gue janji, kagak bakal nyentuh lo secuil pun kalau elo mau nerima tawaran gue! Secara gue kan udah berbaik hati!”


“Eh bambang! Ini juga salah elo yang udah salah masuk kamar! Kalau elo kagak disini, masalah ini juga pasti kagak bakalan terjadi!”dengan kesalnya Mita melihat sinis Kevin.


“Udah diem bae lu ah, gue juga masih bingung kenapa gue bisa ada di sini?” sergah Kevin.


“Sudah-sudah ributnya!” kata Umi Lasmi melerai pertikaian antara Kevin dan Mita.


Dan menurut Mita pun sama, karena ia pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri. Seperti apa hukuman cambuk itu, sangat di sayangkan jikalau Khaira harus menanggung malu seumur hidupnya, di cambuk dan di arak keliling kampung,“Udah nikah aja Ra, setelah itu lo bebas dah! Tanpa nanggung malu!”


Khaira terdiam sambil memilah-milah keputusan mana yang terbaik untuk dirinya, menanggung malu atau menerima begitu saja menikah dengan pria asing di depannya. Ia melihat keempat orang dihadapannya secara bergantian.

__ADS_1


Khaira menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, dengan mengucap basmalah dalam hati, ia akhirnya memutuskan; “baiklah aku mau menikah dengan mu. Tapi ingat dengan ucapan mu tadi, jangan pernah menyentuhku!” ia menunjuk Kevin dengan dagunya.


“Oke! Nggak masalah, karena lo memang bukan tipe gue, dan lagian pernikahan ini juga hanya formalitas.” jawab Kevin dengan gampangnya.


Mita, Pak Wahyu, Umi Lasmi dan Kevin cukup merasa lega.


Kevin merasa mungkin ada alasan tertentu yang membuat gadis ini berpikir lamban untuk bisa menerima tawarannya.


Diskusi pun telah usai. Khaira, Kevin, Mita, Pak Wahyu berserta istrinya pun kembali ke ruang tamu yang di penuhi oleh sebagian masyarakat sekitar.


“Keputusan yang kami ambil adalah menikah!” ungkap Kevin, ragu tidak ragu. Mantap tidak mantap, inilah solusi terbaik. Daripada di arak keliling kampung sambil beertelanjang.


Beberapa warga pun berseru menyatakan bahwa memanglah harus ada keputusan dari kejadian ini. Agar terus berlangsung tradisi ini di kehidupan selanjutnya.


~


Pernikahan yang tentu tidak terbayangkan, dan juga bukan yang Khaira inginkan akan segera terlaksana. Apalah daya, meskipun sebelumnya telah menyatakan kesediaannya menerima hukuman cambuk, tapi sebenarnya juga bukan keinginannya. Ia juga tidak ingin merasakan hina, di cambuk dan di arak keliling kampung. Karena ini bukanlah kesalahannya!


Dalam benaknya, pernikahan ini hanya sebagai formalitas saja di hadapan warga di daerah Mita ngekost. Khaira, mencoba untuk berpikir positif thinking, bahwa semua jalan hidup yang ia lalui, pasti ada maksud dan tujuan yang ingin di ajarkan padanya tentang arti sebuah kesabaran.


Masih menunduk lusuh, Khaira menjawabnya, mengingat Abah. Membuat hatinya seakan remuk,


“Tolong jangan beritahu orang tua saya. Karena yang Abah tahu, saya bekerja di kota. Bukan karena saya tidak menginginkan Abah tau tentang putrinya yang beberapa saat lagi akan menikah, tapi saya hanya tidak ingin Abah mengkhawatirkan saya!”


Menahan air mata agar jangan sampai menetes di pipi. Dalam relung hatinya, ia sangat bersalah terhadap orang tua tunggalnya. Tentunya karena Abah menginginkan melihat putrinya menikah. Tapi bukan cara seperti ini! “Maafkan Ning Abah.” monolog Khaira dalam hati.


“Tentunya usulan Khaira yang menjadi saksi pernikahannya boleh di wakili, akan tetapi masih berhubungan darah. Seperti Paman atau kerabat dekat keluarganya. Lebih baik jika ada yang tinggal di daerah sini.” kata Pak Wahyu.


“Tunggu sebentar Bapak-bapak, Ibu-ibu. Saya akan bertanya terlebih dulu pada Khaira,” ujar Pak Ustadz, beliau lantas melihat Khaira, “Nak Khaira, nak Khaira sedang tidak hamil bukan?”


Khaira tentu saja terhenyak atas pertanyaan dari pria yang memakai peci yang biasa digunakan untuk sholat, “Tentu saja tidak Pak Ustadz! Pacaran aja saya belum pernah, apalagi sampai hamil di luar nikah!”


Ungkapan Khaira nyatanya mendapatkan cibiran pedas dari beberapa orang-orang di sekitarnya.

__ADS_1


“Saya hanya ingin memastikan bahwa pernikahan bisa dilaksanakan asal nak Khaira sedang tidak hamil. Mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah berpendapat bahwa menikahi wanita yang dalam keadaan hamil akibat berzina dengan laki-laki lain hukumnya haram. Dan keharaman ini berlaku mutlak, baik kepada laki-laki yang menghamilinya, atau ayah si bayi, dan juga berlaku kepada laki-laki lain.” jelas pak Ustadz menerangkan.


“Karena sudah jelas mari kita lanjutkan prosesnya,” kata Pak Tantowi.


“Mita, panggil saja orang tua mu yang tinggal di luar dari daerah ini. Secara salah satunya masih sedarah dengan orang tua nak Khaira,” kata Pak Wahyu yang mengenal dekat terhadap orang tua Mita.


Mita mengangguk, ia mengusap pundak Khaira, dan berbisik tepat di telinga sepupunya; “Tenang saja Ra, lo pasti bisa melewati cobaan ini dengan mudah!”


Khaira melihat Mita, ia menghembuskan nafasnya.


Mita pun pergi untuk menuju kosannya, guna menghubungi kedua orangtuanya yang berada di luar Kota, tempat Mita menyewa kost, jadi tidak butuh waktu lama untuk orang tua Mita menjadi saksi wali nikah Khaira.


“Dari pihak laki-laki juga diperkenankan memanggil saksi nikah, biar kami percaya bahwa kalian nantinya tidak akan mempermainkan pernikahan ini,” ujar Pak Somad kepada Kevin.


“Dikarenakan orang tua saya sedang di luar negeri, saya akan memanggil Abang saya kesini. Tapi bisakah tolong pinjaman saya ponsel?” jawab Kevin.


“Silahkan gunakan ponsel saya,” Pak Wahyu mengulurkan ponselnya yang jadul kepada Kevin.


Bagi Kevin ini sangat mudah. Toh, setelah ini ia bisa dengan mudah mengakhiri hubungan yang terjalin akibat kesalahpahaman ini.


Menunggu selama kurang lebih dua jam, akhirnya para saksi nikah pun berdatangan. Kedua orang tua Mita yang akan menjadi saksi Khaira dan seorang laki-laki yang akan menjadi saksi Kevin.


Tentu saja para saksi ini terkejut mendengar kabar yang di sampaikan oleh pihak keluarganya masing-masing. Namun, tetap harus hadir karena ini bukan masalah sepele.


Kevin telah berganti pakaian kemeja warna putih yang dibawakan oleh sang Abang. “Anjir! Gue kaya mau nikah beneran Bang Andi!” ucapnya pada sang Abang, ia berganti pakaian dengan ditemani Abangnya di kamar kosong Pak Wahyu.


“Udah diem bae lu! Lu kan emang mau nikah beneran dodol!”sergah Andi turut membantu mengancingkan kemeja adiknya. “Lu masih punya hutang penjelasan sama gue!”


Kevin menatap Abangnya, ia tersenyum tipis. “Tenang gue pasti jelasin!”


Andi menggeleng heran, bisa-bisanya adiknya ini membuat masalah segempar ini.


Sementara itu Khaira hanya memakai setelan abaya warna dusty pink bermotif yang memiliki warna pink kalem, dan hijab segitiga warna senada. Yang ia bawa dari kampung. Ia benar-benar tidak menggunakan make up. Dialah seumpama pengantin yang memang tidak dirindukan, dan pernikahan ini memang dadakan.

__ADS_1


~~


Bersambung


__ADS_2