Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Pahlawan kesiangan


__ADS_3

Di dalam kamarnya, Kevin bimbang sekaligus bingung, dan tidak tahu apa yang harus ia ungkapkan. Mencoba mengingat. Kenapa? dan bagaimana caranya? Ia bisa berada di kamar kos-kosan yang dimana ada gadis bernama Khaira.


Kevin benar-benar bingung dari mana asalnya kekacauan yang ia sebenernya pun tidak tahu? Dan siapa yang sudah menjebaknya ke dalam permainan licik ini, atau mungkin ini salah jebakan?


Yang Kevin ingat sekilas, ia baru saja tiba di depan diskotik, tiba-tiba saja ada yang memukul punggungnya dari belakang, dan ia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.


Sampai dimana, pada saat keesokan pagi yang masih petang, ia terbangun dan tidak memakai baju juga di kerumunin warga, seperti lalat yang mengerumuni bangkai mati.


Sedikit rasa iba kala melihat wajah gadis bernama Khaira. Sekilas gadis itu mirip Almarhumah Mama, yang meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat enam tahun silam, kecelakaan maut yang juga merenggut adik perempuannya.


Sebenarnya Kevin juga bukan yatim piatu, ia masih mempunyai Papa, yang sedang kasmaran terhadap istri mudanya di Singapore. Asli ia tidak habis pikir terhadap Papanya, apakah memang segampang itu Papa melupakan Almarhumah Mama.


Hehh entahlah!


Kala melihat seorang wanita yang harus mendapatkan hukuman atau ketidakadilan, maka ia akan teringat pada almarhumah Mama.


Kevin merasa, ia bukan seorang pria gentle. Jika membiarkan gadis itu menanggung hukuman, kalau memang benar gadis yang baru dikenalnya tidak bersalah dari apa yang dituduhkan oleh warga.


Ia mengira-ngira sekilas gadis yang bernama Khaira ini masih cukup polos. Karena pekerjaan Kevin yang membuatnya memahami beberapa perangai wanita. Dari yang nakal, sampai yang ho'ya-ho'ye! Asek.


Kevin mengingat-ingat lagi dan memastikan bahwa apa yang dialaminya hari ini bukan mimpi, belum sampai dua puluh empat jam. Ia sudah berganti status;“Anjir! Dalam sehari gue udah jadi suami! Gila! bener-bener gila!”


Kembali senyuman liciknya mengembang, tatkala mengingat ia berusaha mencium seujung bibir Khaira. Kevin mengira wanita yang sekian jam lalu menjadi istrinya tidak akan menolak hasratnya, tapi hal yang tidak Kevin sangka-sangka, ternyata pakaian yang dipakai Khaira bukan kedok belaka. Suatu bukti bahwa Khaira memalingkan wajahnya;


“Dasar wanita sok jual mahal!”


Rasa tertarik pun menjalari hati Kevin, ia mulai berpikir. Akankah Khaira itu sekalem dan selamanya akan sok jual mahal. Sedangkan banyak wanita-wanita disekelilingnya yang mendamba untuk bercumbu rayu dengannya. Kevin lagi-lagi tersenyum licik sambil mengusap bibirnya.


Lama Kevin berpikir, rasa nyeri masih ia rasakan di bagian belakang punggung, tanpa sadar ia ketiduran sampai waktu menjelang hampir jam lima petang.


Kevin lantas bergegas melepas pakaian yang saat tadi ia kenakan pas ijab kabul dan memakai Hoodie warna navy.


Setelah berganti pakaian. Kevin keluar kamar dan mendapati Khaira masih duduk di lantai sambil memeluk kedua lutut.


"Jangan kemana-mana!” datar Kevin bersuara lantas melewati Khaira menuju pintu utama.


Khaira menatap kepergian Kevin tajam, ingin sekali rasanya mencekik leher pria arogan itu. Oh takdir apa yang sudah mempertemukan ia dengan pria monster dingin seperti Kevin. Khaira menahan perut yang serasa teriris, perih, lapar, haus jadi satu.


Namun, Khaira tidak mempunyai cukup keberanian untuk menggeledah rumah asing ini. Ia lantas berinisiatif menelepon Abah, untuk mengabari bahwa putrinya baik-baik saja, meskipun kenyataannya tidak!

__ADS_1


~


Waktu pun begitu cepat berlalu, sejak Kevin pergi dari rumah. Dan pulang dengan membawa dua kantong plastik berisikan nasi goreng seafood dua porsi, dan sekantong lagi makanan ringan. Meskipun masih terasa asing, namun Kevin tidak ingin anak orang mati kelaparan di rumahnya.


Belum sepenuhnya Kevin membuka sempurna pintu lebar-lebar. Ia melihat Khaira yang membelakangi pintu. Sedang bercakap di sambungan telepon. Kevin mendengar pembicaraan Khaira dan seseorang yang Khaira panggil Abah. Tak berselang lama Khaira mengakhiri panggilan, dan menangis sejadi-jadinya.


Kevin terkejut melihat reaksi Khaira yang menangis tersedu-sedu. Ia berpikir, entah hidup seperti apa yang sudah Khaira lalui, ataukah Khaira menyesal dengan pernikahan ini. Perlahan Kevin masuk kedalam rumah.


Khaira menyadari bahwa Kevin telah kembali, ia buru-buru menyeka air matanya, namun ia tidak bisa menyembunyikan isakkan tangis dan mata sembab serta hidungnya yang merah.


Kevin menghela nafasnya, seberusaha apapun Khaira menyeka air mata. Tetap saja mata sembabnya tidak bisa bohong. Ia lantas berlutut dihadapan Khaira.


“Kenapa lo nangis?”kali ini Kevin bersuara sedikit pelan tapi kaku.


Khaira diam, ia enggan menjawab pertanyaan Kevin. Justru menatap Kevin tajam.


“Lo nyesel yah, udah nikah sama gue?” tanya Kevin lagi, suaranya masih terdengar kaku.


Khaira menggeleng sesaat kemudian ia mengangguk, tapi enggan bersuara. Ya, menyesal tidak menyesal, memanglah pernikahan sudah terjadi. Dan kini statusnya dalam sekejap mata telah berganti!


Kevin heran dengan jawaban Khaira yang menggeleng terus mengangguk.


Khaira menunduk sambil menyeka air matanya, “Aku- aku, merasa hidupku nggak berguna, nggak bisa membuat Abah bangga. Dan malah membuatnya semakin mencemaskan ku, aku ini beban untuk Abah.” ungkap Khaira dibarengi isak tangis yang tertahan.


“Jangan bilang lo itu beban buat orang tua lo. Kecuali memang sekarang ini lo beban buat gue!” cetus Kevin, membuat gadis di depannya seketika menadahkan wajah menatap sinis. Melihat tatapan sinis itu, membuat Kevin bergidik; “Hehey tenanglah, Come on, baby. Simpan saja tatapan sinismu itu!”


Khaira dleming kembali menunduk lusuh.


Kevin diam sejenak, ia mengamati gadis di depannya, “Emm.. lo udah kasih tau ke Abah lo, kalau lo udah nikah?”


Khaira hanya menggelengkan kepala.


Kevin mengerutkan keningnya, “Kenapa?”


“Aku belum siap, jika sesuatu terjadi sama Abah, mendengar pernikahan anaknya yang dadakan seperti ini,” jawab Khaira lirih.


Kevin manggut-manggut, ia sedikit bisa memahami, mengapa wanita yang menatapnya dingin tidak memberitahukan pernikahan dadakan ini kepada sang Ayah.


“Udah, kalau masalahnya hanya itu jangan terlalu di pikirin. Toh pernikahan ini hanya sementara dan formalitas. Gue kasih waktu tempo selama tiga bulan, dan setelahnya kita pisah tanpa saling mengenal.” ujar Kevin dingin.

__ADS_1


Khaira tergelak membulatkan matanya, mendengar perkataan Kevin. “Apa menurut kamu pernikahan hanya sebuah permainan?”


Kevin mengangkat bahunya tak acuh, “Entahlah! Toh hubungan kita memang di awali atas kesalahpahaman. Dan gue yakin ada orang yang sengaja membuat permainan sepicik ini. Setelah gue mengungkap siapa orang yang telah melakukanya, lo bebas!”


Khaira tersenyum sinis menatap Kevin; “Oke! Aku sepakat!”


“Lah, lihat dia senyum, kok gue jadi merinding... Anjirr.” benak Kevin ngeri melihat seringai senyuman Khaira.


“Udah, ayo makan. Gue kagak mau anak orang mati kelaparan di rumah gue.” Kevin pun membawa Khaira ke ruangan dapur, dan menyajikan nasi goreng yang tadi ia beli. Bersamaan minuman kalengan sejenis Coca cola, ia letakan di meja.


Saat sedang menyantap nasi goreng Kevin merasakan tenggorokannya serasa mengganjal. Ia ambil sekaleng Coca-Cola. Akan tetapi sebelum ia membuka penutupnya. Kevin mendapatkan peringatan dari Khaira.


“Jangan terlalu banyak minum-minuman bersoda, minuman itu nggak baik bagi kesehatan.” kata Khaira canggung. Meskipun pernikahan ini hanya kesepakatan akan tetapi ia masih merasa canggung untuk bisa berbicara akrab dengan pria yang baru dikenalnya.


Kevin tertegun atas peringatan Khaira padanya, “Perhatian banget dah. Lo sengaja yah bicara manis dan perhatian, supaya gue jatuh cinta sama lo?” Ia meletakkan Coca cola di atas meja dan berjalan mengambil dua gelas air putih.


Khaira menggeleng kuat, dan menyanggah tuduhan Kevin,


“Terserah kamu mau anggap apa? Aku juga nggak mau kamu mati sebelum kesepakatan kita berakhir!”


“Bagus, jangan berharap lebih. Karena gue udah punya pacar!” balas Kevin, sambil memberikan Khaira segelas air.


Khaira tercengang atas pengakuan Kevin, “Terus kalau kamu udah punya pacar, kenapa kamu menawarkan diri untuk menikah dengan ku, apa karena kamu takut di hukum cambuk?”


“Bukan urusan lo! Lo anggap aja gue menyelamatkan diri lo dari amukan warga.” pungkas Kevin santai.


Khaira mencebikkan bibirnya, “Bicaramu seolah-olah kamu adalah seorang pahlawan kesiangan!”


Kevin menggidik pundaknya, “Ya serah lo dah!”


Khaira menatap Kevin tajam, “Kita lagi makan! Bisa nggak jangan banyak bicara, ntar keselek!”


Kevin tidak menjawabnya, ia hanya mengangkat kedua bahunya, tak acuh!




Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2