Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Seorang bertopeng


__ADS_3

Khaira manyun, ia tidak suka dengan cara bicara Kevin yang seolah sedang membentaknya, “Aku kan nggak mau ngerepotin kamu, Mas Kevin. Aku bisa berangkat sama pulang sendiri," jawabnya bersungut-sungut, namun dengan suara yang masih standar,


"kemarin aku udah bilang sama Mita supaya bantuin aku nyari kost atau kontrakan, kalau nanti aku tinggal sendiri kan, aku bisa tahu daerah mana saja yang bisa aku lalui supaya aku nggak nyasar,” sambungnya lagi, menyampaikan keinginannya untuk pindah.


Mendengar hal yang disebutkan Khaira, entah mengapa membuat Kevin agak sedikit kesal, “Gue kagak keberatan buat antar jemput lo. Kalau lo mau nyewa kosan ataupun kontrakan, sini bayar sewa selama lo tinggal di rumah gue sebanyak tiga juta!”


Khaira membulatkan matanya menatap Kevin.


"Apanya yang tiga juta? Kenapa sangat mahal biaya sewa aku tinggal, kan baru satu minggu?" Khaira memanyunkan bibirnya, ia menggerutu kesal dengan patokan harga yang dibanderol Kevin.


"Ya lo mampu kagak bayar uang sewa tiga juta? Kalau lo kagak mampu. Kenapa lo berlagak nyewa kos-kosan? Lo mau jadi orang yang sok banyak duit, begitu?" ketus Kevin seraya mempelopoti Khaira.


"Iya aku tahu aku bukan orang yang kaya raya, ataupun banyak duit. Itulah kenapa aku kerja!" balas Khaira dengan mode kesal, "tapi kan nggak harus dibanderol tiga juta hanya untuk satu minggu aku tinggal di rumah mu, Mas Kevin. Kayak ngitap di hotel aja, wong sewa kontrakan aja enam ratus sampai tujuh ratusan sebulan!" gerutunya, menatap Kevin sinis.


"Ambil nih kunci! Jangan lupa kunci pintunya! Jangan keluyuran kemana-mana! Udah sana masuk!" tukas Kevin tegas, sembari menyodorkan kunci dihadapan Khaira.


Dilihatnya kunci yang dipegang Kevin, Khaira mengambilnya, "Aku udah bilang aku bakal bayar sewa selama aku tinggal di rumah Mas Kevin, tapi nggak semahal itu juga tarifnya. Dan uang yang dikasih Mas Kevin kemarin aja belum aku pakai. Bakalan aku balikin!"


"Kenapa lo jadi bahas duit itu, gue cuma bilang, kalau lo mau nyewa kosan ataupun kontrakan, lo bayar sewa lima juta ke gue sekarang juga. Baru dah lo boleh pergi dari rumah gue!" ketus Kevin masih tidak melunakkan suaranya yang masih sedikit meninggi.


Tanpa menunggu jawaban ataupun bantahan dari gadis kepala batu itu, Kevin langsung saja menarik gas motornya. Ia melihat Khaira dari spion motornya, “Dasar gadis pala batu!”


Sementara itu Khaira mendengus kesal melihat kepergian Kevin, “Kenapa dia jawabnya ngegas, pelan-pelan kan bisa! Nggak usah selalu marah-marah! Dasar cowok tukang Gas!”


Setelah melihat Kevin tidak terlihat lagi, Khaira pun masuk kedalam rumah. Tak lupa ia mengunci pintu.


"Kenapa tiga juta jadi naik lima juta. Secepat itukah si Kevin membanderol harga?" sepanjang langkah kakinya menuju kearah kamar yang sekarang ini sedang ditempatinya, Khaira menggerutu.


Dibukanya pintu kamar, ia melihat tempat tidur ingin sekali rasanya langsung merebahkan diri ke kasur.

__ADS_1


Tapi, itu tidak mungkin karena badannya sangat lengket dan berkeringat. Setelah meletakkan tas selempangnya di atas kasur, tanpa sengaja tatapannya melihat paper bag hitam di sofa yang tidak jauh dari tempat tidur.


Ia mengamati paper bag hitam itu, Khaira merasa tidak asing. Ia berjalan mendekati sofa dan melihat tulisan Zulaikha shop, seketika matanya membulat.


“Inikan pakaian yang dibeli tadi pagi, kenapa bisa ada di sini? Apa Mas Kevin lupa membawanya?”


Khaira menebak-nebak, sekiranya pria itu telah lupa membawa pakaian yang akan diberikan pada sang pacar.


Khaira terhenyak kala mendengar bunyi pesan di ponselnya yang masih berada di dalam tasnya. Seketika itu pula ia mengambilnya, lantas melihat siapa gerangan yang telah mengirimkan pesan.


“Mas Kevin?”


Khaira pun membuka pesan, yang dikirim oleh Kevin.


(Sepertinya lo udah salah paham tentang pakaian itu. Gue sengaja bawa lo ke toko pakaian khusus cewek supaya lo ganti baju yang lo pinjam dari Mita. Semua pakaian itu punya lo. Kagak ada sangkut pautnya sama pacar gue yang toxic itu.)


Hati yang dibuat kesal atas banderol harga yang sebutkan Kevin selama ia tinggal di rumah ini, seperti baru disiram air es kedalam hatinya kini. Khaira tersenyum membaca pesan dari Kevin, ia melihat dua paper bag di atas sofa.


(Dan satu lagi, gue bener-bener udah putus dari pacar gue. Dan pacar gue mungkin juga bukan calon penghuni surga.)


Khaira mengira ia telah salah, telah menerka-nerka perasaan dan kehidupan orang lain. Bahkan ia telah banyak bicara tanpa memberikan Kevin kesempatan untuk berbicara.


Khaira melihat paper bag, dan mendekati sofa. Lantas mengeluarkan pakaian yang ia pilih dan stelan pakaian bukan yang dipilihnya.


“Kevin memang terlihat acuh tak acuh. Cara bicaranya juga suka asal dan suka marah-marah. Nggak nyangka dia termasuk orang yang perduli. Aku menilainya berdasarkan dari sikapnya yang dingin itu, mungkin aku yang harus belajar untuk melihat Kevin dari sudut pandang yang lain.”


Karena dirasa badannya sangat lengket dan butuh kesegaran, Khaira pun bergegas mengambil handuk dan menuju kamar mandi, tak melupakan pakaiannya untuk ganti.


Lima belas menit sudah, Khaira berkutat di dalam kamar mandi. Kini ia merasa segar dan berseri-seri. Dipikirkannya kembali ucapan Kevin soal biaya sewa selama ia tinggal di sini, tiga juta! tiga juta! tiga juta! Seolah-olah terngiang-ngiang di kepala.

__ADS_1


“Saatnya telpon Abah.” serunya senang.


Namun sebelum melakukan panggilan, ketukan pintu terdengar dari pintu utama rumah. Khaira mengurungkan niatnya untuk menghubungi Abah, lantas beranjak dari duduknya di atas kasur.


Lalu berjalan menuju pintu utama rumah, namun Khaira ragu untuk membuka pintu. Karena bisa saja orang jahat yang telah mengetuk pintu.


"Kevin tolongin aku Vin!" ucap seorang wanita dari luar pintu.


Khaira membulatkan matanya menatap pintu utama rumah, didengarnya dari luar suara wanita meminta tolong kepada Kevin.


Disibakkan tirai jendela, namun Khaira tak mendapati siapa-siapa. Tapi netranya justru tertuju pada kardus di teras depan rumah. Khaira mengedarkan pandangannya menatap keseluruhan depan rumah, namun senyap tidak ada siapa-siapa yang lewat.


Khaira menutup kembali tirai, dan berjalan mondar-mandir di ruang tamu seraya memilin jari jeraminya.


"Kardus apa itu? Kenapa ada di depan rumah? Dan suara wanita siapa tadi? Kenapa pas aku tengok di balik jendela nggak ada siapa-siapa?" Khaira gelisah, gundah gulana. Takut!


Yang benar saja jika ia tidak merasa takut. Rumah ini? Kota ini? Dan Bahkan Kevin masih terasa sangat asing baginya.


Khaira berjalan ke ruang tengah, ia melihat jam dinding menunjukkan pukul 23:12 wib. Ia kembali lagi ke ruang tamu, lalu memberanikan diri menyibakkan tirai melihat ke luar jendela.


Akan tetapi tak di jumpainya kardus yang semula berada di teras rumah. Pada saat Khaira sedang mengamati teras rumah. Tiba-tiba saja ada seseorang bertopeng yang sangat menyeramkan berlumuran darah muncul di depan kaca jendela.


Khaira tercengang.


"Aaaaaaahhh..." Khaira berteriak sekencang-kencangnya. Serasa badannya lunglai matanya berkunang-kunang, sedetik kemudian ia ambruk di bawah jendela tidak sadarkan diri.



__ADS_1


Bersambung


__ADS_2