Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Sombong


__ADS_3

Clara kembali ke rumahnya, seperti biasanya rumah yang mewah nan megah ini sangat senyap dan sepi. Papa Erik selalu saja sibuk dengan bisnisnya, apalagi Mama Margaretha yang lebih memilih karirnya sebagai desainer yang sering keliling dunia.


Ia benar-benar butuh seseorang saat-saat seperti ini, saat-saat ia ingin ada yang mendekapnya dan seseorang yang menguatkannya.


Dilihatnya kedua asisten rumah tangga yang sudah menjaganya selama hidupnya sembilan belas tahun ini.


Dialah Bibik Siti wanita berusia 40 tahun dan Bibik Tuti berusia 35 tahun.


Bibik Siti menghampiri Nona'nya yang sedang berdiri dengan wajah pucat di tengah-tengah megahnya ruang tamu tepat dibawah lampu gantung Cristal impor.


“Non Clara, Non dari mana saja?” tanya Bik Siti khawatir melihat keadaan Clara yang nampak lusuh.


Disusul Bik Tuti, ia juga bertanya, “Iya Non, Bik Tuti sama Bik Siti khawatir. Non pergi nggak bilang-bilang,”


Clara bergeming, tak menjawab kedua wanita yang sudah mengasuh dari lahir sampai detik ini. Air bening mulai mengambang di kelopak matanya, dan semakin meleleh membasahi pipi. Menyelaraskan perasaannya yang sedih dan juga kecewa.


Telah mengetahui ayah dari si jabang bayi yang terus berkembang di dalam rahimnya. Clara sangat frustasi akan hal ini, kini impiannya untuk bisa hidup bersama dengan Kevin seakan pupus sudah.


Melihat Clara menangis tapi tak bersuara membuat Bibik Siti dan Bibik Tuti pun ikut menangis. Keduanya telah menyayangi Clara sejak dalam pengasuhannya.


Kendati demikian, Clara selalu bersikap kurang ajar dan kasar. Namun Bibik Siti dan Bibik Tuti tetap menyayangi Nona'nya. Kedua wanita ini tahu betul, bahwa Clara adalah korban dari kesibukan kedua orang tuanya yang selalu saja sibuk dengan bisnisnya.


Tanpa memperdulikan gadis kecil yang hidup dilanda kesepian tanpa adanya perhatian dari kedua orangtuanya yang lebih mementingkan karir dan materi.


“Bicara saja Non, jangan dipendam sendiri. Bicara sama Bibik,” bujuk lembut Bibik Siti untuk membuat Clara mau bercerita perihal apa yang sudah membuat Clara sedih.


Perkataan Bik Siti pun dibenarkan oleh Bik Tuti, ia tak ragu untuk memegang lengan Nona'nya. “Iya Non, apa membuat Non Clara sedih?”


Bukannya menjawab Clara justru teriak histeris, “Aaaaarrhhh...” lantas menghempas kedua wanita yang telah mengasuhnya. Hingga Bik Tuti dan Bik Siti terhuyung-huyung hampir saja terjatuh di lantai mewah ruang tamu.


“Kalian itu bukan orang tua gue, kalian bukan Ibu gue. Kalian bukan keluarga gue, kalian itu cuma pengasuh gue! Enyahlah kalian dari hadapan gue, gue nggak butuh belas kasih dari kalian!” makian dengan perkataan kasar Clara lontarkan sambil menunjuk-nunjuk kedua wanita yang telah mengasuhnya.


Clara pergi dari hadapan Bik Tuti dan Bik Siti. Ia berlari menuju lift menuju kamarnya yang berada di lantai tiga.


Bik Tuti dan Bik Siti menatapi kepergian Clara, mereka menyayangkan sikap arogan Nona'nya. Meskipun tahu Clara adalah gadis kecil yang kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari kedua orangtuanya.


Namun perilaku Clara yang buruk membuat gadis itu dibenci dan dijauhi oleh teman-temannya. Bik Siti dan juga Bik Tuti sangat mengerti akan hal itu.


Dikarenakan Mereka sering menemani Clara kemampuan Clara pergi, terlebih pada saat Clara masih sekolah.


Sikap kasar Clara sudah terlihat sejak usia dini.


Beni lantas masuk ke dalam rumah tuannya. Dilihatnya kedua wanita sang pengasuh dari anak tuannya sedang berdiri di tengah-tengah ruangan megah rumah Erik Meijer Pangaribuan.


“Dia sedang ada masalah Bik Tuti, Bik Siti, dia sedang menghadapi masalah dari akibat ulahnya yang telah melukai hati banyak orang dengan perkataan kasarnya,” ujar Beni.


Bik Tuti dan Bik Siti menoleh kearah Beni, sang ajudan kepercayaan Erik.

__ADS_1


“Apa maksud mu Beni?” tanya Bik Tuti.


“Kamu jangan asal bicara Ben. Kalau kamu asal bicara kamu bisa menerima hukuman dari tuan Erik,” Bik Siti memperingati Beni.


Beni hanya menggidik pundaknya tak acuh, “Ya ya saya tahu itu. Tapi tetap saja sepintar-pintarnya tupai melompat pasti dia akan terjatuh juga. Dan saya berharap dengan adanya kesalahan ini, bisa membuat Nona mengubah dirinya menjadi wanita yang lebih baik, tidak lagi sombong.”


Bik Tuti dan Bik Siti saling bersitatap, lalu kembali menatap Beni yang sudah berlalu dari hadapannya.


~~


Tanpa melepas pakaiannya, Clara beringsut terduduk di lantai kamar mandinya, ia membiarkan guyuran air shower membasahi sekujur tubuhnya.


Terngiang-ngiang jelas apa yang Ane katakan. Clara tidak menyangka Anto akan melakukannya saat ia sedang tidak sadar.


Sebegitu bencinya kah Anto padanya, sampai-sampai tega bekerja dengan Ane.


“Aaarrhhh...” Clara berteriak lantang, ia ingin meluapkan emosinya yang tersulut kobaran api kemarahan.


Clara mencakari dirinya, lalu memukul-mukul perutnya. “Anto brengsek!” berangnya seraya terisak-isak.


~~


Bik Siti dan Bik Tuti dengan setia berdiri di depan kamar Nona mereka. Keduanya nampak sangat mengkhawatirkan jika telah terjadi sesuatu hal yang buruk terhadap Clara.


“Tut, gimana ya sama si Non, dia teriak-teriak, Tut,” ujar Bik Siti meremas ujung pakaiannya.


Bik Siti mengibaskan tangannya, “Huh sembarangan kalau ngomong, jangan berkata hal yang buruk. Kan kita belum tahu permasalahan apa yang menimpa Non”


“Kan aku ngomong begitu bukan tanpa alasan Siti, seringkali Non mau mengakhiri hidupnya. Apalagi Non sering membuat onar dan kegaduhan, aku bukannya nyumpahin. Tapi Non Clara memang harus mengubah dirinya itu loh Siti, Nona kurang apa coba?” jelas Tuti seraya memperagakan kedua tangannya.


“Dia cuma kurang kasih sayang, Tuti. Sudah diam, nanti kalau kamu bicara seperti itu, dan tuan mendengar mu, bisa-bisa kita di depak keluar!” Siti memperingati teman sekampungnya yang telah bekerja sama dengannya.


Dan benar apa kata Siti, tanpa disadari keduanya. Tuan yang mereka sebutkan sudah pulang dan kini melihat kedua asisten rumah tangga yang secara khusus ditugaskan untuk menjaga putrinya.


Erik melihat Bik Siti dan Bik Tuti sedang berdiri di depan kamar Clara, ia lantas mendekati.


“Siti! Tuti! Ada apa ini?” tegasnya bertanya kepada sang asisten rumah tangga.


Bik Tuti dan Bik Siti terkesiap mendengar suara yang sangat familiar menggelegar di area luas lantai tiga. Tepatnya di depan kamar Clara.


“Astaghfirullah!” seru Siti tercengang seraya mengelus dadanya.


Tuti melihat tuanya yang sedang menuntut jawaban, ia berkata sambil menunjuk-nunjuk pintu besar kamar Nona'nya, “I-itu Tuan, Nona Clara. Di-dia teriak-teriak di dalam kamarnya,”


“Jelaskan yang bener Tuti!” seru tegas Erik.


“Tadi Non Clara baru pulang entah dari mana, Nona nggak bilang sama kita. Pas pulang keadaannya lusuh dan juga marah-marah,” jelas Siti mengkondisikan keadaan Clara.

__ADS_1


Bik Tuti menatap Siti, ia berseloroh dalam hati, “Siti, Siti, biasanya juga Non Clara kalau pulang selalu bawaannya marah-marah mulu, jarang ademnya, bahkan nggak pernah.”


“Kenapa kalian biarkan Nona pergi nggak bilang-bilang, kemana saja kalian?” tanya Erik geram.


“Maaf tuan,” jawab Siti gemetaran.


Melihat Bik Tuti hanya diam saja, Bik Siti menyikut lengan Bik Tuti, ia mendelikkan matanya kode keras agar Bik Tuti membantunya berbicara kepada tuannya.


Bik Tuti mengalihkan atensinya melihat Bik Siti dan kini melihat tuanya namun hanya sepintas, seperti biasanya ia memang tidak berani menatap wajah tuannya.


“Maaf tuan, sa-saya sedang mencuci pakaian di belakang, dan Siti sedang menyiapkan makan untuk Non Clara, jadi kami nggak tahu kemana perginya Nona,” jelas Bik Tuti dengan wajah menunduk.


“Alah alasan saja kalian! Saya kan sudah bilang ikuti kemana pun Nona kalian pergi! Minggir!” sentak Erik dengan nada tinggi. Dilihatnya pintu besar kamar tidur putrinya.


Bik Siti dan Bik Tuti segera menyingkirkan diri ke samping. Guna memberi keleluasaan tuanya untuk berhadapan dengan pintu besar kamar anaknya.


“Cla, Clara.” seru Erik membersamai dengan suara ketukan pintu.


Tidak ada sahutan dari dalam.


“Clara, buka pintunya darling, ini pa-pa.” kata Erik lagi membujuk putri satu-satunya agar mau membuka pintu.


Pintu pun terbuka, dengan ia sudah berganti pakaian juga menyisir rambutnya sangat rapi seperti biasanya. Ditatapnya wajah sang Ayah.


“Clara nggak apa-apa Papa, Clara baik-baik aja,” ucapnya, tak kuasa menatap wajah Papa Erik lama-lama Clara pun menunduk.


Terlihat jelas wajah putrinya yang sembab, menyeruak rasa khawatir sebagai seorang Ayah. “Kamu kenapa darling, kamu menangis, ada apa, apa yang terjadi, apa pencarian mu mencari Ane berhasil?”


Clara melempar tatapan tajam kepada kedua pengasuhnya, sontak saja kedua pengasuhnya itu langsung menundukkan pandangan, “Bik Siti! Bik Tuti! Jangan membuat cerita yang membuat Papa khawatir!”


Bik Siti dan Bik Tuti terdiam seribu bahasa.


Clara kembali menatap Papanya yang sedang menuntut jawaban, “Clara baik-baik aja Pa, maaf Pa, boleh Clara istirahat?”


Meskipun berat hati karena tidak mendapatkan jawaban yang valid, Erik hanya bisa pasrah lantas mengangguk sekilas, menatap nanar wajah putrinya yang sembab, “Istirahatlah darling,” sekilas mencium kening putrinya.


Clara mengangguk, sebelum benar-benar masuk kedalam kamarnya, ia melirik tajam kepada kedua pengasuhnya. Guna memberikan kode keras agar Bik Tuti dan Bik Siti tidak mengadukan perbuatannya kepada sang Ayah.


Pintu kamar pun ia tutup dan menguncinya dari dalam, Clara segera menghamburkan diri di atas ranjang king size'nya yang empuk.


Dilihatnya bingkai foto dirinya bersama dengan Kirana sedangkan Kevin berada di tengah-tengah.


“Bagaimanapun juga, gue harus memisahkan Kevin dan perempuan kampung itu!” berangnya menahan emosi.



__ADS_1


Bersambung


__ADS_2