
Erik sangat puas melihat Kevin datang sendiri kekediaman nya, tanpa harus di seret-seret oleh para ajudanya. Ia berdiri berjarak lima meter di belakang pemuda yang dicintainya oleh putrinya.
Kevin berbalik badan, netranya langsung tertuju pada pria setengah baya dan beralih menatap satu persatu anak buah Erik yang sudah dikalahkannya.
"Bedebah!" berang Kevin melihat keempat anak buah Erik. Ia mengenali salah satunya adalah Beni dan Agus.
Erik hanya memasang mimik wajah biasa. Tak ada rasa penyesalan telah berkompromi untuk menangkap Kevin. Dilihatnya putri kesayangannya sedang berdiri di ambang pintu besar istananya.
Pria setengah baya ini lantas berjalan mendekati Kevin, "Tenang lah Kevin, saya memerintahkan anak buah saya guna melakukan penyerangan terhadap mu karena kamu yang sudah mengabaikan telepon dari saya. Terbukti dengan cara ini kamu datang dengan sendirinya,"
Erik menepuk pundak Kevin, mensejajarkan berdirinya dengan pemuda yang telah bekerja sebagai disc jockey di diskotek miliknya selama dua tahun.
Kevin menoleh ke samping kanan, mensejajarkan dagu dengan pundaknya. Netranya menatap Erik tajam, "Apakah ini ada sangkut pautnya dengan anak kesayangan anda?"
Erik tersenyum simpul, melihat respon Kevin, "Saya tahu bahwa Clara memang salah telah merencanakan dan bertindak dengan menculik dan menjebak mu. Tetapi perbuatan mu terhadap Clara, yang telah memancing Clara bertindak demikian!"
Kevin mengernyitkan dahinya, "Apa maksud anda?"
"Kenapa kamu tidak mengakui perbuatan bejadmu telah memperdaya Clara," Erik bersuara tegas.
Kevin mencerna semua perkataan Erik, yang di rasa teka-teki, ia beralih menatap Clara detik berikutnya menatap Erik dengan perasaan bingung, "Memperdaya? Bejad? Apa maksud anda?"
"Kita bicarakan ini secara baik-baik, marilah kita bicara di dalam." Erik berjalan mendahului Kevin, menghampiri putri satu-satunya.
Dilihatnya sang Ayah yang datang menghampiri, Clara bersiap memainkan peran sebagai seorang wanita lemah tak berdaya, dipeluknya sang Ayah erat, menyelaraskan dengan suara paraunya yang tertahan tangisan, "Papa."
"Jangan lagi menangis darling," kata Erik mengusap air mata yang mengalir di pipi putrinya, "kan Papa sudah berjanji untuk membawa Kevin dan menjadimu satu-satunya miliknya." sambung Erik, mengusap air mata di pipi putri satu-satunya.
Ditatapnya Erik yang sedang merangkul Clara, ia tak bisa mendengar apa yang Erik dan Clara bicarakan, dikarenakan jaraknya lumayan jauh. Ia menangkap stigma negatif dari pembicaraan yang akan di sampaikan Erik.
Namun, mau tidak mau Kevin tetap mengikuti Erik dan Clara yang sudah masuk kedalam rumah seperti istana milik pengusaha kaya raya Erik Laksamana.
~
__ADS_1
Di ruang tamu seperti istana, Erik duduk di sofa tunggal berukuran besar sudah seperti raja.
Di sofa panjang ada Clara yang terus menatap Kevin mengharapkan iba dan empati dari pria pujaan hatinya.
Kevin sebenarnya enggan untuk membicarakan tetang Clara, namun ada hal yang harus ia dengarkan dari Erik. Kendati bukan yang pertama kalinya ia datang ke rumah seperti istana ini, namun inilah kali pertamanya ia enggan menampakkan kakinya di sini.
"Sebenarnya apa yang ingin anda sampai, Bos?" tanya Kevin tanpa basa-basi, masih berdiri tidak jauh dari sofa besar ruang tamu rumah mewah.
Erik nampak sangat senang akhirnya setelah beberapa hari ini tidak bertemu dengan Kevin, ia dapat bertemu dengan Kevin yang sudah anggapnya seperti anak sendiri.
Maka, pada saat Clara mengatakan rasa cintanya kepada Kevin. Dengan senang hati Erik turut andil dalam membantu putrinya. Ia juga sudah menyepakati perjodohan Clara dan Kevin.
Dengan membicarakan bersama dengan Basuki, Papa dari Kevin yang semenjak almarhumah Lusiana juga Kirana hilang ditelan samudra, Basuki tidak pernah pulang, namun bukan berarti Erik tak pernah berkomunikasi dengan Basuki. Ditatapnya Kevin yang masih berdiri.
"Kevin, kenapa kamu berdiri di situ saja. Kemarilah." seru Erik melihat Kevin yang sejak masuk kedalam rumah, hanya diam mematung.
Kevin melihat Erik, ia mulai mengayunkan langkah kakinya berjalan menghampiri Erik. Kevin tidak menghiraukan keberadaan Clara. Seolah ia menganggap bahwa Clara hanyalah bayang-bayang.
Mendengar Erik berkata 'menantu seolah membuat Kevin limbung, "Menantu? Apa yang anda bicarakan? Rumah ini tidak akan pernah menjadi bagian dalam hidup saya!" ujarnya tegas.
Erik mengerti, Kevin masih marah terhadap putrinya, karena Clara sudah bertindak gegabah tanpa memberitahu rencana kepadanya terlebih dahulu.
Tidak ingin basa-basi, karena Kevin sangat sungkan dengan pertemuan ini ditambah lagi Khaira sudah menunggunya cukup lama, ia langsung to the point.
"Setelah beberapa hari yang lalu anda datang ke rumah, dan hari ini anda ingin menyeret saya. Ada hal penting apa yang sebenarnya ingin anda sampaikan. Tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap anda, tolong sampaikan secepatnya," Kevin dengan suara tegas, netranya terus menatap pria setengah baya yang terlihat sangat tenang.
Erik memiringkan sedikit kepalanya menatap Kevin, "Bos?" Erik meralat panggilan Kevin yang tidak seperti biasanya, "tidakkah kamu selalu memanggil saya dengan sebutan Om? Ada apa dengamu anak muda? Bahkan sebentar lagi kamu akan menjadi suami dari Clara,"
"Suami? Ada-ada saja!" ucap Kevin heran. Kevin enggan menanggapi pertanyaan Erik, "Langsung saja kepada intinya, karena saya harus menjemput seseorang."
"Apakah wanita kampungan itu?" sela Clara memotong percakapan Erik dan Kevin.
"Bukan urusan lo!" tegas Kevin menjawab dan menatap Clara sinis.
__ADS_1
"Kenapa terburu-buru Kevin? Dan satu lagi, kenapa kamu memanggil saya dengan sebutan (Bos) panggil saja saya Papa, karena saya sudah menganggap mu seperti anak saya sendiri.” pinta Erik, yang ingin Kevin memanggilnya dengan sebutan (Papa).
Kevin enggan untuk menanggapi perkataan Erik, Kevin ingin langsung kepada intinya.
"Jangan bertele-tele dengan ucapan anda yang tidak masuk dalam logika saya dan saya mohon jangan mengulur waktu saya, bukankah anda tahu Bos. Bahwa Clara sudah saya anggap seperti adik saya sendiri..." Kevin mendesak agar Erik langsung kepada intinya, sambil sesekali melirik jam dipergelangan tangannya.
Clara sangat meradang akan sikap Kevin yang tidak perduli terhadapnya, "Kevin."
Tak mengindahkan seruan Clara, Kevin fokus menatap wajah pria yang sudah banyak keriputan. Menandakan waktu telah berlalu begitu sepat mengikis masa muda Erik, teman dari Papa Basuki.
"Kalau memang nggak ada yang dibicarakan maka saya akan pergi." peringatan keras dari Kevin, ia hendak beranjak. Namun Erik sudah lebih dulu menahannya.
"Duduklah Kevin, paling tidak hargailah orang tua ini," tukas Erik.
Kevin duduk kembali, meskipun perasaanya tidak tenang terus tertuju pada seseorang yang mungkin saja sudah menunggunya cukup lama.
"Baik-baiklah, Kevin. Kamu persis seperti Papa mu, yang tidak suka bertele-tele,” ucap Erik, sekilas ingatan tentang masa mudanya bersama dengan Basuki.
Sementara, Clara selalu memperhatikan, serta mencari perhatian Kevin. Ia memberikan kue keck yang terlihat sangat manis, semanis cintanya, pada Pria pujaan hatinya, yang hanya menganggapnya seorang adik.
"Makan dulu kue ini Vin, biar kamu lebih rileks." Clara bersuara dibuat manja.
Kevin begitu dingin jangankan untuk memakan kue keck yang diberikan Clara, melirik pun tidak.
"Saya ingin kamu menikahi Clara, Kevin. Saya dan Papa'mu sudah menyepakati perjodohan kalian. Dan bukankah kamu sudah membuat Clara hamil? Kenapa kamu masih tidak mengakui perbuatan mu? Ayolah, jadi laki-laki gentleman,” ungkap Erik tegas, membersamai dengan mencecar Kevin agar mau bertanggungjawab.
Mendengar hal semacam itu, membuat Kevin membelalakkan matanya, ia secara refleks berdiri, "Apa?" dilihatnya wajah Clara yang sedang tersenyum menatapnya.
Bersambung
__ADS_1