
"Masih memikirkan ane?"
"He em."
"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan! Akan mempengaruhi bayi kita."
"Tidak, aku hanya merasa aneh."
" Aneh? Maksudnya?"
"Saat aku memberitahu sesuatu, ane menjawab pernyataan ku."
"Dan saat aku tanyakan kembali, ane diam membisu hingga aku menggoyang- goyangkan bahunya namun tetap sama."
Ucap tya nenjelaskan.
" Hah..., sudahlah. Tak perlu dipikirkan."
Ucap jay yang tetap tenang fokus menyetir mobilnya.
Namun tya masih saja memikirkan apa yang terjadi, seakan tak percaya kalau ane sedang sakit. Tya tertidur di mobil saat merasa lelah dengan kehamilan nya juga karena masih memikirkan sahabatnya.
"Ah..., untunglah tidur. Setidaknya bisa membuatnya berhenti memikirkan sahabatnya."
Gumam jay dalam hati.
Tak berapa lama jay sampai ke apartemen miliknya, juga harus menggendong istrinya yang tertidur di mobil.
"Semakin lama semakin sexy saja."
"Tak tahan rasanya..., ingin mencubit pipi embem mu."
"Sayang, aku mencintai mu. Jangan tinggalkan aku meskipun hanya satu menit saja."
"Hah..., beginikah rasanya jatuh cinta pada istri sendiri?"
"Berbunga- bunga hati ini."
Jay berbicara sendiri setelah membaringkan tya di tenpat tidur, memandangi gadis yang sudah resmi menjadi miliknya. Jay memutuskan memilih tidur disampimg tya memeluk tubuh gemoy istrinya.
Namun perasaan gusar jay menghantui nya hingga membuat jay bangun dan memutuskan ke balkon kamar nya menyalakan sebatang rokok disana.
" Kenapa harus menjawab sih?"
" Bisa gawat kalau ketahuan."
" Juga berakibat fatal kalau tya terus- menerus memikirkan nya."
"Aku tak ingin kehilangan anak ku."
"Mama dan papa pasti menyalahkan ku jika terjadi sesuatu dengan cucu dan menantunya."
"Memberitahu hal sebenarnya, sangat tidak mungkin."
Jay berjalan mondar- mandir mengisap beberapa batang rokok dan juga menyalakan kembali rokok yang baru.
Tak berapa lama seseorang menelepon melalui ponselnya, jay menghela nafas panjang saat melihat siapa yang menelepon di layar ponselnya.
"Ya."
"Baiklah, tapi tidak di rumah mu."
"Kenapa?"
" Hah..., tentu saja istri ku akan ikut bersama ku jika aku pergi ke rumah mu."
"Tidak. Tapi istri mu sangat jahil."
"Dia mengeluarkan suara saat tya sedang bercerita. Aku khawatir akan berakibat fatal pada janin nya jika terus menerus memikirkan nya."
"Pokoknya aku tidak mau kesana."
"Kalau begitu suruh istrimu diam jangan bicara seperti rencana semula."
"Aku bisa memberi pengertian tya untuk tidak memikirkan nya dan setelah kalian pindah ke luar negeri baru aku akan memberitahu hal yang sebenarnya."
"Okay, deal."
Jay menutup sambungan telepon dari ponselnya, tapi tanpa sepengetahuan nya sepasang mata tengah mengawasi dan juga mendengarkan percakapan nya.
"Hal sebenarnya apa?"
Deg....
Detak jantung jay berdegup kencang ketika memdengar suara khas istrinya. Mencoba berpikir ini hanya sebuah mimpi, jay sangat hati- hati membalikkan badan nya berharap hanya mimpi. Tapi tidak saat melihat istrinya ada di depan nya bersandar pada tembok menyilangkan kedua tangan nya di dada.
"Sayang..., sudah bangun?"
"Apa yang kau sembunyikan?"
"Tidak ada."
__ADS_1
"Tidak ada? Siapa yang telepon?"
"Bryan menelepon memberi tugas baru dan menyuruhku datang ke rumah nya."
"Aku tidak percaya. Cepat katakan!"
"Sayang..., benar aku tidak bohong."
Tya mengerutkan dahinya ketika jay tidak mau mengatakan hal yang sebenarnya.
"Hem..., sepertinya aku harus pakai cara lain."
Gumam tya dalam hati.
"Jay memang tidak suka dipaksa."
"Tak mungkin dengan ancaman, dia sudah hafal dengan ancaman ku."
"Lalu..., apa?"
Tya diam seribu bahasa bergelayut di alam pikiran nya hingga tak mengindahkan panggilan jay beberapa kali.
"Sayang."
" Sayang."
"Aduh..., gawat jika tya merajuk."
Gumam jay dalam hati.
"Iya, sayang ada apa? Kenapa kau memanggilku beberapa kali?"
"Hah..., melamun?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Memikirkan ucapan mu kalau kau tidak membohongiku."
"Tidak, sayang. Aku tidak membohongimu, percayalah!"
"Iya, aku percaya."
Rupanya rak sampai di sana saja, tya menggunakan cara baru untuk merayu suaminya mengatakan hal yang sebenarnya.
Sentuhan lembut yang di berikan nya mampu memancing gairah jay, tak tanggung- tanggung membalas dengan mesra. Tya berhasil membuat jay mengakui sebagian pernyataan nya yang mana jay telah terpancing dengan pertanyaan tya saat bercumbu mesra dengan nya.
Mendengar teriakan tya, jay sadar rupanya istrinya telah merayunya. Memanfaatkan kesempatan untuk mengorek informasi yang di inginkan nya. Jay tersenyum simpul melakukan hal yang sama saat sang istri akan menyudahi permainan nya.
"Hah..., aku kalah lagi."
" Tidak, sayang. Kau membuat gairahku semakin meningkat."
"Hem."
"Eh..., kenapa bryan akan membawa pindah ane keluar negeri?"
"Ya..., karena ingin istrinya cepat sembuh. Dengan alat canggih di luar negeri, bryan yakin potensi ane sembuh semakin besar."
Ucap jay.
"Iya, benar."
"Berarti aku akan jauh dari ane."
"Demi kesembuhan nya."
"Kau benar. Yang penting aku tak jauh dari mu."
"Hem..., benarkah?"
" Aaa ..., kau menggodaku."
"Sedikit."
Sepasang suami istri itu menghsbiskan waktu dengan candaan mereka juga kisah cinta mereka.
"Aku bahkan tak kan sanggup kehilanganbmu dan anak kita."
Ucap jay mengecup perut tya yang sedikit membuncit itu.
"Benarkah?"
Jay mengangguk pelan.
"Aku sangat memcintaimu."
Dan pada akhirnya tya mengakui perasaan nya meskipun selama ini sudah mengakuinya, tetapi jay merasa pernyataan tya hanya menghiburnya. Tapi tidak untuk hari ini, dengan sinar matanya yang memancarkan kebahagiaan membuat jay semakin yakin kalau ia telah berhasil merebut hati tya.
Bram menemukan sebuah rencana terakhir untuk mencegah jack pindah dari kota ini, namun sayangnya tak seperti yang di rencanakan bram. Rupanya jack menolak bertemu siapa pun di apartemen mau pun kantornya.
__ADS_1
Bahkan tak memperbolehkan tamu berkunjung ke apartemen nya kalau tidak ada izin darinya.
" Brengsek!!"
" Kenapa jack begitu tertutup?"
" Bagaimana ini?"
" Aku bahkan tak bisa mengunjungi cucu ku."
"Sial."
Berkali- kali membanting stir kemudi, bukan tanpa alasan karena bram tak bisa menembus apartemen jack. Jangankan untuk masuk ke dalam rumah, security menghalau para pengunjung dari lantai dasar yakni lobby gedung apartemen tersebut.
"Tidak ada cara lain memancing jack keluar kecuali dengan cara itu."
Gumam bram.
"Yah, benar."
Entah apa yang di rencanakan bram yang sedikit murka karena penolakan jack bertemu dengan nya.
"Halo."
"Ya, benar. Jalankan rencana selanjutnya!"
"Apaa..., bagaimana mungkin?"
"Baiklah. Aku akan segera kesana."
Bram tampak sesikit risau ketika menerima telepon dari seberang.
"Kacau."
"Bisa rugi besar kalau seperti ini."
Bram melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi berputar balik dari arah tujuan nya semula.
Tak berapa lama bram sampai di kantornya, beberapa orang anak buahnya tengah menunggu di ruang kerja nya.
"Bos."
" Bos."
"Katakan! Bagaimana semua bisa terjadi?"
"Salah satu transportasi yang memuat barang- barang kita kepergok pihak yang berwajib, bos."
"Dan mereka tertangkap."
"Goblok!! Bagaimana bisa terjadi?"
"Entahlah, bos?"
"Semua sudah sesuai prosedur dan seperti biasanya, bos. Tapi menurut salah satu mereka yang kebetulan melihat kejadian itu, ada seseorang yang sengaja melaporkannya bos."
"Brengsek!! Cari tahu siapa orang itu!"
"Baik, bos."
"Bereskan mereka semua!"
"Baik, bos."
Seperti biasanya bram akan menyuruh orang menyingkirkan oramg- orang yang sengaja menghalanginya.
Bahkan bram tak segan menyingkirkan anak buahnya sendiri ketika mereka tak bisa di gunakan lagi. Hal yang biasa dilakukan para pebisnis bawah.
"Siapa yang sengaja melaporkannya?"
"Mahendra? Tidak mungkin."
"Dia tidak mengetahui aku menggunakan perusahaan jack."
"Jack? Tidak, selama ini karyawan nya yang mengurus semua itu dan tak ada masalah sedikit pun."
"Lalu..., siapa?"
" Siapa yang berani main- main dengan ku?"
"Jika semua itu ada hubungan nya dengan mu, aku akan menghancurkan mu mahendra."
"Sampai pada keturunan mu, mereka tidak akan hidup tenang."
"Kau lihat saja mahendra."
" Aaa..., brak..., brak."
Bram beberapa kali menggebrak meja kerjanya sendiri saat memikirkan ada orang lain yang melaporkan sebagian bisnisnya.
Bram hanya menatap sinis keluar jendela, entah apa yang tengah dipikirkan nya hingga terlihat begitu marah.
__ADS_1
Bersambung🙏😊