
Bryan bangun sangat pagi setelah beberapa perawat mengetuk pintu yang akan membantu memandikan ane. Juga mengganti maupun membersihkan tempat tidur.
"Terima kasih, suster."
"Sama- sama, pak. Sudah menjadi tugas kami."
Kedua suster atau perawat itu meninggalkan ruang rawat inap ane setelah memastikan semuanya baik- baik saja.
Ceklek...
" Aku akan memberi keterangan untuk segera membawa pulang istrimu."
Bryan menoleh ke arah sumber suara, sedikit terkejut iya namun sesuai yang direncanakan bryan hanya tersenyum simpul.
"Jika terlalu lama disini, aku khawatir rencana kita akan gagal."
"Baiklah, terserah kau saja. Tapi..., tidak untuk hari ini."
"Tentu saja tidak hari ini. Kau pikir aku sudah gila?"
"Hahahaha..., mungkin."
"Dasar sialan!!"
"Kau mengumpatku?"
"Tidak, tapi sahabatku. Sudahlah..., aku pergi dulu. Aku bisa gila berlama- lama denganmu."
Yah..., dokter radit adalah sahabat bryan semenjak sekolah menengah. Karena kegeniusan nya, radit berhasil menyelesaikan kuliah lebih cepat. Meskipun tak kuliah dalam satu kampus, radit dan bryan masih berhubungan satu sama lain.
Ceklek...
"Masih ada yang dibicarakan?"
Ucap bryan yang tak melihat ke arah pintu.
"Masih ada yang dibicarakan? Apa yang dibicarakan?"
Bryan mengerutkan dahinya tak menyangka orang yang ada dibalik pintu adalah dokter radit.
"Mama...., pagi- pagi sekali datang. Apa tidak merepotkan?"
Ucap bryan yang membalikkan badan nya melihat ke arah pintu yang ternyata mama della.
"Tidak. Mama tak ingin melewatkan waktu dengan ane."
Ucap della.
"Mama bawa sarapan untuk ane dan juga untuk mu, makanan kesukaan kalian."
"Pasti merepotkan mama bangun pagi memasak untuk kami."
Bryan meraih rantang makanan yang diberikan della padanya.
"Tidak, sayang. Mama tidak merasa repot. Sarapan dulu! Biar mama yang menyuapi ane, ane belum makan kan?"
"Belum, ma.Baru selesai mandi dan juga merapikan tempat tidur, eh...mama datang."
Ucap bryan menata sebagian makanan untuk istrinya.
"Tidak, mama rasa ada yang datang sebelum mama?"
"Oh..., asisten bryan ma."
"Begitu rupanya. Ian..., kalau kau sibuk pergi saja. Biar mama yang jaga ane."
"Tidak, ma. Bryan bisa memantaunya dari sini dan bryan tak ingin meninggalkan ane sendirian."
" Sendirian? Ada mama sayang."
" Kan beda ma."
" Iya..., iya..., mama mengerti. Pasti sangat sulit menerima semua ini, kamu yang sabar ya sayang."
" Iya, ma."
Ceklek...
" Sayang..., peri kecil mas."
Baik della maupun bryan menatap ke arah pintu ada seseorang yang membuka pintu dan juga mengikuti kemana orang tersebut melangkah. Yah..., sesrorang yang tak asing di keluarga wijaya juga tak asing dimata bryan yakni mas rio, kakak kandung ane.
"Kenapa semua harus terjadi padamu?"
"Andai mas bisa menggantikan mu, mas rela asal kau tak seperti ini."
Rio duduk disamping ane menggenggam erat tangan ane dan juga menciumi nya.
__ADS_1
"Mas..., jangan seperti ini. Ane pasti akan bersedih mendengarnya."
Ucap dina menepuk pelan pundak suaminya.
"Benar, rio. Kasihan adikmu."
Mama della ikut menimpali ucapan dina.
"Maafin bryan, mas. Yang belum bisa menjaga ane dengan baik."
"Hei..., sikap kalian akan mempengaruhi kondisi psikis ane dan juga memperlambat kesembuhan nya."
Ucap wijaya yang muncul dari balik pintu menggendong cucunya, abi.
Semua orang menatap ke arah pintu yang menunjukkan sosok teduh bagi mereka.
"Papa benar, mas. Dokter mengatakan demikian. Kita harus berusaha mengingatkan memory ane secara perlahan."
Ucap bryan.
"Maka dari itu kau tak ingin berangkat ke kantor?"
Della tersenyum simpul menatap sang menantu.
"Iya, ma."
"Beruntung sekali ane memiliki mu, apa ini yang namanya jodoh? Jodoh masa kecil."
Della menatap sendu ane dan menepuk pelan bahu bryan.
"Ante..., ayo ain ma abi( Ayo main sama abi)."
Ucsp si mungil abi yang neminta turun dari gendongan sang kakek menginginkan duduk disamping tempat tidur ane.
"Sayang, tante sedang sakit. Main sama om saja ya?"
"Ndak..., abi mo ain ma ante( abi mau main sama tante).Abi angen ante an edek ayi( Abi kangen tante dan juga dedek bayi)."
"Sayang, tante tak boleh banyak bergerak. Jadi main nya sama mama saja ya, abi jangan nakal biar tante cepat sembuh."
"Um."
Bocah kecil itu seakan mengerti apa yang dikatakan mamanya. Semua orang menatap sendu melihat pemandangan yang tak mereka bayangkan sebelumnya.
"Bryan..., bagaimana perkembangan ane? Apa dokter tak bisa berbuat apa- apa? Misalnya , terapi?"
"Seperti yang papa lihat, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan pagi ini. Untuk mengambil langkah selanjutnya."
Ucap bryan pada wijaya.
"Hm..., papa berharap ane bisa sembuh seperti sedia kala."
"Iya, pa. Bryan juga berharap seperti itu."
Beberapa orang hanya termenung mendengar percakapan keduanya bahkan sangat terenyuh dengan ketegaran bryan yang mungkin tak bisa menerima keadaan istrinya.
"Lalu..., bagaimana dengan si penabrak?"
"Bryan tak menemukan jejak apapun, pa. Ketika bryan dan silla sampai, ane sudah terkapar di jalan berlumur darah."
"Hah..., naas sekali kamu nak."
Wijaya menghela nafas panjang bahkan telihat senyum kecut diwajahnya.
"Sayang, mas ke kantor dulu ya. Sepulang kerja mas janji akan menemanimu."
Ucap rio yang terlihat mengusap air mata di sudut matanya, meskipun dengan cepat namun terlihat della.
"Rian, mas titip ane. Jangan lupa telepon mas kalau terjadi sesuatu dengan nya!"
"Iya, mas."
Tanpa pamit dengan kedua orang tuanya maupun istri dan anaknya, rio pergi begitu saja. Della mengerti kesedihan rio, mengambil abi dari gendongan dina menyuruh dina mengejar rio.
"Mas."
Dengan cepat rio mengusap airmatanya, namun dina memahami perasaan suaminya lalu memeluk rio dan juga menepuk punggungnya.
"Aku tahu kau sedang bersedih, mas. Tapi..., jangan perlihatkan kesedihan mu di depan mama dan papa. Terlebih bryan yang pasti lebih mendalam kesedihan nya."
"Aku tak sanggup melihat peri kecil ku seperti itu, lemah tak berdaya. Kau lihat tadi, beberapa kali mengeluarkan makanan yang disuapi mama!"
"Iya, mas. Dina mengerti."
Dina mengajak rio duduk di kursi tunggu depan kamar, menenangkan nya. Setelah beberapa saat rio merasa tenang, rio menghela nafas panjangnya pamit pada dina ke kantor. Sementara dina kembali ke kamar ruang rawat ane.
Tak berapa lama wijaya juga meninggalkan ruang rawat ane, berangkat ke kamtor.
__ADS_1
"Ma, dina pergi dulu. Abi ada play group."
"Hati- hati ya din!"
"Iya, ma."
"Sayang oma mau sekolah ya?Jangan nakal ya!"
"Ya, oma."
Gelak tawa bocah kecil itu sedikit mengobati kesedihan nya.
"Pergi dulu ya bryan."
"Hati- hati, mbak! Daa..., abi."
"Em."
"Daa."
Menghilangnya dina dan abi di balik pintu tak menimbulkan kecanggungan apa pun, bahkan bryan juga bermanja- manja dengan della.
Ceklek...
"Loh..., del. Kok sudah ada di sini."
Rupanya ine datang bersama mahendra hendak mengunjungi menantu kesayangan nya.
"Sudah dari pagi, ne."
"Sayang, mama bawa makanan untuk kalian."
"Ian sudah makan, ma. Terima kasih."
"Sudah makan?"
Ine sedikit kaget mendengar putranya sudah sarapan sepagi itu.
"Iya, mama della bawa sarapan untuk kami."
"Yah..., telat deh."
"Kan bisa untuk makan siang, ne."
Ucap della.
"Wijaya ndak datang, dell?"
"Mampir sebentar tadi sebelum berangkat ke kantor, hen."
"Apa aku yang kesiangan?"
"Tidak. Kami memang sengaja datang pagi, wijaya ada meeting pagi di kantornya.
"Oh..., begitu rupanya."
Mahendra mendekati ane yang terbaring lemah tak berdaya di tempat tidur. Meskipun matanya terbuka namun ane tak bereaksi apapun ketika orang- orang terdekatnya mendekatinya.
" Sayang, bagaimana kabarmu? Dan kedua cucu opa?"
Hampir saja mahendra menitikkan airmatanya.
"Ane sudah sarapan?"
"Sudah, hen. Hanya sedikit, ane tak mau membuka mulutnya."
Jawab della.
"Sayang, maafin mama ya. Mama tak sengaja melakukan semua itu. Ternyata mama begitu bodoh."
Ine tak kuasa menahan tangis ketika melihat ane yang hanya menatap kosong tak tentu arah.
"Sudah, ne. Kau hanya akan membuatnya bersedih. Ane butuh memory yang manis."
Ucap della menepuk bahu ine beberapa kali.
"Ian, nggak ke kantor?"
" Nggak, pa. Bryan tak bisa meninggalkan ane."
"Yasudah, papa pergi dulu. Ne..., kesayangan papa janji cepat sembuh ya? Papa akan melakukan apapun untuk kesembuhan mu."
Mahendra meninggalkan ruang rawat ane karena harus ke kantor. Namun bertepatan dengan langkah nya, silla muncul dari balik pintu.
"Pa... ."
Bersambung🙏😊
__ADS_1