
"Cepat temukan Anto, seret dia ke ruang bawah tanah!" ucap Clara melalui sambungan telepon. Ia lantas mengakhiri percakapannya dan membanting ponselnya begitu saja ke lantai hingga terbelah menjadi dua bagian.
Clara Sinthya Bella Laksmana, gadis berusia 20 tahun. Berambut sebahu dengan warna hitam pekat. Ia sedang memandangi dirinya di pantulan cermin meja riasnya.
Tatapannya beralih merunut satu-persatu alat-alat kosmetik lengkap sudah seperti artis. Ia beranggapan untuk apa semua alat make-up mahal ini, jika wajah yang sudah di poles sedemikian cantik seperti boneka Barbie, masih tidak membuat Kevin luluh.
Sekali sapuan tangan Clara menghempas alat kosmetiknya, hingga kosmetik bermerek berharga mahal otomatis jatuh berserakan di lantai kamarnya.
“Tiada guna semua alat kosmetik ini, kalau sama sekali lo nggak pernah melihat gue sebagai wanita yang lo cintai Vin?” Clara berbicara pada dirinya di pantulan cermin.
Sebenarnya siapapun pria, pasti akan mengejar-ngejarnya. Karena kecantikannya seperti model kelas dunia. Matanya yang bulat, hidungnya yang mancung, bibirnya tipis.
Clara mengacak-acak rambutnya, menjadikannya tidak beraturan. Ia memandangi wajahnya sendiri di pantulan cermin.
Ibarat kata ialah boneka hidup, ialah anak dari pemilik diskotek dan beberapa tempat-tempat hiburan malam terkenal di beberapa wilayah kota-kota besar di seluruh Nusantara, ialah anak seorang pengusaha kaya raya.
Hingar-bingar dunia malam, dan para pengusaha dari tingkatan kelas bawah dan perusahaan besar sekalipun, banyak yang sudah mengenal Erik Bayu Laksamana, seorang Ayah yang lahir di Medan, sudah menggeluti bisnisnya sejak masih kuliah.
Dan kini Erik panggilan akrabnya telah bermukim di Ibu kota metropolitan. Semenjak menikah dengan seorang modeling.
Sang Ibu bernama Margaretha Silviana merupakan seorang modeling sekaligus perancang busana kelas dunia. Maka kesibukan Ibunya sebagai wanita karir secara otomatis juga Clara jarang sekali bertemu dengan sang Ibu yang ia panggil Mama.
Bagi Clara dalam meminta apapun pada sang Ayah yang ia panggil Papa tinggal menjentikkan jemari saja. Maka terjadilah seperti sulap dalam sekejap mata.
Dari hal-hal sepele sampai yang ribet, Clara pasti akan dapatkan. Maka ketika ia ditolak oleh Kevin, pria yang menganggapnya hanya sebatas adik. Ia tidak menerimanya begitu saja.
Bagaimana pun caranya Clara harus bisa mendapatkan Kevin, harus bisa menjadi pendamping hidup Kevin. Seolah hidup bersama dengan Kevin adalah keputusan yang mutlak, yang harus dimilikinya dalam hidup ini. Kevin, Kevin dan Kevin seolah menjadi moto hidupnya.
Pintu kamar pun diketuk, sejak ia dapat menemukan Ane dan mengetahui siapa pria yang telah menghamilinya. Clara mengurung dirinya sendiri di dalam kamar.
Bahkan ia tidak nafsu makan, ia juga tidak perduli pada bayi yang dikandungnya. Ia tidak menerima pria yang berprofesi hanya sebagai scurity diskotek menjadi Ayah dari biologis janin yang ada di dalam perutnya.
Clara tidak perduli, seribu kali pun pintu kamarnya diketuk. Ia tidak ingin beranjak untuk membukanya. Ia tidak ingin ada yang mengganggunya.
~
Sementara itu, diluar kamar Clara. Papa Erik bersama empat asisten rumah tangga yang ditugaskan untuk menjaga putri satu-satunya, dan ke-empat ajudannya. Sedang berdiri dalam keadaan panik di depan kamar putrinya.
__ADS_1
“Nona Clara nggak mau membuka pintu, Tuan. Nona juga nggak mau makan ataupun sekedar minum,” ucap Bik Siti, wanita yang ditugaskan untuk menjaga Clara sejak usia Clara kecil. Maka sikap Clara yang manja dan gampang emosional gampang sekali diprediksi olehnya.
Kelopak netra tua Erik melihat kedua orang asisten rumah tangga yang membawa nampan berisikan makanan dan minuman untuk putrinya yang sudah dua hari lalu tidak mau makan.
“Iya Tuan, kami sudah berusaha untuk membujuk Nona, supaya Nona keluar dari kamarnya, tapi Nona tetap nggak mau,” kata Mbak Sumi ikut menambahkan ucapan Bik Siti.
“Nona Clara terus menerus memanggil-manggil Mas Kevin, tuan,” imbuh Minah asisten rumah tangga yang sedang membawa nampan berisikan jus strawberry.
Ucapan Minah dikehendaki oleh Tuti, “Benar itu Tuan, Nona Clara mau makan asalkan bisa bertemu Kevin,”
Erik menatap pintu besar di depannya. Ia sangat heran telah terjadi pertikaian apa antara putrinya dan juga Kevin. Mengapa Clara sampai mengurung dirinya sendiri seperti ini? Bahkan ia telah datang ke rumah Kevin untuk membujuk, namun tidak digubris oleh Kevin.
Sebagai seorang Ayah, Erik tidak akan membiarkan hal buruk menimpa anaknya. Ia harus mencari tahu, perihal apa yang terjadi.
“Beni! Ifan!” kata Erik memanggil kedua ajudannya yang setia menemani kemanapun ia pergi.
“Siap Tuan,” jawab kedua ajudannya yang disebutkan namanya.
"Cepat bawa Kevin ke hadapan ku! Jika dia tetap tidak mau, paksa dia!” titah Erik kepada dua ajudannya. Tanpa menoleh kearah para ajudan yang berdiri dibelakangnya.
Beni dan Ifan pun sigap menjalankan tugasnya. “Siap Tuan!” jawab keduanya.
“Siap Tuan!” keempat ajudan Erik kompak dalam menjawab titah sang Tuan.
Dito, Rawi, Badrun dan Saji. Empat pria berlengan kekar ini lantas mengambil ancang-ancang guna mendobrak pintu kamar mewah Nona mereka. Di hitung dalam hati, ditandai dengan saling melirik mata.
Satu! Dua! Tiga!
Sebelum pintu di berhasil di dobrak, ternyata Clara sudah membuka pintu kamar bermodel kupu tarung selebar-lebarnya.
Keempat pria ajudan Erik terhuyung-huyung jatuh berhamburan ke lantai kamar sang Nona.
“Aduh!” erang Badrun dan disusul ketiga kawannya, badannya menghantam kerasnya lantai.
Clara berdiri di tengah-tengah pintu, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi. Ia begitu dingin meskipun ada sedikit keributan yang ditimbulkan dari empat ajudan sang Ayah karena akan mendobrak pintu kamarnya.
Siti, Minah, Sumi dan Tuti menahan tawa melihat empat ajudan tuannya yang terjatuh di lantai kamar Nona'nya. Tidak ada yang berani melepas tawa. Padahal dalamnya hati dan perut serasa ada yang menggelitiki mereka.
__ADS_1
Keempat ajudan Erik segera saja langsung berdiri.
Erik langsung menghampiri putrinya, “Darling, akhirnya kamu keluar kamar,”
Clara diam seribu bahasa, seolah mematungkan dirinya adalah tindakan yang ia benarkan.
Dilihatnya dengan kelopak mata yang tak lagi muda, wajah putrinya yang nampak layu bahkan sedikit pucat dan seperti tidak bertenaga. Erik merangkul pundak putrinya,“Kamu kenapa Darling, sejak keributan mu dengan Kevin. Papa lihat kamu jadi murung?”
Clara menatap Ayahnya, netranya mulai berkaca-kaca, “Papa,”
“Tenangkan dirimu baik-baik darling, dan ceritakan kepada Papa apa yang membuatmu jadi seperti ini,” kata Erik membujuk, lantas berjalan menuju sofa yang terdapat di dalam kamar putrinya dan mendudukkan dirinya di sofa tunggal,“Sini Clara, jelaskan sama papa,”
Mau tidak mau Clara akhirnya luluh dan menuruti apa kata sang Ayah, ia duduk di sofa memanjang.
“Cla, kamu nggak akan menyelesaikan masalah jika hanya berdiam diri seperti ini,” kata Erik menatap wajah sayu putrinya yang hanya menundukkan pandangan.
Matanya mulai bercucuran air mata, Clara hanya menangis, diam membisu. Entah kata apa yang harus ia katakan terhadap Papanya. Kehamilannya? Rencananya untuk menjebak Kevin belum diketahui oleh sang Papa Erik.
Lalu apa reaksi Papanya nanti jika putri kesayangannya ini sampai hamil dengan pria yang Clara sama sekali tidak diinginkannya. Karena Clara hanya mau Kevin, dan hanya Kevin,. Clara menunduk lusuh.
Erik melihat putrinya hanya diam seribu bahasa, bahkan terlihat sangat putus asa.
“Bicara Clara?!”kata Papa Erik bersuara keras, berharap agar Clara tidak diam saja.
Clara terkejut mendengar suara Papanya yang terdengar marah, “Clara sudah menculik dan menjebak Kevin, Clara cinta sama Kevin. Clara ingin Kevin menikahi Cla, karena sekarang ini Cla hamil,”
Clara mengusap air matanya yang kian meleleh di pipi.
"Apa? Kamu hamil?" seketika Erik merasa dunia seakan runtuh, mendengar putri satu-satunya telah hamil, "katakan siapa lelaki yang telah melakukannya?"
Clara menunduk, ia mengusap air matanya, rahangnya mengnegas. Seketika ia mempunyai rencana lain, "Kevin!"
Erik murka, " Kevin?"
Clara mengangkat wajahnya melihat sayu wajah Papa Erik, "Kevin telah menggoda Clara, Pa. Kevin memperdaya Cla, dan dia nggak mau bertanggung jawab atas kehamilan ini..."
__ADS_1
Bersambung