Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Penyesalan selalu datang belakangan


__ADS_3

Erik segera dibawa oleh beberapa petugas medis menuju rumah sakit. Diikuti dengan Margaretha, namun sebelum itu. Margaretha berpesan kepada Anto, bagaimana pun juga Anto tidak boleh meninggalkan Clara sendirian.


Ketika Clara akan ikut bersama dengan Mama Margaretha untuk mengantar Papa Erik. Kedua orang polisi menjegal kepergiannya.


"Anda harus ikut kami bersama dengan pria bernama Hengki ke kantor polisi nona Clara." kata seorang polisi sebut saja Ariyanto.


Clara menggeleng menolak untuk di bawa oleh polisi yang sedang berdiri menghadangnya. "Enggak Pak polisi saya enggak salah. Kevin lah yang telah memfitnah saya, Pak. Seharusnya Bapak tangkap dia bukan saya!"


"Anda bisa jelaskan nanti di kantor, silahkan ikut kami." kata petugas polisi lainnya yang bernama Hendra.


"Anto tolongin gue Anto, jangan diam saja. Anto!" seru Clara gemetar serta gelisah sembari memegangi lengan suaminya.


Anto sebenarnya tidak diam, ia juga sedang membujuk Kevin dan polisi yang bertugas untuk tidak menangkap Clara.


"Kevin tolong Vin, jangan lakukan ini. Lo tahu sendiri, Clara sedang hamil." mohon Anto pada Kevin.


"Hukum harus ditegakkan bagi orang yang melakukan tindak kejahatan, Anto. Dan sejauh ini, Clara sudah gue maafin, tapi dia sudah berani melakukan kejahatan pada orang yang gue cintai! Maka, kata maaf saja enggak berlaku buat gue!" kata Kevin tegas, lalu berbalik badan menghampiri istrinya, sekejap mata Kevin sudah membopong tubuh lemas istrinya.


Clara menatap punggung Kevin nanar, ia sudah bertindak kejahatan sampai sejauh ini. Benarkah Kevin tidak akan lagi memaafkannya. Clara berlari-lari kecil menghadang langkah Kevin yang sedang membopong Khaira.


Clara merentangkan kedua tangannya, lalu berlutut dihadapan Kevin dan juga Khaira. Bukan hanya itu, ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Maafin gue Vin, maafin gue Khaira. Gue mengakui gue salah, gue minta maaf gue khilaf. Gue benar-benar mengaku salah, gue minta maaf Kevin, Khaira." kata Clara parau, air mata mengiringi ucapannya yang terlontar. Tak perduli dengan penampilan yang sudah terlihat berantakan.


Kevin menatap Clara tajam, lantas berkata dengan suara tegas. "Nasi sudah menjadi bubur Clara! Mau tidak mau lo harus memakannya!"


Sedangkan Khaira menyandarkan kepalanya yang serasa berat dan merasa sangat nyaman menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Dengan setengah dari kesadarannya, Khaira mendengar permintaan maaf Clara, ia juga mendengar jawaban Kevin yang terdengar menohok.


Sebagai seorang wanita Khaira kasihan jika Clara harus di penjara, mengingat Clara dalam kondisi hamil. Namun untuk sementara waktu, Khaira merasa harus mempunyai hati yang tega untuk membiarkan Clara mendapatkan ganjaran dari kejahatan yang dilakukan.


"Aku mohon Khaira maafkan aku, aku sungguh-sungguh menyesal." Clara masih berlutut di depan Kevin. Ia tidak ingin hidupnya berakhir di penjara.


Khaira tidak memberikan tanggapan atas permintaan maaf Clara yang terdengar sangat pilu. Khaira hanya bisa berkata dalam hati. "Maafkan aku Clara, tapi kamu harus menjalani hukuman agar membuatmu jera, dan membuatmu lebih belajar dalam memaknai hidup ini."


Kevin menegaskan rahangnya, lantas kembali melangkahkan kaki melewati Clara yang masih berlutut dihadapannya. Lalu membawa Khaira untuk masuk kedalam mobil Rezki yang sudah standby di depan gedung hotel.


Selepas kepergian Kevin, Clara digelandang petugas kepolisian diikuti oleh Anto.


"Pak saya enggak salah Pak, tolong Pak polisi lepaskan saya, saya sedang hamil Pak." ucap Clara berontak.


Semua tamu undangan yang hadir akhirnya membubarkan dirinya. Bisik dan gosip mengiri perjalanan mereka menuju luar dari gedung yang dijadikan resepsi pernikahan Clara dan Anto.

__ADS_1


~~


Didalam perjalanan menuju rumah Kevin. Dengan Rezki yang mengendarai mobilnya.


"Mas Kevin, badanku rasanya sangat panas, Mas." keluh Khaira merasakan suhu panas tubuhnya. Ia sampai ingin melepaskan hijab, namun segera dihentikan oleh Kevin.


Kevin membenarkan hijab yang dipakai Khaira, meskipun dalam kondisi hijab yang sudah lusuh dan sudah tidak berbentuk seperti saat akan berangkat ke resepsi pernikahan. "Kamu akan baik-baik saja My Delf, kita akan segera sampai di rumah."


"Ra, sabar ya Ra." Mita sebenarnya bingung, minuman apa yang sebenarnya diminum oleh sepupunya, kenapa bisa membawa efek panas. "Memang minuman apa yang diminum Khaira?" ia bertanya kepada Rezki dan juga Kevin.


"Gue rasa sejenis obat penguat gariah dalam dosis tinggi dan bisa jadi dicampur Vodka." jawab Rezki, karena ia sudah merasakan minuman semacam itu.


"Apa?" Mita terkejut sampai membulatkan matanya menatap Rezki yang sedang mengemudikan mobil dan kemudian menatap Khaira yang bersandar di dada Kevin.


Khaira merasa tidak bisa lagi mengontrolnya lagi, gairah seolah sudah mencapai batas ubun-ubun. Khaira menarik tengkuk leher Kevin lantas mencium bibir suaminya sangat lembut.


Aksi yang dilakukan Khaira membuat Mita terlonjak kaget. "Khaira! Nggak harus juga kali lo nyium-nyium suami lo di depan gue, mau pamer apa gimana nih?!" ucapnya memekikkan suara.


Di atas kaca kemudi, Rekzi melihat Kevin menutupi wajahnya dan wajah Khaira menggunakan jas hitam.


Rezki melepaskan tangan kirinya dari kemudi, dan mengalihkan posisi wajah Mita yang masih menoleh ke belakang untuk kemudian menghadap ke depan jalanan di malam ini.


"Mita, bukankah elo pernah merasakan ciuman? Jadi alihkan saja wajah lo melihat ke depan! Biarkan yang di belakang, toh mereka sudah halal." ucap Rezki santai, sekilas melirik Mita yang mendengus dingin. Rezki tahu rasanya meminum minuman keras yang dicampur dengan penguat gairah. Karena rasanya tidak nyaman jika tidak dikeluarkan.


Rezki hanya menjawabnya dengan menggendikkan pundaknya.


Sampai pada mobil yang dikemudikan Rezki sampai di depan rumah Kevin.


Kevin segera turun dari dalam mobil dengan sudah membopong Khaira. Tiada sepatah kata pun yang terlontar dari mulutnya meskipun hanya sekedar kata Terimakasih pada Rezki.


Kevin mengkhawatirkan kondisi Khaira yang selalu mengaduh kepanasan. Ia segera merogoh kunci di dalam saku celana panjangnya dan membuka pintu rumah, tak lupa juga untuk menutup dan mengunci pintunya, semua itu ia lakukan dengan gerakan kilat meskipun masih dalam posisi membopong istrinya.


Kamar mandi adalah tujuan Kevin, ia membawa dan mendudukkan Khaira kedalam bathtub. Lalu menyalakan kran air untuk memenuhi bathtub. Kevin melihat mata sayu dan pipi lebam Khaira. Selebam rasa bersalahnya pada Khaira. Jika saja ia tidak pergi ke toilet pasti kejadiannya tidak seperti ini.


Bukan hanya satu kran, Kevin menyalakan kran shower lalu menyirami tubuh Khaira yang masih berbalut gamis putih dengan air dingin. Kevin berlutut di samping Khaira yang bersandar pada sandaran bak mandi berwarna putih. "Maafkan aku." ucapnya parau.


Khaira membuka matanya, ia sayu menatap Kevin yang sedang menempelkan kening di keningnya. "Maaf untuk apa Mas?" jawabnya lirih.


"Maaf karena aku sudah meninggalkan mu." kata Kevin lirih menahan tangisnya, melihat Khaira memprihatinkan seperti ini membuat hatinya pilu.


Khaira menghela nafas panjang. Ia merasa jauh lebih baik sekarang, namun tidak dengan nafsuunya.

__ADS_1


"Seharusnya aku yang minta maaf Mas, jika saja aku mendengarkan ucapan mu dan percaya padamu, dan juga aku bertahan di tempat yang sudah kamu peringatkan, pasti nggak akan seperti ini.." Khaira menjeda ucapannya, ia menghela nafas lagi, "tapi lagi-lagi, penyesalan selalu datang belakangan." sambungnya bersuara lirih nyaris seperti bisikan.


Kevin tercenung mendengar perkataan Khaira. Meskipun baru saja lepas dari jerat marabahaya, tetapi istrinya ini tidak menyalahkan siapapun, malah menyalahkan diri sendiri.


Kevin mencium kening istrinya sangat khidmat. Dilihatnya Khaira mencoba untuk membuka hijab, Kevin berinisiatif untuk membukakan hijab yang masih melekat di kepala Khaira.


"Aku sudah ingin melakukannya Mas. Aku sangat ingin.." ucap Khaira tepat di telinga Kevin.


Kevin merasakan darahnya berdesir hebat, suhu panas tubuhnya meningkat. Kala mendengar ucapan Khaira yang terdengar mendesahh di telinganya. Kevin memegang pipi Khaira, diusapnya bibir istrinya yang terlihat bercak darah, ia tidak tega untuk melakukannya dalam kondisi istrinya yang terluka.


"Tapi bagaimana aku melakukannya, sedangkan wajahmu terlu-?" ucapan Kevin mengambang tatkala Khaira sudah lebih dulu membungkam bibirnya.


Kevin membulatkan matanya melihat wajah Khaira yang sangat dekat, melihat sang istri memejamkan mata sedangkan bibirnya terus menelusup masuk. Membuat kejantanannya mendesak di balik celana.


Dengan sekali gerakan tangan, Kevin membopong tubuh Khaira untuk beralih ke kamarnya. Lalu membaringkan Khaira ke atas ranjang, tak perduli dengan gamis putih Khaira yang basah.


Kevin menanggalkan kemeja putih serta celana panjangnya, dan menaruhnya kesembarang arah. Lalu menanggalkan gamis yang dipakai oleh Khaira. Lagi... netranya disuguhi oleh pemandangan kepolosan istrinya yang eksotis.


Kevin merangkak naik ke atas ranjang. Seperti kesukaannya baru-baru ini setelah menikah secara sah di mata agama dan hukum negara. Yaitu meremass dan bermain di bukit kembar nan kenyal istrinya yang pas di genggaman, berulang kali memilin serta melumatt mendengar suara Khaira yang mendesahh menjadikannya candu.


Sekali hentakan kejantanannya, Kevin sudah menyusupkan kepemilikan nya ke liang kenikmatan istrinya. "Aarrhh.." berhenti sejenak untuk merasakan denyutan yang seakan menariknya masuk. Dengan gerakan sangat pelan Kevin memulai memaju mundurkan tubuhnya.


"Aahh Mas Kevin." erang Khaira kala Kevin terus menerjangnya tanpa jeda.


"Kali ini, aku akan memberikanmu keleluasaan untuk memandu." bersuara serak basah. Sekali hentakan tangan, Kevin memposisikan Khaira kini berada di atasnya. Dengan gerakan seperti menunggangi kuda, pandangan yang sudah dipenuhi nasf* Kevin bisa melihat bukit kembar kenyal itu naik turun seperti balon yang diisi air.


"Kamu adalah wanitaku, selamanya kamu adalah milikku. Takkan pernah aku melepaskan mu." ucap Kevin serak basah.


Kamar yang semula tenang kini di penuhi dengan erangan kenikmatan yang menguar dari kedua pasangan yang sedang memadu kasih.


"Faster baby... faster.." Kevin membantu Khaira untuk memacu gerakannya lebih cepat. Sampai saatnya menuju puncak.


"Aaarhhh..."


Khaira menjatuhkan dirinya ke dada bidang suaminya.


"Terimakasih Istriku. Aku sangat mencintaimu." Kevin mengusap wajah serta membenarkan rambut yang menutupi kening istrinya.


"Aku juga mencintaimu, Mas." ucap Khaira lirih.


Beristirahat sejenak sambil bercengkerama ringan membicarakan soal anak dan masa depan. Agaknya memang seronde saja masih kurang. Khaira dan Kevin kembali melakukannya. Sampai subuh menjelang.

__ADS_1


...~...


Bersambung...


__ADS_2