
Keesokan paginya. Khaira bersiap akan berangkat bekerja. Namun, dikarenakan paksaan Kevin ia mengurungkan niatnya untuk berangkat sendiri.
Dilihatnya Kevin keluar dari kamar, dengan penampilan yang selalu bisa menghipnotis mata, *"Ya Allah, jan ganteng tenan, opo yo aku ra gelo ninggalno Mas Kevin? Lho atiku kok koyok kesetrum ngene? Astaghfirullah, Khaira elongo-eling!" gumamnya membantin.
*(Ya Allah, lha ganteng banget, apa iya aku enggak menyesal meninggalkan Mas Kevin? Lho hatiku kok kayak kesetrum gini? Astaghfirullah, Khaira ingat-ingat!)
Secepatnya Khaira menggelengkan kepala, menangkis godaan Kevin yang mempesona. Namun Khaira mencium aroma harum semerbak wewangian pafrum dari Kevin.
Khaira berdiri dan menghempiri Kevin, lantas mengendus-endus wewangian pafrum dari pakaian yang Kevin kenakan, "Mas Kevin tumben-tumbenan nganter aku pakai parfum segala?"
"Gimana wangi 'kan?" dengan percaya dirinya Kevin menaik-turunkan alisnya.
"Iya wangi, wangi banget malah. Tapi kenapa, tumben pakai parfum?"
"Biar lo lengket ama gue, kek permen karet,"
"Hilih, bilang aja Mas Kevin habis nganterin aku kerja. Mau ketemuan sama pacar baru Mas Kevin, kan?"
Kevin menoyor kening Khaira, "Sok tahu!"
"Ih Mas Kevin, aku bukan lagi sok tahu. Aku 'kan sok tempe!" Khaira mengusap keningnya yang mendapat toyoran tangan Kevin.
Kevin sedikit membungkuk lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Khaira hingga sangat dekat, kini hanya menyisakan jarak seruas jari, ditatapnya Khaira yang sedang membulatkan matanya sempurna bersitatap dengannya.
"Apa sekarang lo udah mulai jatuh cinta sama gue?" kata Kevin lirih seperti berbisik.
Glek... Khaira menelan ludahnya yang serasa alot, ia mengerjap-ngerjapkan matanya menatap Kevin sedekat ini.
"Apaan sih Mas Kevin!" pria yang saat ini memakai kaos berlengan panjang warna hitam celana jeans panjang selalu saja bisa membuat degup jantungnya seakan-akan melompat turun ke lutut, Khaira mendorong Kevin agar menjauhinya. Lalu membuang tatapannya ke foto yang terdapat di dinding ruang tengah.
Kevin mengulum senyumnya, melihat Khaira yang nampak salah tingkah. Sampai-sampai terlihat wajah Khaira yang bersemu merah, "Aku akan mengajukan syarat sebelum kamu pergi dari rumah ini?"
Kembali menatap Kevin heran, Khaira sedikit memiringkan kepalanya, "Syarat atau aturan?"
Kevin menggidik pundaknya, lantas berjalan menuju ruang tamu. Disusul Khaira yang berjalan dibelakangnya, Kevin membalikkan badannya menghadap Khaira yang berdiri dengan jarak satu meter, "Gue pengen kita kayak pasangan pada umumnya,"
"Maksudnya?" tanya Khaira memastikan.
Kevin mengembangkan senyumnya, lantas memasangkan helm di kepala Khaira tanpa menunggu persetujuan si empunya, "Siap!"
Khaira tergelak, ia membulatkan matanya menatap Kevin, "Jadi apa syaratnya? Nggak perlu lah menjadi teka-teki seperti ini? To the point aja Mas Kevin?"
"Selain suka di paksa-paksa, lo itu suka penasaran?" Kevin menoel ujung hidung Khaira, "Yuk pacaran?" ia menautkan jemarinya ke jemari Khaira.
Khaira menghela nafas kasar, seraya memejamkan matanya dalam-dalam sedetik kemudian, ditatapnya wajah Kevin yang masih tersenyum menawan, "Jadi apa ini hanya akal-akalan Mas Kevin?"
__ADS_1
Kevin mengangkat kedua alisnya, lantas menggelengkan kepalanya, "Enggak sama sekali," ia lantas berjalan ke luar rumah, dengan menarik tangan Khaira agar mengikutinya, "bukankah selama ini kita menikah, kita selalu bersikap dingin dan cuek satu sama lain. Bagaimana jika kita menjalin kedekatan dengan cara pacaran terlebih dahulu? Terlepas dari siapa nama pria yang terukir di hatimu, dan yang terukir di hatiku?"
Khaira melepaskan tangan Kevin yang menggenggam jemari tangannya, "Maksud Mas Kevin kita menjalin hubungan dengan dusta?" ia berjalan ke halaman rumah, "aku rasa hati bukan untuk dibuat main-main Mas, apalagi soal kepercayaan. Enggak bisa Mas Kevin, nggak semudah apa yang Mas Kevin katakan?"
Kevin mendekati Khaira, "Kamu trauma tentang pernikahan bukan? Dan kamu takut ditinggalkan?"
Ditatapnya Kevin yang mengetahui traumanya, Khaira mendekati Kevin dan berkata dengan menegaskan rahangnya, "Tau darimana Mas Kevin tentang traumaku?"
Kevin mengangkat bahunya tak acuh, ia berjalan menuju motornya.
"Bukan urusanmu aku tau darimana tentang trauma mu itu?" sejenak Kevin terdiam dan mengajukan penawaran terbaik untuk Khaira, "Hemm.. Bagaimana kalau aku menawarkan padamu, untuk menyembuhkan rasa trauma mu itu, hm?" ia memasang helm di kepalanya sendiri lantas standby di atas motor lalu memajukan motornya sampai ke jalan depan rumah, ia membuka telapak tangan mengarahkan kehadapan Khaira.
Penawaran Kevin cukup menyentuh relung hati Khaira.
Khaira melihat tangan Kevin yang terbuka dihadapannya, ia mengulas senyuman. Ada sebuah pikiran yang lebih tepat, selain 'pacaran' untuk menjalin kedekatan, lalu menatap wajah Kevin yang sudah memakai helm, "Maukah Mas Kevin menjadi temanku? Dengan menjadi teman kita bisa memahami satu sama lain, meskipun nantinya aku udah pindah tempat tinggal, 'kan nggak semua pacaran itu berakhir baik,"
Kevin terdiam, mencerna apa yang Khaira katakan, "Menurutku nggak buruk juga, ayolah kita berteman. Lebih-lebih kalau TTM-" Kevin menghentikan ucapannya, sedetik kemudian kembali bersuara, "Teman Tapi Mesra?"
"Baiklah, tapi mesranya tolong dikesampingkan!" Khaira menjabat tangan Kevin seperti sebuah kesepakatan yang valid, ia menutup pagar teralis besi lantas membonceng.
"Hahaha... Baiklah temanku, ayok." Kevin terkekeh kecil.
Yah, cukup lega. Mungkin dengan mengenal Kevin sebagai teman bisa mengubah persepsi negatifnya terhadap Kevin.
Kevin melajukan motornya dengan bersenandung riang dalam hati. Dibenaknya berkali-kali mengatakan kata 'teman yah?' Oke juga.
~~
"Nanti sore gue jemput," kata Kevin menyalami tangan Khaira.
"Masa sore? Malem toh Mas Kevin, 'kan aku pulangnya jam sembilan malam,"
"Ya pokoknya ntar sore, setengah lima. Gue mau ngajak lo jalan-jalan biar kayak orang pacaran, malem mingguan bareng,"
"Tapi Mas?"
"Enggak ada tapi-tapian!" tegas Kevin tidak ingin didebat.
"Dasar kang maksa!" gerutu Khaira gemas akan sikap Kevin yang sukanya maksa.
"Gih sana masuk, ingat jangan genit!" ucap Kevin menyuruh Khaira masuk disertai dengan peringatan.
"Dih, genit? Siapa juga yang genit?" balas Khaira menolak persepsi Kevin, "Mas Kevin juga pulangnya hati-hati, ingat jangan suka lirik-lirik di jalanan, kan kalau jatuh, bahaya!"
"Cie-cie-cie, perhatian banget dah, meleleh hati Abang, neng," seloroh Kevin senang, "ternyata perhatian juga, hehe..."
__ADS_1
Khaira merasa malu sendiri, niat hati hanya ingin membalas Kevin. Malah ia yang salah tingkah. Demi menyembunyikan salah tingkahnya, Khaira berbalik badan dan berjalan menjauhi Kevin.
Namun baru beberapa langkah Khaira kembali melihat Kevin, "Mas Kevin, makasih!" ucapnya membersamai dengan melambaikan tangan kearah Kevin dan berlari-lari kecil menuju samping restauran.
Respon Kevin melihat Khaira melambaikan tangan, ia melayangkan kiss by dari jauh.
Seolah bisa melihat kiss by yang dilayangkan Kevin berbentuk hati merah, Khaira menangkisnya, dilihatnya Kevin yang tertawa. Ia lantas kembali melanjutkan langkahnya masuk kedalam restauran.
Kevin kembali melajukan motornya membaur dengan pengendara lain. Selang tiga puluh lima menit Kevin sampai di depan jalanan rumahnya, setelah membuka gerbang Kevin membawa masuk motornya, namun pada saat akan membalikkan badannya ia dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang tidak ingin ia temui.
"Om Erik?" gumamnya terkejut melihat mantan bosnya.
"Boleh saya masuk, Vin?" ujar Erik bersitatap dengan pemuda yang menjadi dambaan hati Clara.
Mau tidak mau dikarenakan menjaga kesopanan kepada orang yang lebih tua, Kevin mempersilahkan Erik atau mantan Bosnya untuk masuk kedalam rumah.
Di ruang tamu, Erik duduk di sofa. Ia melihat Kevin yang duduk tidak jauh darinya, "Kenapa kamu membatalkan kontrak kerjasama kita?"
"Saya bosan!" itulah jawaban Kevin, sebagai pengalihan bahwa ia memang tidak ingin lagi berurusan ataupun bertemu dengan Clara, tidak benci hanya saja Kevin sangat kecewa.
"Apa karena Clara?" tanya Erik memastikan.
Kevin terdiam, ia tak ingin menjawabnya.
"Kenapa kamu tidak bisa membuka hatimu untuk Clara? Tidak bisakah kamu merasa iba melihat Clara yang telah lama memendam rasa padamu?"
Erik melihat Kevin masih diam, bahkan tidak terlihat merespon ucapannya, "Kevin, bukalah hatimu untuk Clara, saya yakin kamu bisa mencintai Clara karena terbiasa,"
"Menurut saya, rasa cinta untuk menjalani hubungan yang baik bukan karena iba dan rasa kemanusiaan. Tapi karena memang saling mencintai," Kevin mengangkat wajahnya menatap pria setengah baya yang duduk di sofa memanjang, "jadi maafkan saya, Anda tidak bisa memaksakan hati seseorang untuk mencintai putri Anda."
"Cara bicaramu pun sudah lain, Kevin? Hanya sedikit kesalahan Clara kamu sudah menjauh?" Erik melihat Kevin, ia merasa kegundahan hati Clara memang tidak mudah untuk membuat Kevin luluh, Erik berdiri, "Pikirkan lagi Kevin, saya akan sangat bahagia jika kamu mau menerima cinta dari Clara, jika saya bisa memaksamu untuk mencintai Clara, maka akan saya lakukan. Sepanjang kamu belum menerima Clara maka saya akan sering datang,"
Setelah mengatakan itu, Erik keluar dari rumah Kevin. Dilihatnya ajudan yang sedang menunggu di luar rumah.
"Bagaimana Bos?" tanya Beni kepada atasannya.
"Sepertinya kita akan sering datang ke sini, untuk membujuk Kevin." kata Erik, lalu masuk kedalam mobil mewahnya.
~~
Di dalama rumah, Kevin tidak habis pikir. Clara memperalat sang Ayah untuk membujuknya, "Clara, Clara... memang nggak ada manusia sempurna, tapi apa yang kamu lakukan hanya akan membuat gue semakin ilfil sama lo."
__ADS_1
Bersambung