Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Jangan egois


__ADS_3

Khaira kembali ke parkiran mol berjalan dengan tergesa-gesa, ia menahan rasa sesak yang seakan menghimpit relung hatinya. Ia ingin segera sampai di rumah, ia ingin menenangkan pikirannya. Ia ingin tidur dan ingin melupakan apa yang dilihatnya barusan.


“Khaira!”


Suara Mita mengaburkan kegelisahannya. Khaira melihat sepupunya itu berjalan kearahnya.


“Lo kemana aja sih?!” pertanyaan Mita bersamaan dengan Khaira yang meminta di antar pulang.


“Aku mau pulang Mit!” pinta Khaira dengan wajah memelas.


Mita terkejut dengan perkataan Khaira, “Loh kenapa tiba-tiba mau pulang? Kan kita baru aja sampai di sini. Lagian lo kemana saja si tadi? Gue sampai takut lo nyasar dan kenapa-napa tau nggak?”


Keringat dingin membasahi telapak tangannya, Khaira memegangi tangan Mita, “Aku mohon Mit, aku capek mau tidur,” itulah alasannya untuk membuat Mita mau mengantarkannya pulang, “boleh nggak aku tidur di kosan kamu lagi, Mit?” pinta Khaira.


Mita menggeleng, diingatnya peringatan dari Kevin,“Nggak Ra, maaf. Bukannya gue nggak mau lo nginep di kosan gue, gue malah seneng banget, tapi-”Mita menghentikan ucapannya di ujung lidah.


Kening Khaira mengerut mendengar penolakan Mita, “Tapi kenapa?”


“Lo udah punya suami. Dan suami lo lebih butuh lo dari pada gue. Dia butuh seseorang yang menyambutnya ketika baru pulang kerja,” Mita mengingat balasan Kevin beberapa hari lalu. Setelah ia mengirim foto Khaira ketika tertidur beserta caption saat sepupunya itu menginap untuk yang kedua kalinya beberapa hari lalu.


Bahwa pria yang menikahi sepupunya membalas dengan pesan yang membuat siapapun wanitanya akan merasa tersentuh dengan balasan Kevin.


(Gue kesepian tanpa Khaira, please jangan dibolehin jika Khaira mau menginap di kosan lo lagi, gue butuh dia di sisi gue, maaf jika gue sempat mengatakan hal yang sekiranya nggak enak di dengar tempo lalu.) balasan Kevin saat itu.


Mita langsung menghapus jejaknya mengirim foto Khaira yang ia kirim lewat ponsel Khaira. Beserta balasan Kevin, ia tidak ingin Khaira salah sangka dan mengatakan bahwa Mita telah ikut campur dalam hubungan antara Kevin dan Khaira.


"Tapi Mit, aku butuh waktu untuk menenangkan diri sekarang ini, dan aku nggak bisa lagi tinggal di rumah Mas Kevin," ucap Khaira memelas, masih memegangi lengan Mita.


Lagi-lagi Mita menggeleng.


"Kevin melarang gue buat lo nginep lagi di kosan gue, dia memang butuh lo Ra. Lo istrinya, dan seharusnya lo lebih mementingkan Kevin, lo jangan egois Ra," kata Mita memberi nasehat agar sekiranya Khaira tidak lagi menginap di kosannya.


Khaira membulatkan matanya, bahkan Kevin telah memberikan larangan untuk ia bisa bebas, bahkan Kevin melarangnya untuk menginap di kosan Mita. Siapa Kevin? Apa hak pria itu?


"Tapi Mit," ucap Khaira terhenti, kala Mita sudah melepaskan pegangan tangannya.


"Gue anter lo pulang, ke rumah Kevin." telak Mita, tanpa ingin mendengar alasan sepupunya.


Khaira mengusap wajahnya, lantas mengedarkan pandangannya ke penjuru mata melihatnya, melihat parkiran mol yang penuh kendaraan bermotor, gedung mol yang megah, gedung apartemen mewah, dan jalanan perkotaan yang dirayapi kendaraan.


Ia menghela nafas panjang, kemana lagi kakinya akan melangkah untuk pulang. Di kota ini yang Khaira tahu, hanyalah kosan Mita dan rumah Kevin.

__ADS_1


Bukan karena ia takut lari, takut tersasar di kota ini, tapi Khaira masih harus berpikiran luas haruslah mempunyai pengalaman. Karena seyogyanya ia harus bisa memiliki pengalaman untuk bisa mengendalikan sesuatu yang bisa saja terjadi bukan karena kehendaknya.


Seperti halnya sebatang lilin tanpa bayang-bayang. Seperti halnya mengerjakan soal ujian tanpa belajar. Dan itulah perjalanan hidup tanpa pengalaman. Hanya ada sebuah kebodohan.


"Ra, ayok gue anter lo pulang." kata Mita, melihat Khaira yang diam.


Lamunannya pun buyar, Khaira memang harus bisa berpikir tenang. Entah apapun yang dilakukan Kevin. Seharusnya ia memang tidak perduli. Karena suaminya itu berawal dari kesalahpahaman.


Mita memberikan helm kepada sepupunya yang masih nampak enggan untuk diantar pulang.


Khaira pun menuruti Mita, ia lantas memakai helm dan membonceng Mita, sebelum meninggalkan pelataran parkiran mol. Sekali lagi Khaira melihat gedung apartemen mewah.


~~


Di lobby apartemen, Kevin bertemu dengan sahabatnya yang terlihat sedang berbincang dengan seseorang,“Brian!”serunya memanggil.


Brian menoleh kearah Kevin yang berdiri dengan jarak sepuluh meter, seorang teman Brian yang sedang berbicara dengan Brian pun pergi.


“Kevin!” balas Brian, sepintas ia melambaikan tangan.


Kevin menghampiri Brian sahabatnya, “Akhir-akhir ini lo kelihatannya sibuk Bin?"


"Yah biasalah, namanya juga abdi negara," balas Brian.


ujar Kevin, ia hendak pergi tapi Brian menahannya, “Kalau begitu gue cabut dulu,”


“Tunggu!” Brian mengamati wajah Kevin yang lebam, bukan hanya itu. Ia juga melihat sudut bibir Kevin yang memperlihatkan ada bercak darah, “Habis darimana lo, dan kenapa lo bisa ada di apartemen ini? Kenapa juga sama wajah lo Vin? Lo habis berantem?"


Rentetan pertanyaan Brian bersamaan dengan tangannya memegang wajah Kevin dan melihat dari sisi kanan dan sisi kiri wajah Kevin yang memang memperlihatkan situasi wajah yang tidak baik-baik saja. Seolah telah terjadi perkelahian.


“Nemuin Sonia,” jawab Kevin spontan.


Brian mengerutkan keningnya mendengar jawaban Kevin, “Hah ngapain lo nemuin dia lagi, katanya udah sebulanan lo kagak bertukar sapa sama Sonia?”


“Bukan apa-apa,” balas Kevin malas.


Brian tidak puas dengan jawaban Kevin yang monoton, ia menarik lengan sahabatnya yang jelas tidak terlihat baik-baik saja, “Sekarang lo ikut gue ke apartemen gue!”


Kevin menahan tangan Brian yang akan menarik lengannya, “Kagak perlu, gue harus kerja,”


Brian menggeleng, jiwa jaksanya meronta-ronta kala tidak adanya kejelasan yang ia dapatkan, “Kagak, lo kagak boleh pergi dulu, sebelum lo jelasin ke gue apa yang terjadi! Dan ngapain lo masih nemuin tu perempuan ondol!”

__ADS_1


Brian tetap bersikeras menarik lengan Kevin, kali ini bukan ke apartemennya yang berada di lantai dua puluh lima. Ia berjalan mendahului Kevin menuju luar apartemen dan masuk kedalam cafe di area apartemen.


Kevin pasrah, ia mengikuti langkah Brian. Kemana sahabatnya itu akan membawanya.


Setelah duduk di salah satu kursi kosong dengan meja bundar di tengah. Brian langsung kepada intinya. Ia heran dengan jawaban Kevin, yang menemui Sonia.“Katanya lo udah nggak ada hubungan apa-apa sama Sonia, kenapa lo nemuin dia? Lo masih belum move on sama wanita juri* itu?”


[*Jual Diri]


Kevin menggeleng, menolak anggapan Brian. Ia mengambil selembar tisu yang berada di atas meja lalu mengelap bibirnya, “Gue bukan hanya move on, tapi gue udah move up!”


“Terus kenapa lo nemuin dia?” tanya Brian penasaran.


“Gue tadi lagi di pusat perbelanjaan mau beli barang buat menunjang alat DJ gue, tapi Sonia telpon. Katanya dia diabaikan dan dianiaya selingkuhannya itu! Kagak taunya itu cuma akal bulus!” jawab Kevin, menahan amarahnya yang bergelora membara dalam hatinya.


“Buat apa bandar itu nyari lo?” tanya Brian penuh selidik.


“Si *Babon itu nyogok gue pake selembar cek, supaya gue kagak ngelaporin ke polisi kalau si Babon itu seorang bandar narkoba dan terlibat dalam gembong besar narkoba dari Thailand,” tukas Kevin geram.


[*Bandar Bongsor]


Kevin jelas tahu, siapa-siapa saja bandar narkoba. Karena memang pekerjaan bersentuhan langsung dengan dunia hitam. Maka tak heran, kadang ia mendapatkan ancaman dan tidak sedikit pula mendapat sogokan. Tapi tentu saja, ia tak mau mengambil sogokan itu.


Seorang waiters cafe pun membawa pesanan yang sebelumnya di pesan oleh Brian, “Permisi, Ini pesanan capuccino nya.”


Dua cangkir capuccino yang masih mengepulkan uap pun tersaji di atas meja.


Brian mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan uang sebagai tip untuk waiters cafe yang nampak cantik dengan gelungan rambut yang apik.


“Terimakasih.” ucap waiters.


Brian mengangguk singkat, seraya mengerlingkan matanya kepada waiters cantik itu. Setelah waiters itu berlalu dari hadapannya dengan mengulum senyuman. Brian kembali kepada pembicaraannya dengan Kevin.


“Cihh... Jijik gue ama gaya lo, nggak mau pacaran tapi genit!” sinis Kevin, lalu meminum capuccino nya. Ia meringis kala merasakan sakit di rahangnya.


“Ya itu gaya gue, karena gue terlalu sibuk buat mengurusi perihal asmara. Lagian kalau gue punya pacar tu ribet, kalau kagak di ajak jalan suka ngambek, belum lagi cewek tu suka di kasih hadiah apalagi pas anniversary di tanggal jadian. Pokoknya ribet lah!” kata Brian menjelaskan alasannya tidak ingin pacaran. Karena bagi seorang jaksa seperti dirinya sangatlah ribet jika sudah berurusan dengan wanita.


“Itu kan cuma akal bulus lo!” balas Kevin, masih dengan ucapan yang sinis.


“Kenapa jadi bahas gue!” kesal Brian, “tadi lo belum selesai ceritanya, soalnya saat ini pihak dari kepolisian sedang mencari informasi mengenai gembong narkoba. Dan mungkin saja berikutnya Babon,”


__ADS_1



Bersambung


__ADS_2