Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Jomblo kuadrat


__ADS_3

Restoran Padang Bulan, di jam makan siang kini Mita tengah melamun, dan hanya mengaduk-aduk makanan yang ada di piring, membuat Ayla geram.


"Lo napa si Mit?" tanya Ayla disela kesibukannya menyuap makan siang.


Masih dengan kesibukan pikirannya, Mita tidak menjawab, ia masih saja terus membayangkan tentang nasib dirinya yang masih jomblo, sedangkan sepupunya kini tengah memadu kasih.


"Mita! Hello? Lah nih bocah gue lagi ngomong di anyepin." kata Ayla, gemas. Namun sesaat kemudian Rezki datang dan melihat Mita tengah melamun, lalu meminta Ayla untuk meninggalkan Mita, dengan bahasa isyarat.


Kini Rezki lah yang menggantikan posisi tempat duduk Ayla.


"Gue lagi meratapi nasib gue yang jomblo kuadrat Ay, kapan yah gue bisa punya pasangan yang sayang sama gue setulus hati. Apa emang gue tuh nggak pantes yah, di sayangi?" gumam Mita, masih dengan lamunannya.


"Aku tahu perasaan jomblo, Mit. Jangan terlalu pikirkan kesendirianmu, karena ada seseorang di luar sana yang sedang bertanya-tanya seperti apa rasanya bertemu denganmu. Dan orang itu aku." jawab Rezki, sembari mengulum senyum.


"Bijak banget lo Ay! Tapi perasaan kok suara lo jadi berubah kayak laki?" ucap Mita, seketika itu juga ia terkesiap kala menoleh kearah samping dan mendapati Rezki sedang menatapnya, refleks Mita mengambil nasi yang sejak tadi hanya di aduk-aduk dan melemparkannya ke wajah Rezki.


Seketika wajah Rezki penuh dengan nasi yang sudah tercampur rata dengan lauknya.


"Asem banget lo ya Mit!" pekik Rezki.


Mita panik.


"Maaf, maaf Bos, waduh kenapa Bos jadi cuci muka pake nasi." ucap Mita, meminta maaf sembari memunguti nasi yang menempel di wajah Bos'nya, dan menahan tawa.


"Lucu, Bos. Hahahaha..." Mita tertawa geli, dan mengundang gelak tawa dari teman-temannya yang ikut menertawakan Bos mereka.


"Diam!" hardik Rezki, seketika gelak tawa pun hening. Tidak ada yang berani menertawainya lagi, para pegawainya memilih melanjutkan pekerjaannya. Rezki berlalu dari ruangan khusus pegawainya.


Dengan perasaan bersalah, Mita pun mengikuti langkah Bos'nya yang menuju ke ruangan pribadi, "Bener, Bos, aku minta maaf, aku nggak sengaja, terus kenapa Bos Rezki tiba-tiba ada di sana?"


Mita terus mengikuti langkah Rezki sampai masuk kedalam ruangan Bosnya.


Rezki duduk di sofa, lalu mengambil tissue dan membersihkan wajahnya, sedang mulutnya terus menggerutu. "Maaf, maaf! Ya suka-suka gue dong, mau gue dimana-mana bebas. Terus napa tuh 'aku, kamu? Biasanya aja lo'gue. Ngerasa salah iya?"


Mita meremass jemarinya yang terkepal, takut jika Bos-nya akan marah.


"Iya maaf, aku- eh gue memang salah. Maaf Bos, beneran aku nggak sengaja. Aku kan mau membiasakan diri dengan sebutan aku supaya lebih sopan." ucapnya menyesal.


Rezki melihat Mita yang menunduk, namun manakala Mita melihatnya Rezki membuang tatapannya. "Kalau kamu pengin menebus rasa bersalah mu, maka nikahi aku!"


Mita mendelikkan matanya, rasa bersalahnya kini sirna. Mendengar sang atasan minta dinikahi.

__ADS_1


"Candanya garing banget Bos." kata Mita menanggapi perkataan Bos-nya santai.


"Kata siapa? Gue beneran. Gue serius, gue mau lo nikahin gue." cetus Rezki serius.


"Wasem! Yang ada tuh, biasanya cewek yang minta di nikahin, atau minta di halalin kayak label MUI dah. Lah ini cowok masa minta di nikahi, emang gue udah menghamili duda, eh maksudnya, jangan mentang-mentang Bos ini udah duda terus atasan ku, jadi seenaknya gitu." gerutu Mita merasa apa yang diutarakan oleh Bosnya tidak masuk diakal.


Rezki menggidik pundaknya.


"Terserah! Lusa aku bakal bawa orang tuaku buat meminta kamu jadi istriku yang terakhir. Titik, no debat! Sekarang keluar dari ruangan ku." kata Rezki, tidak lagi ingin mendebat keputusannya.


Sementara Mita tidak mengerti akan apa yang diucapkan Bos'nya yang gila.


"Waduh, waduh, nggak bisa gitu dong Bos, emang aku udah melakukan tindakan hukum, sampai aku harus menikahi Bos, Bos, Rezki Mananta, Bos gila dan rese, mana bisa begi-" ocehan Mita terpotong kala Rezki terus mendesaknya untuk keluar dari ruangan pribadi Bos-nya.


"tu!" sambung Mita bersuara putus asa.


Setelah mendorong Mita, Rezki segera menutup pintu dan mengunci pintu. Rezki menyandarkan tubuhnya di belakang pintu, pria berusia 30 tahun ini tersenyum tipis.


Setelah keluar dari ruangan Rezki, dengan perasaan kesal dan tidak mengerti akan apa yang di maksud Bos'nya, Mita menendang pintu ruangan Rezki berperasaan dongkol.


"Gila yak, benar-benar nih Bos, kagak ada apa cewek lain, napa harus gue yang jadi korban dia selanjutnya!" oceh Mita, di depan pintu.


Dibalik pintu Rezki senyum-senyum sendiri. Mendengar ocehan Mita. "Gue udah memantapkan hati, selama gue jadi duda dan kenal sama lo Mit, gue tertarik sama Khaira. Tapi, rasa tertarik gue ke Khaira hanya pelampiasan saja. Untuk memantapkan hati gue ke elo. Dan gue benar-benar cinta sama lo, Mita Umiyatun."


"Lo kenapa Mit?" tanya seorang Pria, dengan membawa sebuket bunga mawar merah. Lalu memberikan buket bunga itu kepada Mita.


"Hah.. Candra!" pekik Mita, melihat teman semasa SMA yang dulu terlihat sangat cupu, kini bak aktor Bollywood.


Mita menerima dengan ragu-ragu buket bunga yang di berikan Candra padanya. "Makasih." ucap Mita, tersenyum menampakan lesung pipinya.


"Lo selalu aja cantik Mit." ucap Candra, dengan pujian semanis gula.


"Akh, biasa aja! Tapi emang banyak yang bilang gue tambah cantik si, hehe" bangga Mita, pada dirinya sendiri. Silla yang tak sengaja lewat tengah membawa pesanan mencebikkan bibirnya.


"Gimana kabar lo Cand?" tanya Mita, dengan senyuman yang masih terpasang.


"Gue baik." kilas Candra, yang masih setia berdiri di dekat meja kasir.


Namun, agaknya momen romantis itu harus segera berakhir, kala Rezki keluar dari ruangannya dan melihat Mita tengah memegang sebuket bunga mawar merah, dan berbicara dengan seorang pria, bak model majalah.


"DILARANG KERAS, UNTUK MENGOBROL SELAMA KERJA, APALAGI DENGAN ORANG ASING!” suara Rezki membuyarkan momen romantis Mita juga seorang pria yang mencoba mendekati wanitanya.

__ADS_1


Mita melihat kearah Rezki, dengan tatapan malas lalu kembali menatap Candra.


"Maaf ya Cand, gue lagi kerja. Jadi nggak bisa nemenin Lo ngobrol." ucap Mita, sedih.


"Nggak papa, gue ngerti kok. Emm... gimana kalau nanti pas lo pulang kerja?" kata Candra, yang masih ingin melanjutkan obrolannya.


"Oke! Ide bagus." sahut Mita, dan melirik sekilas kearah Rezki.


"Catat nomor gue." ucap Candra.


Mita mengambil secarik kertas yang ada di laci meja kasir, dan mencatat nomor ponsel yang disebutkan Candra.


"Oke, sampai ketemu nanti." ucap Candra, mendapati anggukan kecil dari Mita, serta seulas senyuman manis. Candra berlalu dari hadapan Mita dengan membalas lambaian tangan dari Mita.


Mita tidak habis pikir, mimpi apa dia semalam. Karena dapat bertemu kembali dengan seorang Candra Situmorang, pria yang dulu culun kini berubah menjadi pria tampan.


"Mit, siapa itu?" Vita bertanya kepada rekan kerjanya.


Mita terus menatap pintu masuk restoran, meskipun Candra sudah tidak terlihat, tapi tatapan Mita mengarah pada satu titik dimana Candra keluar. "Dia teman ku."


"Ganteng banget ya Mit?" kata Vita menyikut lengan Mita.


"Iya, ganteng." celetuk Mita.


Rezki mendekati kedua pegawainya yang sedang ngerumpi. "Sudah-sudah jangan ngerumpi, kembali bekerja!"


Mendengar peringatan dari Bos-nya, Vita segera melesat pergi dari meja kasir. Sedangkan Mita mendengus dingin, dan hanya sekilas menatap Bos-nya.


"Mita, nanti malem aku jemput, pokoknya harus. Sekalian kita ajak Khaira dan Kevin." ujar Rezki lagu berbalik badan memunggungi meja kasih juga Mita.


Mita membulatkan matanya menatap punggung seorang pria yang sedang memakai kaos putih. "Memang mau kemana?"


Rezki menoleh mensejajarkan dagu dengan pundaknya, melihat Mita dari ekor matanya. "Menghadiri pernikahan Clara dan Anto."


"Tapi Bos, gue kan nggak kenal sama Clara?" kata Mita menghentikan langkah Rezki yang akan menuju pintu keluar restoran.


Rezki tidak menjawab pertanyaan Mita, biarkan saja gadis itu mendengus kesal.



__ADS_1


Bersambung


__ADS_2